Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Penyesalan dan Keputusan Baru
.
Mentari sedang duduk di sofa ruang tengah apartemennya ketika Bram datang membawa secangkir teh hangat. Sejak meninggalkan pesta peluncuran perusahaan Bara semalam, perempuan itu memang belum banyak melakukan apa-apa. Ia hanya ingin menikmati ketenangan tanpa harus memikirkan kejadian yang membuatnya kecewa. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Nona, ada kabar dari Tuan dan Nyonya,” ujar Bram yang datang dengan meletakkan cangkir di atas meja.
Mentari mengangkat wajahnya. “Ayah dan Ibu?”
Bram mengangguk. “Tuan Panji dan Nyonya Sekar meminta Nona pulang ke rumah besar hari ini. Tuan berpesan agar Nona segera datang. Sepertinya beliau sudah mendengar kejadian di pesta peluncuran perusahaan Tuan Bara semalam.”
Mendengar nama itu disebut, Mentari menghela napas lemah. Pasti ayah dan ibunya sudah mendengar semua berita tentang dirinya yang dipermalukan di acara peresmian perusahaan Bara kemarin.
“Baiklah. Siapkan mobil. Kita pulang sekarang,” katanya akhirnya.
Bram memperhatikan wajah Mentari yang terlihat malas. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya. Setelah mengenal Mentari selama bertahun-tahun, ia tentu tahu Nona mudanya sedang kecewa. Namun, ia juga tahu Mentari bukan tipe orang yang akan terus meratapi sesuatu yang sudah berlalu.
“Nona tidak ingin makan terlebih dahulu?” tanyanya.
“Tidak perlu. Kalau aku terlambat, Ayah mungkin akan menyuruh seseorang menjemputku secara paksa.”
Bram tersenyum tipis. “Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobil.”
Mentari hanya mengangguk, lalu bangkit dari sofa. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan menuju rumah besar keluarga mereka, Mentari memandang keluar jendela. Pepohonan di sepanjang jalan bergerak mundur, sementara pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Dulu, ia selalu berpikir bahwa Bara adalah pria yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia tidak pernah memandang Bara dari kekayaan atau kedudukannya. Karena itulah Mentari menyembunyikan identitasnya dan mendukung pria itu dari belakang. Sayangnya, Bara malah membuatnya kecewa dengan lebih memilih menjaga citra perusahaan daripada membela dirinya.
Mentari memejamkan mata sebentar. Sudahlah. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya untuk memikirkan pria itu lagi.
Begitu tiba di rumah utama, ayahnya sudah menunggu di ruang keluarga dengan wajah kesal. Di atas meja terdapat sebuah tablet yang menampilkan berita mengenai pesta peluncuran perusahaan Bara. Beberapa foto dirinya dengan gaun biru yang terkena noda minuman terpampang jelas di layar.
Ibunya duduk tidak jauh dari sana. Berbeda dengan ayahnya, perempuan itu terlihat lebih tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.
Mentari baru saja melangkah mendekat ketika suara ayahnya terdengar.
“Coba lihat sekarang! Jadi itu pria yang selama ini kau anggap baik?”
“Ayah,” sapa Mentari menghentikan langkahnya.
“Jangan panggil Ayah seolah-olah tidak terjadi apa-apa!” Pria itu bangkit dari sofa, menunjuk layar tablet di atas meja. “Kau lihat sendiri bagaimana dia memperlakukanmu. Di depan begitu banyak orang, dia membiarkan perempuan lain mempermalukanmu. Bahkan, hanya karena takut citra perusahaannya terganggu!”
Mentari menundukkan pandangan. Ia tidak bisa menyangkal satu pun perkataan ayahnya.
“Dulu, ketika Ayah menyiapkan perjodohan dengan Titan, kau menolaknya mentah-mentah. Kau bilang ingin mencari cinta sejati. Kau bilang ingin seseorang yang menerima dirimu tanpa embel-embel nama keluarga besar.” Ayahnya tertawa sinis. “Sekarang, di mana cinta sejati yang kau banggakan itu?”
Ibu Mentari segera menyentuh tangan suaminya, berusaha meredakan kemarahannya. “Sudahlah, biarkan dia istirahat dulu. Kasihan, dia pasti lelah. Apalagi dia baru saja patah hati.”
Namun, sentuhan itu tidak membuat kemarahan ayah Mentari mereda.
“Itu karena dia keras kepala!” serunya. “Kalau sejak awal dia mau menikah dengan Titan, hal seperti ini tidak akan terjadi.”
“Ayah, jangan—”
“Jangan apa?” potong ayahnya. “Cinta sejati? Cinta sejati apa? Tulus apa? Menerima apa adanya apa? Tahi kucing!”
Mentari langsung terdiam. Ia tahu ayahnya sedang marah, tetapi ia juga sadar karena dirinya memang salah. Dulu, ia begitu yakin bahwa Bara tidak seperti kebanyakan orang yang melihat segala sesuatunya dari apa yang dimiliki. Tetapi ternyata firasat ayahnya memang terbukti benar. Lalu sekarang bagaimana caranya ia bisa membela diri?
Mentari menghela napas pasrah mengakui bahwa dirinya telah membuat keputusan yang buruk.
“Ayah benar,” ucapnya lirih sambil mengangkat wajahnya. “Anggap saja kali ini aku rugi dalam investasi, Yah. Aku sudah salah menilai orang. Aku pikir Bara benar-benar mencintaiku, tetapi ternyata aku keliru.” Ia berhenti sebentar, berusaha menelan rasa pahit yang kembali muncul di dadanya. “Mulai sekarang, aku akan menuruti semua kata-kata Ayah.”
Ibunya memandang Mentari dengan ekspresi terkejut. Ia tidak menyangka putrinya akan pasrah begitu saja menerima kemarahan ayahnya. Selama ini, Mentari selalu memiliki pendirian sendiri, terutama jika menyangkut urusan perasaan.
Sementara itu, ayahnya masih menatap putrinya dengan sorot mata tajam, seolah ingin memastikan bahwa ucapan tersebut bukan sekadar cara untuk menghentikan pertengkaran.
“Awas kalau kau masih ingkar!” tegasnya. “Ayah tidak mau mendengar alasan macam-macam lagi. Nanti Ayah akan menghubungi Titan.”
Mendengar nama itu, jari-jari Mentari tanpa sadar mengepal. “Ayah akan menghubunginya?” tanyanya.
“Tentu saja! Memangnya kenapa? Dia sudah menyukaimu sejak kecil. Sejak dulu, dia selalu ada di sampingmu. Apa matamu buta sampai tidak bisa melihatnya?”
Mentari tidak menjawab. Dia hanya diam ketika melihat ayahnya kembali duduk dengan wajah yang masih terlihat kesal.
“Titan itu bukan pria sembarangan. Selain berasal dari keluarga terhormat, Ayah sendiri sudah melihat kemampuannya mengelola bisnis. Dia juga tidak pernah memperlakukanmu dengan buruk. Bahkan ketika kau menolak perjodohan itu, dia masih menghormatimu.”
Pria itu menggelengkan kepala. “Ayah benar-benar tidak mengerti apa yang kau lihat dari pria pecundang itu sampai rela menolak perjodohan dengan Titan.”
Mentari menunduk semakin dalam. Sebenarnya, ia bukan tidak tahu bahwa Titan menyukainya. Sejak mereka masih kecil, pria itu selalu ada di dekatnya. Ketika ayahnya memarahinya, Titan selalu membelanya. Ketika ia marah, Titan tidak pernah membalas. Bahkan saat Mentari menolak perjodohan mereka, Titan tetap memperlakukannya seperti biasa. Tidak menuntut ataupun memaksa. Titan memberinya kebebasan untuk memilih.
Dulu, Mentari menganggap semua itu sebagai bentuk perhatian seorang teman masa kecil. Ia bahkan pernah berpikir bahwa Titan terlalu kaku dan kurang gaul. Ia juga menganggap Titan mau menikahinya karena hubungan bisnis antar dua keluarga. Ia tidak mau seperti itu. Ia ingin merasakan cinta yang tumbuh tanpa campur tangan keluarga. Ia ingin dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena nama besar yang melekat padanya.
Ketika melihat Bara yang begitu rajin dan ulet, Mentari ingin membuktikan bahwa pria itu berbeda. Ia sangat percaya pada Bara, sementara Titan yang selama ini berada di sampingnya justru ia abaikan.
Sekarang setelah semua terjadi tiba-tiba saja ia merasa dirinya konyol. Demi seorang pria yang baru dikenalnya, ia malah membuang seseorang yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Mentari meremas jemarinya sendiri, lalu menghembuskan napas perlahan. “Aku mengerti, Yah,” katanya akhirnya. “Tapi apa Titan akan menerimaku? Mungkin saja setelah aku menolak perjodohan dia sudah bertemu dengan gadis yang dicintai.”
Ayahnya mendengus kesal. Ia sendiri juga tidak tahu. Tapi selama tiga tahun ini ia juga tak pernah mendengar Titan dekat dengan gadis mana pun.
“Ayah akan tanya sama Tuan Danuarta (ayahnya Titan). Kalau ternyata Titan sudah punya calon, Ayah akan mencarikan kamu pria yang lain.”
Mentari mengangguk meskipun sebenarnya keberatan. “Aku sudah berjanji akan menuruti Ayah. Aku tidak akan mengingkarinya lagi.”
Untuk sesaat, ruang keluarga itu menjadi sunyi.
Nyonya Sekar memandang putrinya dengan tatapan lembut. Ia tahu Mentari sedang berusaha menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya tidak seperti yang diharapkan. Namun, ia juga berharap putrinya tidak mengambil keputusan baru hanya karena merasa bersalah.
“Mentari,” panggilnya pelan, “Ibu tidak ingin kau menjalani pernikahan hanya karena merasa sudah melakukan kesalahan. Kalau memang nanti kau dan Titan kembali dekat, biarkan semuanya berjalan dengan baik.”
Mentari menoleh kepada ibunya, lalu tersenyum tipis. “Aku tahu, Bu. Aku tidak akan meminta Titan menerimaku hanya karena aku sedang kecewa pada Bara.”
Setidaknya, ia masih memiliki harga diri untuk tidak menjadikan Titan sebagai pelarian. Apalagi ia tidak tahu apakah Titan masih menyukai dirinya? Pria itu mungkin sudah berubah. Mungkin perasaannya tidak lagi sama seperti dahulu.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣