NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:151.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua

Dua orang yang sama-sama tidak menginginkan pernikahan itu... dipertemukan dalam satu ikatan.

Reatha masih terdiam. Tatapannya tertuju pada lantai, sementara pikirannya terus berputar. Dua miliar, selama satu tahun. Setelah itu, ia bebas.

Mungkin ini memang gila. Menikah dengan pria yang bahkan tidak mencintainya, lalu hidup sebagai pengganti saudara kembarnya. Namun, bukankah selama ini hidupnya juga tidak pernah memberinya pilihan?

Reatha mengangkat wajah. "Baiklah, aku setuju," ucap gadis itu akhirnya.

Papa Handoko dan Mama langsung menatapnya. "Apa?" tanya Papa.

"Aku setuju," jawab Reatha dengan mantap.

Raisa yang sejak tadi terlihat santai langsung menoleh. "Kau serius?"

Reatha mengangguk pelan. "Serius."

Papa menghela napas lega. "Bagus. Kalau begitu, pernikahan bisa segera—" Papa menghentikan kalimatnya.

"Tunggu, Pa," ucap Reatha memotong ucapan papanya. "Aku punya syarat."

"Apalagi?" tanya Papa.

Reatha menatap kedua orang tuanya dengan tenang. Kali ini tidak ada keraguan di wajahnya. "Aku mau semuanya jelas, dibuat dengan surat perjanjian."

Papa mengernyit. "Surat perjanjian?" tanya pria itu.

"Iya. Semuanya harus tertulis dengan jelas. Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun. Setelah satu tahun selesai, aku berhak meninggalkan Azka dan rumah ini. Tidak ada seorang pun yang boleh melarangku," jawab Reatha.

Mama menghela napas panjang. "Reatha ...."

"Aku juga ingin uang dua miliar itu tertulis dalam perjanjian," ujar Reatha.

Papa mengangguk. "Bisa. Kamu jangan takut kalau Papa mengingkari janji," ucapnya.

"Dan satu lagi," ucap Reatha lagi.

"Apa lagi?" tanya Papa.

"Setelah aku pergi, aku tidak punya kewajiban apa pun terhadap keluarga ini. Begitu juga sebaliknya. Aku tidak akan meminta apa pun dari Papa dan Mama," jawab Reatha.

Reatha sudah lama ingin meninggalkan rumah, tapi ia masih butuh uang sang ayah untuk biaya kuliahnya. Dari remaja ia telah bertekad, akan meninggalkan keluarganya. Keluarga yang tak pernah menganggap kehadirannya.

Suasana mendadak hening. Entah kenapa, kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.

Papa akhirnya mengangguk. "Baik. Papa setuju."

Reatha tersenyum tipis. "Terima kasih."

Raisa tiba-tiba terkekeh. "Mau ke mana kamu setelah dapat uang dua miliar itu?" tanyanya sambil tertawa kecil.

Reatha menoleh. Ia tak lagi sakit hati mendengar hinaan dari saudara kembarnya itu. Ia telah terbiasa.

Raisa menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Mau menghabiskan uang dua miliar dengan pria-pria?"

Reatha hanya tersenyum kecil. "Jangan samakan isi pikiranmu dengan orang lain," ujarnya.

Wajah Raisa langsung berubah. "Maksudmu apa?"

Reatha berdiri. Ia rasa obrolan mereka sudah cukup.

"Apa kau menuduhku suka bermain dengan pria?" tanya Raisa.

Reatha menatap saudara kembarnya tanpa gentar. "Kalau kau sakit hati dituduh seperti itu, mengapa kau melakukan hal yang sama kepadaku?"

Raisa terdiam. "Kau ...."

"Sudah!" bentak Papa Handoko.

Keduanya langsung diam. Papa menatap Raisa dan Reatha bergantian.

"Jangan bertengkar hanya karena masalah seperti ini!" seru Papa.

Mama kemudian menghela napas. "Terserah mau kau apakan dan ke manakan uang itu nanti, Reatha. Tapi ingat, kalau uangmu habis untuk foya-foya, jangan kembali ke rumah hanya untuk mengemis uang!" ujar wanita yang telah melahirkan dirinya itu.

Reatha tersenyum tipis.."Tenang, Ma." Ia mengambil tasnya dari sofa.."Sekali aku melangkah meninggalkan rumah ini, aku tidak akan kembali lagi."

Kalimat itu membuat Mama terdiam. Reatha kemudian berdiri tegak.

"Siapkan surat kontrak dan perjanjiannya dulu. Setelah semuanya jelas, baru aku tanda tangani," ucap Reatha dengan suara tegas

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Reatha berbalik. Ia berjalan meninggalkan ruang tengah menuju dapur. Setelah mengambil segelas air, langkahnya kembali berlanjut menuju kamar kecilnya di bagian belakang rumah.

Tidak ada yang mengejarnya dan memanggil namanya. Dan anehnya, kali ini Reatha tidak merasa sedih. Justru ada sesuatu yang terasa lega di dalam dadanya. Mungkin untuk pertama kalinya, ia sedang menentukan jalan hidupnya sendiri.

Begitu Reatha menghilang dari pandangan, Raisa langsung mendekati kedua orang tuanya.

"Pa, Ma," ucap Raisa dengan manja.

Papa menoleh. Begitu juga dengan Mama.

"Aku akan berangkat besok," ucap Raisa.

Mama tersenyum. "Besok?" tanyanya.

"Iya. Agency sudah mengatur semuanya. Aku tidak mau menunda lagi."

Papa mengangguk puas. "Visa dan Paspor kamu sudah disiapkan."

"Benarkah?" tanya Raisa.

Papa tersenyum. "Semuanya sudah Papa urus," jawab pria itu dengan tersenyum.

Raisa membalasnya dengan tersenyum lebar.

"Bagus. Aku akhirnya bisa pergi tanpa memikirkan pernikahan itu."

Mama meraih tangan putrinya. "Kamu hanya perlu fokus pada kariermu."

Raisa mengangguk. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa di balik pintu kamar, Reatha mendengar sebagian percakapan itu.

Ia hanya tersenyum pahit. Bahkan setelah menjual satu tahun hidupnya, mereka tetap lebih sibuk memikirkan Raisa.

Reatha kemudian menutup pintu kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap kosong ke depan.

"Satu tahun," gumamnya. Hanya satu tahun. Setelah itu, ia akan pergi.

Bukan sebagai Reatha yang selama ini mereka perlakukan seperti bayangan Raisa. Namun sebagai seseorang yang akhirnya memiliki hidupnya sendiri.

Sementara itu, di kediaman Azka. Pria itu baru saja pulang ketika suara papanya terdengar dari ruang keluarga.

"Azka! Ke sini sebentar," panggil Papanya.

Azka menghentikan langkah. "Ada apa, Pa?"

Ia berjalan menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Papa dan Mamanya yang duduk berdampingan. Keduanya tampak serius.

Azka duduk di sofa seberang mereka. "Kenapa?" tanyanya.

Mama menatap putranya, lalu berkata. "Kami ingin membicarakan sesuatu."

Azka mengangkat alis. "Serius sekali."

Papa menarik napas panjang. "Kamu akan segera kami nikahkan," ucapnya.

Azka langsung terdiam. "Apa?"

"Kamu dengar dengan jelas," jawab Papa.

Azka menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau. Kita bukan lagi tinggal di zaman Siti Nurbaya. Bukan zamannya perjodohan itu, balasnya.

Papa menatapnya tajam. "Ini bukan sesuatu yang bisa kamu tolak."

"Aku sudah punya Vania," jawab Azka.

"Kami tahu."

"Kalau begitu, kenapa Papa masih membicarakan pernikahan?" tanya Azka.

Mama menyela dengan suara tenang.."Karena kami sudah menentukan calon istrimu."

Azka berdiri "Siapa?" tanyanya lagi.

Mama menatap putranya. "Raisa."

Azka terdiam beberapa saat. "Raisa?"

Papa mengangguk.."Ya. Pernikahan akan dilaksanakan dalam waktu dekat."

Azka mengusap wajahnya kasar.."Aku tidak mencintainya."

"Kami tidak meminta kamu mencintainya sekarang," jawab Papa dingin. "Cukup jalankan kewajibanmu."

Azka menggeleng keras.

"Aku tidak mau menikah dengan siapa pun selain Vania," ucapnya tegas.

Papa berdiri. "Kalau begitu, silakan."

Azka menatap ayahnya dengan bingung. "Silakan apa?" tanyanya

"Silakan kehilangan semuanya."

Wajah Azka berubah.Papa menatapnya tajam.

"Kalau kamu menolak pernikahan ini, nama kamu akan dicoret dari daftar penerima warisan!" seru papanya

Azka membeku, ia berkata "Papa serius?"

"Sangat serius," jawab Papa.

Mama menatap putranya dengan mata penuh harap. "Kami hanya meminta satu hal darimu, Azka. Menikahlah."

Azka mengepalkan tangan. Di satu sisi ada Vania, wanita yang dicintainya. Di sisi lain ada keluarganya, perusahaan, dan warisan yang selama ini menjadi haknya.

Baru kali ini, Azka merasa benar-benar terjebak. Dan ia tidak tahu bahwa di tempat lain, seorang wanita bernama Reatha juga sedang dipaksa masuk ke dalam pernikahan yang sama.

Dua orang asing. Satu pernikahan. Dan keduanya sama-sama tidak tahu bahwa hidup mereka akan berubah total setelah hari itu.

1
Lela Angraini
selamat berjuang azka ,tunjukkan ketulusanmu buat reatha. smg kamu dpat hasil yg maksimal ya
Linda Ayu Tong-Tong
cepet ungkap kebusukan keluarganya reatha dong kak..gemes banget aq sma mereka ber3
Cicih Sophiana
semoga Rea berjodoh dgn Azka... orang tua nya jg baik dari awal...
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Cicih Sophiana
betul kata mama Azka... klo masih berhubunga Vina atau hati kamu ragu... lebih baik kamu tdk menemui nya
Dokkan Battle
yang komen disini tim yang seneng disakitin suami ya?
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
mampir aku kak❣️
Mama Reni: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
ken darsihk
Semoga kamu blm terlambat Azka , dan kamu bisa mendapatkan Reatha kembali
Cicih Sophiana
orang tua Azka jg sangat baik kok...
Cicih Sophiana
orang baru kenal mengajak pulang iya aja... gimana sih kamu Rea
Naufal Affiq
semangat azka,kalau jodoh gak akan kemana
Sri Supriatin
lanjuut thor, bijaksana sekali ortu Azka, semoga impian kita readers jodomu Reatha eeh terserah thor aja deh 🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
dan perasaan Azka kepada Reatha selama empat bulan mereka bersama malah berkembang jadi rasa nyaman dan rasa cinta yang tumbuh di hatinya,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya sejak dulu apa yang Azka rasakan ke Vania yah karena dia merasa bertanggung jawab sebagai seorang 'kakak' saja sih, apalagi dia juga anak tunggal selama ini,,,
Sugiharti Rusli
terkadang memang sangat tipis yah bedanya antara diserahi amanah menjaga seseorang dan rasa cinta yang diharapkan ada,,,
Dcy Sukma
Vania..hatimu aman?
Agunk Setyawan
dua"nya masih sangsi 🤣🤣🙏
Mundri Astuti
Waduhhhh siapa neh jodohnya reatha ....klo ma David masih sangsi si ... dia masih belum bisa ngelupain masa lalunya, trus dia liat rea sperti liat masa lalunya, cuma jadi bayang" ngga si🤔
Dokkan Battle: dih tim senang disakiti ya
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
iya in aja raetha dapat bonus 2 milyar itu bisa happy dan seneng seneng daripada di rumah cuma buat perbandingan aja❣️
@alfaton🤴
jeder😱😱😱😱......yakin ka......semoga dengan kesadaran penuh apa yang kamu ucapkan pada Vania 👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!