NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Skenario yang Sah

Langit kelabu menyelimuti kawasan kantor Grup Pramudya pagi itu. Arkan tiba lebih awal dari biasanya. Beberapa karyawan baru mulai memasuki gedung. Sebagian berjalan cepat sambil membawa tas kerja, sementara yang lain berhenti sebentar di lobi untuk menyapa rekan mereka.

Arkan melewati meja resepsionis tanpa banyak bicara. Ia langsung menuju lift khusus direksi.

Ponselnya bergetar ketika pintu lift hampir tertutup.

Pesan dari Pak Surya masuk.

“Selamat pagi, Pak. Saya sudah berada di ruang rapat. Dokumen yang kemarin Bapak minta sudah disiapkan.”

Arkan membalas singkat.

“Saya segera ke sana.”

Pintu lift terbuka di lantai direksi. Arkan berjalan menuju ruang rapat utama. Dari balik pintu kaca, ia melihat Pak Surya berdiri di dekat meja. Dua map tebal tersusun di samping sebuah tablet.

“Selamat pagi, Pak Arkana.”

“Pagi, Pak Surya.”

Arkan meletakkan ponsel di atas meja. Ia membuka map pertama. Beberapa lembar rancangan agenda sudah diberi penanda.

Ada tiga pokok pembahasan. Kondisi perusahaan. Evaluasi kewenangan manajemen. Penetapan proses transisi jabatan.

“Ini rancangan dari sekretariat?” tanya Arkan.

“Benar, Pak. Tim sekretariat menyusunnya bersama bagian hukum internal. Mereka juga sudah memeriksa ketentuan anggaran dasar yang berkaitan dengan kewenangan direksi.”

Pak Surya menggeser tablet ke hadapan Arkan.

“Bagian hukum menyiapkan beberapa alternatif penyesuaian kewenangan direktur. Semuanya masih berupa rancangan. Belum ada keputusan yang ditetapkan.”

Arkan membaca halaman pertama sampai selesai. Ia kemudian meletakkan kembali lembar itu.

“Jangan masukkan persoalan pribadi saya ke dalam agenda perusahaan.”

Pak Surya mengangguk. “Saya sudah mengingatkan tim agar pembahasannya tetap berada dalam koridor tata kelola.”

“Saya ingin hal itu jelas sejak awal.”

“Baik, Pak.”

Arkan menutup map. Tatapannya tertuju pada Pak Surya.

“Ini bukan soal Laras. Bukan pula soal Reno. Kita sedang membicarakan perusahaan yang memiliki karyawan, mitra usaha, dan tanggung jawab kepada banyak pihak.”

Pak Surya tidak langsung menjawab.

“Saya tidak ingin ada seorang pun yang merasa harus kehilangan jabatan hanya karena pernah dekat dengan seseorang yang menyakiti saya.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Perusahaan bukan rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan kemarahan.”

Arkan kembali membuka map. Ia memeriksa daftar pejabat yang tercantum dalam rancangan struktur. Beberapa nama masih berada pada posisi yang sama. Sebagian lainnya masuk dalam usulan penyesuaian kewenangan.

“Apakah semua pejabat terkait sudah menerima pemberitahuan?”

“Belum, Pak. Kami menunggu arahan Bapak sebelum mengirimkan undangan resmi.”

“Jangan kirimkan apa pun sebelum susunan agendanya selesai diperiksa. Saya tidak ingin ada informasi yang menimbulkan kesimpulan keliru.”

Pak Surya mencatat arahan tersebut.

“Untuk rapat persiapan pukul sembilan, siapa saja yang hadir?”

“Tim sekretariat, bagian hukum internal, dan beberapa pejabat yang berkaitan dengan pembagian kewenangan.”

“Pastikan mereka membawa dokumen pendukung, bukan hanya ringkasan.”

“Baik.”

Arkan kembali memeriksa halaman berikutnya. Ada catatan mengenai kemungkinan transisi jabatan. Di bawahnya tercantum pembagian tugas dan jalur persetujuan proyek.

Ia berhenti pada sebuah tabel.

Nama beberapa pejabat muncul pada jalur persetujuan yang berbeda. Ada yang bertugas memeriksa dokumen. Ada pula yang memiliki kewenangan memberikan persetujuan akhir.

Arkan menunjuk salah satu kolom.

“Jalur ini berlaku untuk semua proyek?”

“Tidak seluruhnya, Pak. Ada beberapa proyek dengan mekanisme persetujuan khusus.”

“Dasarnya?”

“Nilai transaksi dan jenis pekerjaan. Namun, kami masih mencocokkan ketentuannya dengan dokumen lama.”

“Saya ingin mengetahui siapa yang memiliki kewenangan memeriksa transaksi sebelum disetujui.”

Pak Surya membuka catatan di tabletnya.

“Apakah jumlahnya sudah diketahui? Belum sepenuhnya.”

Arkan mengangguk pelan.

“Kalau begitu, jangan membuat kesimpulan sebelum pemeriksaan selesai.”

“Tim sedang mengumpulkan dokumen pendukung.”

“Pastikan setiap transaksi memiliki jejak persetujuan. Jangan menghapus, mengubah, atau memperbaiki catatan lama hanya supaya laporan terlihat rapi.”

Pak Surya mengetik arahan itu.

“Kalau ditemukan ketidaksesuaian, catat sebagaimana adanya.”

“Baik, Pak.”

Arkan menggeser beberapa halaman. Ia tidak mencari nama tertentu. Ia ingin melihat apakah prosedur perusahaan benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.

“Kita butuh kondisi sebenarnya, bukan laporan yang dibuat sempurna.”

Pak Surya mengangguk. “Saya akan sampaikan kepada tim.”

Pukul sembilan, rapat persiapan dimulai. Arkan duduk di ujung meja. Pak Surya berada di sebelah kanannya. Beberapa dokumen dibagikan kepada peserta rapat.

Pembahasan dibuka dengan evaluasi struktur kewenangan. Tim sekretariat memaparkan kemungkinan transisi jabatan. Bagian hukum menjelaskan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum perubahan diberlakukan.

Tidak ada keputusan yang langsung diambil.

Arkan meminta setiap usulan disertai dasar tertulis. Ia juga meminta pembagian tugas diperiksa kembali. Jalur persetujuan proyek harus jelas, termasuk pihak yang memeriksa dan pihak yang menyetujui.

Salah satu peserta menunjukkan tabel kewenangan.

“Pada beberapa proyek, pemeriksaan awal dilakukan oleh bagian operasional. Persetujuan berikutnya diberikan oleh pejabat yang berbeda.”

“Apakah dokumen pemeriksaan awal tersimpan?” tanya Arkan.

“Sebagian besar tersimpan dalam sistem. Ada beberapa berkas lama yang masih perlu dicocokkan.”

“Catat berkas yang belum ditemukan. Jangan menganggapnya hilang sebelum pencarian selesai.”

Peserta tersebut mengangguk.

Arkan meminta salinan daftar transaksi yang menggunakan jalur persetujuan khusus. Ia tidak meminta tim langsung menuduh siapa pun. Pemeriksaan harus dimulai dari dokumen yang tersedia.

Rapat berlangsung tanpa perdebatan panjang. Beberapa usulan ditunda karena masih membutuhkan pemeriksaan hukum. Arkan tidak mempermasalahkannya.

Baginya, keputusan yang lambat tetapi memiliki dasar lebih baik daripada keputusan cepat yang keliru.

Menjelang akhir rapat, Pak Surya menyampaikan perkembangan lain.

“Beberapa anggota direksi mulai mempertanyakan alasan Bapak kembali mengambil peran lebih aktif.”

Arkan menatapnya.

“Apa yang mereka pertanyakan?”

“Sebagian ingin mengetahui apakah evaluasi kewenangan ini berkaitan dengan perubahan susunan direksi.”

“Jawab sesuai agenda resmi. Jangan menambahkan dugaan.”

“Baik, Pak.”

Pak Surya membuka catatan lain.

“Ada satu hal lagi. Hendra mulai bergerak.”

Arkan tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

“Jelaskan.”

“Hendra memahami struktur organisasi dan mulai kumpulkan dukungan. Dia minta dokumen kewenangan lama.”

“Dokumen apa saja?”

“Termasuk beberapa keputusan pemegang saham dan catatan pembagian kewenangan sebelumnya.”

Arkan berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Permintaan dokumen tidak otomatis berarti pelanggaran. Berikan sesuai prosedur. Jangan menahan dokumen yang memang berhak mereka peroleh. Tetapi setiap permintaan harus tercatat.”

Pak Surya mencatat arahan itu.

“Berikan sesuai prosedur, tapi catat peminta, tujuan, dokumen.”

“Baik, Pak.”

Arkan tidak ingin permintaan dokumen dijadikan alasan untuk menghambat hak siapa pun. Namun, ia juga tidak ingin ada berkas yang berpindah tangan tanpa jejak.

“Pastikan salinannya sesuai dengan dokumen asli,” lanjutnya. “Jangan ada halaman yang tertinggal.”

“Siap.”

Rapat berakhir setelah seluruh catatan dibacakan kembali. Arkan meminta hasil pembahasan dikirimkan kepadanya setelah diperiksa bagian hukum.

Ia kembali ke ruang kerja menjelang siang. Beberapa dokumen sudah menunggu di atas meja. Ia memeriksa satu per satu sebelum menandatangani berkas yang memang membutuhkan persetujuannya.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Nadine muncul di layar.

“Sudah makan siang?”

Arkan membaca pesan itu, lalu membalas bahwa ia masih menyelesaikan pekerjaan.

Balasan Nadine datang tidak lama kemudian.

“Jangan sampai lupa makan hanya karena pekerjaan.”

Arkan tersenyum tipis. Ia meletakkan ponsel dan melanjutkan pemeriksaan. Namun, setelah beberapa menit, ia memutuskan berhenti sebentar untuk makan.

Siang berlalu tanpa kejadian berarti. Arkan kembali memeriksa rancangan struktur kewenangan. Ia menandai beberapa bagian yang perlu diperjelas, terutama mengenai batas persetujuan transaksi.

Menjelang sore, Pak Surya mengetuk pintu ruang kerja.

“Pak, tim kepatuhan ingin menyampaikan temuan awal.”

“Silakan masuk.”

Pak Surya masuk bersama dua staf dari tim kepatuhan. Salah seorang membawa berkas hasil pencocokan transaksi. Mereka meletakkannya di hadapan Arkan.

“Kami menemukan beberapa transaksi yang perlu dicocokkan kembali dengan dokumen pendukung,” jelas salah seorang staf.

“Bagian mana yang belum sesuai?”

“Waktu pengajuan dan waktu persetujuannya, Pak. Ada perbedaan pada beberapa catatan.”

Arkan membuka berkas tersebut. Ia memeriksa nomor transaksi dan tanggal yang tercantum.

“Apakah perbedaannya terjadi pada satu transaksi?”

“Tidak, Pak. Kami menemukan beberapa catatan dengan pola yang perlu diperiksa lebih lanjut.”

Staf itu menunjukkan salah satu halaman.

Arkan membaca kode proyek yang tercetak di bagian atas.

47-KP-19.

Ia mengenali nomor tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, nomor proyek itu pernah didengarnya dari Reno.

Arkan tidak segera memberikan komentar. Ia membaca ulang dokumen tersebut, lalu memeriksa lampiran yang disertakan.

“Apakah tim sudah memastikan sumber datanya?”

“Sudah kami cocokkan dengan catatan yang tersedia. Namun, pemeriksaan belum selesai.”

“Jangan menyimpulkan keterlibatan siapa pun hanya berdasarkan nomor proyek.”

“Baik, Pak.”

Arkan menutup berkas.

“Amankan salinan dokumen yang sudah tersedia. Pastikan catatan elektronik tidak berubah. Kalau diperlukan, minta tim teknologi informasi membuat salinan forensik sesuai prosedur.”

“Siap.”

“Jangan menghubungi pihak yang namanya muncul hanya untuk meminta penjelasan informal.”

Staf kepatuhan itu mengangguk.

“Semua komunikasi harus melalui jalur resmi. Saya tidak ingin pemeriksaan ini berubah menjadi percakapan pribadi yang tidak tercatat.”

Pak Surya menerima berkas tersebut untuk memastikan tindak lanjutnya berjalan sesuai prosedur.

“Apakah laporan awal ini perlu diteruskan kepada bagian hukum?” tanyanya.

“Ya. Minta mereka memeriksa dokumen pendukung. Jangan mengirimkan kesimpulan yang belum terverifikasi.”

“Baik, Pak.”

Setelah staf kepatuhan keluar, Arkan kembali melihat kode proyek pada halaman pertama. Nomor itu membuatnya teringat pada percakapannya dengan Reno. Namun, ia tidak ingin ingatan tersebut memengaruhi pemeriksaan.

Ia meminta Pak Surya menghubungi bagian hukum internal. Tidak lama kemudian, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun datang membawa map hitam.

Namanya Bu Ratna. Ia merupakan penasihat hukum perusahaan yang menangani pemeriksaan dokumen dan kepatuhan.

“Selamat sore, Pak Arkana.”

“Sore, Bu Ratna. Silakan duduk.”

Bu Ratna meletakkan map hitam di atas meja. Ia membuka beberapa lembar dokumen yang sudah diberi penanda.

“Tim hukum menerima laporan awal mengenai sejumlah transaksi pada salah satu proyek perusahaan. Ada beberapa hal yang belum sesuai dengan dokumen pendukung.”

Arkan memperhatikan lembar pertama.

“Apakah ketidaksesuaian itu sudah dipastikan?”

“Belum seluruhnya, Pak. Kami masih mencocokkan dokumen pengajuan, persetujuan, dan catatan pembayaran.”

“Bagaimana dengan pihak yang tercantum dalam transaksi?”

Bu Ratna menarik satu lembar dari dalam map.

“Ada kemungkinan transaksi ini berkaitan dengan pihak eksternal.”

Arkan menatap dokumen tersebut lebih teliti.

“Maksud Ibu, vendor?”

“Benar, Pak. Ada satu perusahaan yang muncul dalam catatan pembayaran.”

“Apakah perusahaan itu tercantum dalam dokumen pengadaan?”

“Itulah yang sedang kami periksa. Ada dokumen yang belum sepenuhnya cocok dengan catatan persetujuan.”

Arkan bersandar sebentar.

“Jangan menyampaikan nama perusahaan itu ke pihak yang tidak berkepentingan. Saya ingin pemeriksaan dilakukan secara tertutup, tetapi tetap sesuai prosedur.”

“Sudah kami batasi, Pak.”

“Apakah tim memiliki salinan dokumen yang cukup untuk melanjutkan pemeriksaan?”

“Untuk sementara, cukup. Namun, ada beberapa bukti pendukung yang perlu diverifikasi kembali.”

“Pastikan seluruh prosesnya tercatat.”

Bu Ratna mengangguk. Ia memasukkan kembali sebagian dokumen ke dalam map, tetapi menyisakan satu lembar di hadapan Arkan.

“Nomor proyeknya sama dengan yang dilaporkan tim kepatuhan?”

“Benar, Pak.”

Arkan melihat kode 47-KP-19 sekali lagi.

“Lanjutkan pemeriksaan. Saya tidak ingin ada pihak yang diperlakukan sebagai pelaku sebelum bukti tersedia.”

“Kami akan berhati-hati.”

“Jika ada dokumen yang tidak sesuai, jangan diperbaiki untuk menyesuaikan laporan. Simpan versi aslinya.”

“Baik, Pak Arkana.”

Bu Ratna kemudian berpamitan. Pak Surya mengantarnya sampai pintu sebelum kembali ke ruang kerja.

Arkan masih duduk di tempatnya. Ia memeriksa kembali catatan yang ditinggalkan tim kepatuhan. Ada beberapa bagian yang belum terjawab. Namun, satu hal mulai terlihat jelas.

Persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui perubahan jabatan. Ada rangkaian transaksi yang harus ditelusuri. Ada dokumen yang perlu diverifikasi. Ada kemungkinan pihak luar ikut terlibat.

Ia tidak ingin bergerak berdasarkan dugaan. Namun, ia juga tidak boleh membiarkan bukti menghilang.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bu Ratna.

“Pak Arkana, setelah memeriksa kembali dokumen pendukung, kami menemukan satu rangkaian transaksi yang tidak sesuai dengan catatan persetujuan. Ada indikasi keterlibatan vendor eksternal dan penggunaan otorisasi yang perlu diverifikasi.”

Pesan berikutnya menyusul.

“Saya perlu bertemu Bapak besok pagi. Ada transaksi yang perlu segera diaudit sebelum bukti pendukungnya semakin sulit ditelusuri.”

Arkan membaca kedua pesan itu sampai selesai. Ia kemudian meneruskan instruksi kepada Pak Surya agar jadwal pertemuan disiapkan.

Malam belum tiba, tetapi pekerjaannya hari itu belum benar-benar selesai. Ia menatap kembali kode proyek pada dokumen di hadapannya.

47-KP-19.

Nomor yang pernah disebut Reno kini muncul dalam laporan resmi perusahaan. Arkan belum tahu siapa yang bertanggung jawab. Ia juga belum tahu seberapa jauh rangkaian transaksi itu melibatkan pihak luar.

Namun, ia tahu pemeriksaan tidak boleh berhenti pada pergantian jabatan.

Kali ini, persoalannya bukan lagi sekadar pergantian jabatan. Ada sesuatu di dalam perusahaan yang harus dibongkar.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!