NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Pesta Rasa

Kemeriahan malam grand launching proyek K-Sambal Fusion mencapai klimaksnya ketika area pameran utama dibuka untuk umum dan para tamu undangan VVIP. Ruang ballroom hotel berbintang lima itu disulap menjadi sebuah surga kuliner berkonsep modern-etnik yang memukau. Di sisi utara ruangan, sebuah live cooking station bernuansa kayu terang menyajikan berbagai macam snack dan hidangan pendamping yang dirancang khusus untuk dipadukan dengan saus andalan kami.

Deretan camilan gurih mulai dari crispy chicken wings, korean corn dog berbalut kejuモッツァレラ, keripik singkong balado premium khas Nusantara, hingga tteokbokki kenyal tersusun rapi di atas nampan-nampan saji modern. Para tamu undangan, termasuk para food vlogger ternama dan perwakilan mitra bisnis dari Korea Selatan, tampak antusias mencocol camilan tersebut ke dalam mangkuk kecil berisi saus K-Sambal Fusion.

Perpaduan antara kepedasan rempah khas Indonesia yang hangat dan gurihnya fermentasi gochujang Korea benar-benar menciptakan ledakan rasa (flavor explosion) di lidah.

"Daebak! Rasa pedasnya pas banget di lidah orang Korea, tapi tetap punya aroma otentik rempah Indonesia!" puji Tuan Park, perwakilan agensi kreatif asal Seoul, sambil mengangkat jempolnya di hadapanku.

Sonya, Juno, dan Rudi sibuk melayani para pengunjung dengan senyuman lebar. Suasana di stan pameran kami begitu hidup, energik, dan penuh gelak tawa.

Namun, fenomena yang paling mencengangkan terjadi di area display produk komersial. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam sejak pintu pameran dibuka, ratusan botol kemasan perdana K-Sambal Fusion yang dipajang di rak etalase ludes diserbu pembeli. Bahkan beberapa barang stock cadangan yang disiapkan di gudang belakang ikut disikat habis oleh para pengunjung yang tidak mau kehabisan.

"Mbak Mei! Gila, ini stok kita ludes! Barusan staf logistik bilang etalase sudah kosong total!" pekik Sonya histeris gembira sambil memegang lengan bajuku, matanya berbinar-binar tak percaya.

Aku menghela napas lega, senyuman lebar terukir indah di wajahku. Semua kerja keras, lembur berhari-hari, dan air mata lelah terbayar sudah malam ini. "Alhamdulillah... kerja tim kita luar biasa malam ini, Sonya."

Di tengah kerumunan tamu yang berdesakan memberikan ucapan selamat, mataku sempat beradu pandang dengan Dimas dari kejauhan. Pria berjas navy itu berdiri di dekat pilar aula, memandangiku dengan senyuman bangga yang sangat tulus. Tidak ada lagi arogansi, tidak ada lagi paksaan. Yang ada hanyalah sorot mata seorang pria yang meratukan pencapaian wanitanya. Aku membalas senyumannya tipis, lalu mengalihkan pandanganku kembali pada para tamu undangan.

Menjelang tengah malam, keramaian di ballroom mulai berangsur-angsur reda. Para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan lokasi acara dengan membawa kantong suvenir eksklusif produk kami.

Aku berjalan menuju area balkon luar lounge untuk mencari udara segar. Angin malam Jakarta berembus pelan, menyejukkan kulit wajahku yang terasa penat setelah berjam-jam tersenyum di hadapan banyak orang.

"Pekerjaan yang sangat spektakuler, Maizara."

Sebuah suara ramah yang hangat menyapaku dari samping. Aku menoleh. Arvino berdiri di sana dengan segelas air mineral di tangannya, mengenakan kemeja rapi tanpa jas luar. Wajahnya memancarkan kekaguman yang tulus.

"Terima kasih, Mas Vino," jawabku tersenyum sopan. "Semua ini juga berkat dukungan dan bimbingan dari Mas Vino selama di tim."

Vino menggeleng pelan, meneguk sedikit air mineralnya lalu menatapku lekat-lekat. "Jangan merendah begitu, Mei. Otak di balik suksesnya K-Sambal Fusion ini adalah kamu. Aku sudah bekerja sama dengan Dimas bertahun-tahun, dan baru kali ini aku melihat ada seseorang yang mampu membuat CEO keras kepala itu bertekuk lutut dan meruntuhkan egonya sepenuhnya."

Aku hanya tersenyum tipis, memilih tidak menanggapi kalimat terakhir Vino tentang Dimas.

Vino meletakkan gelasnya di atas meja marmer pembatas balkon, lalu memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya. Suasana di sudut balkon itu mendadak terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Binar di mata Vino berubah menjadi serius, namun tetap memancarkan kelembutan yang selama ini selalu ia tunjukkan.

"Mei..." panggil Vino dengan nada suara yang sedikit bergetar.

"Ya, Mas Vino?"

Vino menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Selama kita bekerja bersama di proyek ini, dan terutama di masa-masa sulit saat kamu dan Dimas renggang... aku selalu ada di dekatmu. Aku memerhatikan ketulusanmu, keteguhan prinsipmu, dan cara hatimu memperlakukan orang lain."

Jantungku berdegup pelan, mulai menebak arah pembicaraan ini.

"Dan jujur, Mei... aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu," lanjut Vino tulus, menatapku dengan penuh pengharapan. "Selera kita sama, hal-hal yang kita sukai sejalan, dan rasanya menyenangkan sekali bisa mengobrol denganmu tanpa ada ketegangan."

Vino mengambil satu langkah mendekat, merapatkan jarak di antara kami.

"Malam ini, selagi proyek ini sudah sukses dan lembaran baru terbuka... aku ingin jujur menyatakan perasaanku," ucap Vino lembut. "Aku ingin mengenalmu lebih dekat dari sekadar rekan kerja, Mei. Mungkin... kita bisa mulai jalan berdua. Nonton film akhir pekan ini, makan malam bersama di tempat favoritmu, atau sekadar jalan-jalan santai menikmati malam Jakarta."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Vino. Sebuah tawaran yang sangat manis, hangat, dan menenangkan.

Tawaran tentang hal yang selama ini aku idamkan dalam sebuah hubungan, keselarasan hobi, kelembutan perlakuan, tidak ada bentakan, tidak ada ego yang mendominasi, dan seorang pria yang bisa diajak menikmati hidup dengan tenang tanpa rasa takut.

Aku terdiam cukup lama. Menatap manik mata Vino yang begitu tulus, bersih, dan penuh pengharapan. Pria di hadapanku ini adalah definisi pria idaman yang sempurna di atas kertas.

Namun... di balik kesempurnaan itu, detik berikutnya sebuah kejohanan batin menghantam kesadaranku tanpa ampun.

Tapi kenapa... kenapa rasanya aku tidak bisa membohongi diriku sendiri?

Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, suara batiku berteriak getir. Sekalipun Vino memberikan segala kenyamanan di dunia ini... kalau cuman Dimas yang aku mau.

Kenapa bayangan lelaki berwajah tegas dengan aroma woody-citrus itu yang justru terus bertahta di dalam ruang hatiku? Kenapa rasa sakit, luka, dan debar jantung yang luar biasa itu hanya mampu dihadirkan oleh seorang Dimas Arjowibowo?

Aku menundukkan pandanganku sejenak, meremas jemariku sendiri di atas pembatas balkon untuk menahan gejolak di dalam dada. Aku tahu aku tidak boleh memberikan harapan palsu pada pria sebaik Vino. Kejujuran adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa kuberikan padanya.

"Mas Vino..." ucapku parau, mengangkat wajahku dan menatap mata Vino dengan kejujuran yang telanjang. "Terima kasih banyak... terima kasih atas perasaan, perhatian, dan semua kebaikan yang Mas Vino berikan selama ini."

Vino tersenyum tipis, menangkap gelagat dari nada suaraku. "Tapi...?" sambung Vino lembut, seolah sudah membaca akhirnya.

"Tapi... maafkan aku, Mas Vino," lanjutku tulus dengan suara bergetar. "Hatiku tidak bisa dipaksa. Sehebat apa pun kenyamanan yang Mas tawarkan, dan sebesar apa pun usahamu memahamiku... bagian dalam diriku sudah terpatri pada seseorang yang lain."

Vino terdiam. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan yang meledak-ledak di wajahnya. Pria berhati lembut itu hanya menghela napas panjang, sebuah senyuman pasrah terukir di bibirnya.

"Dimas, ya?" tanya Vino lirih.

Aku mengangguk pelan. "Ya. Cuma dia."

Vino menepuk bahuku perlahan dengan sangat bersahabat. "Aku sudah menduganya sejak awal, Mei. Pria seperti Dimas memang meninggalkan bekas yang terlalu dalam untuk dihapus dengan mudah. Aku senang mendengarnya jujur daripada aku harus berharap di atas angin yang salah."

"Terima kasih pengertiannya, Mas Vino. Kamu pria yang sangat baik, dan aku yakin di luar sana ada wanita hebat yang memang ditakdirkan untuk merawat ketulusanmu," ucapku tulus.

Vino tersenyum hangat. "Sama-sama, Mei. Mari kita kembali ke dalam. Acara masih panjang, dan Tim Garuda butuh pimpinan mereka."

Usai percakapan malam itu di balkon, aku kembali masuk ke dalam ruangan untuk berpamitan kepada Sonya dan rekan tim lainnya karena aku berencana langsung pulang ke apartemen menggunakan taksi daring. Kelelahan fisik dan emosional berputar menjadi satu di dalam kepalaku.

Lobby hotel lantai dasar malam itu tampak lengang. Aku berjalan sendiri menyusuri selasar menuju pintu keluar utama, mengenakan mantel panjangku dan membawa tas jinjing kecil.

Namun, saat aku melangkah keluar menuju area piazza lobi, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam terparkir tepat di depan tangga utama. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria berjas rapi melangkah turun.

Dimas.

Pria itu berjalan mendekatiku dengan langkah mantap. Lampu-lampu sorot taman hotel memantulkan bayangan tubuh tegapnya.

"Mei," panggil Dimas pelan saat jarak kami tinggal beberapa langkah.

Aku menghentikan langkahku, menatapnya dengan lelah. "Mas Dimas? Belum pulang?"

Dimas menggeleng pelan. Matanya yang tajam meneliti wajahku dengan penuh perhatian. "Saya menunggumu. Saya tahu kamu lelah sekali malam ini. Biar saya yang mengantarmu pulang ke apartemen."

"Tidak perlu repot-repot, Mas. Aku bisa pesan taksi online sendiri," tolakku halus, berniat melangkah melewatinya.

Tapi Dimas bergerak cepat menghalangi jalanku dengan lembut, meraih pergelangan tanganku tanpa memberikan tekanan sedikit pun sangat berhati-hati agar tidak melewati batasan yang kubuat.

"Jangan menolak, Mei. Ini bukan perintah atasan ke bawahannya," bisik Dimas tulus, sorot matanya memohon. "Ini permintaan seorang pria yang ingin memastikan wanitanya sampai di tempat tidur dengan aman."

Degupan jantungku kembali bergolak liar. Pertemuan malam ini dengan Vino dan pengakuan batinku di balkon tadi seolah menemukan muaranya di hadapan pria ini.

Aku menghembuskan napas panjang, menyerah pada kelelahan dan kerinduan yang membuncah. Aku mengangguk pelan. "Baiklah... antar aku pulang, Mas."

Perjalanan malam itu di dalam kabin mobil mewah Dimas berlangsung dalam keheningan yang menenangkan. Tidak ada kecanggungan seperti dulu. Dimas menggenggam jemari tanganku di atas konsol tengah mobil genggaman yang hangat, pas, dan tidak menuntut apa pun selain kehadiran kami berdua.

Setibanya di depan lobi apartemen Kuningan, Dimas menemaniku naik hingga di depan pintu unit lantai delapan.

Aku menempelkan kartu akses, membuka pintu unit apartemenku yang temaram. Aku berbalik menghadap Dimas yang berdiri di ambang pintu koridor.

"Terima kasih sudah mengantarkanku, Mas," ucapku lirih.

Dimas menatapku lekat-lekat di bawah pendar cahaya lampu dinding koridor. Pria itu mengangkat tangannya, merapikan beberapa helai rambutku yang jatuh di dahi dengan sentuhan yang begitu lembut dan penuh rasa hormat.

"Istirahatlah yang nyenyak, Maizara," bisik Dimas dengan suara baritonnya yang dalam. "Mulai besok... izinkan saya terus berjalan di sampingmu, bukan sebagai bosmu, tapi sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupmu."

Aku mengangguk, air mata haru menetes pelan di pipiku. Di hadapan pria yang telah meruntuhkan seluruh egonya demi aku ini, aku tahu persis: sejauh apa pun aku berlari mencari kenyamanan, hatiku pada akhirnya hanya akan pulang pada satu nama Dimas Arjowibowo.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adira🍓: AQ masih setia nungguin gempurannya Dimas ini lho Thor 🤣🤣 kapan Dimas nggempur lagi ini ..... Waiting /Applaud/
total 2 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!