🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Minggu, 25 Oktober, lobi lantai dasar Menara Mahendra belum punya keramaian hari kerja. Gerbang QR berbunyi jarang. Resepsionis jaga akhir pekan mengangkat kepala ketika Sari meletakkan kartu internal di meja, lalu menunduk lagi karena Sari tidak memberi penjelasan yang bisa diteruskan.
Alina sudah berdiri di dekat pilar kiri. Badge konsultan ia simpan di tas, bukan di dada. Foto ini tidak boleh terlihat seperti pengumuman pegawai baru. Jas hitam yang sama, rambut diikat rendah, sepatu yang sudah ia pakai sejak kontrak ditandatangani. Di saku dalam tas ada salinan aturan dari Kopi Sore. Ia tidak membukanya. Baris yang dipakai hari ini sudah ia tandai semalam, di kertas yang menempel di bagian dalam lemari: tidak ada ciuman, tidak ada kata pacar, sentuhan paling jauh di siku atau punggung tangan, dan hanya jika kamera atau saksi publik memaksa.
Dimas datang dari arah lift dengan map tipis, lebih dulu dari Adrian. “Salinan saksi,” katanya. “Kemarin direncanakan lewat Sari, Senin. Saya tarik ke pagi ini. Anda bilang tidak ada kamera sebelum ada tanda tangan saya. Ini tanda tangannya. Fotonya tidak mendahului kertas.”
Alina membaca rangkap kantor itu sekali. Tujuh baris sama dengan yang di lemari. Dimas menandatangani kolom saksi, tanggal 25 Oktober, lalu menutup map. “Saya tidak menambah klausul. Dan saya berdiri jauh. Kalau saya masuk bingkai, ini jadi pengumuman tim.”
Adrian keluar dari lift pukul sepuluh tepat. Kemeja abu-abu, tanpa dasi. Ia berhenti lebih jauh dari yang diperlukan, seperti orang yang masih mengukur lantai.
“Sepuluh menit,” katanya.
“Saya tidak membawa lebih,” jawab Alina.
Sari tidak menyapa mereka sebagai pasangan. Ia mengangkat ponsel, mundur dua langkah, maju satu, lalu menggeser badan Adrian dengan telunjuk di udara, bukan dengan tangan. “Logo gedung boleh masuk di kiri, tidak penuh. Kalau latarnya terlalu bersih, hasilnya seperti rilis. Pak Dimas minta ini terlihat seperti kebetulan yang sempat terekam.”
Dimas tidak masuk ke jarak mereka. Ia berdiri di dekat pintu kaca yang menghadap drop-off, jaket dilipat di lengan, cukup jauh agar bahunya tidak ikut terbingkai, cukup dekat untuk melihat kalau ada orang luar yang mengangkat kamera. Ia mengangguk sekali pada Sari. Sudut itu dipakai.
“Setengah langkah,” kata Sari. “Bahu tidak bersentuhan. Tangan di sisi masing-masing. Jangan saling pandang lebih lama dari hitungan biasa. Wajah datar.”
Alina melangkah ke tempat yang Sari tunjuk dengan ujung sepatu. Adrian menempatkan diri di sebelah kanannya dan masih menyisakan ruang untuk orang ketiga. Sari menggeleng.
“Maju. Satu telapak. Bukan dua.”
Adrian maju. Udara di antara lengan mereka tetap ada. Dari pintu kaca, Dimas menyipitkan mata seperti orang memeriksa dua garis pada denah yang tidak mau rapat.
Sari mengangkat ponsel. “Kalau ada yang lewat, jangan berubah posisi. Yang lewat justru saksinya.”
Klik pertama terdengar keras karena lobi sepi. Adrian menatap lensa dengan rahang yang tidak bergerak. Matanya tidak mencari Alina. Bahunya tegak seperti sedang menunggu giliran berbicara di rapat dewan.
Sari menurunkan ponsel setengah detik. “Itu wajah rapat, Pak.”
“Saya tidak menyiapkan wajah lain,” kata Adrian.
Alina menatap tangan Adrian, yang sempat naik lalu turun lagi karena saku terasa salah dan lengan terasa lebih salah. “Taruh di samping paha. Jangan dikunci di belakang. Orang akan mengira Anda menyembunyikan sesuatu, dan hari ini kita justru sedang mengurangi kecurigaan.”
“Di samping.”
“Ya. Dan jangan geser ke arah saya kalau Sari bilang tiga.”
Sari sudah mengangkat ponsel lagi. “Tiga.”
Adrian tidak bergeser. Itu satu-satunya bagian yang berhasil pada percobaan kedua. Matanya tetap seperti orang yang membaca catatan di kepala. Alina, yang diminta menurunkan dagu, menurunkannya terlalu banyak sehingga hasilnya seperti ia sedang memeriksa lantai lobi.
Sari memutar layar ke arah mereka tanpa menyerahkan ponsel. “Yang ini membuat Mbak Alina kelihatan sedang mencari kartu yang jatuh. Ulang.”
“Kartu saya tidak jatuh,” kata Alina.
“Wajahnya yang jatuh,” jawab Sari, datar, lalu sudah kembali ke posisi. “Biasa saja. Kalian berdua biasa saja setiap hari. Tidak usah ditambah.”
Dimas, dari pintu kaca, tidak tertawa. Ia hanya berkata, cukup untuk mereka dengar, “Kalau diulang terus, yang lewat akan berhenti nonton. Satu orang cukup. Jangan jadi pertunjukan.”
Alina menahan tawa di gigi, bukan di suara. “Anda seperti sedang meresmikan gudang. Tarik sedikit. Bukan senyum. Saya juga tidak akan tersenyum. Aturan kita tidak mencakup senyum.”
“Saya tidak berencana tersenyum.”
“Lebih baik.”
Mereka mengulang. Adrian mengalihkan mata ke arah lift, bukan ke lensa. Alina menatap meja resepsi. Jarak tetap setengah langkah. Sari membolak-balik layar dan menggeleng lagi.
“Mbak Alina, dagu tidak perlu setinggi itu. Pak Adrian, bahu kiri turun. Kalian bukan sedang menghitung langkah mundur.”
“Saya sedang menghitung,” kata Alina. “Supaya tidak ada yang bisa bilang saya melanggar nomor tiga sebelum hari kedua.”
Dimas bersuara dari tempatnya, tidak keras. “Kalau hasilnya terlalu enak dilihat, orang kantor akan bilang ini diatur. Kaku begini justru mirip cara kalian berdiri kalau sedang tidak setuju. Mungkin itu yang cukup. Rumor tidak butuh poster. Rumor butuh satu bingkai yang bisa diisi orang lain.”
Sari menerima kalimat itu tanpa menambah pendapat. Ia memotret lagi. Tiga kali. Empat. Setiap klik, Alina merasa otot di samping rahangnya menolak diperintah rileks. Adrian tidak menutup jarak. Seorang staf dengan lencana lantai keuangan lewat dari arah lift, melambat ketika melihat ponsel Sari, lalu mempercepat langkah begitu sadar dua orang di pilar itu tidak saling menyentuh dan juga tidak saling melepaskan pandang. Tidak ada sapaan. Cukup satu orang melihat.
“Cukup,” kata Sari.
Ia menyerahkan layar pada Adrian lebih dulu, kemudian pada Alina. Foto yang dipilih memperlihatkan dua orang berdiri terlalu benar. Wajah datar. Bahu dalam satu bingkai, dengan celah yang bisa diukur siapa pun yang pernah duduk di rapat. Latar lobi hanya separuh. Tidak ada tangan yang pindah tempat. Tidak ada kehangatan yang bisa dijadikan keterangan gambar.
“Jelek,” kata Alina, masih di depan layar Sari.
“Kaku,” kata Sari, sebagai keterangan teknis, bukan hiburan. “Tidak alami. Tapi tidak ada pegangan tangan, dan logo tidak mendominasi. Untuk kebutuhan hari ini, yang ini paling sedikit risikonya.”
Dimas baru mendekat setelah ponsel diturunkan. “Saya kirim yang itu ke dua kontak. Bukan ke grup besar. Dua orang yang biasanya meneruskan apa pun sebelum makan siang, asal mereka merasa menemukannya sendiri. Tanpa keterangan. Tanpa nama hubungan. Sari tidak menulis apa-apa.”
Sari sudah menghapus sisa jepretan yang tidak dipakai. “File terpilih saya teruskan ke Pak Dimas, lalu saya keluarkan dari album pribadi. Saya tidak menyimpan foto yang tidak masuk arsip kerja.”
“Lakukan,” kata Adrian.
Alina mengeluarkan ponselnya sendiri ketika salinan yang sama masuk ke chat singkat dari Sari: satu gambar, tanpa kalimat. Ia membuka foto itu di antara jempol dan jari telunjuk. Wajahnya di layar seperti orang yang sedang menahan komentar. Wajah Adrian seperti orang yang menahan seluruh badan. Ia menekan hapus sebelum gambar itu sempat masuk album.
Adrian melihat gerakan itu. “Anda menghapus yang baru kita ambil.”
“Dari ponsel saya,” kata Alina. “Saya tidak mengoleksi latihan berdiri.”
Dimas mengangkat bahunya sedikit. “Yang di ponsel saya tetap jalan. Dua kontak itu tidak butuh versi yang kalian sukai. Mereka butuh versi yang bisa diteruskan.”
“Kirim,” kata Adrian. “Lalu selesai.”
Mereka tidak makan bersama. Tidak ada kalimat tambahan di lobi. Alina turun ke halte dengan badge masih di dalam tas. Adrian naik lagi ke lantai tiga puluh dua karena ada catatan untuk Helena yang belum ia tutup sejak telepon Rabu. Dimas tetap di lantai dasar sampai ia yakin file itu sudah berpindah dua kali, lalu ia juga pergi. Sari adalah orang terakhir yang meninggalkan pilar. Ia tidak menoleh ke resepsionis.
Siangnya, pergeseran itu sudah bisa dibaca tanpa masuk ke grup mana pun. Dimas mengirim tangkapan layar ke Adrian, dan Adrian meneruskannya ke Alina tanpa komentar. Di cuplikan yang namanya disamarkan, seseorang menulis bahwa perempuan yang disebut penyusup data room mungkin hanya orang yang memang diizinkan masuk. Balasannya lebih pendek dan lebih cepat menyebar. Ada orang baru di dekat direktur utama. Belum ada kata pacar. Belum ada kalimat yang melanggar aturan nomor dua. Kata penyusup, yang kemarin masih menempel di telepon Helena dan di pesan Gita, mulai tergeser oleh orang-orang yang tidak memegang apa pun selain satu foto kaku.
Alina membuka terusannya di studio Tebet, duduk di kursi lipat. Pintu lemari terbuka. Aturan semalam masih menempel di bagian dalam, di samping angka 12,4 dan 18,9. Di bawah percakapan yang disamarkan, foto lobi ikut terkirim utuh. Ia menatap wajah mereka yang datar, lalu menghapus gambar itu dari ponsel sampai tidak ada satu bingkai tersisa di album.
“Ini jelek,” katanya, ketika Adrian mengangkat pada dering kedua. Ia tidak memberi salam.
Di ujung sana ada dengung AC ruang kerja, bukan dengung lobi. Adrian tidak membela foto itu, dan tidak meminta salinan disimpan.
“Cukup untuk hari ini,” katanya. “Besok kita tidak ulangi kalau tidak perlu.”
Alina menatap bagian dalam lemari, tempat aturan nomor tiga tertulis dengan tinta pena kafe. “Sepakat.”
Ia menutup telepon lebih dulu. Di lantai tiga puluh dua, Adrian meletakkan ponsel di meja yang hampir kosong dan tidak membuka kalender untuk mencari jam foto berikutnya.