NovelToon NovelToon
Hari Aku Memilih Untuk Menghilang

Hari Aku Memilih Untuk Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Clarissa19

lelah, satu kata yang mewakili keadaan yang Rania rasakan saat ini. sudah 3 tahun pernikahan nya dan kevin berjalan. namun tidak sehari pun Kevin menganggap Rania sebagai istrinya.
" kapan kamu berhenti berselingkuh? dan menganggap aku sebagai istri mu?" tanya Rania dengan suara pelan dan nada lelah.
" saat kau mati" jawab Kevin dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9_ tidak sadarkan diri

Alaska menekan bel apartemen gizel dengan terburu-buru. Mereka tidak sabar menunggu pintu apartemen terbuka. Namun pintu tersebut tidak kunjung terbuka.

" gimana ini? kamu tahu kode PIN nya?" tanya Haruna

" aku tidak tahu" jawab Alaska.

Alaska memang tidak tahu kode PIN apartemen gizel. Gizel baru tinggal disini selama beberapa hari. Bahkan ini kali pertama Alaska kesini.

Keduanya berfikir keras bagaimana cara agar mereka bisa masuk? Apa mereka harus menemui petugas apartemen?

" wait! Luna, dia pasti tahu" ujar Haruna lalu segera menghubungi Luna.

Tidak butuh waktu lama, panggilan langsung tersambung.

" kak Luna, kakak tahu kode apartemen kak gizel nggak?" tanya Haruna

" tahu, kenapa memang nya na?" tanya luna di seberang sana.

Luna tidak tahu apa apa. Memang seharian ini dia dan gizel tidak saling kabaran. tapi itu hal biasa bagi mereka. Bahkan kadang sampai satu Minggu nggak saling kasih kabar.

" aku dan kak Alaska mau cek keadaan kak gizel, dari tadi pagi dia nggak angkat telpon" jawab Haruna

" 153009, kabarin aku lagi ya kalo terjadi sesuatu" ujar Luna ikut khawatir.

" oke, terimakasih kak" ujar Haruna lalu memutuskan panggilan.

Haruna segera memasukan kode sesuai yang Luna sebutkan tadi.

Pip pip pip pip pip pip

Cekleek!

Yap! Berhasil! Pintu terbuka. Haruna dan Alaska segera bergegas masuk. Mereka memanggil manggil gizel dan mencari sosok wanita tersebut di setiap sudut ruangan.

" aku akan lihat di kamar nya" ujar Haruna lalu berjalan ke kamar gizel.

Kosong, tidak ada siapapun di sana. kamar pun bersih, barang tertata rapi pada tempat nya. Kecuali selimut yang berantakan.

" kak gizel" panggil Haruna.

Haruna berjalan ke kamar mandi, pintu kamar mandi terbuka, suasana nya sunyi tanpa suara air atau suara siapa pun. Haruna melangkah masuk hingga tiba di dekat bathub.

" ARGHHH" teriak Haruna terkejut.

Alaska yang mendengar teriakan tersebut terkejut dan Tambah panik. dia berlari menyusul Haruna.

Deg!

Shock! Alaska terkejut bukan main saat melihat bathtub yang penuh dengan air dan di dalamnya ada gizel yang tak sadarkan diri dengan wajah pucat bak mayat.

" kak gizel!" seru Haruna menangis menghampiri gizel. Alaska menggendong tubuh gizel yang terasa sangat dingin membawa nya keluar dari kamar mandi. Sedangkan Haruna mengikuti Alaska sambil menangis histeris.

" runa, telpon ambulance cepat" perintah Alaska.

Haruna menurut, dia menelpon ambulance seraya berlari kecil menyusul Alaska yang berjalan dengan langkah lebar keluar dari apartemen.

Mereka tiba di bawah bersamaan dengan ambulance. Alaska membaringkan tubuh gizel di atas ranjang ambulance. Gizel di dorong masuk dan Haruna ikut masuk. Sedangkan Alaska menyusul dengan mobil nya.

Alaska, Luna dan Haruna. Ketiganya menunggu dengan perasaan gelisah di luar ruangan ICU.

Yaa, Haruna sudah mengabari Luna. Sepulang kerja Luna langsung menelpon Haruna karena dia tidak tenang. begitu mengetahui apa yang terjadi dia segera menyusul ke rumah sakit.

pintu ruangan ICU terbuka. Dokter keluar dari ruangan tersebut. Luna dan haruna segera menghampiri dokter.

" bagaimana dok? gizel baik baik saja kan?" tanya luna khawatir.

" pasien demam tinggi, kita akan melakukan pemeriksaan berlanjut saat pasien sadar" ujar dokter.

" terimakasih dok" ujar haruna.

" sama sama"

Dokter tersebut pun pergi. tidak lama gizel di pindahkan ke ruang rawat. mereka bertiga masuk ke ruangan tersebut.

Tubuh gizel terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. bibir dan kulitnya membiru akibat terlalu lama di dalam air. Mereka tidak tahu pasti seberapa lama gizel di dalam air. Tapi jika di lihat dari kondisinya pasti lebih dari 2 jam.

" zel, kamu kenapa gini sih? Seharusnya kalo ada sesuatu cerita ke aku. aku selalu ada buat kamu " ujar Luna pelan dengan suara bergetar karena menahan tangis.

Luna menggenggam tangan gizel yang tidak terpasang infus. dia menatap nanar wajah pucat sahabatnya. air matanya menetes begitu saja tidak mampu dia tahan.

" apa ini ada kaitannya sama pria itu? Katakan pada ku. Aku akan membunuh nya" ujar Luna

Haruna dan Alaska hanya diam. Haruna ikut menangis, matanya sudah bengkak dan memerah. Tenggorokan nya pun sudah kering. Namun air matanya terus menetes tanpa henti.

Alaska memeluk Haruna mengusap punggung gadis tersebut untuk memberikan ketengan.

" berhentilah menangis, kamu bisa sakit. Gizel pasti baik baik saja " ujar Alaska pelan dengan nada yang lembut berharap Haruna bisa berhenti menangis karena Haruna sudah menangis sedari tadi di apartemen.

" aku tidak " jawab Haruna justru semakin terisak.

Haruna membenamkan wajahnya pada dada Alaska. Alaska mengusap lembut kepala Haruna dan sesekali mencium puncak kepala nya.

" jika ingin berpacaran keluar saja, biar aku yang menjaga gizel" ujar Luna

Haruna seketika tersadar begitu mendengar ucapan luna. Sontak dia melepaskan peluka Alaska dengan paksa lalu berjalan ke sisi Luna menjauh dari Alaska.

" kak Luna salah paham, aku tidak mau keluar aku mau menjaga kak gizel " ujar Haruna yang sudah mulai berhenti menangis.

Alaska menghela nafas berat. Luna ini ganggu saja. Alaska berjalan ke arah sofa yang ada di dekat jendela lalu duduk di sana menunggu gizel sadar.

1 jam

2 jam

3 jam

5 jam

Sudah tengah malam, Luna dan haruna tertidur dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya pada ranjang gizel.

malam sudah larut,namun gizel belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Alaska mendekat ke arah gizel, menatap sahabatnya itu.

" jika kejadian ini ada sangkut pautnya dengan Kevin, aku berjanji, aku akan membalas semuanya. jadi bangunlah gizel" ujar Alaska

Tidak ada reaksi, gizel masih betah menutup matanya. namun keadaan nya sudah lebih baik. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi. Bibirnya tidak lagi membiru.

Alaska menghela nafas berat lah mendekati Haruna, mengendong tubuh Haruna memindahkan nya ke atas ranjang kosong yang ada di ruangan VIP tersebut.

cup!

Alaska mencium kening haruna sekilas, lalu menatap wajah damai Haruna yang terlihat cantik selama beberapa detik. Lalu dia menghampiri Luna dan membangunkan wanita yang seusia dengan gizel namun dia sudah memiliki 2 anak.

" bangunlah, leher dan punggung mu bisa patah jika tidur dalam posisi duduk" ujar Alaska

Luna terbangun, dia menegakkan tubuhnya lalu mengucek matanya yang terasa berat.

" apa gizel sudah sadar?" tanya luna

" belum" jawab Alaska.

Gizel menatap sahabatnya yang masih betah tertidur. entah sampai kapan gizel akan tidur, padahal baru kemaren mereka bertemu dan gizel terlihat sangat ceria. tapi saat ini, keadaan gizel kembali memburuk.

" tidur sana, mungkin besok gizel sudah sadar" ujar Alaska.

Luna menurut, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa panjang dan tidur di sana tanpa selimut.

Alaska tidak tega, dia melepaskan jaketnya lalu menutup setengah badan luna agar tidak terlalu dingin.

" terimakasih" ujar Luna

" hmm"

sebelum keluar dari ruangan itu, Alaska menatap Haruna sekali lagi memastikan Haruna tidur dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit dan juga di selimut oleh selimut rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!