💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pukul sebelas malam, ruang persenjataan bawah tanah Mansion Adhitama yang biasanya hanya didominasi oleh para eksekutor klan, kini kedatangan seorang tamu tak terduga.
Alana berdiri di depan meja logam panjang, mengikat rambutnya erat-erat menjadi cepol tinggi. Ia telah menanggalkan kemeja elegan dan celana bahannya, menggantinya dengan setelan taktis hitam ketat yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Sebuah sabuk utilitas melingkar di pinggangnya, menahan dua sarung pistol Glock 19 dan sekumpulan perangkat peretasan mini.
Di seberang ruangan, Elvano tengah memasukkan magasin peluru ke dalam senapan serbu HK416 miliknya. Namun, ekor matanya tak lepas dari sosok Alana. Rahang pria tampan itu berkedut keras.
Setelan tempur itu membuat Alana terlihat sangat mematikan, sekaligus... luar biasa menawan. Terlalu menawan hingga rasanya Elvano ingin mengurung wanita itu di dalam kamar dan menelan kunci pintunya.
Elvano meletakkan senapannya, melangkah menghampiri Alana dengan sebuah rompi antipeluru berbahan Kevlar ringan di tangannya.
"Angkat tanganmu," perintah Elvano pelan namun mutlak.
Alana mendongak, menyipitkan mata. "Rompi itu terlalu berat. Mengurangi kelincahanku sebesar lima belas persen. Aku butuh ruang gerak jika—"
"Aku tidak menerima penolakan, Alana. Angkat. Tanganmu," potong Elvano, nadanya direndahkan menjadi geraman mutlak yang menuntut kepatuhan.
Sambil mendengus kesal, Alana akhirnya mengangkat kedua lengannya. Elvano memakaikan rompi itu dari belakang, melingkarkan kedua lengannya yang kekar mengelilingi pinggang ramping Alana untuk mengencangkan tali pengamannya.
Untuk sesaat, dada bidang Elvano menempel erat di punggung Alana. Napas hangat pria itu menyapu tengkuknya, membuat aliran darah Alana mendadak berdesir tidak karuan. Jarak sedekat ini selalu membuat otak jeniusnya kehilangan fokus.
"Aku akan membuka jalan, dan kau menempel padaku," bisik Elvano di telinga Alana, jemarinya sengaja menahan tali rompi itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
"Satu goresan peluru saja mengenai kulitmu malam ini, aku akan membakar seluruh pelabuhan utara itu menjadi abu."
Alana berbalik, memaksa jarak di antara mereka tercipta kembali sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehat. Ia menengadah, membalas tatapan mematikan itu dengan seulas senyum tipis yang angkuh.
"Fokus saja pada pelatukmu, Tuan Adhitama. Aku bukan gadis malang yang butuh digendong di medan perang," balas Alana.
"Paman El, Bunda, komunikatornya sudah siap."
Suara datar Kael dari ambang pintu
menginterupsi ketegangan intens tersebut.
Bocah enam tahun itu berdiri dengan piyama bermotif tata surya, memegang sebuah flash disk titanium bersandi. Di sebelahnya, Kai berdiri melipat tangan di dada dengan tatapan menilai yang sangat menggemaskan sekaligus mengerikan.
"Ini kodenya, Bunda. Aku sudah memodifikasi Trojan-nya agar bisa menggandakan diri begitu masuk ke mainframe mereka," Kael menyerahkan flash disk itu pada Alana.
Alana berlutut, menerima benda itu dan mengecup dahi Kael. "Kerja bagus, Jagoan. Jaga Lea dan Oma Lidya selama Bunda pergi, oke?"
Kai melangkah maju, lalu menatap lurus ke arah pinggang Elvano yang dipenuhi senjata. "Paman El."
"Ya, Kai?" Elvano menunduk menatap keponakan kecilnya itu.
"Jika Paman pulang dengan selamat tapi Bunda Al, terluka," Kai menghentikan ucapannya sejenak, wajah polosnya berubah menjadi sedingin es batu.
"...aku akan melempar belati beracunku ke kopi Paman setiap pagi."
Bibir Elvano berkedut menahan senyum bangga yang liar. Ia berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Kai.
"Kesepakatan diterima, Jagoan Kecil. Aku jamin, bundamu akan pulang tanpa kurang satu helaian rambut pun."
______________
Kabut tipis menggantung di udara pelabuhan utara yang amis dan dingin.
Pabrik farmasi tua itu berdiri menjulang layaknya monster beton di tengah kegelapan. Di luar, terlihat selusin penjaga bersenjata laras panjang berjaga di titik-titik buta.
Mereka adalah tentara bayaran elit, bukan preman jalanan rendahan.
Dari balik tumpukan peti kemas berjarak lima puluh meter, bayangan hitam bergerak senyap.
"Tim Alpha di posisi timur. Tim Bravo mengamankan atap," lapor Jace melalui earpiece.
"Area pintu muat barang di selatan dijaga oleh tiga orang."
"Sistem kamera pengawas mereka sudah kuambil alih. Layar mereka hanya akan menampilkan rekaman kosong," suara Bastian terdengar di telinga mereka.
Pria itu bertindak sebagai mata di angkasa dari ruang server mansion. "Al, El, lorong utama menuju lantai bawah tanah bersih untuk tiga menit ke depan. Go."
"Waktunya membersihkan sampah," gumam Elvano.
Pria itu bergerak layaknya bayangan mematikan. Menggunakan senapan yang telah dipasangi peredam suara (suppressor), Elvano menembakkan tiga peluru presisi dalam waktu kurang dari dua detik. Tiga penjaga di pintu selatan ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara keluhan sedikit pun.
Alana mengikuti tepat di belakang Elvano. Keduanya bergerak dalam sinkronisasi yang menakutkan, seolah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Saat Elvano mengisi ulang senjatanya, Alana melangkah maju, mengamankan sudut buta dengan Glock kembarnya.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan, hanya insting dan kepercayaan penuh.
Mereka menyusuri lorong beton yang pengap menuju ruang bawah tanah. Di ujung tangga, sebuah pintu baja kokoh dengan pemindai biometrik menghalangi jalan.
"Mundur," Elvano bersiap menempelkan peledak C4 di engsel pintu.
"Jangan konyol. Ledakan itu akan memicu sensor seismik dan menghapus datanya," tahan Alana cepat. Ia melangkah maju, menyambungkan kabel kecil dari sabuknya ke panel biometrik tersebut. Jari-jarinya mengetik dengan lincah di atas alat peretas seukuran ponsel.
Hanya butuh waktu sepuluh detik sebelum lampu panel berubah menjadi hijau. Pintu baja itu berdesis terbuka pelan.
Elvano menaikkan sebelah alisnya, menatap Alana dengan kilat kekaguman yang tak ditutupi.
"Seksi sekali."
Alana memutar bola matanya di balik kegelapan.
"Simpan rayuan murahanmu, Tuan Muda. Kita punya lima ratus juta dolar yang harus dirampok."
Mereka berdua merangsek masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi barisan server raksasa yang berkedip biru. Udara di dalam sangat dingin. Di tengah ruangan, terdapat terminal utama mainframe yang dijaga oleh dua teknisi dan empat pengawal bersenjata berat.
Tanpa basa-basi, Elvano mengangkat senapannya. Empat tembakan senyap menumbangkan para pengawal sebelum mereka menyadari apa yang terjadi. Kedua teknisi itu menjerit panik dan mengangkat tangan menyerah.
"Ikat mereka," perintah Elvano pada Jace yang baru saja masuk menyusul dari arah belakang.
Alana langsung berlari menuju terminal utama. Ia mencolokkan flash disk titanium milik Kael, dan layar raksasa di depannya seketika berubah menjadi barisan kode merah yang bergerak agresif.
"Sistem keamanan kuantum mereka melawan balik, Al!" seru Bastian dari earpiece.
"Firewall mereka berlapis tujuh. Aku akan menahan dari luar, kau hancurkan dari dalam!"
"Paham," jawab Alana cepat.
Jemarinya menghantam keyboard layaknya badai. Matanya tak berkedip, otaknya bekerja pada kapasitas penuh untuk memecahkan algoritma yang berputar liar.
"Berapa lama?" tanya Elvano, bersiaga di ambang pintu, menatap ke arah lorong gelap.
"Tiga menit!"
Namun, kemewahan waktu tidak berpihak pada mereka.
Tiba-tiba, suara alarm mekanis yang sangat memekakkan telinga meledak di seluruh penjuru pabrik. Lampu darurat merah berputar liar.
"El! Patroli luar menyadari rekan mereka tewas! Seluruh pasukan Sindikat Bayangan di pabrik sedang menuju ruang bawah tanah!" Bastian memperingatkan dengan nada panik.
"Puluhan orang bersenjata berat turun ke arah kalian!"
"Biar mereka datang," desis Elvano. Matanya menggelap, rahangnya terkatup keras. Ia melempar senapan laras panjangnya yang kehabisan peluru, lalu mencabut dua pistol Desert Eagle mematikan dari sarungnya.
"Jace, lindungi perimeter kiri. Aku ambil kanan. Tidak ada satu peluru pun yang boleh melewati pintu ini."
Suara langkah kaki lars militer yang berat terdengar bergema dari lorong, disusul oleh rentetan tembakan senapan mesin yang menghancurkan dinding beton di luar pintu.
Baku tembak pecah.
Elvano adalah perwujudan dewa kematian yang turun ke bumi. Pria itu tidak bersembunyi. Ia berdiri kokoh memblokir ambang pintu baja, melepaskan tembakan mematikan dengan akurasi seratus persen.
Setiap letusan pistolnya memastikan satu nyawa musuh melayang. Ia menjadikan tubuh dan keahliannya sebagai tembok tak tertembus untuk wanita yang sedang berpacu dengan waktu di belakangnya.
"Al, cepat!" teriak Elvano saat serpihan dinding beton meledak di dekat kepalanya.
"Sembilan puluh persen!" Alana membalas berteriak, matanya menatap layar loading yang merayap lambat. Rentetan tembakan musuh mulai menghancurkan beberapa server di ujung ruangan, memercikkan bunga api ke segala arah.
Seorang musuh berhasil menyelinap dari sudut buta Jace, mengarahkan senjatanya lurus ke punggung Alana.
Namun sebelum peluru itu melesat, Elvano berputar dengan kecepatan kilat, menembak kepala pria itu tanpa berkedip. Percikan darah mewarnai lantai di dekat Alana.
"Seratus persen! Selesai!" Alana memukul tombol Enter terakhir dengan keras.
Layar utama seketika berubah menjadi hitam pekat, lalu memunculkan logo tengkorak kecil—signature khas Alana.
"Transfer dana berhasil! Lima ratus juta dolar aman di rekening Swiss kita! Protokol penghancuran diri pabrik aktif! Kalian punya waktu enam puluh detik sebelum tempat itu meledak!" teriakan Bastian terdengar euforia sekaligus panik.
"Cabut kodenya!" perintah Elvano.
Alana mencabut flash disk-nya. Elvano langsung menarik lengan wanita itu, merengkuh bahunya dengan kuat, dan membawa Alana berlari menerobos kepulan asap mesiu dan tembakan membabi buta.
"Tim Alpha, mundur! Buka jalur evakuasi!" raung Elvano di komunikatornya.
Mereka berlari melintasi lorong yang mulai runtuh, menembaki sisa-sisa penjaga yang menghalangi jalan. Detik-detik berlalu layaknya hitungan mundur menuju neraka.
Begitu mereka melesat keluar dari pintu muat barang dan melompat ke balik deretan peti kemas beton, sebuah ledakan dahsyat mengguncang bumi.
BLAAAR!
Pabrik farmasi tua itu runtuh ditelan bola api raksasa. Angin panas dan debu menyapu pelabuhan malam itu.
Di balik peti kemas, Elvano mendekap tubuh Alana erat-erat, melindunginya dari serpihan puing yang berjatuhan dengan tubuh besarnya sendiri. Keduanya terengah-engah, dada mereka naik-turun dengan cepat.
Perlahan, Elvano merenggangkan pelukannya. Wajahnya cemong oleh debu dan asap mesiu, namun sepasang mata elang itu menyala dengan intensitas yang lebih terang dari kobaran api di belakang mereka.
"Kau tidak terluka?" tanya Elvano dengan suara serak yang bergetar.
Alana mendongak. Ia masih berada di dalam kukungan lengan kekar pria itu. Adrenalin, ketegangan, dan kebanggaan melebur menjadi satu.
"Berkatmu, tidak," napas Alana tersengal, namun bibirnya melengkung membentuk seringai kemenangan yang liar.
"Kita baru saja membuat mereka bangkrut, Tuan Muda."
Melihat seringai congkak dari wanita yang baru saja merampok setengah miliar dolar di bawah hujan peluru itu, pertahanan terakhir Elvano runtuh. Gengsi mafianya musnah tak berbekas.
Tanpa aba-aba, Elvano menunduk, menangkup rahang Alana dengan kedua tangannya yang kasar, dan mencium bibir wanita itu dengan kebrutalan dan kepemilikan yang mutlak.
Sebuah ciuman yang mendidih oleh adrenalin, rasa syukur, dan ego yang akhirnya saling takluk di tengah abu pertempuran.
Bersambung...
walaupun Al ttp bersikeras untuk merawat si kembar sndri ,,, tp El ttp akan sllu melindungi mereka 🤗