Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma Jangan Lari
Sudut Pandang Rebecca
Aku ada di kamar. Mencoba membaca. Mencoba mengalihkan pikiran. Mencoba tidak memikirkannya. Yang jelas-jelas tidak berhasil.
Karena apa pun yang kulakukan… selalu membawaku pada Dante.
Aku menghela napas sambil menutup buku. "Konyol," gumamku.
Tapi sebelum aku sempat bangkit—pintu terbuka lebar-lebar.
"Bangun."
Aku menoleh kaget. "Clarice?!"
Ia masuk, langsung menuju lemari. "Ayo. Berdandan sana."
Aku mengernyit. "Buat apa?"
"Percaya sama aku," jawabnya. Ringkas. Seolah itu sudah cukup.
Aku melipat tangan. "Tidak."
Ia memandangku. Dengan senyum berbahaya. "Kau yang bangun sendiri… atau aku yang pilihkan bajunya."
Hening. Dua detik.
"Baiklah." Aku bangkit. "Tapi kau ini bawel banget."
"Belajar dari yang terbaik." Ia mengedip.
Dan aku bahkan tak ingin tahu siapa "yang terbaik" itu.
Beberapa menit kemudian… aku sudah siap. Baju bagus. Rambut tertata. Riasan tipis. Menatap diriku di cermin… tanpa mengerti apa pun.
"Sekarang turun," kata Clarice, sudah menuju pintu.
"Clarice—"
"Nanti kau berterima kasih padaku."
Dan ia pergi. Begitu saja. Meninggalkanku sendirian. Bingung.
Aku menarik napas dalam. "Ya sudah…" gumamku. Lalu keluar kamar.
Rumah terasa… sunyi. Aneh. Sangat aneh.
Aku menuruni tangga pelan-pelan. Suara langkahku bergema. Dan lalu—aku berhenti. Di ambang ruang makan.
Jantungku melewatkan satu detak.
Meja itu… tertata rapi. Lilin-lilin menyala. Cahaya temaram. Semuanya… terlalu sempurna.
Pandanganku menyusuri ruangan. Perlahan. Sampai menemukannya. Dante. Berdiri. Menatapku.
Jantungku berpacu.
"Kau yang melakukan ini?" tanyaku. Pelan.
Ia mengangkat bahu. "Duduk."
Tentu saja. Tanpa kelembutan. Tanpa pidato. Tapi meski begitu… aku merasakannya.
Aku menelan ludah. Lalu mendekat. Duduk. Ia duduk di hadapanku.
Hening turun. Tapi tak canggung. Melainkan… sarat.
"Kau tak perlu kabur dariku," katanya. Tiba-tiba. Langsung.
Aku memandangnya. "Aku tak kabur."
Bohong.
Ia sedikit memiringkan kepala. "Kabur, kok."
Aku mengalihkan pandangan. Sial.
"Aku cuma…" aku berhenti. Tak tahu bagaimana menyelesaikannya.
Ia terus menatapku. Menunggu. Selalu menunggu.
Aku menghela napas. "Aku tak tahu cara menghadapimu," ucapku. Pelan. Jujur.
Ia tak tertawa. Tak menyindir. Sama sekali.
"Aku juga tak tahu cara menghadapimu."
Kalimat itu membuatku memandangnya lagi. Terkejut.
"Berarti kita seri," lanjutnya. Ringkas.
Aku meloloskan senyum kecil. Tanpa sadar.
Makan malam berlanjut. Percakapan singkat. Tatapan panjang. Keheningan yang pekat. Semuanya… berbeda.
Sampai—
"Aku tak mau mengendalikanmu," katanya. Serius. "Aku tahu kelihatannya begitu. Tapi bukan itu."
Aku memandangnya. Menyimak.
"Aku cuma…" ia mengusap wajahnya, "tak tahu cara melakukan ini dengan benar. Aku tak pernah perlu."
Hening.
"Tapi aku ingin mencoba."
Kalimat itu mengena. Kuat.
"Denganmu."
Jantungku berpacu. Lagi.
"Dante…"
"Aku tahu," ia memotong. "Kita baru saling kenal sebentar. Ini bukan cinta. Aku tak bodoh."
Aku mengembuskan napas pelan. "Syukurlah," gumamku.
Ia nyaris tersenyum. "Tapi ini juga…" ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, "bukan tanpa arti."
Pandanganku turun. Ke bibirnya. Tanpa sengaja. Tapi memang menginginkannya.
"Bukan," jawabku. Pelan. Nyaris berbisik.
Keheningan kembali. Tapi kali ini… berbeda. Berat. Panas.
Jantungku berpacu. Napasku tak beraturan.
Ia bangkit. Perlahan. Mengitari meja. Berhenti di sisiku. Sangat dekat.
Seluruh tubuhku siaga. Tapi aku tak menjauh. Tak bisa.
Ia membawa tangannya ke wajahku. Perlahan. Seolah memberiku waktu. Waktu untuk kabur.
Tapi aku tak kabur.
Kupejamkan mata sesaat. Merasakan sentuhan itu. Lembut. Hangat.
"Cuma jangan lari," bisiknya. Rendah. Terlalu dekat.
Kubuka mataku. Dan lalu—ia menciumku.
Tanpa terburu-buru. Tanpa paksaan. Tapi dengan maksud. Sangat.
Jantungku meledak. Tanganku naik ke kemejanya. Menggenggam. Seolah aku membutuhkannya. Seolah aku membutuhkan dia.
Ciuman itu semakin dalam. Alami. Seolah memang sudah dinanti. Seolah memang sudah terlambat.
Aku membalasnya. Tanpa berpikir. Tanpa takut. Tanpa lari. Karena kali ini… aku tak mau lari.
Ketika kami menjauh… itu terjadi perlahan. Napas yang berbaur. Tatapan yang terpaku.
"Ini memperumit segalanya," gumamku. Masih dekat.
Ia menyapukan ibu jari ke bibirku. Perlahan. "Aku suka yang rumit."
Jantungku berpacu. Lagi. Dan kali ini… aku tahu. Aku takkan lari. Tidak lagi.