Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
POV Ravi
Aku membawa Lorena menemui keluarganya supaya mereka melihat bahwa hidupnya sejahtera, dan supaya dia melihat bahwa dirinya terlindungi dengan baik. Tapi, sikap-sikap picik mereka cukup mengejutkanku. Siapa orang yang waras yang menyembunyikan makanan saat ada tamu datang? Terlebih lagi anaknya sendiri?
Belum lagi, ini sudah hampir pukul satu siang dan adik Lorena muncul dengan piama, tanpa rasa malu sedikit pun. Yang lebih parah, kedua orangtuanya menganggap itu normal, seolah-olah itu bukan hal yang murahan.
"Kalau ada yang menjelek-jelekkan Lorena di sini sekali lagi, aku tak akan menghemat peluru, dan boleh dipastikan, aku tak pernah meleset menembak."
"Ayo kita pergi, Ravi." Mia bella memanggilku sambil menggenggam lenganku, tapi aku menggeleng.
"Belum, mi amore, kita datang kemari hari ini untuk menyelesaikan urusan. Dan sekalipun mereka tak mau, mereka harus menghormatimu." Kusimpan lagi pistolku di pinggang celanaku dan aku duduk, tapi memandang mereka dengan ancaman di mataku.
"Kau membawa gangster ke rumah kami, Nak?"
"Aku bukan gangster, aku seorang mafia. Tingkat yang lebih tinggi. Aku seorang don, pemimpin mafia Italia." Dari ekspresi wajah mereka, akhirnya mereka tampak mengerti siapa aku sebenarnya, mereka mengira aku hanya pemilik kasino.
"Miliarder? Menarik." Sela adiknya, sama matrenya seperti semua pelacur yang pernah kukenal seumur hidupku. "Kau bisa memberi sedikit bantuan untuk keluargamu, kan, Lorena? Mimpiku adalah membuka butik mode di Roma."
"Aku tak bisa dan tak mau. Kalian tak pantas mendapat apa-apa. Sejujurnya, aku bahkan tak mau datang kemari, tapi Ravi keras kepala dan ingin bertemu kalian. Dan, Luana, kalau kau mau butik mode, kau harus mengusahakannya sendiri, karena kau tak akan mendapat apa-apa dari tanganku."
"Bukan dari tanganmu, tapi siapa tahu dari tunanganmu. Aku akan mengabaikan semua yang kaukatakan tentangku, Ravi, dan aku tahu kau akan berubah pikiran begitu melihatku sudah berdandan. Tunggu sebentar, aku segera kembali." Aku bisa saja bilang tak perlu, bahwa pendapatku tak akan berubah, tapi, aku ingin melihatnya bersusah payah mencoba tampil lebih baik dan lebih cantik daripada mia bella.
Kedua orangtuanya kini lebih membisu, memandangiku dan Lorena. Sementara mia bella memandang ke samping, sesekali mendengus. Butuh kira-kira tiga puluh menit bagi adiknya untuk kembali mengenakan gaun merah, dengan belahan di kaki kiri. Tapi, belahan itu memperlihatkan dengan sempurna bahwa dia tak mengenakan celana dalam, dan dari talinya, terlihat pula dia tak memakai bra.
"Aku tahu sebuah klub malam yang bagus, bagaimana kalau kita ke sana dan Lorena tinggal di sini bersama orangtuaku."
"Dia memang selalu begini? Semacam, merasa dirinya tak tertahankan?" Tanyaku pada mia bella.
"Ya, dan sejujurnya, kalian berdua cocok, karena kau memang persis seperti itu, Ravi." Aku menatapnya, tak percaya dia menganggap adiknya cocok denganku. "Kenapa? Apa aku bohong?"
"Ya, kau bohong. Tapi kita bicarakan itu nanti di tempat lain." Aku bangkit berdiri dan menatap Luana. "Ada satu hal yang kupelajari dalam hidupku, yaitu: sesuatu yang terlalu ditawar-tawarkan, entah itu sudah busuk, entah sudah bau. Dan kau terlalu menawarkan diri, Luana, itu justru menghilangkan daya tarikmu. Aku menyukai perburuan, hal yang tak bisa kumiliki dan yang membuatku bersusah payah untuk menaklukkannya. Kalau sesuatu datang begitu saja seperti dirimu, disodorkan cuma-cuma, terlalu gampang, aku sama sekali tak tertarik sedikit pun." Kuulurkan tangan pada Lorena agar dia bangkit dan berdiri di sisiku.
"Papa, jangan biarkan dia menikahi Lorena, bilang dia harus menikahiku. Aku yang pantas mendapat kemewahan, bukan Lorena." Saat ayahnya menatapku, kutaruh tanganku ke belakang, sebab kalau dia menghina mia bella sekali lagi, aku tak akan segan menghiasi dinding dan karpet rumah ini dengan darah ayah mereka.
"Lorena tidak cocok untuk Anda, Ravi, Luana-lah yang cocok. Dia tahu cara bersikap di tengah masyarakat, kami bahkan membayar kelas etiket untuknya."
"Uang yang terbuang percuma, ya? Karena putrimu itu segalanya, kecuali beradab."
"Tak peduli, aku sebagai ayah Lorena, tak mengizinkan pernikahan ini." Aku mulai tertawa sampai terbahak-bahak. Mereka menatapku tanpa mengerti, dan hanya mia bella yang tak melihat kelucuannya. "Kau boleh tertawa sepuasmu, Ravi, tapi aku hanya menyerahkan tangan Luana untuk menikah denganmu."
"Kau tahu, hari ini aku datang kemari mengira semua yang dikatakan mia bella tentang kalian adalah bohong, atau dilebih-lebihkan olehnya. Tapi ternyata dia bahkan masih terlalu baik saat menceritakan kalian. Di sini aku melihat tujuh dosa besar: kerakusan, kemalasan, ketamakan, kesombongan, hawa nafsu, keangkuhan, dan yang terakhir, iri hati. Aku memang busuk di dalam, membunuh tanpa berpikir dua kali, tapi kalau kalian, atau berapa pun banyaknya orang yang datang ke rumahku hari ini, akan makan sampai kenyang berlebihan. Kemiskinan bukan aib, tapi menjadi hina itu aib. Kalian tak hanya menolak memberi makanan pada putri kalian, kalian menolak memberinya kasih sayang dan cinta. Aku bangga akan sosok wanita seperti Lorena, dan aku jijik akan sosok wanita seperti putri kalian yang satunya. Aku sudah siap memberi kalian sesuatu, rumah yang lebih baik, taraf hidup yang lebih baik, tapi orang-orang hina pantas hidup dalam kehinaan. Ayo kita pergi, mi amore, aku sudah melihat semua yang ingin kulihat."
"Lorena tak akan pergi, dia putriku. Kalau kau coba membawanya secara paksa, akan kupanggil polisi untuk menangkapmu."
"Silakan panggil, kita lihat siapa yang akan ditangkap. Ah, dan aku lupa bilang. Bagian datang kemari dan melamar putri Anda tadi cuma gurauan, Lorena sudah jadi istriku, sudah jadi pemilik segala yang kumiliki." Mulut mereka ternganga sampai ke lantai, dan saat kupandang mia bella, kulihat dia menegakkan kepalanya.
Meski memaksanya datang kemari, itu ternyata bagus, sebab dia bisa menunjukkan bahwa dirinya tidak sendirian dan merupakan wanita yang berkuasa. Ibunya mendekat dan meraih tangannya, dengan tatapan penuh belas kasihan.
"Nak, maafkan Mama karena telah begitu keras padamu."
"Mudah meminta maaf sekarang, kan, Madre? Yang terburuk, aku tak tahu apakah permintaan maaf ini datang dari hati atau demi kepentingan? Kurasa pilihan yang kedua. Karena itu, aku cuma punya satu hal untuk kukatakan. Sekarang ini akan menjadi final. Anggap saja aku tak pernah menjadi anak kalian, dan aku bersumpah tak akan pernah lagi datang kemari mengganggu kalian." Dia membalikkan badan dan keluar dari rumah, meninggalkanku di belakang.
"Sekarang Anda boleh mengeluarkan kue Anda dari oven dan memakannya bersama putri Anda, karena kami sudah mau pergi. Adiós."
"Jangan, Ravi, tunggu..."