Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Jiwa yang Goyah
Angin sore berhembus dingin, membawa kabut tipis dan bau hangit kayu yang terbakar. Di tengah ladang abu Hutan Bambu Hitam, kepulan asap tipis masih menari-nari pelan, seolah menjadi sisa-sisa napas dari sebuah peradaban perlawanan yang baru saja dilumat api.
Tiga sosok manusia berdiri mematung di antara puing-puing tiang kayu yang menghitam. Bagi Feng dan Bao, kehancuran markas Pasukan Merah adalah pukulan telak yang membuat dada terasa sesak.
Namun bagi Zhao Lianhua, kehancuran tempat ini bukan sekadar kekalahan taktis, melainkan sebuah hantaman dahsyat yang meremukkan dasar jiwanya.
Di usianya yang tujuh belas tahun, Lianhua telah memikul beban yang teramat berat. Ia telah menyusun taktik, memimpin gerakan gerilya, menyatukan lima faksi perlawanan, dan melangkah dengan dagu tegak bagai seorang panglima sejati.
Namun di balik keanggunan dan reputasi Sang Putri Pilihan Rakyat, di bawah lapisan ketegaran yang ia tampakkan di depan semua orang, Lianhua tetaplah seorang gadis belia yang jiwanya masih menyimpan luka menganga akibat kematian Tuan Zhao.
Lianhua berdiri terpaku. Matanya yang jernih menatap kosong pada sisa-sisa meja komando Pasukan Merah yang hangus. Jemari tangannya yang memegang gagang pedang perak perlahan-lahan kehilangan cengkeramannya.
'Apa aku terlalu terburu-buru melakukan tindakan?' batin Lianhua, suaranya di dalam hati bergetar penuh keraguan. 'Apakah karena ambisiku menyatukan faksi-faksi ini... karena keputusanku bertindak terbuka... orang-orang yang kupercaya satu per satu gugur dan ditangkap? Apakah aku yang telah membawa malapetaka ini pada Ayah Zhao, pada warga Lembah Bunga Lotus, dan sekarang pada Panglima Lu beserta pasukannya?'
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi bagaikan gelombang pasang yang menghancurkan benteng batinnya. Rasa bersalah yang teramat sangat, penyesalan yang membakar, serta rasa kehilangan yang belum sempat ia sembuhkan, mendadak bersekongkol merobohkan seluruh pertahanannya.
Brak.
Lutut Lianhua terhentak ke atas tanah berlumpur yang tertutup abu hitam. Gadis itu duduk bersimpuh di tengah reruntuhan.
Pandangannya kabur dan kehilangan fokus. Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya, dan membiarkan jubah birunya terseret di atas jelaga.
Seluruh daya, ketegasan, dan aura wibawa yang selama ini memancar darinya menguap begitu saja dalam hitungan detik. Ia tampak begitu rapuh, begitu kecil, dan tiada berdaya, sebuah ketidakberdayaan yang teramat wajar bagi seorang anak yang baru berusia tujuh belas tahun setelah menyaksikan seluruh dunianya hancur berkeping-keping.
"Lianhua!" seru Bao panik, seraya melangkah maju hendak merangkulnya.
Namun Feng menahan lengan Bao. Pemuda itu menatap Lianhua dengan dada yang bergemuruh haru sekaligus perih. Feng tahu, selama bertahun-tahun Lianhua selalu memikul semuanya sendiri tanpa pernah menunjukkan rasa lelah atau ragu. Kini, bendungan itu akhirnya pecah.
"Lianhua..." bisik Feng pelan, lalu melangkah mendekat dan berlutut di samping gadis itu. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu..."
Lianhua tidak bergerak. Tetesan air mata jatuh membasahi abu di bawahnya, dan meninggalkan bulatan-bulatan hitam di tanah.
"Aku yang memimpin mereka, Feng..." suara Lianhua terdengar sangat lirih, serak, dan bergetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kotor oleh jelaga. "Aku yang menyusun strategi... Aku yang menyuruh Panglima Lu dan Pasukan Merah bersiap... Tapi lihat apa yang terjadi! Ayah Zhao mati melindungiku... Paman Chen dan Paman Han gugur... Dan sekarang, Panglima Lu beserta seluruh pasukannya musnah tanpa tersisa!"
Lianhua menengadah dan menatap langit sore yang tertutup asap hitam dengan mata memerah penuh kepedihan.
"Kalau saja aku tidak membawa mereka ke dalam perang ini... kalau saja aku tetap menjadi A-Hua anak pemotong kayu yang bodoh di Lembah Bunga Lotus... mungkin mereka semua masih hidup!" jerit Lianhua, suara tangisnya memecah kesunyian Hutan Bambu Hitam.
Bao berlutut di sisi lain Lianhua, air matanya ikut menetes deras. "Lianhua, jangan bicara seperti itu! Kau menyatukan kami semua karena kami tertindas! Kaisar Longwei yang membakar desa-desa, bukan kau!"
"Tapi aku tidak bisa melindungi kalian!" tumpah air mata Lianhua, bahunya berguncang hebat dalam isakan yang menyayat hati. "Aku gagal... Aku tidak sanggup lagi..."
Dalam keputusasaan yang mendalam itu, kesadaran Lianhua serasa meredup. Rasa lelah luar biasa dari luka di bahunya, kelaparan yang menekan, dan tekanan batin yang meluap-luap membuat matanya terpejam.
Tubuh mulusnya terkulai lemas ke samping, dan hampir menghantam tanah sebelum lengan Feng dengan cepat menahannya.
"Lianhua! Lianhua!" teriak Feng dan Bao cemas, lalu memangku tubuh sang putri yang pingsan akibat kelelahan fisik dan emosional yang ekstrem.
Feng dengan sigap mengangkat tubuh Lianhua dan membawanya ke balik tumpukan batu besar yang tidak tersentuh api, dan terlindung dari terpaan angin malam yang mulai memburu. Bao bergegas menyelimuti Lianhua dengan jubah tebal dan memeriksa denyut nadinya.
"Napasnya sangat lemah, Feng. Batinnya terlalu terguncang," ujar Bao dengan raut wajah cemas. "Luka di bahunya memang tidak berdarah lagi, tapi demamnya kembali naik."
Feng menatap wajah pucat Lianhua yang terpejam rapat. Di saat-saat seperti inilah Feng menyadari betapa besarnya pengorbanan Lianhua selama ini. Gadis ini selalu berdiri di depan sebagai perisai bagi semua orang, hingga lupa bahwa ia sendiri butuh perlindungan.
"Kita jaga dia di sini sampai malam," tegas Feng. "Biarkan dia beristirahat. Saat dia terbangun nanti, kita harus siap menjadi kakinya jika dia tidak sanggup melangkah."
Bersambung...