NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pewaris Amazon

Reinkarnasi Pewaris Amazon

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: To Raja

Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.

Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.

Hanya ada satu hal, Balas Dendam!

Mari kila mulai permainannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Siapa di mobil?

Hujan badai berlangsung lebih lama dari perkiraan, hingga menjelang malam, hujan itu belum berhenti juga hingga membuat 3 orang yang berteduh di bawah pohon besar sudah semakin pucat karena menahan dingin yang luar biasa menusuk tulang.

Sementara di dalam rumah, daging kelinci yang dimasak rica telah siap disajikan di atas meja makan.

Wangi makanan yang menggugah selera membuat Jingga tidak bisa menahan rasa laparnya hingga perutnya berbunyi begitu keras.

Bunyi itu membuat Farhan menatap Jingga sambil menahan tawanya.

Jingga langsung membuang muka, begitu malu dengan perutnya yang sudah tidak sabar mencicipi masakan Farhan.

Farhan menaruh nasi di mangkok jingga dan daging kelinci rica di atasnya, "makanlah," ucap Farhan.

"Selamat makan," kata Jingga segera menunduk menikmati makanannya, tidak berani lagi menatap pria di hadapannya.

Sementara itu, di luar pondok di bawah pohon besar, tiga orang yang menggigil menahan dingin juga merasakan perut mereka menjadi sangat lapar.

"Ini semua salah Jingga, kita belum makan siang, dan sekarang menjelang malam, Tasya pasti sangat kesakitan," kata Bryan sambil menghela nafas melihat tasnya yang meringkuk dipelukan mereka berdua.

"Kak Arga, aku sangat lapar, ada wangi makanan dari pondok itu, bisakah mereka membaginya sedikit untuk kita?" ucap Tasya dengan suara gemetar sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang ia alami saat ini.

"Tapi orang itu sangat keras kepala, dia bahkan tidak tergiur dengan uang," kata Bryan sambil menghela nafas, dia benar-benar takut untuk pergi lagi ke sana, bagaimana kalau senapan itu meledak di kepalanya dan membuatnya tidak bisa kembali ke keluarga Amazon untuk memastikan posisi pewaris keluarga sah di bulan depan adalah Tasya.

"Biar aku pergi," Arga segera berdiri, melangkah menuju pondok kayu itu.

Tasya memegang perutnya yang keroncongan, dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa laparnya, bahkan rasa dingin ini seakan-akan membuat tubuhnya hampir kehilangan kesadaran.

"Jangan khawatir, Arga pasti bisa mendapat makanan untuk kita," ucap Brian.

Tasya mengganggu pelan menatap Arga yang kini tiba di depan pintu pondok.

Tok tok tok...

Suara ketukan pintu membuat Farhan dan Jingga menghentikan sesi makan mereka dan menatap ke arah pintu.

Dari luar, terdengar suara Arga, "aku Arga dari keluarga Amazon. Keluarga kami adalah salah satu keluarga besar di kota Raya, saat ini kami bertiga benar-benar tidak ada tempat berteduh dan tidak memiliki makanan. Jika kalian berbaik hati memberikan kami makanan atau tempat berteduh hari ini, maka kami akan membalas Budi besar kalian di lain hari."

Jingga menggenggam erat sendok di tangannya, menatap Farhan dengan rasa cemas.

Bagaimana kalau Farhan membuka pintu?

Dia tidak Sudi satu ruangan dengan 3 orang itu, tapi dia juga tidak mungkin menyuruh Farhan untuk tidak berbuat baik.

"Lanjutkan makan mu," kata Farhan sambil menaruh sepotong daging kelinci di piring Jingga lalu dia kembali menyuap makanannya sendiri, seolah-olah tidak ada tamu di depan pintu pondok mereka.

Dia pun tersenyum dan kembali menikmati makanannya.

Sedangkan di luar, Arga mendekatkan telinganya ke pintu dan bisa mendengar suara dari dalam, 'Sial, orang ini benar-benar tidak mau membantu kami bahkan setelah tahu kami berasal dari keluarga Amazon, apa dia tidak mengenal keluarga Amazon?' Pikir Arga dalam hati.

"Kalian benar-benar tidak akan memberi kami pertolongan? Kalau begitu jangan salahkan keluarga Amazon jika ke depannya terjadi sesuatu pada kalian!" kata Arga dengan suara yang begitu dingin, ia pikir ancaman seperti ini akan membuat orang di dalam pondok berubah pikiran dan akhirnya memberi mereka pertolongan.

Farhan yang makan merasa gangguan dari mereka sudah sangat keterlaluan, jadi dia tidak tahan lagi dan segera mengambil senapan yang digantung di dinding lalu membuka pintu dan menyodorkan ujung senapan itu tepat di dahi Arga.

Arga sangat terkejut dengan tingkah Farhan itu, ia membeku di tempat.

"Satu kata lagi dan senapan ini benar-benar meledak di kepalamu!" ancam Farhan.

Kaki Arga langsung lemas seperti agar-agar, ia runtuh ke tanah dan merangkak menjauh dari pondok sebelum berlari sekencang-kencangnya kembali ke pohon besar untuk berteduh.

"Orang itu gila! dia sungguh gila!" gerutu Arga sangat panik.

Dari jendela, Jingga tersenyum puas melihat Arga yang berlari terbirit-birit, "aku akan memberimu hadiah yang pantas nanti," kata Jingga berbalik menahan Farhan dengan senyuman yang tidak bisa ditahan.

"Aku menantikan hadiahnya," kata Farhan segera menggantung senapannya.

Keduanya pun lanjut makan bersama, mengabaikan 3 orang di pohon yang menggigil kedinginan.

Sampai 2 jam berikutnya, hujan terus mengguyur hingga akhirnya perlahan-lahan reda.

"Hujannya sudah reda, aku akan mengantarmu kembali," ucap Farhan membuka lemari dan mengeluarkan dua jaket kulit.

"Baiklah," Jingga menggangguk, mengambil satu jaket yang disodorkan Farhan lalu memakainya.

Jaket itu kebesaran di tubuhnya, tetapi semakin besar itu malah membuatnya merasa semakin hangat.

"Kakimu masih terluka, naiklah ke punggungku," ucap Farhan.

"Tapi..." Jingga merasa ragu.

"Naik atau Kita menginap di sini malam ini," kata Farhan langsung membuat wajah Jingga menjadi merah padam, dia dengan patuh naik ke punggung Farhan.

Keduanya pun meninggalkan pondok, melalui jalan setapak untuk pergi ke jalan besar.

Sembari melangkahkan kakinya, Farhan sesekali menggertakkan giginya karena sesuatu yang kenyal di belakang terus menyentuhnya dengan nakal.

'Seharusnya aku menggendongnya di depan saja,' pikir Farhan dalam hati, terlalu sulit menghadapi perempuan yang ada di punggungnya.

"Telingamu merah," ucap Jingga mengusap telinga Farhan yang entah kenapa sudah semerah tomat.

Sentuhan dingin dari jari Jingga yang lembut membuat Farhan menghentikan langkah kakinya.

Susah payah dia menahan diri dan sekarang perempuan ini semakin bertingkah saja?

"Kenapa berhenti?" tanya Jingga.

"Jangan pegang telingaku," kata Farhan dengan suara serak.

"Oh, maafkan aku," Jingga langsung menjauhkan tangannya dari telinga Farhan.

Farhan menghela nafas panjang, berusaha meredakan gejolak tubuh yang mulai tegang dari atas sampai bawah.

Setelah berjalan sekitar 5 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah mobil yang diparkir di pinggir jalan besar.

Farhan menyingkirkan beberapa semak belukar yang sengaja diletakkan di sana untuk menutupi keberadaan mobil lalu membuka pintu dan dengan hati-hati mendudukkan Jingga di tempat duduk.

Farhan juga dengan hati-hati memasangkan sabuk pengaman, tetapi posisi yang terlalu dekat membuat wajah Jingga menjadi merah padam.

Deg! Deg!

Jantung keduanya berpacu sangat kencang sehingga Farhan buru-buru menutup pintu dan berpindah ke kursi kemudi lalu melajukan mobil meninggalkan pegunungan.

Sementara 3 orang yang sudah berhasil sampai di jalan besar, Mereka berdiri di kegelapan malam menunggu jika ada mobil yang lewat untuk meminta tumpangan ke kota.

Semua ponsel mereka telah mati terkena air dalam waktu yang lama jadi tidak ada yang bisa mereka hubungi untuk memberikan bantuan.

Saat melihat sebuah mobil Jeep hitam melaju ke arah mereka, ketiganya dengan cepat melambaikan tangan mereka.

"Tolong beri kami tumpangan!" Teriak Brian.

Sementara di dalam mobil Jeep hitam itu,Jingga duduk memperhatikan ketiganya, tatapannya begitu dingin dan juga ada rasa puas melihat ketiganya yang tampak kacau di kegelapan.

"Apa perlu kita beri mereka tumpangan?" tanya Farhan.

"Untuk apa? bukankah kau tidak suka orang asing?" kata Jingga.

"Hm," jawab Farhan dengan singkat dan terus melajukan mobil meninggalkan ketiga orang itu.

"Sialan!" Bryan berteriak kesal saat melihat mobil itu sama sekali tidak memperlambat lajunya dan meninggalkan mereka.

Sementara Tasya, ia membeku di tempatnya ketika secara samar ia melihat perempuan yang duduk di kursi penumpang depan sepertinya mirip Jingga.

"Ada apa Tasya? apa kau merasa tidak enak?" tanya Arga memperhatikan raut wajah Tasya.

"Aku,,, aku seperti melihat Kak Jingga," kata Tasya.

"Jingga? Itu mustahil, dia sudah terbawa arus sungai, tidak mungkin ada di sini," kata Bryan.

"Benar, lagi pula tidak ada untungnya memikirkannya, perempuan picik seperti dia tidak pantas dikasihani," kata Arga.

Tasya mengangguk, "kalian benar, aku hanya agak cemas memikirkannya, tapi tidak mungkin dia muncul di sini. apalagi di mobil yang baru saja pergi itu," ucap Tasya.

"Sudah, kau tidak perlu cemas lagi padanya, kalau kami tidak mendengar suara teriakanmu tadi pagi, kau mungkin sudah tenggelam di dasar sungai," ucap Arga.

"Iya, aku selamat berkat kalian berdua, terima kasih banyak. Budi ini pasti akan ku balas berkali-kali lipat di masa depan," ucap Tasya.

"Kau jangan khawatir, kami berdua akan selalu melindungi mu."

1
Allea
ahhh berarti si jingga ini awalnya bodoh y thor 😁
Soraya
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!