NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMBAKAN JARAK JAUH

Leo mengusap darah yang menetes dari pelipisnya, membiarkan cairan lengket itu mengering di punggung tangannya. Lorong di antara tumpukan kontainer itu sekarang berbau anyir darah dan kotoran. Mayat Silas dan dua anak buahnya tergeletak di atas aspal yang basah, namun Leo tidak punya waktu untuk merayakan kemenangannya.

Ia menyeret langkahnya keluar dari celah sempit itu, menuju kontainer baja berwarna biru pudar dengan nomor seri X-774 tercetak tebal di pintunya. Tangan kirinya merogoh kompartemen rompi taktis, mengeluarkan dua blok peledak C4 seukuran batu bata kecil yang ia bawa dari bengkel Arturo.

Napas Leo putus-putus. Bahu kanannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum beracun setiap kali ia bergerak. Ia menempelkan blok peledak itu di engsel utama dan gembok kontainer, menekan pemicu nirkabelnya hingga lampu indikator merah berkedip pelan.

"Elena, bahan peledak sudah terpasang. Aku segera keluar dari zona ini," bisik Leo menekan tombol earpiece di telinganya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara statis pelan yang berdesis di telinganya.

"Elena? Masuk," panggil Leo mengernyitkan dahi, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.

Masih sunyi. Sinyalnya tidak diblokir, tapi gadis itu sama sekali tidak merespons. Leo mendecak kesal. Ia memutar tubuhnya untuk kembali ke jalur aman, namun suara derap langkah berat dari arah utara memaksanya membeku di tempat.

Tiga sorot lampu senter menyapu area depan kontainer X-774. Lima orang anak buah Marco muncul dari balik persimpangan lorong, senapan serbu siap di tangan mereka. Mereka sedang melakukan penyisiran lapis kedua setelah mendengar keributan Silas tadi.

Salah satu sinar senter itu tanpa sengaja menyapu sosok Leo yang sedang berdiri mematung di dekat pintu kontainer.

"Itu dia! Si bangsat itu di sana!" teriak preman yang memegang senter, langsung mengangkat laras AK-47 miliknya.

"Habisi! Jangan kasih ampun!" raung preman lainnya membabi buta.

Leo refleks melompat ke samping, menjatuhkan dirinya di balik tumpukan palet kayu setinggi dada yang kebetulan ada di dekat sana. Sedetik kemudian, neraka kembali bocor. Puluhan peluru tajam memberondong tumpukan palet itu. Serpihan kayu berhamburan ke udara, menghujani tubuh Leo seperti badai jarum. Suara tembakan bergema memekakkan telinga, memantul di antara dinding-dinding baja pelabuhan.

Berlindung di balik kayu melawan senjata otomatis adalah bunuh diri. Palet itu mulai hancur berkeping-keping. Leo menggertakkan gigi, mengangkat senapan M4A1-nya dengan tangan kiri, lalu menembak balik secara membabi buta dari balik perlindungan yang semakin menipis itu.

Dua preman di barisan depan terhuyung mundur saat peluru Leo mengenai rompi mereka, tapi mereka tidak tumbang. Tiga preman lainnya terus bergerak menyebar, mencoba mengepung Leo dari sisi kiri dan kanan.

Klik. Klik. Klik.

Senapan M4A1 di tangan Leo kehabisan amunisi. Pria itu mengumpat pelan. Ia melempar senapan kosong itu ke tanah, lalu menarik pistol HK USP kaliber .45 dari sarung di pinggangnya. Tapi ia tahu, satu pistol melawan lima senapan serbu di area terbuka sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Pandangannya mulai kabur karena kehilangan banyak darah. Otot kakinya gemetar.

"Maju! Dia udah kehabisan peluru! Tembak kepalanya!" komando salah satu preman, langkah sepatu botnya terdengar makin dekat.

Leo menyandarkan punggungnya ke sisa palet kayu yang sudah bolong-bolong. Ia menarik napas panjang, bersiap menghadapi akhir. Kalau ia harus mati di dermaga busuk ini, setidaknya ia akan membawa satu atau dua dari mereka bersamanya.

Preman pertama muncul dari sisi kanan palet, menyeringai buas sambil menodongkan moncong senapannya lurus ke wajah Leo.

"Kirim salam buat bapak lu di neraka," ejek preman itu jarinya mulai menekan pelatuk.

BLAARRR!

Sebuah suara ledakan keras bergema, tapi bukan dari senapan preman itu. Suaranya jauh lebih berat, menggelegar dari tempat yang sangat tinggi, membelah udara malam seperti cambuk petir.

Detik berikutnya, dada preman yang menodong Leo itu meledak. Darah dan serpihan tulang menyembur ke belakang, mengotori aspal pelabuhan. Pria itu bahkan tidak sempat menyadari apa yang membunuhnya. Tubuhnya terhempas ke tanah bagaikan boneka kain yang talinya diputus paksa.

Leo tersentak kaget. Ia menatap mayat di depannya, lalu menoleh ke sekeliling. Sisa preman yang masih hidup langsung menghentikan tembakan mereka, panik mencari arah datangnya serangan.

"Woy! Dari mana tembakan itu?! Siapa yang nembak?!" jerit salah satu preman mundur ketakutan, berlindung di balik drum besi.

"Gue nggak lihat apa-apa, anjing! Gelap banget!" balas temannya mengarahkan senapan ke segala arah tanpa tujuan yang jelas.

Terdengar suara kresek statis di earpiece Leo, disusul oleh helaan napas tenang seorang perempuan.

"Kau berhutang nyawa lagi padaku, Pangeran," ucap Elena suaranya terdengar jernih, santai, dan penuh percaya diri.

Leo mendongak ke atas, pandangannya menyisir kegelapan malam. Sekitar seratus meter dari posisinya, menjulang sebuah *gantry crane* raksasa—mesin derek pemindah kontainer yang tingginya mencapai tiga puluh meter. Di atas struktur baja derek yang berkarat itu, samar-samar terlihat siluet seseorang yang sedang tengkurap memegang senapan panjang.

Sekitar sepuluh menit yang lalu, Elena memang tidak pernah punya niat untuk duduk manis di dalam mobil seperti gadis penurut. Begitu Leo masuk ke dalam lorong kontainer, ia langsung mematikan mesin mobil, membuka bagasi rahasia Arturo, dan merakit sebuah senapan runduk M24 *Sniper Weapon System*. Senapan itu sangat berat, larasnya panjang, dan dilengkapi teropong bidik *night vision* berkekuatan tinggi.

Gadis itu memanjat tangga besi derek pelabuhan yang licin oleh air hujan, mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang. Ia merangkak ke ujung lengan derek, memasang *bipod* senapan, dan menempelkan matanya ke teropong. Seluruh area Blok C terlihat jelas dari atas sana dalam gradasi warna hijau terang. Ia bisa melihat Leo terjebak di balik palet kayu, dan ia melihat preman-preman Marco perlahan mengurung pria itu.

Elena mengatur napasnya, mengingat semua teori fisika dan memori masa lalunya saat ia masih berlatih menembak di tempat latihan rahasia. Jari telunjuknya yang lentik menempel di pelatuk yang dingin. Ia memperhitungkan arah angin laut yang berhembus dari arah timur. Salib bidik di teropongnya berhenti tepat di dada preman yang bersiap mengeksekusi Leo. Dan ia menarik pelatuknya tanpa ragu.

"Bukannya aku sudah menyuruhmu tetap di mobil?" balas Leo di earpiece, senyum tipis akhirnya terbentuk di sudut bibirnya.

"Aku peretas, Valenti. Bukan bawahanmu yang bisa disuruh-suruh," sahut Elena menggeser moncong senapannya beberapa sentimeter ke kiri. "Sekarang tutup mulutmu dan menunduk. Aku mau membersihkan sampahnya."

BLAARRR!

Tembakan kedua meletus dari atas langit.

Preman yang tadi berlindung di balik drum besi tiba-tiba memekik keras saat peluru kaliber .308 menembus dinding drum itu layaknya menembus kertas kardus, lalu bersarang telak di lehernya. Pria itu ambruk sambil memegangi lehernya yang memuntahkan darah segar, kakinya kejang-kejang di atas aspal.

Kepanikan absolut langsung melanda tiga preman yang tersisa. Mereka tidak lagi memikirkan hadiah dari Marco, mereka cuma ingin hidup.

"Sniper! Ada sniper di atas derek! Lari!" teriak preman yang paling kurus membuang senjatanya dan berlari terbirit-birit ke arah jalan keluar.

BLAARRR!

Tembakan ketiga Elena menghentikan langkah preman kurus itu secara permanen. Peluru menghantam punggungnya, membuatnya tersungkur mencium aspal tanpa bisa bangkit lagi.

Melihat ketiga temannya dibantai dari jarak jauh tanpa bisa membalas, dua preman terakhir benar-benar kehilangan akal sehat. Mereka lari berpencar masuk ke dalam labirin kontainer yang gelap, meninggalkan area X-774 secepat kaki mereka bisa berlari.

"Jalan bersih, Pangeran. Ayo keluar dari situ sekarang," ucap Elena menarik tuas senapannya untuk membuang selongsong peluru yang masih berasap.

Leo tidak membuang waktu. Ia bangkit berdiri, menahan ringisan sakit di bahunya, lalu berlari sekencang mungkin menjauhi kontainer bajakan tersebut. Ia berlari melintasi lorong-lorong besi, menembus kabut malam yang semakin tebal.

Begitu ia merasa jaraknya sudah cukup aman, sekitar lima puluh meter dari titik pusat, Leo merogoh sakunya dan mengeluarkan pemicu detonator. Ia menoleh ke belakang sekilas, lalu menekan tombol merah di alat itu.

BUMMMMM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh area Docks 9. Bola api raksasa berwarna jingga kemerahan membubung tinggi ke langit malam, menerangi pelabuhan yang tadinya gelap gulita. Gelombang kejut dari ledakan itu menyapu lorong kontainer, membawa hawa panas yang menyengat kulit Leo dari belakang.

Kontainer X-774 hancur lebur. Pintu bajanya terlempar puluhan meter ke udara. Seluruh senjata otomatis, senapan, dan amunisi ilegal milik Marco yang berada di dalamnya ikut meledak beruntun, menciptakan rentetan letusan kembang api mematikan yang tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Leo terus berlari tanpa menoleh lagi. Ia melihat sedan bekas mereka sudah menyala di dekat gerbang luar pelabuhan. Elena berdiri di samping pintu pengemudi, senapan runduk M24 sudah dimasukkan kembali ke dalam tas panjang yang tersampir di punggungnya. Gadis itu melemparkan tas berat itu ke kursi belakang, lalu masuk ke kursi kemudi.

Leo membuka pintu penumpang dan menjatuhkan dirinya ke jok mobil dengan napas terengah-engah. Ia memegangi bahunya yang berdarah, matanya terpejam menahan nyeri yang mulai membuat kepalanya berputar.

Elena menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit kasar, melesat meninggalkan area pelabuhan yang kini terang benderang oleh kobaran api. Suara sirine pemadam kebakaran dan polisi mulai terdengar meraung-raung dari arah jalan raya utama, bergegas menuju sumber ledakan.

Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Elena menoleh sekilas ke arah pria di sampingnya.

"Kau kelihatan seperti mayat hidup," komentar Elena nadanya mengejek tapi ada kelegaan yang jelas terdengar dari suaranya.

"Dan kau menembak seperti tentara bayaran Rusia," balas Leo membuka matanya, menatap Elena dengan sorot mata yang penuh arti. "Dari mana kau belajar memakai senapan runduk kaliber besar seperti itu?"

"Ayahku tidak cuma mengajariku cara menulis kode komputer," jawab Elena pandangannya tetap fokus ke jalanan yang gelap. "Di dunia bawah tanah, kalau kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri dari jarak jauh, kau akan mati sebelum bisa mengetikkan *password*."

Leo tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya ke kursi. Malam ini, kerugian Marco tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Rencana kudeta dan konsolidasi kekuatannya benar-benar kacau balau. Senjatanya hancur, algojonya mati, dan paranoia mulai merusak akal sehatnya.

"Terima kasih," ucap Leo suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.

"Untuk apa?" tanya Elena pura-pura tidak dengar.

"Karena tidak menuruti perintahku untuk diam di mobil," sahut Leo memejamkan mata.

Elena mendengus pelan, seulas senyum tulus akhirnya menghiasi wajahnya yang kotor oleh debu mesiu. Ia mengemudikan sedan itu membelah malam, membawa mereka kembali ke dalam bayang-bayang kota yang aman, meninggalkan neraka yang baru saja mereka ciptakan bagi klan Valenti palsu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!