Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — NAMA DI LUAR DAFTAR
Arga Pratama belum tidur ketika matahari mulai muncul di balik jendela kamarnya.
Di atas meja, buku catatan terbuka pada halaman yang dipenuhi nomor dokumen: REV-17, ACK-17, ACK-17-B, dan ACK-17-C.
Empat kode yang saling berkaitan, tetapi belum satu pun memberikan jawaban lengkap.
Pesan anonim semalam masih terngiang di pikirannya.
Cari buku penerimaan asli. Nama yang kamu cari tidak ada di daftar anggota tim teknis.
Arga membaca kembali foto dokumen yang dikirimkan kepadanya.
Keterangan pada gambar itu menyatakan bahwa sebuah lampiran keselamatan telah diterima, tetapi tidak diteruskan ke sekretariat rapat.
Jika catatan tersebut asli, berarti seseorang mungkin menerima dokumen penting sebelum evaluasi akhir. Namun, Arga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa gambar itu telah dipotong, diubah, atau diambil dari konteks yang berbeda.
Ia memotret layar dengan ponselnya untuk mencatat nomor referensi, lalu mengirimkan berkas asli kepada Nadia tanpa mengubah isinya.
Pesannya singkat.
Mohon verifikasi melalui tim audit. Jangan gunakan gambar ini sebagai bukti final sebelum buku penerimaan asli ditemukan.
Beberapa menit kemudian, Nadia membalas.
Aku sudah mengajukan pencarian buku penerimaan. Ada kemungkinan buku tersebut tersimpan bersama arsip administrasi pengawasan.
Arga segera meneleponnya.
“Apakah kita bisa mengetahui siapa yang bertugas menerima dokumen pada malam pengujian?”
“Belum. Daftar anggota tim teknis tidak mencantumkan petugas administrasi yang menangani penerimaan lampiran.”
“Berarti kita harus mencari daftar personel administrasi secara terpisah.”
“Benar. Aku juga meminta salinan daftar petugas kontrak yang bekerja pada masa evaluasi.”
Arga menatap catatannya.
“Kalau pengirim anonim itu benar, kita mungkin sedang mencari seseorang yang tidak pernah muncul dalam daftar teknis.”
“Jangan terlalu jauh menyimpulkan, Arga. Bisa saja petugas yang dimaksud hanya menerima dokumen tanpa mengetahui isinya.”
“Aku tahu. Kita hanya perlu menemukan identitasnya terlebih dahulu.”
Setelah panggilan berakhir, Arga menutup buku catatannya.
Hari itu, ia memiliki dua pekerjaan penting: membantu Pak Darto di bengkel dan melanjutkan penyelidikan melalui jalur resmi.
Ia tidak ingin salah satunya mengganggu yang lain.
Pukul delapan pagi, Arga tiba di Agung Joyo Motor.
Pak Darto sedang memeriksa sebuah mobil yang mengalami gangguan pada sistem kendali mesin. Begitu melihat Arga, ia menyerahkan hasil pengukuran yang telah dilakukan sebelumnya.
“Coba periksa ini.”
Arga membaca angka-angka pada lembar tersebut.
“Pembacaan sensor terlihat normal, tetapi pemiliknya mengeluhkan mesin kehilangan tenaga ketika kendaraan digunakan cukup lama?”
“Betul.”
Arga mulai memeriksa jalur bahan bakar dan sistem pengapian. Ia tidak langsung menyimpulkan penyebabnya hanya dari gejala yang diceritakan pelanggan.
Setelah melakukan beberapa pengujian, ia menemukan bahwa tekanan bahan bakar turun ketika suhu sistem meningkat.
“Masalahnya bukan pada sensor,” kata Arga. “Tekanan bahan bakar tidak stabil setelah mesin mencapai suhu operasi tertentu.”
Pak Darto tersenyum.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Memeriksa regulator dan jalur suplai sebelum memutuskan komponen mana yang harus diganti.”
“Silakan.”
Arga melanjutkan pemeriksaan hingga menemukan penyebab penurunan tekanan.
Setelah perbaikan dilakukan, mereka menguji kendaraan dalam beberapa kondisi. Hasilnya stabil.
Pak Darto menyerahkan kunci kepada pelanggan.
Ketika pelanggan pergi, Arga mencuci tangannya dan kembali membuka buku catatan.
Pak Darto memperhatikan gerakannya.
“Kamu masih memikirkan dokumen itu?”
“Ya, Pak. Ada catatan bahwa lampiran keselamatan diterima, tetapi tidak diteruskan ke sekretariat rapat.”
Pak Darto mengerutkan kening.
“Apakah kamu sudah memastikan catatan itu asli?”
“Belum. Kami baru memiliki foto yang dikirimkan secara anonim.”
“Kalau begitu, jangan jadikan foto itu sebagai dasar untuk menuduh siapa pun.”
Arga mengangguk.
“Aku sedang mencari buku penerimaan aslinya.”
Pak Darto terdiam sejenak.
“Kalau begitu, perhatikan juga prosedur penerimaan dokumen pada masa itu. Terkadang ada petugas yang menerima berkas untuk diperiksa, tetapi bukan orang yang berwenang meneruskannya.”
Arga menatapnya.
“Jadi, kita harus membedakan orang yang menerima dokumen dari orang yang memutuskan apakah dokumen itu masuk ke rapat.”
“Tepat.”
Arga menuliskan kalimat itu di buku catatannya.
Semakin jauh penyelidikan berjalan, semakin ia menyadari bahwa kebenaran tidak bisa ditemukan hanya dengan mencari satu nama.
Ia harus memahami seluruh jalur dokumen.
Siapa yang mengirimnya, siapa yang menerima, siapa yang memeriksa, dan siapa yang memiliki kewenangan menentukan penggunaannya.
Tanpa urutan itu, seseorang yang hanya menjalankan tugas administrasi bisa saja dituduh sebagai pelaku, sementara orang yang benar-benar membuat keputusan tetap tersembunyi.
Menjelang siang, Nadia mengirimkan hasil pencarian awal dari arsip kepegawaian.
Ada enam nama yang pernah tercatat sebagai petugas dokumentasi kontrak selama masa akhir proyek ARX-9.
Lima di antaranya telah memberikan keterangan atau tidak ditemukan hubungannya dengan paket evaluasi.
Satu nama belum pernah diwawancarai.
Lestari Purnama.
Arga sudah mengetahui nama itu dari keterangan sebelumnya. Lestari pernah membantu bagian dokumentasi, mencatat berkas yang masuk, dan memeriksa jumlah lampiran sebelum arsip dipindahkan.
Namun, ia tidak pernah bekerja sebagai teknisi dan tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan teknis.
Nadia mengirimkan pesan tambahan.
Lestari bersedia memberikan keterangan lanjutan melalui tim audit. Ia juga mengatakan masih mengingat sebuah buku penerimaan berwarna biru yang digunakan oleh bagian dokumentasi.
Arga segera menelepon Nadia.
“Apakah dia yakin buku itu berkaitan dengan laporan keselamatan awal?”
“Belum. Dia hanya ingat bahwa buku tersebut digunakan untuk mencatat dokumen yang diterima di luar jalur administrasi utama.”
“Apakah buku itu masih ada?”
“Dia tidak tahu. Setelah masa proyek selesai, buku-buku penerimaan dipindahkan bersama arsip lainnya.”
Arga berpikir sejenak.
“Kalau buku itu ditemukan, kita perlu memeriksa semua halamannya, bukan hanya bagian yang berhubungan dengan ARX-9.”
“Setuju. Tim audit sedang menelusuri daftar inventaris pemindahannya.”
Arga menutup panggilan dan menulis satu catatan baru.
BUKU PENERIMAAN BIRU — LOKASI TERAKHIR BELUM DIKETAHUI.
Ia mulai memahami bahwa penyelidikan mereka tidak lagi berpusat pada satu laporan.
Mereka sedang menelusuri sistem administrasi yang menghubungkan dokumen teknis, catatan akses, dan keputusan evaluasi.
Jika buku penerimaan itu ditemukan, mereka mungkin dapat memastikan apakah laporan keselamatan awal benar-benar pernah diterima, kapan dokumen itu masuk, dan kepada siapa dokumen tersebut diserahkan.
Namun, semua itu masih bergantung pada keaslian arsip yang akan mereka temukan.
Sore harinya, Arga pergi ke pusat dokumentasi untuk menghadiri pemeriksaan lanjutan bersama Nadia dan Ratih.
Di ruang konsultasi, mereka menemukan salinan inventaris pemindahan arsip setelah proyek ARX-9 ditutup.
Ratih menunjuk salah satu baris.
“Di sini tertulis bahwa beberapa buku penerimaan administrasi dipindahkan ke penyimpanan sementara. Jumlahnya enam buku.”
“Apakah nomor masing-masing buku tercantum?” tanya Arga.
“Sebagian. Ada buku penerimaan umum, buku pengiriman, dan buku pencatatan dokumen khusus.”
Nadia membuka daftar berikutnya.
“Buku penerimaan biru mungkin termasuk dalam kategori dokumen khusus. Tetapi warna sampul tidak tercatat dalam inventaris.”
Arga memperhatikan kolom lokasi.
“Ke mana buku-buku itu dipindahkan?”
Ratih menunjuk kode penyimpanan.
“Sebagian menuju arsip sementara. Sebagian lagi tercatat dalam paket administrasi pengawasan.”
“Apakah ada tanda terima untuk pemindahan itu?”
“Ada, tetapi daftar penerimanya tidak lengkap.”
Arga menghela napas.
Sekali lagi, mereka menemukan catatan pemindahan tanpa identitas penerima yang jelas.
Nadia memeriksa halaman selanjutnya.
“Tunggu. Ada satu catatan tambahan.”
Ia menunjukkan sebuah baris yang dicetak dengan tinta lebih pudar daripada tulisan lainnya.
Buku penerimaan khusus — satu volume — diserahkan untuk pencocokan dokumen REV-17.
Arga segera mendekat.
“Apakah ada tanggalnya?”
“Ya. Tanggalnya tiga hari setelah laporan akhir diterbitkan.”
“Siapa yang menerima?”
Nadia membaca kolom di sebelah kanan.
“Unit administrasi pengawasan. Kode penerimanya GW-04.”
Ruangan menjadi hening.
Kode GW-04 telah muncul berulang kali dalam penyelidikan mereka: pada revisi daftar lampiran, pemindahan dokumen, dan perubahan status inventaris.
Namun, Arga tetap tidak menganggap kode tersebut sebagai bukti kesalahan seseorang.
“Apakah ada nomor buku penerimaan itu?” tanyanya.
Ratih memeriksa dokumen sumber.
“Tidak tercantum. Hanya disebut sebagai satu volume.”
“Kalau begitu, kita belum bisa memastikan bahwa buku itu adalah buku biru yang diingat Lestari.”
“Benar,” jawab Nadia.
Arga mencatat seluruh informasi yang mereka temukan.
Buku penerimaan khusus pernah dipindahkan untuk pencocokan dokumen REV-17. Perpindahan itu terjadi tiga hari setelah laporan akhir diterbitkan dan dicatat melalui unit GW-04.
Tetapi lokasi terakhirnya belum diketahui.
Ia meminta tim audit menelusuri catatan pemindahan berikutnya, termasuk siapa yang memeriksa buku tersebut dan apakah hasil pencocokan pernah dibuat.
Jika pemeriksaan benar-benar dilakukan, seharusnya ada catatan tentang hasilnya.
Kecuali catatan itu juga belum ditemukan.
Malam itu, Arga menerima panggilan dari Rendy.
“Kamu sedang sibuk?”
“Baru selesai memeriksa arsip. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lupa bahwa final tinggal beberapa hari lagi.”
Arga tersenyum kecil.
“Aku tidak lupa.”
“Bagus. Aku tidak ingin kamu datang ke final dengan pikiran tertinggal di masa lalu.”
“Aku bisa memisahkan keduanya.”
“Semoga saja. Aku ingin mengalahkanmu ketika kamu benar-benar siap.”
Arga tertawa.
“Kalau begitu, jangan berharap aku akan mengalah dengan mudah.”
“Memang bukan itu yang kuinginkan.”
Setelah percakapan berakhir, Arga merasa lebih ringan.
Ia masih memiliki banyak pertanyaan tentang ARX-9, tetapi kehidupan barunya terus berjalan. Ia tidak akan membiarkan penyelidikan membuatnya melupakan tujuan yang sedang dibangunnya.
Keesokan harinya, ia akan kembali berlatih bersama Rendy dan Dimas.
Setelah itu, ia akan melanjutkan pencarian buku penerimaan.
Keesokan pagi, Nadia menghubunginya sebelum latihan dimulai.
“Arga, kami menemukan petunjuk tentang buku penerimaan itu.”
“Apa yang ditemukan?”
“Tim audit menemukan catatan inventaris lanjutan. Satu buku penerimaan khusus tidak tercantum dalam daftar pengembalian arsip setelah pencocokan REV-17.”
Arga langsung berhenti berjalan.
“Apakah buku itu hilang?”
“Belum bisa disebut hilang. Catatan pengembaliannya tidak ditemukan. Bisa saja buku itu dipindahkan ke unit lain tanpa pencatatan yang lengkap.”
“Apakah ada nama orang yang terakhir memegangnya?”
“Belum. Tetapi ada catatan bahwa proses pencocokan dilakukan oleh petugas administrasi yang tidak tercantum dalam daftar anggota tim teknis.”
Arga teringat pesan anonim yang diterimanya.
Nama yang kamu cari tidak ada di daftar anggota tim teknis.
“Apakah Lestari terlibat dalam pencocokan itu?”
“Belum diketahui. Namanya ada dalam daftar petugas dokumentasi, tetapi tidak ada bukti bahwa dia yang memegang buku tersebut.”
Arga menarik napas perlahan.
“Jangan menghubungkan Lestari dengan hilangnya buku hanya karena dia pernah bekerja di bagian dokumentasi.”
“Aku juga berpikir begitu.”
“Apakah ada catatan tentang orang yang menyerahkan buku itu kepada unit GW-04?”
“Ada nomor formulir pengantar, tetapi nama penyerahnya tidak terbaca dalam salinan yang tersedia.”
Arga segera meminta nomor formulir tersebut.
Nadia mengirimkannya beberapa saat kemudian.
TRF-28/ARX.
Arga menuliskan nomor itu di buku catatannya.
Satu formulir baru.
Satu pemindahan yang belum jelas.
Dan satu buku penerimaan yang tidak tercatat kembali.
Ia tahu penyelidikan akan semakin rumit. Namun, ia tidak akan berhenti hanya karena dokumen-dokumen itu sulit ditemukan.
Siang harinya, Arga datang ke pusat dokumentasi setelah menyelesaikan latihan final.
Ratih sudah menyiapkan hasil pencarian awal untuk formulir TRF-28/ARX.
“Formulir ini tercatat dalam indeks pemindahan arsip,” katanya. “Tetapi salinan lengkapnya belum ditemukan.”
“Apakah kita tahu tujuan pemindahannya?”
“Ke unit administrasi pengawasan, melalui jalur penerimaan khusus.”
“Siapa yang menyetujuinya?”
Ratih menunjuk kolom persetujuan.
“Kode GW-04.”
Arga tidak langsung bereaksi.
“Apakah kita bisa mengetahui siapa pengguna kode tersebut pada tanggal itu?”
“Tim audit sedang memeriksa daftar petugas dan catatan autentikasi. Namun, catatan autentikasi lama tidak selalu mencantumkan nama individu.”
Nadia menambahkan, “Kami juga sedang mencari catatan pemeriksaan lanjutan yang mungkin dibuat setelah buku penerimaan itu diserahkan.”
Arga mengangguk.
“Kalau buku itu diperiksa, pasti ada hasil pencocokan atau setidaknya catatan penyelesaian.”
“Seharusnya begitu,” jawab Ratih. “Tetapi kita tidak boleh menganggap catatan itu pasti ada sebelum menemukannya.”
Arga tersenyum tipis.
“Benar.”
Ia memeriksa salinan indeks sekali lagi.
Di bagian bawah halaman, terdapat catatan kecil yang sebelumnya tidak mereka perhatikan.
Lampiran pemeriksaan disimpan terpisah dari formulir pemindahan utama.
Arga menunjuk tulisan tersebut.
“Apa maksudnya?”
Ratih memeriksanya dengan teliti.
“Kemungkinan ada lampiran tambahan yang tidak ikut disimpan bersama formulir utama. Kita harus mencari nomor registrasinya.”
Nadia mulai mencatat informasi itu.
Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan pemeriksaan, seorang petugas dokumentasi masuk membawa sebuah amplop dari tim audit.
“Ini baru diterima dari penyimpanan arsip sementara,” katanya.
Ratih menerima amplop tersebut dan memeriksa labelnya.
Di bagian depan tertulis nomor registrasi yang sama dengan formulir TRF-28/ARX.
Mereka bertiga saling berpandangan.
Ratih membuka amplop sesuai prosedur dan mengeluarkan beberapa lembar salinan inventaris.
Dokumen pertama hanya berisi daftar pemindahan.
Dokumen kedua memuat catatan penerimaan.
Dokumen ketiga adalah salinan lembar pemeriksaan yang selama ini mereka cari.
Arga membaca bagian atasnya.
PEMERIKSAAN PENERIMAAN LAMPIRAN REV-17.
Di bawah judul itu terdapat tabel yang mencantumkan tiga dokumen: laporan keselamatan awal, ringkasan akses AR-01, dan daftar perubahan lampiran.
Pada kolom status, dua dokumen tercatat diterima.
Satu dokumen tercatat belum diteruskan ke sekretariat rapat.
Laporan keselamatan awal.
Arga menahan napas.
Catatan itu sejalan dengan gambar anonim yang diterimanya, tetapi salinan tersebut masih harus diverifikasi keasliannya dan dicocokkan dengan arsip resmi.
Nadia memeriksa bagian bawah halaman.
“Arga, lihat kolom petugas pemeriksa.”
Di sana tercantum jabatan petugas dokumentasi.
Nama orangnya tidak ditulis lengkap.
Hanya ada inisial.
L. P.
Arga terdiam.
Lestari Purnama.
Nama itu memang cocok dengan inisial tersebut, tetapi kecocokan inisial belum cukup untuk memastikan identitas petugas yang membuat catatan.
Mereka harus membandingkannya dengan dokumen lain yang memiliki tanda tangan atau identitas terverifikasi.
Ratih kemudian membalik halaman terakhir.
Pada bagian bawah terdapat catatan tindak lanjut yang membuat suasana ruangan mendadak sunyi.
Pemeriksaan dihentikan atas instruksi unit pengawasan. Dokumen tidak dikembalikan ke paket evaluasi.
Di sebelah catatan itu terdapat kode persetujuan yang sudah berulang kali mereka temukan.
GW-04.
Arga menatap dokumen tersebut.
Mereka kini memiliki salinan catatan pemeriksaan yang secara eksplisit menyebut bahwa pemeriksaan dihentikan dan laporan keselamatan awal tidak dikembalikan ke paket evaluasi.
Namun, mereka belum mengetahui siapa yang mengeluarkan instruksi itu, apakah penghentian tersebut memiliki dasar resmi, dan apakah catatan tersebut merupakan bagian dari arsip asli.
Arga menutup map dengan hati-hati.
“Jangan membuat kesimpulan dulu,” katanya kepada Nadia dan Ratih. “Kita harus memverifikasi dokumen ini, mencari versi aslinya, dan mengidentifikasi orang yang menulis serta menyetujui catatan tersebut.”
Nadia mengangguk.
“Setuju.”
Arga berdiri di dekat meja, menatap kode GW-04 yang tercetak pada halaman terakhir.
Selama ini, ia mencari siapa yang mengubah laporan.
Sekarang, ia menemukan petunjuk bahwa pemeriksaan terhadap lampiran keselamatan mungkin dihentikan sebelum dokumen itu dimasukkan ke paket evaluasi akhir.
Jika catatan tersebut asli, seseorang tidak sekadar gagal menemukan laporan.
Seseorang mungkin telah memutuskan untuk menghentikan proses yang seharusnya memastikan laporan itu sampai kepada komite.
Namun, identitas orang tersebut masih tersembunyi.
Dan sebelum mereka dapat mengungkapkannya, mereka harus memastikan bahwa dokumen yang baru ditemukan benar-benar mencerminkan apa yang terjadi lima tahun lalu.
Arga memasukkan nomor dokumen ke dalam buku catatannya.
TRF-28/ARX — CATATAN PEMERIKSAAN REV-17 DITEMUKAN. IDENTITAS PETUGAS, KEABSAHAN INSTRUKSI, DAN PENANGGUNG JAWAB BELUM TERVERIFIKASI.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan anonim masuk.
Sekarang kamu sudah menemukan catatannya.
Arga membaca pesan itu dengan wajah tegang.
Pesan kedua menyusul.
Tetapi kamu belum menemukan orang yang memberikan perintah.
Arga menatap layar.
Kemudian muncul satu kalimat terakhir.
Tanyakan kepada Mira Kinasih siapa yang memerintahkan penghentian pemeriksaan REV-17.
Arga perlahan menurunkan ponselnya.
Mira Kinasih, mantan Koordinator Administrasi Pengawasan, sebelumnya mengakui bahwa ia menangani pelaksanaan administrasi pemindahan dokumen. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak menyetujui keputusan teknis dan tidak mengubah status inventaris.
Kini, namanya kembali muncul dalam petunjuk anonim.
Arga tidak akan langsung menganggap Mira mengetahui siapa yang memberikan perintah itu.
Tetapi ia harus meminta keterangan resmi darinya.
Sebab, untuk pertama kalinya, mereka memiliki catatan yang menyebut pemeriksaan dihentikan atas instruksi unit pengawasan.
Dan seseorang mungkin mengetahui siapa yang berada di balik instruksi tersebut.
Bersambung.