NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ponsel Baru

“Wah, Pak Dharma tahu tidak? Aku pernah dijanjikan ibu beli kue seperti ini, tapi belum kesampaian. Mereknya bukan yang ini sih. Aku sudah lupa apa merek yang dulu ditunjukkan ibu, pokoknya tampilan kuenya mirip-mirip seperti ini. Ini boleh langsung dimakan?” Melisa girang sekali. Lumayan untuk mengganti keringat dan energinya yang sejak tadi terkuras. 

“Boleh. Silakan saja.” 

Melisa melahap kue-kue itu dengan wajah berbinar, kelihatan begitu bahagia. Dharma ikut bahagia melihat wajah itu. 

“Di rumah dulu, kue-kue begini biasanya baru boleh dibuka kalau sudah lebaran tahu, Pak Dharma,” ucap Melisa dengan mulut penuh. 

“Ditelan dulu, Mel. Nanti tersedak.” Dharma mengingatkan. 

Belum juga kalimat itu selesai diucapkan, Melisa sudah terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya. 

Dharma segera mengambilkan segelas air. Melisa meneguknya rakus. 

“Pelan-pelan, Mel. Kamu tidak sedang rebutan dengan siapa-siapa.” Dharma menepuk punggung Melisa pelan untuk membantu meredakan batuknya. 

Melisa mematung sebentar, lalu pura-pura tenang dengan melanjutkan makan kue. Kue-kue itu jadi berubah warna, menjadi merah jambu berkilau dan mengeluarkan panah-panah cinta yang dibidik tepat di jantungnya. Melisa mengedipkan matanya, itu hanya ilusi palsu yang muncul karena keterkejutannya pada sentuhan Dharma. 

“Aku ada hadiah lain. Tunggu sebentar ya.”

Kali ini Melisa benar-benar tidak bisa mengendalikan pikirannya yang sudah ke mana-mana. “Jadi ini namanya hadiah? Bukan reward karena sudah bekerja?” gumam Melisa sambil menatap kue-kue itu. 

Ia mengetikkan jarinya ke dahi dan meja bergantian, katanya itu dilakukan untuk membuang pikiran-pikiran kotor agar tidak meracuni si pemilik kepala. 

“Jangan mikir aneh-aneh deh, Mel. Pak Dharma ngasih hadiah karena berterima kasih lo udah jadi temen buat anaknya, Dayu. Udah itu aja, ga ada maksud yang lain.” Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. 

Dharma datang lagi dengan membawa ponsel baru yang masih tersegel dalam kardusnya. “Aku beli ponsel baru untukmu, yang kemarin sudah kurang layak dipakai, Mel.”

Melisa menatap kardus itu dan hanya diam. “Itu dibeli dengan gaji pertamaku dulu.”

“Bagus sekali kalau begitu. Kamu bisa menyimpannya sebagai kenang-kenangan untuk kerja kerasmu dan menggunakan ponsel baru ini untuk bekerja. Ini performanya lebih baik, Mel. Bisa membantu kamu lebih mudah menyelesaikan pekerjaan di kantor.” Dharma meyakinkan Melisa untuk menerima ponsel baru yang ia berikan. 

Melisa meneteskan air mata. Ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun. 

“Oke deh kalau Pak Dharma maksa. Aku mau pakai.”

Dharma memperhatikan Melisa membuka kardus itu dengan hati-hati. 

“Oh ya, Melisa. Sebelum masuk keluarga ini, apa kamu punya teman yang spesial? Pacar atau apapun,” tanya Dharma santai. 

Melisa menggeleng. “Aku tidak ada waktu untuk berteman dengan siapapun, Pak Dharma. Apalagi menjalin hubungan yang membuat ruang gerakku makin terbatas. Hidupku sudah rumit, aku tidak mau menambah beban dengan berhubungan dengan siapapun.”

Melisa mencoba kamera pada ponsel barunya. Ia berpose miring ke kanan dan ke kiri. “Wah, Pak Dharma. Ini bagus sekali. Pasti mahal. Berapa harganya?”

“Kamu cek sendiri saja di marketplace.”

“Lihat nih kameranya. Ayo foto bersama,” ajak Melisa sambil menunjukkan layar kamera yang menangkap wajah mereka berdua. 

Klik. Satu foto pertama. Melisa mengecek hasilnya. Ia puas dirinya terlihat cantik dalam foto itu. Dharma yang belum terlalu siap malah kelihatan seperti orang mengantuk, tapi tetap tampan. 

“Satu lagi, Pak Dharma.” 

Bukan hanya satu. Melisa mengambil beberapa gambar mereka berdua. Melisa banyak berganti-ganti posisi, tapi Dharma tetap dalam ekspresi yang sama. 

“Sudah cukup, Mbak Mel. Nanti kameranya terbakar kalau menyimpan foto papa banyak-banyak.” Dayu tiba-tiba muncul. Melisa malu sekali ketahuan melakukan itu oleh anak Pak Dharma. Jadi, ia sekalian mengajak Dayu juga. 

Akhirnya, mereka foto selfi bertiga. Dharma yang sudah kehabisan gaya hanya bergabung sebentar lalu sedikit bergeser agar wajahnya tidak lagi tertangkap kamera.

Bel berbunyi. Dharma beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Bu Inggit yang datang. 

“Tumben ke sini sendirian, Ma?” tanya Dharma begitu celingukan di sekitar mamanya dan tidak menemukan Maya di sana. 

“Maya ditahan Sheila. Ini mama mau minta bantuan kamu.”

“Kenapa dia sampai mengganggu Maya?” tanya Dharma heran. 

“Siapa, Pa?” Dayu menyusulnya ke pintu. 

“Oh, ada Oma. Masuk dulu, Oma. Kok ga disilakan masuk sih, Pa.” Dayu menggandeng Bu Inggit masuk. 

Bu Inggit pasrah ikut masuk. Ia tahan dulu pembahasan tadi karena ada Dayu. 

“Lihat tuh, Oma. Mbak Melisa baru aja dibeliin ponsel baru sama Papa. Terus juga dikasih hadiah-hadiah kue. Kayaknya mulai ada percikan-percikan sesuatu nih. Ya kan, Oma.” 

Bu Inggit hanya tersenyum. “Kamu do'akan yang baik-baik aja pokoknya buat keluarga kita, Yu. Semoga rukun dan bahagia terus seperti ini.”

Melisa menyapa Bu Inggit, ia hendak menyalami tangan Bu Inggit, tapi malah dipeluk. Bu Inggit berbisik padanya, “titip Dharma ya, Mel. Saya harap tidak hanya sampai lima tahun.”

Melisa melepas pelukan itu, ia jadi berpikir apa maksud Bu Inggit tadi. Apa ia sudah direstui sebagai menantu dan boleh melupakan kontrak? Besok-besok kalau ada kesempatan berbicara berdua saja, Melisa akan coba meminta Bu Inggit memberi tahunya dengan bahasa yang jelas. 

“Kalian berdua dulu, ya. Papa mau ngobrol penting sama Oma,” pamit Dharma. 

Melisa menahan tawanya. Lucu sekali kalimat Dharma tadi, itu seperti berpamitan pada anak kecil agar main dulu selama ditinggal mengurus urusan penting sebentar. 

Dayu dan Melisa mengobrol sambil menikmati kue kering yang dibawakan Dharma tadi. Melisa pamit ke mandi sebentar pada Dayu, tapi ia berbelok ke tempat Dharma dan Bu Inggit berbincang. 

“Bagaimana Maya bisa sampai tertangkap, Ma?”

Dua orang itu terlihat sama gelisahnya. “Tertangkap apa? Apa mereka punya bisnis ilegal?“ pikir Melisa. 

Ia ingin mendengarkan lebih lama, tapi Bu Inggit berjalan ke arahnya. Melisa segera berlari menjauh dari tempat itu. 

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!