Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Ketika Ulang Tahun Dipercepat Menjadi Bencana Trayek
Pukul enam pagi tepat, Kanaya Putri melangkah keluar dari gang kosannya dengan nyawa yang baru terkumpul separuh.
Dia menguap lebar, merapikan letak tas ransel hitamnya, lalu bersiap menunggu angkot oranye trayek biasa di pinggir jalan raya yang masih sepi.
Namun, alih-alih melihat angkot reyot berkarat yang biasa dia tumpangi, sebuah pemandangan ajaib langsung membuat mata sepet Naya melotot sempurna.
Di depan gangnya, telah terparkir manis satu unit angkot oranye dengan kondisi bodi yang teramat sangat kinclong laksana baru keluar dari pameran mobil mewah.
Kaca-kaca jendelanya bersih tanpa noda, velg rodanya berkilat memantulkan cahaya matahari subuh, dan dari celah pintunya, aroma wangi kopi premium langsung tercium semerbak.
Sret!
Seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja batik rapi dan wangi mendadak turun dari kursi kemudi.
Pria itu membungkuk formal sembilan puluh derajat di depan Naya yang masih mematung laksana tiang listrik.
"Selamat pagi, Neng Kanaya Putri," sapa supir batik itu dengan suara yang sangat sopan.
Naya mengerjapkan matanya berulang kali. "Bentar, Pak. Bapak siapa ya? Salah orang kali, Pak. Meja saya ga ada di jalanan."
"Saya tidak salah orang, Neng. Saya supir pribadi Den Rendra," jawab supir batik itu sambil tersenyum ramah.
"Mulai subuh ini, seluruh jalur trayek angkot menuju sekolah ini sudah resmi dibeli secara eksklusif oleh keluarga Adijaya," lanjut sang supir dengan nada lempeng tanpa dosa.
Naya melongo kaku di trotoar, permen karet stroberi di dalam mulutnya mendadak berhenti dikunyah. "H-hah? Dibeli gila?! Bapak jangan bercanda ya pagi-pagi, saya belum sarapan!"
"Saya serius, Neng Naya. Angkot oranye spesial ini kosong khusus untuk mengantar Neng Naya ke sekolah agar tidak perlu pulang-pergi bersama pria lain," jelas supir itu lagi.
"Gila! Si manekin setrikaan itu beneran ngelakuin ini?! Otaknya beneran udah geser korsleting total!" oceh Naya ngamuk-ngamuk sendirian di pinggir jalan, memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
"Silakan masuk, Neng. Nanti Den Rendra bisa menangis di dalam kalau Neng menolak naik," bujuk supir itu sambil membukakan pintu penumpang.
Naya melirik jam di pergelangan tangannya dengan panik. Sudah jam enam lewat lima belas menit.
"Sialan lo ya, Rendra! Gue tandain muka lo nanti!" umpat Naya pasrah, terpaksa melangkah maju karena takut gerbang sekolah dikunci Pak Satpam.
Wusss~
Hembusan angin dingin dari AC portable yang dipasang di sudut langit-langit angkot langsung menyapu wajah Naya yang sedang emosi.
Dan di kursi penumpang paling belakang, duduklah sang dalang dari bencana logistik subuh ini.
Rendra Adijaya sedang duduk tegap dengan posisi kaki menyilang elegan, seragam abu-abunya terpasang rapi tanpa satu pun lipatan yang salah.
Wajah blasterannya dipasang sedatar tembok semen pondasi rumah, menatap lurus ke depan seolah-olah dia adalah eksekutif muda yang sedang meninjau saham transportasi massal.
Cklek! Pintu angkot ditutup rapat oleh supir batik dari luar, dan mobil modifikasi sultan itu mulai melaju mulus membelah jalanan kota.
Begitu angkot mulai berjalan dan memastikan tidak ada mata manusia lain yang melihat dari jendela luar, seluruh pertahanan dan wibawa pangeran sekolah Rendra langsung luruh total dalam waktu satu detik.
Wajah kaku Rendra pecah total.
Dia langsung menjatuhkan tubuh tingginya ke samping, merangkak dramatis di atas jok angkot yang bersih, lalu memeluk guling kecil yang sengaja dia bawa dari kamarnya.
"Nayaaa! Akhirnya lo masuk juga! Gue sempet overthinking tiga puluh kali takut lo malah naik ojek online atau bareng cowok lain!" rengek Rendra dengan suara cempreng aslinya yang super manja dan melengking.
Naya menopang dagunya dengan satu tangan, menatap makhluk ajaib di sebelahnya dengan pandangan mata yang teramat sangat malas.
"Heh, babi! Lu beneran udah ga waras ya, Ren! Lu ngapain sampai beli satu trayek angkot gini, hah?! Kurang kerjaan banget idup lu!" oceh Naya tanpa henti, langsung menyemprot Rendra habis-habisan.
"Gue ga tenang semalem setelah lo diadang jamet basket itu, Nay! Makanya gue langsung telpon Papa minta hadiah ulang tahun dipercepat buat beli jalur angkot ini!" jawab Rendra berapi-api dengan mata berbinar penuh obsesi.
"Gue bahkan udah bangun dari jam 4 subuh tahu! Gue sengaja nemenin supir Papa nyuci dan nyalon ini angkot biar lo nyaman, ga kepanasan, dan wangi pas berangkat sekolah!" lanjut Rendra bangga setengah mati, menepuk-nepuk dadanya yang bidang dengan wajah memelas minta dipuji.
Naya menarik napas panjang, menahan emosinya yang sudah berada di ambang batas ketahanan mental.
"Sini lo deketan! Buruan!" perintah Naya dengan nada galak.
Rendra mengangguk patuh laksana anak kucing, menggeser tubuhnya mendekati Naya dengan wajah polos. "Kenapa, Nay? Lo mau muji kejeniusan gue ya—"
CETARRR!
Tanpa babibu, tangan kanan Naya langsung bergerak kilat menjulur ke depan, lalu menjewer kuping kanan Rendra dengan sangat keras hingga memerah padam.
"Aww-aww! Sakit, Nayaaa! Ampun! Telinga pangeran sekolah lo bisa putus ini! Lepasin dong, Nay!" jerit Rendra cempreng, tubuh tingginya langsung meringkuk pasrah di jok angkot.
"Biarin putus sekalian! Biar lo sadar!" semprot Naya gemas sambil memperkencang jewerannya tanpa ampun.
"Lu mikir kagak sih pake otak ranking satu lo itu?! Tar kalau anak-anak sekolah liat kita turun dari angkot mewah ini barengan gimana, hah?! Jawab gue, kunyuk!" omel Naya panjang lebar, membuat suasana di dalam angkot sangat ramai oleh suaranya.
"Aduh, aduh! Iya, iya, maaf, Nay! Tapi kan... yang penting lo ga perlu bareng cowok lain! Gue cuma mau jagain matahari gue!" rengek Rendra lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca dramatis.
Naya akhirnya melepaskan jewerannya dengan napas memburu kesal, lalu kembali bersandar di jok angkot sambil membuang muka ke arah jendela.
"Gak usah pasang muka melas gitu lo, najis gue liatnya! Pokoknya ntar pas mau sampe sekolah, lo harus turun duluan di gang depan! Gue ga mau turun barengan lo di depan gerbang!" tegas Naya memberikan titah mutlak.
Rendra yang baru saja dilepaskan langsung duduk tegak kembali sambil mengusap-usap kuping kanannya yang sudah panas dan memerah.
"Gak mau, Nay! Kita harus turun bareng! Kan angkot ini udah gue sewa khusus buat kita berdua!" bantah Rendra keras kepala, kembali memasang wajah cemberut manjanya.
"Lu mau gue block permanen sekarang juga di Discord, hah?!" ancam Naya, langsung mengeluarkan kartu as-nya yang paling mematikan.
Mendengar ancaman pembunuhan karakter digital itu, Rendra langsung bungkam seribu bahasa. Wajahnya kembali sekaku semen pondasi rumah, mematuh tanpa berani membalas ocehan Naya lagi.
Namun, di balik wajah memelasnya itu, sepasang mata hitam legam milik Rendra diam-diam berkilat bersinar penuh kepuasan gila. Saklar obsesinya sedang menyalakan kembang api kemenangan di dalam otaknya karena Kanaya Putri kini resmi berada di dalam wilayah kendali logistik pribadinya.