Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Dimana ayah?
POV Ibu Ratna
Akhirnya rumahku terasa damai. Aku sudah bisa menyingkirkan menantu sialan itu.
Itu yang ada di kepalaku sejak subuh tadi. Tidak ada lagi suara tangisan Raffi yang berisik, tidak ada lagi suara Nisa yang lari-larian sambil teriak-teriak manggil mamanya. Tidak ada lagi piring kotor yang menumpuk karena Alya sok sibuk ngurus anak. Rumah ini bersih, tenang, dan semuanya jadi milikku lagi.
Aku duduk di ruang tamu sambil menyeruput teh panas. Enak sekali rasanya,selama lima tahun ini aku harus berbagi rumah dengan perempuan kampung itu. Lima tahun aku harus pura-pura sabar.
"Man, kopinya kurang gula, Man. Sini Ibu bikinin lagi yang enak." teriakku ke arah kamar Arman.
Tapi Arman tidak menjawab. Dari tadi pagi dia cuma duduk di depan, melamun.
Biar saja,nanti lama-lama dia juga akan sadar kalau kepergian Alya itu justru membawa berkah buat rumah ini.
Jam sembilan pagi, aku sengaja keluar rumah. Aku pakai daster terbaikku, aku merapikan kerudungku. Aku mau liat bagaimana tanggapan warga saat melihat Alya kemarin pergi.
Di pos ronda dekat warung, sudah ada Bu Siti, Bu Lurah, dan dua ibu-ibu arisan lagi ngumpul.
"Bu Ratna,eh Bu Ratna, sini Bu!" panggil Bu Siti dengan wajah yang benar-benar memperlihatkan kejulidannya.
Aku langsung pasang wajah sedih. Wajah mertua yang paling kehilangan di dunia.
"Ya Allah Bu Siti, Bu Lurah,ada apa Bu? Saya tuh lagi lemes banget Bu pusing dari pagi karna sudah dua malam tidak bisa tidur," ucapku sambil mengelus dada.
"Lho kenapa Bu? Sakit?" tanya Bu Lurah.
Aku mulai terisak,menangis agar terlihat benar-benar sedih.
"Bu, hiks cucu-cucu ku,Nisa sama Raffi. Kemarin pagi-pagi buta sudah dibawa pergi sama mamanya, si Alya.Saat saya bangun rumah sudah sepi.Saya lihat kamar Alya kosong, awalnya saya pikir mereka sedang jalan-jalan keluar,tapi pas saya melihat lemari yang terbuka saya akhirnya paham Bu,mantu saya pergi membawa cucu-cucuku ikut bersamanya.Padalah saya sayang banget sama Nisa dan Raffi.Hiks hiks."
Aku melihat Bu Siti dan Bu Lurah langsung saling tatap,mereka pasti percaya.
"Ya ampun Bu Ratna, kok bisa? Apa kalian bertengkar ya? Setahu saya Alya anaknya baik,sabar dan pendiam!" kata Bu Lurah.
"Baik dari mananya, Bu Lurah? Itu di depan orang aja dia baik. Kalau di rumah, ya Allah Bu. Saya tuh yang disiksa batin sama dia. Dia tuh nggak pernah mau disuruh.Selalu melawan , membantah apapun yang saya katakan dia bantah.Saya minta tolong cuci piring aja dia manyun. Saya tegur masakannya keasinan, dia malah ngajak Arman pisah rumah. Saya sudah berusaha mengalah terus Bu demi cucu-cucu.Tapi mungkin dia sudah nggak betah, Bu. Saya hanya merasa kasian, cucu-cucuku diajak pergi mereka pasti terlantar,terlantung-lantung dijalanan,mereka masih kecil-kecil."Aku sesenggukan,padahal dalam hati aku tertawa puas.
"Yang sabar ya Bu Ratna, mungkin Alya lagi kalut dan ingin menenangkan pikiran. Namanya rumah tangga pasti saja ada cobaan."Bu Siti menenangkanku.
"Iya Bu, saya sih ikhlas kalau memang Alya sudah nggak mau sama Arman, ya nggak apa-apa. Saya cuma mikirin Nisa sama Raffi. Mereka butuh sosok ayah, Bu. Masa mau hidup tanpa ayah?"
Itu kalimat kunci yang sengaja aku sebar. Biar warga mengira Alya lah yang tega memisahkan anak dari ayahnya.
Setelah puas curhat dan mendapat pelukan simpati dari ibu-ibu, aku pulang dengan langkah ringan.Rencanaku berjalan lancar.
Sampai di rumah, wajahku langsung berubah. Senyumku lebar.
Rencana lainku sudah menunggu.
Aku mengambil ponselku dan menelepon adikku di kota.
"Halo, Yati? Ini Mbak Ratna. Ada kabar bagus, Yat. Alya sudah pergi dari rumah ini. Dia minggat kemarin. Alhamdulillah akhirnya rumah ini bersih lagi."
"Terus gimana Mbak? Arman gimana?" tanya adikku.
"Arman masih linglung, masih berusaha mencari.Tapi biarain aj,justru ini waktunya. Kamu kan punya kenalan anak orang kaya yang janda itu lho, yang punya toko emas di pasar? Kenalin lah sama Arman. Anak Mbak kan ganteng, kerjaan sudah mapan. Jangan sampai nanti dia dapat perempuan miskin lagi kayak Alya kemarin. Mbak tuh capek punya menantu miskin, nggak bisa apa-apa, cuma bisa nangis gak punya uang huuuh menyebalkan."
Aku sudah membayangkan, kalau Arman menikah lagi dengan perempuan kaya, hidupku akan enak. Tidak perlu lagi menampung menantu yang cuma bisa memberikan dua anak kecil yang berisik.
Di dalam kamar, Arman mendengar semua pembicaraanku lewat telepon. Dia keluar dengan wajah merah padam.
"Bu! Ibu ngomong apa barusan? Ibu mau jodohin Arman lagi? Alya itu masih istri Arman Bu!"
Aku kaget, tapi aku tetap pasang muka tidak bersalah.
"Lho, Ibu kan mikirin masa depan kamu, Man. Buat apa kamu pertahanin perempuan yang sudah buang kamu? Dia sudah pergi, Man. Dia sudah mempermalukan kamu. Ngapain kamu tungguin dia! Dia tidak akan pernah kembali Man,lagipula kalaupun dia kembali kamu harus punya harga diri dia sudah meninggalkan kamu!"
"Dia pergi karena Ibu, Bu! Karena Ibu terus yang terus nyakitin dia dan aku bu,aku yang meminta dia untuk pulang kerumah orangtuanya untuk sementara,aku nyesel bu nyesel karna sudah mendengarkan perintah ibu!" Sentak Arman.
Aku diam karna aku tidak mau ribut sekarang. Biar saja Arman marah,nanti juga dia membutuhkanku lagi.Aku lebih paham bagaimana watak anakku,degan drama sedikit saja dia akan luluh kembali dan tidak tega.
Berbeda dengan keadaan di rumah besar yang penuh rencana busuk itu, keadaan di rumah kecil pojok kebun mangga justru haru.
Sore itu, Alya baru saja selesai membantu Ustadzah Munah menyapu halaman dan memetik cabai. Nisa membantu dengan ember kecilnya, Raffi duduk di tikar sambil memainkan mobil-mobilan kayunya.
Saat Alya sedang menuang teh, Nisa menarik ujung gamisnya.
"Bu..." panggil Nisa pelan.
"Iya sayang?"
Nisa menatap ke arah jalan desa yang sepi.
"Bu, kenapa Ayah nggak datang? Ayah kan biasanya pulang kerja sore. Kok Nisa nggak lihat Ayah dari pagi?"
Pertanyaan itu seperti pisau yang menyayat hati Alya. Napasnya mendadak terasa sesak,dadanya seperti terhimpit bebatuan besar.
Raffi yang mendengar kata Ayah, ikut menoleh. Dengan bahasa cadelnya yang belum jelas, dia ikut bersuara.
"Yayah... yayah ana, Bu? Raffi angen Yayah..."
Alya langsung berjongkok dan memeluk kedua anaknya erat-erat. Air matanya tidak bisa lagi dibendung.
"Nisa... Raffi..."
"Bu, kita kapan pulang? Nisa kangen rumah, Nisa kangen Ayah. Ayah marah ya Bu sama Nisa?" Nisa mulai menangis.
Alya mengusap kepala Nisa dengan tangan bergetar.
"Nggak sayang, Ayah nggak marah sama Nisa. Ayah sayang banget sama Nisa sama Raffi."
"Terus kenapa kita di sini Bu? Kenapa kita nggak di rumah?"
Alya terdiam lama. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada anak umur empat tahun bahwa hubungan antara dia dengan suami dan ibu mertuanya tidak baik-baik saja.Bagaimana dia menjelaskan tentang hati yang selalu terluka,air mata yang setiap hari harus mentes saat mendengarkan kata-kata yang menyakitkan.
"Sayang, kita... kita lagi liburan di rumah Nek Ustadzah dulu ya. Nanti,nanti kalau Nisa sudah besar, nisa akan paham kenapa kita keluar dari rumah ayah.Nisa yang sabar ya nak,nanti kalau ada waktu kita ketemu ayah.Ya sayang ya,sudah nisa ngga boleh nangis ya nak!"
Nisa berhamburan ke pelukan Alya.
"Tapi Bu, kalau kita liburan terus, nanti Ayah sendirian dong di rumah. Kasian Ayah."
Kalimat polos itu membuat Alya sesak.
Dia baru saja merubah kehidupan putra-putrinya. Dia berhasil menyelamatkan dirinya dari mertua yang jahat dan suami yang diam, tapi dia baru sadar, dia juga baru saja membuat anak-anaknya hidup tanpa sosok ayah.
Raffi masih merengek pelan di pelukannya.
"Yayah..."
Malam itu, setelah Nisa dan Raffi tertidur, Alya duduk sendirian di depan jendela kayu rumah kecil itu. Angin kebun mangga masuk pelan-pelan.
Dia memegang foto kecil keluarganya yang sempat dia bawa di dalam dompet. Foto Arman menggendong Nisa dan Raffi.
"Arman, maafkan aku," bisiknya lirih. "Aku pergi bukan karena aku sudah tidak cinta kamu. Aku pergi karena aku ingin anak-anak kita tetap hidup tanpa melihat mamanya menangis setiap hari,aku tidak ingin mental anakku dihancurkan dirumahnya sendiri karna stiap hari harus mendengarkan pertengkaran,makian dan kekerasam rumah tangga .Tapi apakah keputusanku ini benar?"
Di rumah besar di desa sebelah, Arman juga menatap langit-langit kamarnya yang kosong, memikirkan hal yang sama.
Dan di ruang tengah, Bu Ratna tersenyum puas sambil menghitung hari kapan Arman akan melupakan Alya sepenuhnya.
Bersambung...