NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Wawancara tidak resmi

Di dalam kabin sebuah mobil sedan hitam mewah yang melaju membelah jalanan ibu kota, suasana terasa begitu pekat dan berat. Di kursi penumpang belakang, seorang pria paruh baya duduk dalam diam. Garis wajahnya tegas, rahangnya kokoh, memancarkan otoritas mutlak yang tak bisa dibantah. Namun di balik tatapan matanya yang tajam, tersimpan gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan.

Pria itu adalah sang pendiri perusahaan, sekaligus Ayah Kirana.

Di kursi depan, seorang asisten pribadi memutar tubuhnya perlahan, menyerahkan sebuah tablet dengan layar menyala.

"Pak… ini rekaman CCTV dan laporan terbaru dari kantor pusat," ucap sang asisten dengan nada hati-hati, seolah takut salah bicara.

Ayah Kirana menerima tablet itu. Matanya fokus menatap layar yang menampilkan rekaman video dari beberapa sudut kantor. Rekaman itu tidak menampilkan sosok Kirana sebagai direktur utama yang dingin, kaku, dan ditakuti semua orang.

Sebaliknya, rekaman itu memperlihatkan seorang Kirana yang sedang berdiri di area pantry, tersenyum kecil menahan tawa. Di depannya, ada seorang karyawan laki-laki—Fajar—yang tampak sedang menceritakan sesuatu. Di klip video yang lain, terlihat Kirana diam-diam mencuri pandang ke arah meja Fajar saat pria itu sedang sibuk bekerja, dengan tatapan yang begitu lembut.

Tatapan yang sangat… manusiawi. Tatapan yang penuh kehangatan.

Ayah Kirana terdiam lama. Jari telunjuknya membeku di atas layar. "…sejak kapan dia mulai bertingkah seperti itu?" tanyanya dengan suara serak, nyaris berbisik.

Sang asisten menundukkan kepala. "Sejak beberapa minggu terakhir, Pak. Terutama setelah insiden… sebuah surat."

Ayah Kirana menutup matanya perlahan. Dadanya terasa sesak oleh sebuah perasaan asing yang tiba-tiba menyusup masuk. "…aku tidak pernah melihat dia tersenyum seperti ini. Bahkan sejak dia masih kecil."

Mobil hitam itu akhirnya perlahan berbelok dan berhenti tepat di pelataran lobi utama gedung perusahaan. Mesin masih menyala, tetapi sang ayah tidak kunjung memberikan tanda-tanda ingin turun.

"Selama ini…" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku terus memaksanya menjadi sosok yang kuat. Menjadi pemimpin yang sempurna. Mesin pencetak angka…" Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang dipenuhi beban puluhan tahun. "…sampai aku lupa mengajarinya bagaimana caranya menjadi seorang manusia biasa."

Melihat atasannya terdiam dalam lamunan, sang asisten memberanikan diri bertanya, "Pak… apakah Anda ingin kita tetap mengawasi dari jauh saja seperti biasa?"

Ayah Kirana membuka matanya. Tatapan dingin yang selalu melekat padanya kini memudar, digantikan oleh sorot mata yang teduh namun penuh tekad.

"Tidak," jawabnya tegas. Ia menggeser tuas pintu mobil dan membukanya. "Hari ini… aku tidak datang sebagai seorang pemilik perusahaan. Aku ingin menjadi ayahnya."

Sementara itu, di lantai divisi pemasaran, semuanya berjalan seperti biasa. Atau setidaknya, hampir biasa.

Fajar duduk di kursinya, berusaha keras memusatkan pandangannya pada layar monitor yang menampilkan grafik penjualan. Namun, fokusnya hancur lebur karena Bayu yang duduk di sebelahnya terus menatapnya dari samping tanpa berkedip. Tatapan Bayu terasa seperti laser yang menembus kulit.

"Lo bisa berhenti ngeliatin gue kayak gitu gak sih, Bay? Risih tau gak," protes Fajar sambil menutupi sisi wajahnya dengan map laporan.

Bayu malah menggeser kursi rodanya lebih dekat. "Gue lagi nungguin momen emas, Jar."

"Momen apaan?"

"Momen di mana lo kelepasan manggil 'Kirana' di tengah kantor, terus kita semua jadi saksi mata skandal abad ini," bisik Bayu dengan seringai jahil.

Fajar langsung membelalak panik. "GILA LO! GAK AKAN LAH!"

Belum sempat Bayu membalas, suasana di lantai itu mendadak berubah drastis. Udara terasa turun beberapa derajat. Suara ketikan keyboard dan obrolan santai lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Beberapa manajer senior refleks melompat berdiri dari kursi mereka.

Dari arah koridor utama, terdengar suara langkah kaki yang mantap dan berat. Tenang, perlahan, namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar.

Sinta, yang biasanya selalu tenang di meja sekretaris, langsung berdiri tegak sempurna dengan postur kaku bak prajurit. Ia menunduk hormat. "Selamat datang, Pak."

Fajar menelan ludah, menunduk sedikit ke arah partisi mejanya, lalu menyikut lengan Bayu. "Bay… sumpah, itu siapa tuh? Auranya ngeri banget, lebih parah dari Bu Direktur."

Bayu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya sedikit pucat. "Itu… pendiri perusahaan kita, Jar. Pemilik tunggal."

Tubuh Fajar membeku di tempat. Mulutnya sedikit terbuka. "…maksud lo, itu ayahnya Kirana?!"

Di dalam ruang direktur, Kirana berdiri mematung di balik meja kerjanya. Pintu ruangan barusan terbuka lebar, dan ayahnya melangkah masuk. Sinta segera menutup pintu dari luar, meninggalkan ayah dan anak itu dalam kesunyian yang tebal.

Sudah sangat lama mereka tidak berada dalam satu ruangan sebagai keluarga. Biasanya, pertemuan mereka hanya terjadi di ruang rapat dewan direksi atau di meja makan panjang yang diisi oleh pembicaraan bisnis.

"Silakan duduk," kata Kirana memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat formal dan kaku.

Ayahnya menggelengkan kepala perlahan. "Tidak perlu."

Hening kembali merayap. Kirana mencengkeram ujung meja kerjanya untuk menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar.

"Ada keperluan mendesak apa hingga Bapak datang langsung ke mari?" tanya Kirana dengan nada dingin.

Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat, menyusuri garis wajah yang selama ini selalu ia paksa untuk terlihat keras.

"Aku datang ke sini… bukan sebagai atasanmu," ucap sang ayah pelan.

Kirana sedikit mengernyitkan dahi.

"…tapi sebagai ayahmu," lanjutnya.

Ruangan itu kembali sunyi. Kirana tak tahu harus merespons apa. Kata-kata itu terdengar sangat asing di telinganya. Sang ayah lalu menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian.

"Ayah… salah, Kirana."

Kirana membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

"Selama ini, Ayah memaksamu menjadi sesuatu yang Ayah inginkan. Menjadi penerus yang tanpa cela…" Suara pria paruh baya itu mulai bergetar. "…tanpa pernah sekalipun Ayah bertanya, apa yang sebenarnya kamu inginkan untuk hidupmu sendiri."

Kirana menatap ayahnya. Tidak ada kilat kemarahan di matanya. Tidak ada juga air mata kesedihan. Ia hanya diam, terpaku mencerna setiap kalimat yang selama ini ia kubur dalam-dalam sebagai harapan kosong.

"Dan sekarang…" lanjut ayahnya sambil tersenyum sangat tipis. "Ayah melihat sesuatu yang tidak pernah Ayah lihat dari dirimu sebelumnya."

Kirana membalas dengan suara nyaris berbisik. "…melihat apa?"

"Kamu… terlihat bahagia."

Keheningan yang hangat perlahan menyelimuti ruangan. Namun, Kirana sangat cerdas. Ia langsung bisa merangkai situasi ini.

"…karena seseorang," tebak sang ayah.

Kirana menatap lurus ke arah ayahnya. "Bapak… mengawasi saya melalui CCTV dan laporan asisten?"

Ayahnya tidak menyangkal sedikit pun. "Iya."

Kirana menundukkan kepalanya sedikit, berusaha mempertahankan nada profesionalnya. "…itu bukan tindakan yang pantas dilakukan kepada direktur perusahaan."

"Ayah tahu," angguk ayahnya penuh penyesalan. "Karena itulah… Ayah ingin meminta maaf padamu. Untuk segalanya."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Kirana, tembok pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun lamanya sedikit demi sedikit mulai retak oleh kehangatan kalimat ayahnya. Namun, keharuan itu terputus ketika ayahnya kembali bersuara.

"Setelah ini… Ayah ingin bertemu secara langsung dengan orang itu."

Mata Kirana langsung melebar sempurna. "…maksud Bapak?"

Ayahnya tersenyum tipis, kali ini dengan kilat jahil yang sangat jarang muncul. "Ayah ingin bertemu dengan calon menantuku. Panggilkan dia."

Kirana membeku di tempatnya. "…APA?!"

Beberapa menit kemudian, di luar ruangan, Sinta berjalan mendekati bilik meja Fajar dengan wajah datarnya yang tak tergoyahkan.

"Pak Fajar."

"I-iya, Mbak Sinta?" jawab Fajar yang sedari tadi sedang overthinking.

"Bu Direktur memanggil Anda sekarang ke ruangannya."

Fajar berusaha menetralkan wajahnya, pura-pura bersikap profesional, lalu berdiri dengan santai. "Siap. Saya segera ke sana."

Saat Fajar beranjak, Bayu membisikkan doa dari kursinya. "Gue doain semoga ini bukan eksekusi publik ya, Jar. Kalau lo dipecat, jangan lupa traktir gue kopi perpisahan."

Dengan langkah mantap namun hati yang berdebar, Fajar berjalan menuju ruangan direktur. Ia mengetuk perlahan, lalu membuka pintu. Dan detik itu juga, langkahnya langsung terhenti.

Ia membeku.

Di dalam ruangan itu ada dua orang. Kirana yang berdiri dengan wajah luar biasa tegang, dan… seorang pria paruh baya yang auranya terasa sepuluh kali lipat lebih menakutkan dari apa yang Fajar bayangkan.

"Eee… permisi…" sapa Fajar gelagapan, nyalinya menciut hingga seukuran debu.

Kirana menelan ludah dengan susah payah. Matanya memancarkan sinyal bahaya ke arah Fajar.

"Pak Fajar," panggil Kirana, suaranya sedikit bergetar.

"I-iya, Bu…"

"…perkenalkan, ini ayah saya."

Otak Fajar mendadak blank. Di dalam kepalanya, hanya ada satu kalimat yang terus menggema berulang-ulang: "SAYA PAMIT HIDUP."

"Duduk," titah ayah Kirana dengan suara baritonnya yang berat.

Fajar berjalan kaku seperti robot, lalu mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapan pria itu. Posturnya tegak lurus sempurna bagaikan patung batu.

"Jadi… apa benar Anda yang menulis surat salah sasaran itu?" tembak ayah Kirana tanpa basa-basi sedikit pun.

Fajar langsung kaku. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengalir di punggungnya. "I-iya, Pak. B-benar, itu saya."

"Dan sekarang… Anda sedang menjalin hubungan dengan putri saya?"

Fajar merasa jiwanya hampir terbang meninggalkan raganya. Ia menatap Kirana sekilas, lalu kembali menatap ayah wanita itu. "…i-iya, Pak."

Hening. Ayah Kirana menatap Fajar lekat-lekat. Sangat lama. Sorot matanya seolah sedang menguliti segala niat buruk yang mungkin tersembunyi di dalam diri Fajar.

Setelah keheningan yang menyiksa itu, sang ayah akhirnya bertanya, "Kenapa?"

Fajar berkedip cepat, bingung. "Kenapa… apanya, Pak?"

"Kenapa Anda memilih dia? Putriku bukan wanita yang mudah untuk dihadapi."

Fajar menelan ludah. Rasa takutnya tiba-tiba perlahan menyusut saat pertanyaan itu dilontarkan. Ia mengingat kembali seluruh perjalanannya dengan Kirana. Lucunya wanita itu saat sedang cemburu, senyumnya yang tulus saat mereka kencan pertama kali, dan rapuhnya ia di balik tembok es yang dingin.

Fajar menarik napas panjang, membuang segala kepalsuan, dan menjawab dengan sangat jujur.

"Awalnya… saya tidak memilih dia, Pak."

Kirana langsung menoleh ke arah Fajar dengan tatapan terkejut.

"Perasaan itu… datang dengan sendirinya," lanjut Fajar dengan suara yang kini jauh lebih tenang. "Saya tidak pernah merencanakannya. Tapi saat saya mulai mengenalnya lebih jauh, saya tahu bahwa saya tidak ingin berada di mana-pun selain di sisinya."

Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian.

"Dan bagaimana dengan sekarang?" tanya ayah Kirana lagi.

Fajar menatap langsung ke dalam mata pria tua itu, lalu tersenyum kecil namun penuh keyakinan. "Sekarang… saya yang memilih dia, Pak. Dan saya akan terus memilihnya."

Ayah Kirana menutup matanya sejenak. Ruangan terasa sangat tegang hingga suara jarum jam dinding pun terdengar memekakkan telinga.

Lalu… pria paruh baya itu tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang tulus.

Kirana dan Fajar sama-sama tersentak kaget.

"Jawaban yang sangat jujur dan berani," kata sang ayah sambil mengangguk-angguk puas. Ia perlahan bangkit dari kursinya, berjalan memutar, lalu berhenti tepat di samping Fajar.

Tangannya yang besar menepuk bahu Fajar dua kali dengan mantap. "Jaga putriku baik-baik."

Mendapat restu yang sangat mendadak itu, Fajar refleks berdiri dan berseru lantang layaknya prajurit di medan perang, "SIAP, PAK!"

Kirana menatap ayahnya dengan mata membesar tak percaya. "…hanya itu saja, Pak? Semudah ini?"

Ayahnya tersenyum hangat kepada putrinya. "Untuk sekarang… iya, ini sudah cukup."

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Fajar berjalan keluar dengan langkah gontai dan kaki yang terasa seperti agar-agar. Jiwanya seolah baru saja dipaksa melakukan lari maraton.

Begitu ia sampai di mejanya, Bayu langsung melesat menghampirinya dengan kursi roda. "Gimana, Jar?! Lo dipecat? Disuruh bayar denda? Dimutilasi?!"

Fajar menatap Bayu dengan pandangan kosong, nyaris tanpa ekspresi. "Bay… gue barusan… baru aja interview jadi calon menantu."

Mata Bayu terbelalak selama tiga detik, sebelum akhirnya ia memukul mejanya keras-keras. "HAHAHAHA! GILA! GUE UDAH TAHU ITU PASTI BAKAL KEJADIAN!"

Sementara itu, di dalam ruangan, Kirana masih berdiri di posisinya. Ayahnya berjalan perlahan menuju pintu keluar. Sebelum tangannya meraih gagang pintu, pria itu menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar sangat lembut.

"Terima kasih…" ucapnya pelan.

Kirana terdiam. Alisnya sedikit bertaut. "…untuk apa, Yah?"

Itu adalah pertama kalinya Kirana kembali memanggilnya 'Ayah' di area kantor. Ayahnya menoleh sedikit, tersenyum dengan kelegaan yang luar biasa.

"Karena akhirnya… kamu berhasil hidup sebagai dirimu sendiri."

Pintu kemudian tertutup rapat, menyisakan Kirana dalam keheningan yang damai. Sebuah senyum haru yang amat manis perlahan merekah di bibirnya.

Sore harinya, saat jam pulang kantor tiba, Fajar dan Kirana berpapasan secara tidak sengaja di lobi utama yang mulai sepi. Mereka berhenti, saling bertatapan dalam jarak beberapa langkah.

Fajar mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan dengan binar jenaka di matanya. "Eh, barusan di atas… kita hitungannya udah disetujui, kan, ya?"

Kirana membuang muka untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah, lalu menjawab dengan suara lirih. "…sepertinya begitu."

Namun, belum sempat mereka menikmati momen romantis itu, sebuah kepala mendadak muncul dari balik pilar lobi.

Bayu berdiri di sana dengan senyum iblis yang sangat lebar, menatap mereka berdua secara bergantian sambil bersidekap dada.

"OKE! SEKARANG KALIAN BERDUA HARUS NGAKU DI DEPAN GUE! SEJAK KAPAN?!" teriak Bayu puas.

Fajar dan Kirana saling bertatapan panik.

“…gawat.”

1
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
‎"Surat Cinta Nyasar" — kisah romantis kantor yang bermula dari kesalahan pengiriman surat. Pegawai biasa yang berani menyatakan perasaan justru membuatnya berhadapan dengan Direktur muda yang dingin. Satu kesalahan kecil ternyata bisa membuka pintu kebenaran yang selama ini tertutup. Ringan tapi punya potensi cerita yang menarik! Semangat berkarya Thoorr 🤗
Hamzah: terimakasih dukungannya 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!