"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu
Aroma gulai ayam dan sambal goreng ati langsung menyengat indra penciuman begitu Keisha melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terbungkus handuk kecil. Di ruang makan, Ibu Dania tampak sibuk mengelap pinggiran piring saji, dibantu oleh Bik Minah yang baru saja meletakkan semangkuk besar sayur asem di tengah meja.
"Bik, sendok garpunya jangan lupa ditambah dua set lagi, ya. Satria sama Rafka makan di sini sekalian," puji Ibu Dania, tangannya dengan cekatan menata ulang posisi mangkuk agar terlihat rapi.
"Sampun, Bu. Ini sudah siap semua di meja," jawab Bik Minah ramah, lalu berbalik kembali ke dapur untuk mengambil teko berisi es teh manis.
Keisha berjalan mendekati meja makan dengan langkah yang masih sedikit pincang. "Aduh, baunya enak banget, Bu. Ini dalam rangka merayakan keberhasilan Keisha lolos dari maut di got tadi, ya?"
Ibu Dania menoleh, langsung berkacak pinggang menatap anak bungsunya. "Keberhasilan apa? Yang ada Ibu jantungan! Kamu itu cepat keringkan rambut, ganti baju yang benar. Masih untung Kakak iparmu yang nemuin kamu tadi. Kalau orang lain, mau ditaruh di mana muka Ibu punya anak perawan hobi nyemplung got?"
"Kan gotnya kering, Ibu sayang ...." Keisha menyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rapi sebelum melesat kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara itu, di bagian lain rumah yang lebih tenang, pintu kamar bernuansa krem terbuka perlahan. Kamar itu adalah kamar almarhumah Vania, kakak kandung Keisha. Di kamar itulah Satria selalu tidur jika memutuskan untuk menginap demi menemani Rafka menghabiskan akhir pekan bersama kakek dan neneknya.
Satria keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai. Seragam PDL-nya yang kaku dan baret hijaunya sudah ditanggalkan, digantikan oleh kaos polo berwarna biru tua yang pas di tubuh tegapnya, serta celana chinos berwarna krem. Meski pakaiannya kasual, potongan rambut cepak dan postur tubuhnya yang selalu tegap membuat aura militernya tidak berkurang sedikit pun.
"Papaaa!"
Sebuah hantaman kecil mendarat di paha Satria. Rafka, yang sudah bersih dan harum setelah dimandikan Ibu Dania, langsung *nyelendot* manja, memeluk erat kaki sang ayah dengan kedua tangan mungilnya. Wajahnya yang tadi coreng-moreng kini sudah berseri kembali, lengkap dengan wangi bedak bayi yang tebal di pipi.
Satria berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang anak. Tangan besarnya mengusap kepala Rafka dengan lembut. "Sudah mandi? Lututnya masih sakit?"
"Sudah, Pa! Tadi digosok pakai sabun sama Eyang Putri, perih dikit tapi Rafka kan tentara, jadi enggak nangis!" ujar bocah lima tahun itu dengan bangga, menepuk dadanya sendiri.
Satria memberikan anggukan apresiasi yang tipis. "Bagus. Anak Papa harus kuat."
"Nah, Satria, Rafka, ayo langsung ke meja makan. Makanan sudah siap semua, keburu dingin nanti," ajak Ayah Farrel yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah sambil melipat koran sorenya. Pria paruh baya itu menepuk pundak menantunya dengan hangat. "Ayo, kita makan siang bersama."
"Baik, Ayah," jawab Satria formal. Dia berdiri kembali, menggandeng tangan kecil Rafka dan berjalan beriringan bersama Ayah Farrel menuju ruang makan.
***
Suasana di meja makan terbilang hangat. Denting sendok dan garpu beradu dengan suara riuh Rafka yang menceritakan teman TK-nya yang bisa meniru suara dinosaurus. Ayah Farrel sesekali menanggapi dengan tawa kecil, sementara Ibu Dania sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk cucu serta menantunya.
"Ini gulai ayamnya dimakan yang banyak, Satria. Kamu kelihatan agak kurusan setelah dinas lapangan minggu ini," kata Ibu Dania sambil meletakkan sepotong paha ayam besar ke piring Satria.
"Terima kasih, Ibu. Ini sudah lebih dari cukup," balas Satria santun. Cara makannya sangat rapi dan tenang, khas didikan militer yang disiplin.
Keisha baru saja bergabung di meja makan, kini sudah mengenakan kaos oblong longgar dan celana kulot santai. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai. Tanpa canggung, dia langsung menyendok nasi dalam porsi besar, lalu mengambil sepotong dada ayam dan menyiramnya dengan kuah gulai yang melimpah.
"Pelan-pelan makan gulai ayamnya, Kei. Enggak akan ada yang merebut," tegur Ayah Farrel melihat cara makan anak bungsunya yang terkesan buru-buru.
"Lapar tingkat dewa, Yah. Tadi kan habis latihan fisik angkat sepeda dari dalam parit," sahut Keisha asal, membuat Ibu Dania hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan absurd anaknya.
Di tengah keheningan yang sempat tercipta saat semua orang mulai fokus menikmati hidangan, Ibu Dania meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap Satria yang duduk tepat di hadapannya. Raut wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi agak serius, namun tetap memancarkan kehangatan seorang ibu.
"Satria," panggil Ibu Dania lembut.
Satria menghentikan gerakan sendoknya, mendongak menatap ibu mertuanya dengan takzim. "Iya, Ibu?"
"Ibu mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung, ya," Ibu Dania melirik suaminya sejenak, seolah meminta dukungan lewat tatapan mata. Ayah Farrel hanya mengangguk kecil, memberikan kode bahwa pembicaraan ini memang sudah seharusnya dibuka.
Satria meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, memberikan perhatian penuh. "Silakan, Ibu. Tidak apa-apa."
"Sudah lima tahun semenjak Vania pergi ...." Ibu Dania menjeda kalimatnya, ada gurat kesedihan yang sempat melintas, namun segera digantikan oleh senyuman tulus. "Kami sebagai orang tua almarhumah Vania, sudah sangat ikhlas kalau kamu mau mencari pendamping lagi, Satria. Kamu tidak perlu merasa beban atau tidak enak pada kami."
Mendengar topik yang tiba-tiba bergeser ke arah yang cukup sensitif, Keisha yang sedang mengunyah kerupuk langsung menghentikan kunyahannya. Matanya mengerjap, melirik bergantian antara ibunya dan sang kakak ipar.
"Kamu itu masih muda, Satria. Perjalanan kariermu masih panjang, tugasmu sebagai Mayor juga pasti sangat menyita waktu dan pikiran," lanjut Ibu Dania, suaranya terdengar penuh perhatian. "Pastinya kamu butuh pendamping yang bisa mengurus keperluan kamu sendiri, dan yang paling penting ... ada yang mengurus Rafka secara penuh di rumah. Ibu dan Ayah kan sudah semakin tua, tidak bisa terus-menerus mengawasi Rafka kalau kamu sedang ditinggal tugas."
Satria tetap diam. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gejolak emosi apa pun. Pria itu mendengarkan dengan tatapan lurus, sedatar permukaan air di dalam gelas.
Keisha yang dasarnya ceplas-ceplos dan tidak suka suasana tegang, langsung ikut menimpali sambil mengacungkan sendoknya ke udara. "Nah! Betul banget kata Ibu, Kak! Aku setuju seratus persen! "
Bersambung...