NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Istri

"Pokoknya... aku nggak bisa," jawab Keira singkat.

Rina masih memandanginya dengan wajah penasaran, tetapi akhirnya memilih tidak bertanya lebih jauh.

"Kalau aku ada di posisi kamu, sih, pasti aku mau."

"Ya, itu kamu. Bukan aku," balas Keira santai.

Keira kemudian masuk ke dapur umum yang sudah dipenuhi beberapa teman. Mereka sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Aroma berbagai bumbu mulai memenuhi ruangan, berpadu dengan suasana hangat dan canda tawa mereka.

"Mau aku bantu?" tanya Keira sambil menghampiri mereka.

Rina menoleh, kemudian terkekeh.

"Nggak usah. Nanti kamu malah nangis gara-gara bawang, terus dapurnya yang jadi korban."

"Ishh... Rina!" Keira langsung memasang wajah cemberut. "Ajari aku masak, dong. Aku malu. Kalian semua bisa masak, sementara aku nggak bisa apa-apa."

Salah seorang mahasiswa yang sedang memasak ikut menoleh. "Serius kamu mau belajar?"

"Iya!" jawab Keira cepat sambil mengangguk. Meski begitu, dari wajahnya terlihat sedikit keraguan.

Rina melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memasang ekspresi seolah sedang berpikir keras.

"Hmm... tapi kata Pak Arsen, kamu itu gadis manja."

Mendengar itu, semua orang langsung tertawa.

Keira spontan menutup wajahnya karena malu.

"Ih, apaan sih! Jangan bawa-bawa dia!"

"Tuh, benar kan?" goda salah seorang yang lain. "Baru digoda sedikit saja sudah langsung sensitif."

Keira mendengus sebal, tetapi ujung bibirnya tetap terangkat membentuk senyum kecil.

"Sudah, sini." Rina akhirnya menarik Keira mendekat ke meja dapur.

"Kita mulai dari yang gampang dulu. Kupas bawang."

Keira menatap beberapa siung bawang di hadapannya dengan tatapan curiga, seolah benda itu adalah musuh bebuyutannya.

"Serius mulai dari ini?" gumamnya.

"Iya. Memangnya kamu mau langsung bikin rendang?" jawab Rina santai.

Keira akhirnya mengambil pisau. Dengan hati-hati, ia mulai mengupas bawang seperti yang diajarkan Rina.

Baru beberapa detik berlalu, matanya mulai terasa perih. "Perih..." keluhnya lirih.

Seketika tawa kembali pecah di dapur. Keira ikut tertawa kecil meskipun matanya mulai berair. Di tengah suasana yang penuh canda itu, tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di luar dapur.

Arsen.

Tatapannya tertuju pada Keira. Ia memperhatikan bagaimana perempuan itu berusaha belajar, tertawa bersama teman-temannya, dan perlahan mulai berbaur dengan mahasiswa lain.

Untuk pertama kalinya, Arsen melihat sisi Keira yang jarang ia perhatikan.

Sisi ceria. Sisi sederhana. Sisi Keira yang ternyata bisa begitu menikmati hal-hal kecil.

"Dasar..." gumam Arsen dengan senyum tipis sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Satu jam kemudian, dapur yang sebelumnya ramai mulai kembali tenang.

Semua makanan telah selesai dimasak dan disajikan di atas meja panjang. Hidangannya sederhana, tetapi suasana hangat membuat semuanya terlihat lebih istimewa.

"Silakan dimakan!" seru Keira dengan nada sedikit bangga.

Kevin menjadi salah satu orang pertama yang menghampiri meja. "Kamu yang masak?"

"Iya, dong!" jawab Keira percaya diri, meskipun sebenarnya ia baru saja belajar.

Kevin tersenyum. "Pasti enak."

Ia kemudian mengambil makanan ke dalam piringnya.

Beberapa mahasiswa laki-laki lainnya ikut berdatangan dan mengambil porsi masing-masing.

Tak lama kemudian, semua orang sudah duduk di tempat mereka.

Suasana kembali ramai. Obrolan terdengar dari berbagai arah, diselingi suara sendok dan tawa para mahasiswa yang menikmati makan malam bersama.

Sementara itu, Arsen memilih duduk agak jauh dari mahasiswa lainnya. Di hadapannya sudah tersedia makanan sendiri, bukan makanan yang dimasak oleh mereka.

Melihat hal itu, Rina langsung menyenggol lengan Keira pelan sebelum berseru,

"Pak Arsen, mau coba masakan kami nggak?"

Arsen bahkan tidak menoleh.

"Nggak perlu." Jawabannya singkat. Datar. Entah kenapa, jawaban itu langsung membuat Keira merasa kesal. Ia membuang muka dan memilih tidak ikut campur.

Di sisi lain, Kevin mulai mencicipi makanan yang tadi dibuat Keira. Baru beberapa suapan, ekspresinya langsung berubah cerah.

"Enak," pujinya.

Kemudian ia mendekat kepada salah satu temannya dan berbisik,

"Masakan calon istri gue."

Meskipun pelan, ucapan itu masih terdengar oleh beberapa orang di dekatnya. Temannya langsung menahan tawa.

Namun, tidak dengan Arsen. Pria itu yang sebelumnya sedang makan mendadak berhenti.

Tangannya mengencang di sekitar sendok. Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap Kevin dengan sorot mata tajam.

"Calon istri, katanya..." gumam Arsen dalam hati. Rahangnya mengeras. Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Tatapan Arsen kemudian beralih kepada Keira. Untuk sesaat, ia hanya memandang perempuan itu dalam diam. Lalu, tiba-tiba ia berkata dengan suara tegas,

"Berikan ke saya. Saya mau coba juga."

Semua orang yang mendengarnya langsung menoleh. Keira ikut menatap Arsen dengan wajah sedikit heran. Rina justru terlihat sangat bersemangat.

"Ini, Pak," ucapnya cepat sambil mengambilkan makanan dan menyerahkannya kepada Arsen.

Arsen menerima piring tersebut dengan tenang.

Namun, matanya masih tertuju pada Keira. Ia mengambil sedikit makanan menggunakan sendok, kemudian mencicipinya.

Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.

"Hmm... ternyata enak juga," gumamnya puas.

Keira yang melihatnya justru semakin kesal. Ia langsung menoleh kepada Rina.

"Kenapa kamu kasih ke dia, sih?! Aku nggak rela dia makan masakan kita!"

Rina malah terkekeh, lalu menjawab dengan nada menggoda,

"Keira, aku harus bisa mengambil hati calon kakak iparku, dong. Aku mau dia benar-benar jadi suami kakakku."

Keira langsung terdiam. Tatapannya menyipit. Bibirnya mengatup rapat. Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya. Entah kenapa, ia merasa tidak suka.

Sangat tidak suka mendengar Rina menyebut Arsen sebagai calon suaminya. Terlebih lagi... ia tidak rela melihat Arsen menikmati masakan yang dibuatnya dengan wajah puas.

Keira hanya mampu terdiam. Ia berusaha menyembunyikan rasa kesal sekaligus cemburu yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.

Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya bunyi sendok beradu dengan piring serta tarikan napas beberapa orang yang masih sibuk dengan makanan mereka.

Di sisi lain, Arsen terus memperhatikan Keira. Tatapannya seolah ingin menebak apa yang sedang dipikirkan perempuan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka mengucapkan apa-apa.

Keira hanya menundukkan kepala, berusaha mengendalikan perasaan tidak rela yang semakin mengusik pikirannya.

Setelah makan malam selesai, para mahasiswa mulai membereskan meja dan mencuci piring bersama-sama.

Suasana kembali santai. Tawa dan obrolan terdengar memenuhi dapur umum. Keira pun ikut bercanda dengan teman-temannya, sesekali tertawa kecil saat mendengar lelucon mereka.

Tiba-tiba, Kevin datang menghampirinya sambil membawa sesuatu di tangannya.

"Kei, ini buat kamu."

Ia kemudian menyerahkan sebungkus cokelat kepada Keira.

Keira terlihat sedikit terkejut. "Buat aku? Kamu dapat dari mana?"

"Ya beli, lah. Aku sampai harus pergi cukup jauh buat mendapatkannya," jawab Kevin santai dengan senyum lebar.

Teman-teman yang berada di sekitar mereka langsung bersorak.

"Cieee!"

"Wah, ada yang kasih cokelat!"

Keira langsung tersipu. Ia memandangi cokelat di tangannya dengan wajah sedikit malu. Namun, dari kejauhan, Arsen berdiri diam.

Tatapannya tidak lepas dari Keira dan Kevin yang terlihat begitu dekat. Rahangnya perlahan mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar.

"Nggak bisa..." gumamnya dalam hati.

"Kevin harus dikeluarkan dari tim KKN ini."

Napas Arsen terasa berat. Ada terlalu banyak emosi yang bercampur di dalam dirinya—marah, kesal, cemburu, dan satu perasaan lain yang bahkan tidak ingin ia akui.

Sementara itu, Keira masih tersenyum kecil sambil memandangi cokelat pemberian Kevin.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi Arsen terus memperhatikannya dari kejauhan.

"Kalau aku tahu, pasti sekarang dia lagi kebakaran jenggot," batin Keira sambil menahan senyum.

"Kenapa sih? Dia paling nggak suka melihat aku senang, walaupun cuma sebentar."

.....

Malam semakin larut.

Satu per satu mahasiswa mulai kembali ke kamar masing-masing. Suasana di sekitar tempat tinggal mereka pun perlahan menjadi sunyi. Sesekali terdengar suara hewan malam dari luar.

Keira yang sudah berada di dalam kamar tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya.

"Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucapnya.

Rina yang sudah setengah mengantuk menoleh dari atas kasurnya.

"Mau ditemenin?"

"Nggak usah," jawab Keira singkat.

Setelah itu, ia segera melangkah keluar kamar.

.....

Like

Komen

Vote

love you all

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!