NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Matthew Mulai Sadar!

Matthew memandang wajah Evelyn yang sangat pucat. Lingkaran hitam samar mengitari matanya yang sembap, sementara gaun maroon mewahnya tampak kusut dengan bercak darah kering milik Matthew di sekitar dada dan lengannya. Pria itu menggerakkan jemari tangannya secara perlahan, berniat menyapu air mata yang mengalir di pipi gadis itu, tetapi denyut nyeri hebat di bahu belakangnya membuat gerakannya tertahan.

"Jangan bergerak dulu, Matthew!" Evelyn bergegas menahan lengan pria itu, suaranya panik. "Lukamuu... racun itu hampir mengenai organ vitalmu. Kamu demam tinggi sepanjang malam."

Matthew meringis kesakitan. Bibirnya yang mengering bergetar pelan saat ia berbisik, "Tapi... kamu selamat, kan? Racun itu... nggak mengenaimu kan Eve?"

Evelyn menggeleng, menekan punggung tangan Matthew ke pipinya sendiri "Aku sama sekali tidak apa-apa. Kamu yang menahan semuanya untukku, Matthew... Kenapa kamu nekat sekali? Aku gak pantas kamu lindungi Matthew."

"Kamu ini ngomong apa sih Eve? Aku.. Aku mencintai kamu Eve. Aku akan melindungi kamu." Matthew menghela napas berat yang terasa sesak di dadanya, "...aku selalu terlambat. Delapan kehidupanmu Eve, aku terlambat. Aku tak akan pernah membiarkan diriku terlambat untuk kesembilan kalinya."

Kata-kata itu menghantam dada Evelyn begitu keras. Tangisnya yang baru saja mereda kembali pecah pelan. Ia tahu betapa besarnya beban trauma yang dipikul Matthew—seorang Grand Duke yang ikut ke dalam loop hidup dan mati yang menyiksanya berulang kali.

Pintu kamar utama mendadak terdorong cukup keras.

Samantha melangkah masuk dengan cepat. Rambutnya disanggul rapi meski matanya yang sembap masih memperlihatkan sisa-sisa tangisnya tadi malam. Begitu melihat mata keemasan kakaknya terbuka dan menatapnya, napas Samantha tertahan. Langkah kakinya sempat berhenti sejenak sebelum ia berlari mendekati sisi ranjang.

"Kakak!" seru Samantha, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan.

"Sam..." panggil Matthew dengan suara parau.

"Maafkan aku, Kak.. Ini semua salahku," bisik Samantha dengan suara gemetar. "Aku yang memimpin pasukan, aku yang mengatur skenario penangkapan di aula... tapi aku lalai. Aku tidak mengantisipasi Cedric menyembunyikan belati beracun itu. Aku hampir membuatmu..."

"Cukup, Samantha," potong Matthew lembut namun tegas. Ia menatap adiknya dengan sorot mata yang hangat, "Kamu sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Pesta itu... skenario itu... semuanya sempurna. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Samantha menyapu sudut matanya yang basah, lalu mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang untuk menguasai kembali kendali emosinya sebelum beralih menatap Evelyn dan Matthew secara bergantian.

"Bagaimana keadaan di luar, Sam?" tanya Matthew, mengalihkan pembicaraan ke situasi politik yang mendesak.

Samantha meluruskan punggungnya, raut wajahnya kembali mengeras. "Sesuai dugaan. Berita penangkapan Cedric dan Leonor Ashworth atas tuduhan makar, pemalsuan dokumen kekaisaran, dan percobaan pembunuhan terhadap Grand Duke telah menyebar ke seluruh ibu kota sejak subuh."

Ia melanjutkan dengan nada dingin yang tak bersahabat, "Dewan Tertinggi Kekaisaran sudah menyita seluruh aset dan wilayah kekuasaan Keluarga Ashworth. Pagi ini, persidangan darurat akan digelar. Cedric dan Leonor tidak punya celah sedikit pun untuk lolos. Hukuman eksekusi mati atau pengasingan seumur hidup ke area pertambangan di utara sudah menanti mereka."

Matthew mengangguk pelan. Tidak ada sedikit pun rasa iba di matanya.

"Evelyn," panggil Samantha kemudian, menatap gadis itu dengan lembut. "Pelayan sudah menyiapkan kamar mandi dan pakaian ganti untukmu di kamar sebelah. Dokter akan segera masuk untuk memeriksa kembali balutan luka Matthew. Kamu harus membersihkan diri. Dan beristirahatlah dulu. Aku akan mengambil alih dari sini "

Evelyn sempat ragu dan menatap Matthew, seolah enggan melepaskan genggaman tangannya bahkan untuk beberapa menit.

Matthew tersenyum lembut, memberikan dorongan pelan melalui tatapannya. "Pergilah, Eve. Aku tidak akan ke mana-mana lagi. Aku berjanji."

Evelyn akhirnya mengangguk pelan. Ia kemudian berdiri dan mencium Matthew sebelum beranjak pergi "Aku akan kesini lagi nanti."

Saat Evelyn melangkah keluar dari kamar dan pintu tertutup rapat, ruangan itu kembali hening. Samantha berdiri, menatap kakaknya dengan sorot mata yang penuh pertanyaan.

"Kamu benar-benar mencintainya sampai rela mati untuknya?" tanya Samantha pelan.

Matthew mengalihkan pandangannya ke jendela besar, menatap sinar matahari pagi yang kini menerangi seluruh ruangan.

"Dia adalah alasan aku bertahan melewati delapan kali neraka, Sam," sahut Matthew tulus. "Dan di kehidupan kali ini, aku akan memastikan dia mendapatkan seluruh kebahagiaan yang berhak ia miliki."

Tapi bagaimana dengan kebahagiaanmu Kak?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!