Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGI KE WARUNG
Sarapan pagi ini terlihat sangat kontras, nenek Gendhis makan nasi pecel sementara Vallery yang duduk disampingnya mulutnya tak berhenti mengunyah, nyamilin tempe mendoan yang ada diatas meja.
“Daripada kamu nyemilin mendoan sebanyak itu mending makan nasi pecel seperti nenek ini langsung kenyang”, tegur nenek Gendhis.
Vallery yang ditegur hanya mencebikkan mulutnya sebentar sebelum kegiatan mengunyah tempe mendoan kembali dilanjutkan.
“Nenek tahu sendiri jika perutku ini diisi nasi pagi-pagi bisa langsung error. Tapi kalau seperti mendoan, dijamin tidak akan sampai error”, ucap Vallery sambil mencomot mendoan terakhir diatas piring sebelum diambil oleh nenek Gendhis yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku cucu perempuan nya yang cara makannya tak ada anggun-anggunnya itu.
Setelah nasi diatas piringnya habis dan minum segelas air putih hangat, nenek Gendhis menatap Vallery.
“Sebentar lagi nenek mau ke warungnya pak Supri untuk belanja bulanan karena sepertinya bulek dan paklikmu akan cukup lama di desa Sumber Asih dan kebutuhan bulanan susah menipis. Kamu mau ikut tidak?”, ajak nenek Gendhis yang langsung direspon anggukkan kepala oleh Vallery karena ia merasa penasaran mau lihat warung yang dianggap cukup besar dan lengkap di Desa Maju Bersama itu jualan apa saja, Vallery pun tidak menolak tawaran nenek Gendhis.
"Baik nek, Valley akan ikut nenek, sekalian Valley mau beli beberapa camilan untuk menemani Valley bekerja nanti karena ada beberapa denah rumah yang perlu Valley revisi nanti”, ucap Vallery sambil mengusap mulutnya yang penuh minyak dengan tisu, kemudian membawa semua piring dan gelas kotor diatas meja untuk di cuci dibelakang sementara nenek Gendhis menyimpan sayur dan bumbu pecel serta lauk pauk yang tadi dimasaknya dan belum habis dimakan kedalam almari makan agar aman tak di kerubuti semut atau dimakan tikus.
Setelah semua rapi dan semua jendela serta pintu sudah dikunci, kedua wanita beda usia itupun segera keluar dari rumah.
Vallery dan ndek Gendhis berjalan pelan menuju toko milik Supri sambil menikmati pemandangan desa yang asri karena disamping kanan kiri nya masih banyak pohon besar tumbuh subur,membuat Vallery tak henti-hentinya berdecak kagum akan keindahan kampung halaman kelahiran papanya itu.
Selama di perjalanan, banyak yang menyapa nenek Gendhis dan menanyakan siapa gadis cantik yang berjalan bersamanya.
Dengan senang hati nenek Gendhis memberitahu kalau Vallery ini cucunya, anak bungsu dari putra semata wayangnya, Anton.
"Cantik ya anaknya Anton. Udah lama nggak kesini, sekalinya datang, sudah remaja jadi pangling kita," ucap Yu Hindun.
"Istrinya Anton kan cantik kaya bule jadi wajar jika anaknya cantik kaya boneka seperti ini", sahut Yu Puji sambil mencubit pelan pipi chubby Vallery karena gemas.
Vallery yang dicubit gemas dan dipuji cantik hanya tersenyum tipis karena hal seperti ini sudah biasa ia alami ketika berhadapan dengan teman-teman sosialita mamanya dulu, bahkan banyak diantara mereka yang sering menguyel-uyel Vallery karena gemas dengan pipi chubby nya itu.
Tapi senyum Vallery langsung hilang saat tiba-tiba ada yang lewat dan langsung di sapa dengan begitu semangat oleh ibu-ibu yang saat ini ada di sekitarnya.
"Selamat pagi mas ganteng," sapa ibu-ibu dengan kompak, dan wajah senyum pepsodent. Yang disapa malah hanya ter sangat tipis, sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Vallery hanya diam saja, sambil menunduk karena ia sedikit takut melihat senyum tipis Dirga yang bagi Vallery seperti seorang monster yang hendak memakan manusia.
Dirga yang disapa oleh ibu-ibu sempat melirik Vallery sebentar. Setelahnya pria itupun melanjutkan membawa motornya, melewati Vallery dan para ibu-ibu begitu saja.
"Kenapa mukanya mas kades itu tambah terlihat serem begitu sih kalau lagi senyum kaya gitu" ,gerutu Vallery dalam hati.
Tapi ekspresi yang ditangkap oleh Vallery tak sama dengan yang ditangkap oleh ibu-ibu pengagum Dirga.
"Ya ampun, kayaknya aku mau dapat rezeki deh, pagi-pagi begini ketemu orang ganteng" ucap yu Puji masih senyum-senyum sendiri menatap punggung Dirga
Hal yang sama juga terlihat pada wajah Yu Hindun yang sudah merah seperti tomat karena habis bertemu dengan idolanya.
"Kalian ini jangan keganjenan, dirumah ada suami ganteng dan gagah, masih aja suka liat si Dirga", tegur nenek Gendhis, tapi tetap terlihat senyuman di bibirnya.
"Loh..kalau suami kita, ya tetap di hati, nek. Kalau mas ganteng, itu vitamin mata nek, biar mata kita jadi segar dan nggak sampai rabun," sahut Yu Hindun bersemangat, yang anehnya di jawab anggukan setuju oleh ibu-ibu yang lain yang ada disana.
Nenek Gendhis yang melihat kecentilan ibu-ibu Desa Maju Bersama itu hanya bisa geleng-geleng kepala, mendengar sahutan kompak dari para tetangganya.
Sedangkan Vallery, hanya diam membisu tak tahu apa yang membuat kepala desa yang masih muda itu bisa menjadi idola banyak orang.
Meski wajahnya memang tampan, tapi aura dan ekspresi wajahnya cukup menyeramkan, membuat Vallery merasa kasian bagi siapapun nanti menjadi pasangannya karena pasti akan mengalami tekanan batin setiap hari melihat muka lurus kaya papan gilingan, datar lurus kaya gitu, tapi sekali berekspresi terlihat sangat menakutkan, membuat siapapun tak memiliki nyali untuk menatapnya.
Melihat beberapa tetangganya itu kembali bergosip, nenek Gendhis pun segera pamit, "Yowes, nenek mau ke warungnya Supri dulu, takut kehabisan belanjaan" yang direspon anggukkan oleh semua orang.
Nenek Gendhis pun segera mengandeng tangan Vallery dan mempercepat langkah kakinya karena selain belanja bulanan, ia juga ingin belanja sayur mayur serta lauk pauk untuk stok dikulkas agar jika Vallery ingin memasak dan makan ada stok sayur dan lauk yang bisa ia olah didalam kulkas.
Baru saja sampai di warung, Vallery dibuat melongo karena tak menyangka warung milik pak Supri yang kata neneknya adalah teman papanya itu ternyata sangat ramai karena selain jualan sembako mereka juga jualan mlijo yaitu jualan sayur mayur dan berbagai macam lauk menta seperti ikan, ayam,daging, tahu,tempe dan lain-lain serta aneka pembumbuan lengkap ada disana sehingga warga tidak perlu lagi pergi kepasar jika hanya untuk masak sehari-hari dirumah.
Berbeda dengan Vallery yang masih terdiam karena terkejut tak menyangka di desa terpencil ini ada warung selengkap ini.
Ketika Vallery masih melamun, nenek Gendhis sudah bergerak maju berdesak-desakan dengan para pembeli lainnya agar tak kehabisan bahan makanan karena jam sembilan pagi seperti ini adalah waktu paling ramai-ramainya disini karena tak cepat maka sayuran dan aneka macam lauk yang baru tiba jam delapan pagi dari pasar di kabupaten itu akan habis diserbu oleh pembeli yang lain.
"Vallery, kenapa masih diam disitu. Ayo kesini bantu nenek memilih apa saja yang ingin kamu makan, untuk stok lauk dan sayur didalam kulkas", teriak nenek Gendhis yang langsung mengembalikan kesadaran Vallery dan iapun mulai bergerak maju, bertempur dengan para pembeli lainnya agar tak sampai kehabisan bahan makanan untuk stok di rumah.
Dirga yang kebetulan tengah membeli rokok dan kini telah bergabung dengan bapak-bapak yang tampaknya tengah mengantar istri mereka berbelanja mulai merokok sambil berbincang ringan sambil kedua netranya yang setajam elang terus memperhatikan setiap pergerakan Vallery tanpa gadis cantik itu sadari.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA