Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Kenzo terbangun saat langit masih gelap. Biasanya, setiap azan Subuh berkumandang, Nadia selalu datang ke kamarnya, mengusap kepalanya lembut sambil membangunkan untuk salat Subuh berjamaah.
Kenzo mengucek matanya, mendudukkan diri di tepi kasur. Karena suasana rumah masih sepi, anak kecil itu beranjak turun dan melangkah menuju kamar orang tuanya.
Ia memutar gagang pintu kamar Nadia dan Arvin yang tak terkunci.
"Bunda..." panggil Kenzo pelan.
Ruangan itu kosong. Kasur tertata rapi tanpa ada tanda-tanda keberadaan ibunya. Kenzo melangkah masuk, mengecek seluruh sisi kamar.
"Bunda! Bunda di mana?!" teriak Kenzo, suaranya mulai gemetar.
Air matanya mendadak membasahi pipinya. Rasa takut yang besar menghantam dadanya saat menyadari sang ibu benar-benar tak ada di rumah.
"Bunda... jangan tinggalin Kenzo! Bunda di mana?!" panggilnya terisak-isak.
Sambil menangis sesenggukan, Kenzo berlari keluar kamar dan bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah. Ia melangkah ke pintu depan yang sudah tidak terkunci. Dengan tangan mungilnya, ia menarik pintu kayu itu dan berjalan keluar menuju teras. Anak kecil itu duduk di atas anak tangga teras yang dingin, memeluk kedua lututnya seraya menatap pagar rumah yang tertutup rapat.
"Bunda... jangan tinggalin Kenzo... Bunda cepat pulang..." gumamnya terisak pelan sampai akhirnya rasa kantuk berat dan lelah membuatnya tertidur meringkuk di lantai teras.
Beberapa saat kemudian, pelayan rumah keluar hendak menyapu halaman. Ia mendadak terkejut setengah mati melihat anak bungsu majikannya tergeletak tidur di ubin teras yang dingin tanpa alas.
"Astaga, Den Kenzo!" Bibi bergegas mendekat dan berlutut di samping Kenzo. Ia menepuk pelan bahu anak itu.
"Den Kenzo... bangun, Nak. Kok tidur di sini? Pindah ke kamar yuk, dingin banget ini."
Kenzo menggeliat pelan, matanya masih sembap dan merah. Ia menggeleng kuat-kuat seraya menepis halus tangan pelayan itu. "Enggak mau! Kenzo mau tunggu Bunda di sini! Bunda belum pulang..."
"Tapi di luar dingin, Den..." bujuk Bibi cemas.
Karena tak bisa membujuk Kenzo sendirian, pelayan itu panik dan setengah berlari menuju kamar Haris dan Ranti. Ia mengetuk pintu kamar itu dengan kencang.
Tok! Tok! Tok!
"Nyonya! Tuan! Nyonya!" panggil Bibi panik.
Pintu terbuka. Haris dan Ranti yang baru saja selesai salat Subuh menatap pelayannya dengan bingung.
"Ada apa, Bi? Pagi-pagi kok panik gitu?" tanya Haris.
"Itu, Tuan... Den Kenzo tidur meringkuk di teras depan. Pas disuruh pindah ke kamar enggak mau, katanya mau nungguin Ibunya pulang. Saya takut Den Kenzo masuk angin, Nyonya!"
Ranti dan Haris saling pandang. Wajah Ranti seketika pucat pasi. Tanpa membuang waktu, mereka berdua langsung berlari tergesa-gesa menuju teras depan.
Begitu sampai di teras, hati Ranti seakan teriris melihat tubuh mungil cucunya terbaring meringkuk di atas ubin dingin.
"Kenzo! Ya Allah, Nak..." Ranti langsung berlutut dan merangkul tubuh Kenzo yang terasa dingin, lalu membawanya ke dalam pelukan erat.
Haris menyusul, berlutut di samping istrinya dengan wajah penuh penyesalan. "Kenzo... Kenzo sayang, kenapa tidur di luar begini?"
Kenzo membuka matanya yang sembap dan kemerahan. Begitu melihat wajah Opa dan Omanya, tangis yang sejak tadi ditahannya pecah kembali.
"Oma... Opa... Bunda mana?" terisak-isak Kenzo.
"Bunda dari semalam enggak pulang... Pintu kamar Bunda kosong... Bunda janji mau bangunin Kenzo shalat Subuh, tapi Bunda enggak ada..."
Ranti tak sanggup menahan air matanya. Ia mengecup dahi cucunya berkali-kali sambil mendekapnya makin erat. "Bunda... Bunda lagi ada urusan sebentar, Sayang. Bunda pasti pulang..."
"Kenzo mau Bunda! Jangan bohongin Kenzo!" jerit Kenzo, badannya mulai bergetar hebat.
"Kenzo mau tunggu Bunda di sini aja! Bunda bilang kalau Kenzo nakal Bunda bakal pergi... Kenzo janji enggak nakal lagi, Opa... panggil Bunda pulang..."
......................
Arvin masih terjaga di samping brankar Nadia, setelah semalaman Nadia di ruang ICU akhirnya di pindahkan. Sepanjang malam ia tak memejamkan mata sedikit pun, terus mengusap jemari dingin istrinya sambil merapalkan doa-doa dalam diam.
Dokter dan perawat masuk ke ruang ICU untuk memeriksa kondisi vital Nadia. Arvin berdiri, menatap cemas ke arah monitor yang menunjukkan grafik detak jantung serta tekanan darah istrinya.
"Dokter, bagaimana perkembangan istri saya?" tanya Arvin parau, suaranya sangat lelah.
Dokter menatap layar monitor lalu beralih menatap Arvin. "Kondisi Bu Nadia mulai stabil setelah melewati masa kritis semalam, Pak. Namun, reflex dan kesadarannya masih sangat rendah akibat benturan keras di kepala. Kita masih harus menunggu hingga reaksi obatnya berkurang."
Arvin menarik napas lega, meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang. "Tapi istri saya bisa mendengar saya, Dok?"
"Secara medis, pasien dalam kondisi seperti ini masih bisa mendengar suara di sekitarnya. Teruskan mengajaknya bicara, Pak. Itu bisa membantu merangsang kesadarannya," jelas Dokter sebelum pamit meninggalkan ruangan.
Arvin kembali duduk di samping brankar. Ia menggenggam erat tangan Nadia, membawa jemari istrinya itu ke dahinya.
"Nadia... Dokter bilang kamu bisa dengar suara saya," bisik Arvin dengan nada penuh penyesalan.
"Bangun, Nadia... Jangan bikin saya dan anak-anak takut. Kenzo pasti lagi nyariin kamu di rumah... Tolong balik, Nadia. Saya janji bakal perbaiki semuanya."
Ponsel di saku celana Arvin bergetar. Ia merogohnya dan melihat nama Haris tertera di layar.
"Vin, Kenzo histeris dari subuh," suara Haris terdengar berat dan panik dari seberang telepon.
"Dia nungguin Nadia di teras sampai ketiduran di ubin dingin. Dia enggak mau dibohongi lagi, Vin. Sekarang Papa sama Mama mau bawa Kenzo, Damian, dan Jovan ke rumah sakit."
Arvin memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang kusam. "Bawa ke sini aja, Pa... Kasihan Kenzo. Dokter bilang kondisi Nadia sudah mulai stabil, tapi belum sadar."
"Ya sudah, Papa sama anak-anak jalan sekarang. Kamu jaga diri di sana," tutur Haris sebelum mematikan sambungan telepon.
Arvin menghela napas panjang, menatap wajah pucat Nadia yang masih terpejam erat. "Dengar kan, Nadia? Anak-anak mau ke sini... Kamu harus bangun."
Tak lama kemudian, mobil Haris berhenti di parkiran rumah sakit. Kenzo yang sejak tadi memegang tangan Ranti mulai melihat ke sekeliling gedung di depannya.
Mata kecilnya membelalak saat membaca tulisan nama rumah sakit di depan pintu masuk. Ia mulai panik.
"Opa... kita ke mana?" tanya Kenzo, suaranya bergetar. "Kenapa ke rumah sakit?! Kenzo enggak mau ke rumah sakit! Mana Bunda?!"
Kenzo mulai memberontak di dalam mobil, menepis tangan Ranti dan berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"Kenzo, tenang dulu, Sayang..." bujuk Ranti sambil memeluk cucunya. "Bunda ada di dalam... kita mau ketemu Bunda..."
"Gak mau! Bunda gak boleh di rumah sakit! Bunda kan gak sakit!" jerit Kenzo menangis kencang. Rasa takut membuat Kenzo makin panik saat Haris membuka pintu dan menggendongnya.
Damian dan Jovan turun dari pintu sebelah. Jovan mengepalkan tangan rapat-rapat, tak sanggup melihat adiknya yang menangis, sementara Damian mendekat untuk membantu membujuk.
"Kenzo, dengar Bang Damian..." panggil Damian lembut sambil memegang tangan Kenzo yang meronta di pelukan Opa.
"Bunda cuma lagi diistirahatkan Dokter di dalam. Kalau Kenzo menangis terus begini, nanti Bunda sedih. Katanya Kenzo mau ketemu Bunda?"
Mendengar itu, tangis Kenzo pelan-pelan mereda menjadi isakan. Wajahnya pucat, menatap Damian dengan mata merah dan basah.
"B-Beneran... Bunda ada di dalam?" bisik Kenzo terisak.
"Beneran, Sayang. Yuk, kita masuk ketemu Papa sama Bunda," kata Haris menenangkan. Ia lalu menggendong Kenzo masuk melewati koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap tempat Nadia dipindahkan dan Arvin sudah menunggu.
Arvin berdiri dari kursi tunggu begitu melihat langkah Haris, Ranti, dan anak-anaknya mendekati pintu ruang rawat. Wajahnya tampak amat lelah dan lesu.
Begitu mata Kenzo menangkap sosok sang papa, ia langsung merentangkan kedua tangan mungilnya seraya menjerit terisak.
"Papaaa...!"
Arvin bergegas menghampiri dan mengambil alih Kenzo dari gendongan Haris. Ia merengkuh tubuh mungil anaknya itu erat-erat ke dalam pelukan, mengusap punggung dan kepalanya yang terasa dingin.
"Papa... Bunda mana, Pa? Kenzo mau ketemu Bunda..." tangis Kenzo pecah di ceruk leher Arvin, jemari kecilnya mencengkeram erat kemeja sang papa.
"Iya, Nak... Papa di sini," bisik Arvin parau, matanya ikut berkaca-kaca saat mengecup pelipis Kenzo berkali-kali.
"Bunda ada di dalam, lagi istirahat. Jangan menangis lagi ya, Sayang..."
Arvin menatap Haris, Ranti, Damian, dan Jovan bergantian. Jovan menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata papanya.
"Gimana kondisi Nadia, Vin?" tanya Haris pelan.
"Sudah dipindah ke ruang rawat sejam yang lalu, Pa. Kondisinya makin stabil, tapi belum sadarkan diri. Dokter bilang kita boleh dampingi di dalam," jelas Arvin.
Ia mengusap air mata di pipi Kenzo dengan ibu jarinya, lalu menatap anak bungsunya itu. "Kenzo mau lihat Bunda? Tapi Kenzo jangan berisik ya, Bunda lagi istirahat."