Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dunia begitu sempit
"InsyaAllah.." lirih Afif, dan kini Afif mencoba menghibur gadis yang biasanya mampu menghibur semua orang itu, "jadi saya dipecat?"
Lova tertawa renyah dan mengangguk, "tanpa pesangon. Maaf ya tadz..."
Afif menarik senyumnya sebelah sembari mendengus mendengar ucapan Lova.
Hingga sampai Lova dan Afif melanjutkan acara mengaji mereka, suara mobil terdengar memasuki carport. Namun sepertinya Lova dan Afif lebih khusyuk mengaji, tak menghiraukan kehadiran orang lain.
Afif mengangguk dan menjeda pelafalan Lova yang keliru, begitu pun Lova yang mengulanginya dan membenarkan bacaan.
Bunda rupanya yang sampai duluan, dan melihat putrinya tengah mengaji dibimbing Afif.
"Assalamu'alaikum...eh," bunda segera mengatupkan mulutnya dan berjinjit masuk ke dalam secepatnya, membiarkan Lova membaca dengan khusyuk tanpa mau mengganggu.
Tak selang lama dari itu, ayah yang datang dengan mobil, kali ini ayah memilih menyapa sejenak keduanya mengakhiri pelajaran kali ini.
"Sadaqallahul azim..."
"Wah, alhamdulillah nih...udah makin pinter aja ngajinya."
Lova terlihat meraih punggung tangan ayah dan mengecupnya, daddy's little girl...bahkan ayah menyarangkan kecupannya di kening Lova membuat gadisnya itu terkekeh, "pacar ayah nanti cemburu!" tunjuknya dengan lidah yang ia tonjolkan di balik kulit pipi ke arah bunda.
Dapat Afif lihat sesayang apa om Agas terhadap Lova, itu kenapa pria paruh baya ini sampai rela meminta abi mencarikan calon terbaik untuk sang permata hatinya, tapi apakah ia mampu? Mengganti peran om Agas untuk Dealova? Kini Afif yang merasa khawatir.
"Va,"
"Iya?"
"Itu baju bunda ya? Kok kenal?!" tembak ayah seketika membuat tawa Lova meledak. Dan menggeleng kencang, "bukan! Cuma kerudungnya aja!"
Tawa hangat itu terjeda oleh bunda yang memanggil mereka untuk makan bersama.
"Hey bapak-bapak, ibu majelis taklim...let's go makan dulu lah...Fif...makan sama-sama yuk, sambil nunggu abi--umimu datang, katanya tadi lagi di jalan ya? Barusan ada kabar?"
Afif mengangguk, "ada tante. Iya...tadi saya minta mas Kun buat anter abi sama umi dari rumah katanya sudah di jalan."
Lova celingukan menatap ayah, bunda dan Afif bergantian, "oh, ustadz Insan sama umi mau kesini juga, bun?"
"Lova..."
Wajah ceria dan kehebohan Lova mendadak membisu seketika, saat mobil yang membawa keluarga Afif datang.
Dunia mendadak senyap untuknya, hanya terdengar suara degupan jantung yang seketika mengencang kala ia bernafas.
Tak ia duga, dunia ternyata se-sempit ini, entah takdir yang mungkin sedang mempermainkannya.
Saat ayah dan bunda menyambut keluarga ustadz Insan dengan keramahan dan suka cita. Lova justru memilih diam mematung menatap kedatangan mereka dengan nanar.
Terlebih, satu sosok pemuda jangkung sepaket sweter rajut yang melapisi kemeja ciri khas hanya miliknya, yang mampu meluluh lantahkan hati Lova setahun belakangan ini, kini tengah menyalami ayah dan bunda dengan takzim, memperkenalkan dirinya sebagai anak bungsu ustadz Insan dan umi Khotizah.
"Alhamdulillah baik..."
"Gimana di jalan, macet?"
Riuhnya tawa kedua pasang orangtua saling bertegur sapa tak membuat dunianya beralih menjadi ramai. Bahkan senyum mengembang Afif yang baru pertama kali ia lihat itu tak mampu membuatnya ikut teralihkan.
Pandangannya justru bertemu dengan bola mata hitam Afnan dan saling menatap lama.
"Lova, kenal sama Uqi kan? Kebangetan sih kalo ngga kenal, kemaren juara lomba MQ antar SMA tingkat kota, bawa nama sekolah kan, ya?" ujar bunda bertanya dan diangguki umi.
*Kenal, mana mungkin Lova bisa lupa secepat itu*. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Afnan atau Uqi ini. Pun, dengan Lova yang memilih bungkam.
Kini ia tau jawaban, kenapa saat melihat Afif ia teringat Afnan ataupun sebaliknya....
"Nah Lova, sekarang ketemu langsung to...sama Afnan Syauqi, anak bungsu umi sama ustadz Insan. Yang kata Lova ngga kenal sama yang namanya Uqi di sekolah." Umi begitu sesumbar mengatakan itu dihadiahi tawa renyah abi, ayah dan bunda.
"Sekarang bunda cuma bisa bilang, masa iyaaaa?" godanya habis-habisan mencubit pipi Lova.
"Bunda...Lova pamit ke dal---" namun, belum ia menyelesaikan ucapannya, ayah sudah menahannya, begitupun dengan para orangtua.
"Loh, mau kemana. Duduk dulu nak, sebentar..."
Tak taukah mereka, selain karena kerudung panjang bunda yang ia pakai bikin gerah, suasana disini pun sudah sangat panas!
Meskipun tak ikut bersuara namun sorot pandangan Afif seolah ikut menahan Lova untuk tetap berada disini, sementara Afnan...ia memilih undur diri ke teras dan terlihat sibuk memainkan ponselnya.
Sorot matanya itu menyiratkan keterkejutan yang sama dengan Lova.
Keadaan tak bisa lebih buruk lagi saat ustadz Insan memulai obrolan setelah Lova memilih tenang di samping bunda, "ini ada apa, bun?" tanya Lova membeo diantara orang dewasa, meski berbisik...nyatanya umi masih bisa mendengar pertanyaan Lova itu.
Umi tersenyum, "kok ada apa?"
Lova menatap bunda dan ayah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bingung namun entahlah rasanya perasaan Lova campur aduk kini. Semoga tebakannya salah jika....
"Lova, niat saya membawa serta abi, umi dan adik saya di hadapan om Agas dan tante Desi serta kamu, adalah untuk meng-khitbah kamu..."
Dunia mendadak sunyi kembali, bahkan Afnan yang sejak tadi di luar pun tak berusaha untuk ikut hadir diantara mereka.
Seakan jantungnya berhenti berdetak saat itu juga, Lova kesulitan untuk bernafas. Bak dunia tanpa mentari...Lova merasa terjerembab ke dalam lubang sempit nan dalam yang begitu gelap, hingga membuat lidahnya mati rasa.
Sampai-sampai Lova harus membuka mulutnya sedikit demi meloloskan udara ke dalam paru-paru mengingat fungsi pernafasannya terganggu sekarang.
Speechless .. Lova tak berkutik, padahal sejak tadi ia ingin sekali menjerit sekencangnya.
"Dealova, cv calon yang disetujui ayah sama bunda, adalah cv ustadz Afif...menurut ayah dan bunda, perbedaan usia bukanlah masalah...ustadz Afif mengenal baik kamu, mampu membimbing kamu selama yang ayah---bunda tau, dan semoga seterusnya..."
"Pun, dengan ustadz Afif, bunda dan ayah sudah mengenalnya baik...berharap silaturahmi ini akan terjaga dan semakin erat dengan adanya jalinan pernikahan antara kamu dan ustadz Afif." Kini bunda yang bersuara.
"Qadarullah, neng. InsyaAllah niatan baik akan diperlancar..."
Lova menatap satu persatu orangtua dan terakhir pada ustadz Afif nyalang, bahkan untuk menelan salivanya saja ia kesulitan. Bagaimana ia bisa hidup bersama lelaki itu? Calon bunda dan ayah emang mateng. Mateng banget! Udah di ambang senja malah! Batinnya mengumpat masih menatap Afif tak percaya. Setaunya usia Afif sudah menginjak usia kepala 3 sementara dirinya? Satu kepala saja belum habis...sweet seventeen saja baru lewat setahun yang lalu.
Bukan, rencana awalnyanya tidak seperti itu. Justru awalnya ia akan memutus silaturahmi dengan ustadz Afif, malah sudah say good bye kan?? Masa sekarang justru harus say hallo to hubby samawa until jannah..
"Seperti yang kamu bilang, akhirnya saya yakin dan mau menerima proses ta'aruf ini karena Allah...karena abi dan umi." Tambah ustadz Afif, raut wajahnya itu loh! Bikin orang pengen nyuci disana! Ikhlas ngga sih nikahin Lova?! Kok kesannya kaya kepaksa? Apa memang karena dipaksa ayah? Jangan-jangan ngasiin cv nya dilempar lagi!
Seakan menjilat ucapan sendiri, Lova tak dapat lagi berkutik. Ia yang dengan so-so'annya bijak tadi, pake alesan karena Allah, bunda sama ayah pula... Menolak pun sepertinya tak mungkin. Definisi mulutmu harimaumu sih ini.
"Gimana neng?" tanya umi. Dan Afif sudah mengeluarkan cincin serta gelang emas indah pilihan umi tempo hari bersamanya di meja depan mereka lalu mengangsurkan kotak perhiasan itu ke depan Lova.
"MasyaAllah, cantiknya..." kagum bunda.
"Secantik neng Lova." Puji umi.
Lova membuang mukanya ke samping sejenak. Namun kemudian saat Afnan memilih masuk di waktu yang salah versi Lova...gadis itu, entah dorongan darimana mengangguk setuju.
"Iya ayah. Iya bunda, iya ustadz..."
"Alhamdulillah."
Afnan terhenyak dan terdiam di gawang pintu. Menatap Lova yang di pasangi gelang serta cincin pengikatnya itu dengan nanar.
Bagaimana bisa, ia yang berusaha keras melupakan Afnan kini justru akan menjadi kakak ipar dari pemuda yang disukainya. Bahkan mungkin saja nanti mereka satu rumah, mengingat saat ini ustadz Afif masih tinggal di rumah abi dan uminya bersama Afnan.
Mereka beramai-ramai mengucap syukur, tak terkecuali ustadz Afif. Padahal sejak tadi Lova sedang berusaha komat-kamit menyadarkan dirinya dari mimpi buruk yang menurutnya seperti nyata ini...
.
.
.
itu baru dalemanya va, kalau isinya gimana 🤭
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny