NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Dibalik Tinta Pudar

Sinar matahari pagi yang cerah menyinari puing-puing kediaman megah keluarga Buwana, namun cahayanya tidak lagi hangat, melainkan terasa menyakitkan bagi siapa saja yang melihat sisa kehancuran itu. Asap tipis masih mengepul dari tumpukan kayu dan bata yang hangus, menebarkan bau gosong yang tajam ke udara. Di tengah kekacauan itu, Dewa Angkasa Buwana berdiri tegak, meski tubuhnya penuh debu, pakaiannya robek dan hitam, serta kulit tangannya terlihat melepuh kemerahan akibat gigitan api semalam. Di sampingnya, Naura berdiri diam, tangan kecilnya menggenggam lengan kemeja Dewa dengan erat, seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan hilang ditelan bencana lagi.

"Segera bereskan semuanya," perintah Dewa dengan suara rendah namun berwibawa kepada Raga yang sedang mengatur para pekerja dan petugas pemadam yang mulai membereskan lokasi. "Ambil apa saja yang masih bisa diselamatkan, terutama barang-barang dokumen pribadi dan benda peninggalan ayah. Sisanya biarkan saja untuk sementara waktu."

"Baik, Tuan. Lalu... ke mana Tuan dan Nyonya akan pergi sekarang?" tanya Raga dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia tahu betul bahwa tidak ada satu pun ruangan di rumah itu yang masih layak huni. Semuanya rata dengan tanah atau rusak parah.

Dewa menoleh ke arah Naura, menatap wajah wanita itu yang masih pucat namun matanya tetap menatap balik dengan penuh keyakinan. Rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya seolah hilang saat melihat keteguhan hati istrinya itu.

"Kita akan pergi ke vila tua di pinggir kota," jawab Dewa tegas. "Tempat itu aman, jauh dari keramaian, dan belum banyak orang yang tahu. Di sana ada kantor sementara dan tempat tinggal yang cukup layak. Kita akan tinggal di sana sampai semua ini selesai."

Raga mengangguk paham. Ia tahu vila itu bangunan tua yang dulu menjadi tempat peristirahatan terakhir orang tua Dewa sebelum meninggal. Tempat itu selalu dikaitkan dengan kenangan masa lalu, namun kini tampaknya menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang paling aman, jauh dari jangkauan Sera dan segala ancaman di kota ini.

"Siapkan mobil dan bawa Bi Inah serta barang-barang keperluan dasar ke sana. Jangan biarkan siapa pun tahu keberadaan kita, Raga. Ingat, musuh kita tidak hanya satu orang, dan dia memiliki banyak mata dan telinga di luar sana," tambah Dewa dengan nada peringatan yang berat.

Setelah memberikan instruksi terakhir, Dewa berbalik menghadap Naura. Ia mengangkat tangan kanannya yang sedikit gemetar karena rasa sakit, lalu dengan lembut menyapu sisa debu dan jelaga yang menempel di pipi wanita itu. Sentuhan itu begitu hangat, begitu berbeda dengan sentuhan kasar atau dingin yang biasa ia berikan dulu.

"Kau lelah?" tanyanya pelan, matanya meneliti setiap inci wajah Naura, mencari tanda-tanda kelelahan atau luka yang mungkin terlewatkan.

Naura menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis senyum kecil yang namun memiliki kekuatan luar biasa untuk menenangkan hati Dewa. "Aku baik-baik saja, Dewa. Selama aku bersamamu... aku merasa aman. Dan lagipula, kita masih punya tugas besar yang belum selesai, bukan?"

Mata Naura melirik ke arah berkas tebal yang masih dipeluk Dewa di balik jaket jasnya yang sudah tidak berbentuk itu. Berkas yang menjadi satu-satunya harapan mereka, satu-satunya bukti yang tersisa untuk mengungkap kebenaran yang selama sepuluh tahun dikubur dan dimanipulasi.

Dewa mengangguk, menegaskan tekadnya kembali. "Benar. Di vila nanti, kita akan memeriksanya bersama-sama. Kita akan lihat apa yang sebenarnya disembunyikan di balik tinta-tinta ini, dan apa yang membuat Sera begitu gila hingga rela membakar seluruh rumah ini hanya untuk memusnahkannya."

Perjalanan menuju vila tua itu memakan waktu hampir dua jam. Mobil melaju tenang di jalan yang semakin sepi, menjauhi hiruk-pikuk kota besar menuju daerah perbukitan yang sejuk dan tertutup pepohonan lebat. Sepanjang perjalanan, tidak ada banyak kata yang terucap. Keduanya masih terhanyut dalam pikiran masing-masing, merenungkan kejadian semalam yang begitu mengubah segalanya dari ancaman maut, pengakuan kejahatan Sera, hingga kesadaran akan perasaan cinta yang tumbuh di antara mereka.

Di dalam keheningan itu, tangan Dewa perlahan bergerak, mencari tangan Naura yang tergeletak di atas paha wanita itu. Jari-jarinya yang kasar dan melepuh menyusup di sela-sela jari Naura, menggenggamnya erat dan hangat. Naura terkejut sejenak, namun segera membalas genggaman itu, menumpahkan segala rasa percaya dan ketenangan yang ia miliki ke dalam sentuhan itu. Tidak ada kata-kata yang diperlukan. Genggaman itu sudah mengatakan segalanya: Kita akan melewati ini bersama-sama.

Sesampainya di vila tua itu, suasana yang menyambut mereka tenang namun sedikit suram. Bangunan itu besar dan kokoh, bergaya klasik kuno dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput tinggi dan pohon-pohon besar yang rimbun. Udara di sini terasa sejuk dan segar, sangat kontras dengan udara panas dan berasap yang mereka hirup semalam. Bi Inah yang sudah tiba lebih dulu segera menyambut mereka dengan mata berkaca-kaca, lega melihat tuannya dan Nyonya muda selamat tanpa luka berarti.

"Syukurlah... syukurlah Tuan dan Nyonya selamat," isak Bi Inah, segera membukakan pintu lebar-lebar. "Segala sesuatu sudah saya siapkan di dalam. Kamar sudah dibersihkan, makanan sudah disiapkan, dan peralatan mandi sudah ada."

"Terima kasih, Bi Inah. Kau sangat membantu kami," ucap Dewa lembut, jarang sekali ia menunjukkan rasa hormat sedemikian rupa pada pelayannya, namun hari ini berbeda. Semua orang yang setia padanya kini menjadi harta yang paling berharga.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian kotor dengan pakaian bersih yang dibawa Raga, Dewa dan Naura segera berkumpul di ruang tengah vila yang luas namun sederhana. Di atas meja kayu besar di tengah ruangan, Dewa meletakkan tumpukan dokumen yang ia selamatkan dengan nyawanya sendiri semalam. Jantungnya berdegup kencang saat ia membuka lipatan jas yang membungkusnya. Kertas-kertas itu sedikit lembap dan ada bagian pinggir yang hangus terkena api, namun isinya masih terbaca jelas. Utuh.

Naura duduk di sisi Dewa, menahan napasnya. Di sinilah titik balik yang sebenarnya. Di atas kertas-kertas inilah tergantung nasib masa depan mereka, nasib nama baik ayah Naura, dan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu saat kekayaan dan kekuasaan keluarga Buwana hampir musnah sepenuhnya.

Dewa mulai membuka lembar demi lembar dengan sangat hati-hati. Ia mengenali setiap dokumen itu. Ada perjanjian kerja sama, surat pernyataan aset, catatan hutang-piutang, hingga surat-surat pribadi antara ayahnya dengan Hadi Zafira ayah Naura. Namun, mata Dewa segera tertuju pada selembar kertas tua berwarna kekuningan yang pertama kali ia temukan terselip di antara berkas-berkas milik Sera kemarin sore. Kertas yang memulai segala keraguan ini.

"Ini dia..." gumam Dewa pelan, jarinya menyentuh tinta yang mulai pudar itu. "Ini dokumen yang menurut Sera adalah sampah, dokumen yang ia coba musnahkan semalam."

Naura mendekatkan wajahnya, membaca tulisan-tulisan tangan yang rapi namun sudah mulai kabur karena usia. Ia tidak terlalu mengerti istilah-istilah bisnis dan hukum yang tertulis di sana, namun ia melihat apa yang Dewa tunjukkan. Di bagian tanda tangan ayahnya, ada goresan yang aneh, ada garis tambahan yang tidak selaras dengan tulisan lainnya.

"Ayahku... tidak pernah menulis seperti ini," ucap Naura pelan, suaranya bergetar. Ia ingat betul surat-surat yang pernah ayahnya tulis untuknya dulu, ingat betul gaya tulisan tangan pria itu. "Tanda tangan ini... ada yang salah, Dewa. Ini tidak sama."

Dewa mengangguk berat. "Aku juga menyadarinya. Dulu, saat ayahku masih ada, aku pernah melihat dokumen asli yang disimpan di brankas. Di sana tertulis jelas bahwa kerja sama ini didasari atas kesepakatan saling menguntungkan, dan aset yang diserahkan hanyalah sebagian kecil sebagai jaminan. Tapi di sini..." Dewa menunjuk kalimat di bagian bawah yang terlihat tertutup coretan samar, "...di sini tertulis seolah-olah ayahmu memaksa, memalsukan persetujuan, dan mengambil alih seluruh hak milik perusahaan."

"Artinya... ini palsu?" tanya Naura berani bertanya, matanya menatap lurus ke manik mata Dewa. "Selama sepuluh tahun ini, kau membenci ayahku, kau membenci aku, kau merencanakan balas dendam... semuanya didasarkan pada dokumen palsu ini?"

Dewa menghela napas panjang, rasa marah kembali membara di dadanya, kali ini bukan pada Naura atau ayahnya, melainkan pada orang yang telah memanipulasi semuanya. "Sepertinya begitu. Sera... dialah yang menyusun berkas-berkas ini. Dialah yang menyerahkan bukti-bukti ini padaku saat aku sedang hancur dan butuh alasan untuk membenci seseorang. Dia yang meyakinkanku bahwa ini adalah kebenaran mutlak."

Namun, saat Dewa membalik halaman berikutnya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam. Di balik dokumen itu, terselip selembar kertas kecil lain, lebih tua lagi, hampir hancur dimakan usia. Tulisan di atasnya sangat sulit dibaca, namun Dewa mengenali tulisan tangan ayahnya sendiri. Ia mengerutkan kening, membacanya saksama, kata demi kata, suaranya perlahan keluar membacakan isinya untuk Naura.

"Jika kau membaca ini, Angkasa... berarti aku sudah tiada, dan masalah ini belum selesai. Ada sesuatu yang tidak beres soal kerja sama ini. Hadi adalah sahabatku, aku percaya padanya sepenuh hati. Namun, ada orang ketiga yang terus mendesakku, menyarankan keputusan-keputusan yang aneh, dan selalu ingin ikut campur urusan perusahaan. Dia berniat memecah belah kami, berniat mengambil keuntungan dari persahabatan kami. Hati-hati... dia dekat sekali dengan kami, dan dia sangat pandai menyembunyikan niat jahatnya di balik senyum manis..."

Dewa berhenti bicara, tangannya gemetar memegang kertas itu. Matanya membelalak lebar, rasa kaget yang luar biasa menyergapnya.

"Orang ketiga..." bisik Dewa kaku. "Ayahku menulis ini sebelum dia meninggal. Dia sudah tahu ada orang lain yang berniat jahat. Dia sudah tahu bahwa dia dan ayahmu sedang dijadikan alat oleh seseorang."

Naura menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak tak percaya. "Jadi... selama ini musuh kita bukan ayahku? Bukan keluargaku? Tapi orang lain yang memanfaatkan keadaan, memanfaatkan kepercayaan ayahmu dan ayahku, lalu memutarbalikkan fakta agar kita saling bermusuhan?"

"Sera..." desis Dewa dengan penuh kebencian yang mengerikan. "Hanya dia yang selalu ada. Hanya dia yang dekat dengan keluargaku sejak dulu. Dia yang ada saat ayahku sakit, dia yang ada saat aku sedih, dia yang ada saat aku mulai membangun kembali segalanya... Dia orang yang dimaksud ayahku! Dia orang yang mengatur semuanya!"

Semua kepingan teka-teki mulai menyatu. Semua keanehan, semua kesalahpahaman, semua penderitaan yang mereka alami selama ini, semuanya bermula dari satu orang yang sama: Sera. Wanita itu bukan sekadar pengagum yang obsesif. Wanita itu adalah dalang di balik kehancuran dua keluarga besar ini.

Namun, pikiran Dewa kembali tertuju pada kalimat terakhir di surat ayahnya. Dia sangat pandai menyembunyikan niat jahatnya...

Ada satu hal lain yang mengganjal. Jika Sera sudah berbuat ini sejak sepuluh tahun lalu, berarti rencananya sudah disusun jauh sebelum Dewa dewasa. Berarti ada kekuatan, ada bantuan, atau mungkin ada pihak lain yang lebih besar di belakangnya. Dan lagi... apa penyebab kematian ayahnya? Dulu dikatakan serangan jantung mendadak, tapi sekarang Dewa mulai bertanya-tanya: apakah itu benar-benar kecelakaan? Atau ada campur tangan tangan jahat itu juga?

"Masih ada yang kurang, Naura," ucap Dewa pelan, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menghadap ke hutan lebat di belakang vila. "Surat ini menyebutkan 'orang ketiga', tapi tidak menyebutkan nama lengkap, dan tidak menjelaskan apa tujuan sebenarnya dia melakukan semua ini. Mengapa dia ingin kita saling bermusuhan? Apa yang dia cari? Uang? Kekuasaan? Atau ada dendam lama yang bahkan ayahku pun tidak tahu?"

Naura menggenggam tangan Dewa lebih erat, memberikan kekuatan. "Kita akan menemukannya, Dewa. Kita punya bukti ini. Kita punya kebenaran di tangan kita. Dan kita punya satu sama lain. Sera mungkin sudah lari, mungkin bersembunyi, mungkin menyusun rencana baru yang lebih kejam... tapi dia tidak tahu bahwa kita sudah tahu permainannya. Dia tidak tahu bahwa kita sudah tidak lagi terpisah oleh kebencian."

Dewa menoleh, menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Di mata Naura, ia melihat keberanian yang mengalahkan rasa takut. Di sana, ia melihat rumah yang selama ini ia cari tanpa sadar. Perlahan, Dewa mendekatkan wajahnya, jarak antara mereka semakin menyempit, napas mereka saling bertautan. Di ruangan yang sunyi itu, di tengah sisa-sisa masa lalu yang kelam, di antara dokumen yang penuh rahasia itu, rasa cinta yang tumbuh perlahan itu akhirnya menemukan jalannya.

Namun, momen itu terputus saat suara derit pintu terdengar samar dari lantai bawah, diikuti suara langkah kaki yang berat dan tidak dikenal. Bukan langkah Bi Inah, bukan langkah Raga.

Dewa langsung berdiri tegak, menarik Naura ke belakang tubuhnya, melindungi istrinya. Tangannya meraih sebilah pisau kertas yang ada di meja, bersiap menghadapi bahaya.

"Siapa di bawah sana?" tanya Dewa dengan suara keras namun waspada.

Jawaban yang datang bukanlah suara orang yang dikenal, melainkan suara tawa dingin yang menggetarkan hati, disusul suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke tangga. Dan diiringi suara telepon genggam Dewa yang berdering nyaring di atas meja, menampilkan nama penelepon yang membuat darah mereka berdua membeku: Sera.

Dewa mengangkat telepon itu, menyalakan pengeras suara. Suara wanita itu terdengar jelas, tenang, namun penuh ancaman yang mengerikan.

"Selamat menikmati waktu berdua di vila tua itu, Angkasa. Kau pikir kau sudah menang? Kau pikir kau sudah menemukan kebenaran?" suara Sera terdengar menyeringai. "Maaf mengecewakanmu, tapi apa yang kau pegang itu hanyalah bagian kecil dari teka-teki besar ini. Dan... lihatlah ke luar jendela, ke arah gerbang depan. Kau akan melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali atas segalanya."

Dewa berlari ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Di sana, di depan gerbang vila yang tertutup, berdiri beberapa orang berpakaian seragam hitam, wajah mereka tertutup, dan di tengah-tengah mereka... ada sosok yang sangat dikenal, sosok yang selama ini dianggap sebagai sekutu, sosok yang tidak pernah mereka duga akan terlibat.

Dewa mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Naura yang melihat itu dari belakang menutup mulutnya kaget, nyaris berteriak.

"Kau lihat kan, Angkasa?" suara Sera kembali terdengar renyah namun penuh kejahatan. "Permainan ini baru saja dimulai. Dan kali ini... bukan hanya nama baik atau harta yang kau pertaruhkan. Tapi nyawa orang-orang yang kau cintai."

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!