Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Kuno dan Api Pembentukan Inti (2)
Setelah itu, Ling Yun membalikkan tubuhnya, melangkah menuju rumpun Rumput Embun Langit yang untungnya selamat dari kobaran api berkat perlindungan formasi kuno yang tersisa. Dengan hati-hati, ia memetik tiga helai tanaman herbal berpedar biru tersebut.
Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Ketika tanaman herbal itu terangkat dari tanah, riak energi formasi kuno yang menyelimuti area terdalam gua mendadak bergoyang, menyingkap sebuah altar batu rahasia yang sebelumnya tersembunyi oleh ilusi optik spiritual.
Di atas altar batu tersebut, duduk sesosok kerangka tengkorak manusia dalam sikap bersila yang sempurna. Meskipun raga kedagingannya telah lenyap dimakan waktu jutaan tahun, tulang-belulangnya memancarkan kilau putih keperakan laksana giok ilahi, menandakan bahwa semasa hidupnya, pemilik kerangka ini adalah seorang kultivator tangguh yang telah mencapai tingkat raga suci.
Di sekeliling kerangka itu, sebuah pusaran formasi pelindung mini berbentuk jaring laba-laba transparan masih berputar, mengunci hawa keberadaannya dari dunia luar. Dan yang paling mencolok, di salah satu jari manis kerangka tengkorak tersebut, melingkar sebuah cincin perunggu kuno bermotif naga melingkar yang memancarkan fluktuasi ruang yang samar.
"Cincin Penyimpanan Spiritual?!" sepasang mata Ling Yun melebar seketika, dipenuhi oleh kilatan keterkejutan sekaligus gairah yang membara.
"Benda legendaris yang bahkan di Sekte Langit Abadi hanya dimiliki oleh Pemimpin Sekte dan para Tetua Agung... ada di sini, terpasang di jari kerangka purba ini! Tekstur tulangnya yang memancarkan kilau giok... orang ini setidaknya berada di ranah Transformasi Jiwa sebelum dia gugur dalam meditasi."
Ling Yun mendekati altar dengan waspada. Ia tahu formasi laba-laba yang melindungi kerangka itu adalah penghalang terakhir. "Formasi ini mengunci hawa kehidupan. Untuk membukanya, aku tidak bisa menggunakan kekerasan fisik, melainkan harus menyelaraskan frekuensi spiritualku."
Ling Yun memejamkan mata, membiarkan esensi Mutiara Primordial di dalam tubuhnya memancarkan riak empat elemen untuk menyentuh garis formasi kuno tersebut. Begitu energi murninya bersentuhan, formasi laba-laba itu bergetar hebat. Alih-alih menyerang balik, struktur formasi itu mendadak luruh dan pecah menjadi serpihan cahaya spiritual, seolah-olah mengenali esensi kuno yang dibawa oleh Ling Yun.
Syuuutt—
Begitu formasi itu hancur berkeping-keping, sebuah sisa kesadaran spiritual yang sangat tipis mendadak keluar dari dahi tengkorak, meledak di udara membentuk proyeksi tulisan-tulisan kuno yang langsung terserap ke dalam benak Ling Yun.
"Aku, Penatua Ge Hong dari Sekte Primordial Sembilan Langit... terluka parah dalam perang suci berkali-kali lipat usia bintang, mengasingkan diri di tempat terkutuk ini hingga ajal menjemput. Siapa pun takdir yang mampu memecahkan formasi pelindungku dengan esensi murni, maka engkau berhak mewarisi Cincin Ruang Sembilan Awan milikku beserta seluruh sisa harta di dalamnya..."
Suara gaib itu memudar perlahan, seiring dengan hancurnya proyeksi tulisan tersebut.
Ling Yun membuka matanya, napasnya sedikit memburu saat mencerna informasi luar biasa itu. Sebuah tawa dingin dan penuh kemenangan kembali menggema di dalam ceruk gua pertapaan tersebut.
"Sekte Primordial Sembilan Langit? Aku belum pernah mendengar nama faksi ini di wilayah luar... Jadi, kerangka tengkorak inilah pemilik asli dari seluruh tempat dan formasi kuno ini," batin Ling Yun sembari melangkah maju tanpa ragu, lalu dengan penuh hormat namun tegas, melepaskan cincin perunggu tersebut dari jari sang kerangka.
Begitu cincin itu tersemat di jarinya sendiri, Ling Yun langsung mengalirkan seulas Qi murni miliknya untuk menghapus sisa segel pemilik lama yang sudah melemah. Dalam sekejap, kesadarannya terhubung dengan ruang hampa di dalam cincin tersebut. Ruang penyimpanannya seluas sebuah lapangan kota, dipenuhi oleh tumpukan Batu Spiritual tingkat tinggi, gulungan giok kuno, senjata-senjata pusaka, dan botol-botol pil obat yang masih tersegel rapat.
"Hahaha! Luar biasa! Si Zhao Hu dan anak buahnya itu mengira mereka telah membuangku ke neraka, tetapi mereka justru mendorongku ke dalam kolam keberuntungan yang tak terbatas! Dengan seluruh Batu Spiritual di dalam cincin ini, ditambah Inti Kristal kadal api dan Rumput Embun Langit... rintangan kuantitas Qi-ku telah lenyap mutlak!"
Ling Yun menatap kerangka Penatua Ge Hong, lalu memberi anggukan kepala kecil sebagai tanda penghormatan terakhir seorang kultivator. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dengan jubah yang berkibar ditiup angin spiritual dari dalam cincin, melangkah mantap masuk ke ruang meditasi terdalam di balik altar batu.
"Tempat ini akan menjadi saksi bisu kebangkitan ku. Biarlah dunia luar mengira aku sudah mati menjadi debu. Ketika gerbang gua ini kembali terbuka nanti, tidak akan ada satu pun orang di wilayah ini yang mampu menghentikan jalanku menuju puncak Dataran Pusat."
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.