Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 (Jejak yang Terputus)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Sementara Elvara masih terlelap dalam ketenangan kamar hotel Julian, di belahan pantai yang lain, ketegangan justru sedang memuncak di dalam dada Kael.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan derit ban yang tajam di area parkir pinggir pantai yang cukup lengang. Pintu kemudi terbuka, menampilkan Kael yang keluar dengan langkah terburu-buru. Wajah pria itu tampak luar biasa cemas. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang menampilkan titik koordinat GPS yang baru saja berhasil ia lacak secara mandiri.
Sejak mendengar kabar bahwa Elvara pergi dan menghilang, Kael hampir gila karena khawatir. Rasa cintanya yang selama ini ia pendam rapat-rapat di dalam hati memaksanya untuk bergerak cepat, menggunakan segala cara demi menemukan wanita yang diam-diam selalu ia ratukan itu. Dan pagi ini, pelacakan sinyal ponsel Elvara membawanya tepat ke pesisir pantai ini.
Namun, begitu Kael mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir, langkah kakinya mendadak terhenti. Jantungnya seakan mencelos ke dasar bumi.
"Elvara..." gumam Kael lirih, menatap lurus ke depan.
Beberapa meter di hadapannya, terparkir sebuah mobil sedan putih yang sangat ia kenali. Itu adalah mobil milik Elvara. Kael berlari kecil mendekat, lalu mengintip melalui kaca jendela yang tertutup rapat.
Kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Kael mencoba mengecek gagang pintu mobil, namun semuanya dalam keadaan terkunci rapat. Melalui celah kaca, ia bisa melihat tas dan ponsel Elvara tergeletak begitu saja di atas jok penumpang.
Kael memukul setir mobil Elvara dari luar dengan perasaan frustrasi yang membuncah. Pikirannya langsung berkecamuk penuh ketakutan. Ponsel dan mobilnya ada di sini, tetapi Elvara entah ada di mana sekarang.
Kael menoleh ke arah hamparan pantai yang luas dan jajaran hotel resor yang berdiri di sepanjang pesisir. Mengingat kerapuhan Elvara akibat luka yang ditorehkan Arsen, Kael takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Dengan rasa cemas yang kian mencekik lehernya, Kael mulai melangkah lebar menuju area pasir pantai, bertekad untuk mencari Elvara sampai ketemu dengan kedua matanya sendiri.
…
Kembali ke dalam keheningan kamar hotel, Elvara perlahan mulai terusik dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang. Begitu melirik ke arah jam dinding digital di sudut kamar, matanya membelalak kecil. Tak disangka, ini sudah hampir jam makan siang.
Elvara langsung memosisikan dirinya untuk duduk di atas ranjang. Detik itu juga, pandangannya langsung tertuju pada Julian yang tengah duduk di sofa dekat jendela. Pria bule itu tampak fokus menatap layar laptopnya yang menyala, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Sepertinya, Julian sedang sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
Merasa tidak enak karena sudah menumpang tidur terlalu lama, Elvara berdeham pelan untuk menarik perhatian. "Uh, Julian... sorry. I need to go out to get my clothes from the car."
Julian menoleh, mengalihkan fokusnya dari layar laptop langsung ke arah Elvara. Tatapan matanya turun sejenak, memperhatikan penampilan Elvara yang hanya dibalut kemeja putih kebesaran miliknya yang menjuntai sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjang wanita itu yang terekspos bebas.
Julian menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis. "No need, El. Let me do it. You can't exactly go outside wearing just that," ucapnya dengan nada berat yang terdengar protektif, sama sekali tidak rela jika ada pria lain di luar sana yang melihat penampilan seksi Elvara saat ini.
Elvara tersentak kecil, lalu menunduk melihat penampilannya sendiri. Wajahnya seketika merona merah karena malu. Benar juga kata Julian, sangat tidak sopan jika ia berkeliaran di area hotel dengan pakaian seperti ini. "Oh... okay then."
"Yeah, just wait a minute," balas Julian lembut.
Pria itu kemudian menutup laptopnya, lalu bangkit berdiri menuju lemari pakaian untuk mengganti jubah mandinya dengan kaus santai dan celana jins. Setelah siap, Julian kembali mendekati ranjang dan mengulurkan telapak tangan kanannya ke hadapan Elvara.
"Car keys?" tanyanya singkat.
"Oh, right. Here it is," jawab Elvara cepat sembari meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas, lalu menyerahkannya ke genggaman Julian.
"I'll be right back. Just stay here, okay?" ucap Julian, memberikan usapan lembut di puncak kepala Elvara sebelum akhirnya melangkah keluar kamar untuk mengambil koper milik wanita itu di parkiran pantai—tanpa tahu bahwa di sana, Kael sedang berputar arah mencari keberadaan Elvara.
Julian melangkah santai membelah area parkir pantai yang mulai terik oleh matahari siang. Matanya dengan mudah menemukan mobil sedan putih milik Elvara berkat remot kunci yang ia bawa. Namun, tepat saat Julian hendak memasukkan kunci ke lubang pintu mobil, sebuah pergerakan cepat memotong jalannya.
Seorang pria lokal bertubuh tegap menghadangnya dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyalang penuh permusuhan. Itu adalah Kael.
Kael, yang sejak tadi berputar-putar di sekitar parkiran, langsung tersulut emosi saat melihat seorang pria asing memegang kunci mobil Elvara. Langkahnya maju satu depat, mencengkeram kerah kaus Julian dengan kasar.
"Who the hell are you?! What are you doing with Elvara's car?!" bentak Kael penuh amarah.
Julian sama sekali tidak gentar. Ekspresi wajahnya berubah sedingin es, menatap tangan Kael di kerah bajunya dengan pandangan merendahkan. "Let go of me," desis Julian, suaranya rendah namun penuh ancaman.
Kael tidak melepaskannya. Rasa cemburu dan cemas yang membakar dadanya membuat pria itu nekat berbohong demi menuntut jawaban. "I won't! Tell me where she is! I'm her boyfriend!" Mendengar pengakuan sepihak itu, Julian sempat tertegun sesaat. Namun, sedetik kemudian, ia justru terkekeh sinis. Julian tahu betul wanita di kamarnya tidak mungkin memiliki kekasih posesif seperti ini setelah apa yang mereka lalui semalam.
Dengan sentakan kuat, Julian mengempaskan tangan Kael dari kerahnya. Julian kemudian sengaja menarik kerah kausnya sendiri ke samping, menurunkan kainnya hingga mengekspos leher dan dada bagian atasnya dengan jelas ke hadapan Kael.
Di kulit putih Julian, terpampang nyata beberapa bercak kemerahan yang kontras serta bekas gigitan kecil yang masih baru dan keunguan.
"Her boyfriend, you say?" tanya Julian dengan senyum meremehkan yang mematikan. "Then you should recognize these. Your 'girlfriend' left them on me last night. We spent the whole night together, and trust me... she was entirely mine." Kael tersentak hebat. Langkah kakinya reflek mundur satu langkah seolah baru saja dihantam godam tak kasatmata. Tatapannya terpaku pada tanda-tanda intim di tubuh Julian. Sebagai pria, Kael tahu persis apa arti tanda-tanda itu. Dadanya bergemuruh hebat, hancur berkeping-keping seketika. Kenyataan bahwa Elvara wanita yang selama ini ia jaga kesuciannya telah menyerahkan diri kepada pria asing di depannya, membuat dunia Kael runtuh dalam sekejap.
Tanpa memedulikan Kael yang masih membeku dalam keterkejutannya, Julian membalikkan badan dengan acuh tak acuh. Ia menekan tombol remot, membuka bagasi mobil sedan putih itu, lalu mengangkat koper milik Elvara keluar. Setelah menutup kembali pintu bagasi, Julian melangkah pergi meninggalkan area parkir dengan langkah tegap, membiarkan Kael tenggelam dalam kehancuran hatinya sendiri.
Baru beberapa meter berjalan menjauhi parkiran pantai, ponsel di saku celana Julian bergetar tajam. Ia merogoh benda pipih itu dan melihat nama orang kepercayaannya tertera di layar. Julian langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Katakan," perintah Julian singkat tanpa basa-basi.
Di seberang saluran, terdengar suara pria dengan nada bicara yang sangat formal dan serius, siap memberikan laporan lengkap.
"Sir, saya sudah mendapatkan seluruh informasi mengenai Nona Elvara," lapor pria itu di seberang sana. "Mengejutkan, ternyata Nona Elvara adalah istri sah dari Arsen Mahardhika, pemilik sekaligus CEO dari Mahardika Group."
Julian menghentikan langkah kakinya seketika. Sepasang alisnya bertaut rapat. "Istri Arsen Rafael Mahardika?"
"Benar, Sir. Namun, pernikahan mereka saat ini sedang berada di ambang kehancuran karena adanya orang ketiga. Suaminya, Arsen, memiliki cinta pertama bernama Vivian yang sampai saat ini belum bisa dia lupakan. Itulah alasan mengapa Nona Elvara pergi meninggalkan rumah."
Asisten Julian menarik napas sejenak sebelum melanjutkan poin terakhirnya. "Satu lagi, Sir. Pria yang mungkin Anda temui di sekitar mobil atau pantai saat ini... dia bernama Kael. Kael adalah teman dekat Nona Elvara, dan dari informasi yang saya himpun, dia sudah lama memendam rasa dan menyukai Nona Elvara secara diam-diam."
Julian terdiam di tempatnya berdiri, mencerna setiap rentetan informasi yang baru saja ia dengar. Matanya menyipit tajam menatap ke arah depan. Sisi misteri kehidupan Elvara yang penuh luka kini terbuka lebar di hadapannya.
"Begitu..." gumam Julian dengan nada suara yang bergetar rendah, penuh arti. "Kerja bagus. Terus pantau pergerakan Mahardika Group."
Julian memutus panggilan sepihak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang dingin namun sarat akan tekad. Fakta bahwa Elvara adalah seorang istri yang terabaikan justru membuat letupan posesif di dadanya kian meradang. Jika Arsen menyia-nyiakan wanita seberharga Elvara demi masa lalunya, maka Julian tidak akan ragu untuk merebut Elvara sepenuhnya dari kehidupan pria itu.
Julian menurunkan ponsel dari telinganya, menekan tombol daya untuk mematikan layar benda pipih itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Ia sempat terdiam selama beberapa detik di bawah terik matahari siang, membiarkan semua informasi mengejutkan tentang status Elvara mengendap di kepalanya.
Sebuah dengusan sinis lolos dari belah bibirnya. Suami yang berselingkuh secara emosional dan seorang teman dekat yang berlagak menjadi pahlawan kesiangan—lingkaran sosial Elvara ternyata jauh lebih rumit dari yang ia duga.
Julian menggelengkan kepala pelan, mengusir sisa-sisa kejengkelannya pada Kael. Fokusnya kembali pada koper berukuran sedang di tangan kirinya. Ia pun melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda, berjalan dengan ritme santai namun tegas membelah area lobi hotel menuju lift yang akan membawanya kembali ke lantai atas.
Sepanjang perjalanan di dalam lift, tatapan Julian tertuju pada pantulan dirinya di dinding kaca. Napasnya berembus pelan. Mengetahui bahwa Arsen sama sekali belum pernah menyentuh Elvara karena bayang-bayang masa lalu membuat Julian merasa menang telangkah. Rasa bersalah yang sempat menghantuinya di balkon tadi kini menguap, digantikan oleh kepuasan ego yang besar. Arsen yang bodoh, dan Julian yang beruntung.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai tujuan. Julian melangkah keluar menyusuri koridor berkarpet tebal yang sepi, hingga tiba di depan pintu kamarnya. Ia menempelkan kartu akses, mendengar bunyi klik yang familier, lalu mendorong pintu kayu ek tersebut dengan perlahan, bersiap kembali ke dalam dunia kecil yang kini ia bagi bersama Elvara.
Pintu kamar terbuka perlahan, menarik perhatian Elvara yang sejak tadi duduk gelisah di tepi ranjang. Ia menoleh dan seketika mengembuskan napas lega begitu mendapati Julian masuk sembari membawa koper miliknya.
Elvara segera bangkit berdiri dan menghampiri pria itu. Ia menerima kopernya dan mengatakan, "Thank you."
"You're welcome," balas Julian lembut.
Elvara segera pergi ke kamar mandi membawa kopernya dan berganti pakaian di dalam sana. Setelah selesai dan penampilannya kembali rapi, ia keluar menemui Julian yang sedang menunggunya, lalu berkata, "Uh, Julian... I have to go."
Julian yang mendengar hal itu langsung merasa tidak rela. Ia melangkah mendekati Elvara dan berkata, "Why? Why don't you just stay with me?"
Elvara diam untuk sesaat. Di dalam hatinya, ia menimbang-nimbang. Elvara tidak mau berhubungan dengan pria bule di depannya ini tanpa adanya status yang jelas. Apalagi mereka baru saja menghabiskan malam bersama, dan kenyataannya Elvara sendiri belum resmi bercerai dengan Arsen.
Menepis segala keraguannya, Elvara menatap Julian lalu menjawab, "Sorry, I can't. I have some unfinished business to take care of."
Mendengar ketegasan di mata wanita itu, akhirnya Julian mengalah dan memilih untuk membiarkannya pergi. Julian tidak menahannya lagi karena ia tahu, berdasarkan informasi yang baru ia terima, Elvara memang harus kembali untuk menyelesaikan urusannya dengan Arsen, suaminya itu.
Bersambung…..