Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Neraka di Surga dan Kesetiaan Abadi
Suara dentuman keras dan ledakan kecil menggema di seluruh bagian vila, menggetarkan lantai kayu yang kokoh itu. Di dalam kamar tidur yang tadi hanya dipenuhi kehangatan dan kasih sayang, suasana berubah drastis menjadi medan pembantaian yang mengerikan. Puluhan penyerang bertopeng, lengkap dengan senjata tajam dan senjata api, menyerbu masuk dengan niat membunuh. Mereka berpikir Davian Argantha lengah, berpikir bahwa di tempat sejauh ini, di tengah keindahan surga dunia, sang penguasa mafia akan melepaskan kewaspadaannya demi wanitanya.
Tapi mereka salah besar. Mereka tidak tahu, bahwa Davian tidak pernah benar-benar tidur. Dia selalu berjaga, dia selalu siap, dan yang paling fatal kesalahan mereka: mereka berani mengganggu saat Davian sedang melindungi nyawanya sendiri.
Begitu pintu kamar runtuh dan para penyerang menerjang masuk, Davian tidak mundur selangkah pun. Dia berdiri tegak di depan jalan masuk ke pintu rahasia tempat Grey melarikan diri, tubuhnya menjadi perisai kokoh yang tak tertembus. Di matanya tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah api kemarahan yang menyala-nyala dan niat membunuh yang murni. Dia bergerak secepat kilat, bagai bayangan hitam yang mematikan di tengah ruangan yang remang.
Dengan satu gerakan tangan yang terlatih, dia menangkis serangan pisau yang mengarah ke lehernya, memutar pergelangan tangan penyerang itu hingga terdengar bunyi tulang yang patah, lalu dengan tenang dan dingin dia melemparkan tubuh pria itu ke arah teman-temannya yang lain, membuat mereka tersandung dan terjatuh.
DUAR!
Satu tembakan melesat, menembus udara di dekat telinga Davian, mengenai dinding di belakangnya dan memecahkan kaca jendela besar. Deburan ombak di luar sana seolah ikut mengamuk, berirama dengan kekejaman yang terjadi di dalam.
"KALIAN MENCARI KEMATIAN!" seru Davian dengan suara menggelegar yang bergema di seisi ruangan, suaranya terdengar rendah namun begitu mengerikan hingga membuat nyali para penyerang yang sudah terbiasa dengan darah pun menciut seketika. "Kalian pikir dengan datang ke sini, kalian bisa membunuhku? Kalian pikir tempat ini akan menjadi kuburanku? Salah besar! Tempat ini akan menjadi kuburan kalian semua!"
Davian bertarung bukan hanya dengan kekuatan fisik, tapi dengan keahlian bertahan hidup yang telah diasah selama puluhan tahun di dunia gelap. Dia menghindari setiap peluru yang ditembakkan ke arahnya dengan gerakan luwes yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa. Dia mengambil senjata dari tangan musuhnya dan menggunakannya untuk membunuh pemiliknya sendiri. Setiap pukulan, setiap tendangan, setiap gerakan tangannya memiliki tujuan tunggal: melumpuhkan, menyakiti, dan membinasakan.
Darah mulai membasahi lantai kayu yang indah itu. Bukan darah Davian, melainkan darah para penyerang yang jatuh satu per satu. Davian bergerak maju perlahan, mendesak mereka mundur ke arah pintu keluar, tidak membiarkan satu pun dari mereka mendekati pintu rahasia itu. Dia harus memastikan jalan Grey aman. Dia harus memastikan tidak ada yang mengejar istrinya.
Sementara itu, di lorong sempit dan gelap di bawah lantai, Grey berlari dengan napas tersengal-sengal. Air matanya terus mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Di belakangnya, suara pertarungan dan tembakan semakin keras dan mengerikan, membuat hatinya terasa dicengkeram rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa. Setiap kali mendengar suara benturan keras atau teriakan kesakitan, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Davian… Tolong selamatkan dirimu… Kumohon, selamatlah… doanya dalam hati sambil terus berlari menuju ujung lorong yang diterangi lampu kecil. Dia tidak tahu apakah dia melakukan hal benar dengan pergi, tapi dia percaya pada suaminya. Dia percaya Davian akan menepati janjinya.
Di ujung lorong, tepat seperti yang dikatakan Davian, terdapat sebuah pintu besi kecil yang terbuka menuju ke permukaan air laut yang tenang namun gelap. Di sana, diikat rapi di tiang kayu, ada sebuah perahu motor kecil berwarna gelap yang sulit terlihat dari jauh. Dan berdiri di sana, menunggu dengan waspada, adalah dua orang anak buah kepercayaan Davian yang selalu ditempatkan di tempat tersembunyi untuk menjaga keamanan tuan dan nyonya mereka.
"Nyonya! Cepat naik!" bisik salah satu dari mereka dengan nada mendesak sambil membantu Grey masuk ke dalam perahu.
Grey berbalik menatap ke arah lorong gelap itu, ke arah suara pertempuran yang masih terdengar jelas dari kejauhan. Dia ingin menunggu, dia ingin kembali, tapi dia tahu kehadirannya hanya akan menjadi beban bagi Davian. Dengan hati hancur, dia duduk di pinggir perahu, memeluk lututnya dan menangis dalam diam, matanya terpaku pada jembatan kayu vila mereka yang kini tampak berantakan dan penuh asap tipis.
Di dalam kamar yang kini sudah berubah menjadi tempat pembantaian, Davian berdiri di tengah tumpukan tubuh para penyerang. Napasnya sedikit memburu, keringat mengalir membasahi dahinya dan tubuhnya, ada beberapa goresan kecil dan lebam di lengan serta dadanya, tapi dia berdiri tegak, hidup, dan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Hanya tersisa satu orang terakhir, pemimpin kelompok itu, yang kini berlutut gemetar di lantai, senjatanya sudah terlempar jauh, wajahnya penuh ketakutan saat menatap sosok iblis yang baru saja dia coba bunuh itu.
Davian melangkah perlahan mendekati pria itu, langkahnya berat dan penuh ancaman. Dia berlutut di depan pria itu, menangkap rambutnya dengan kasar dan memaksanya mendongak menatap mata hitam yang menyala penuh amarah itu.
"Siapa yang mengutusmu?" tanya Davian dengan suara dingin dan datar, namun jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun. "Siapa yang berani-berani mengganggu ketenanganku? Siapa yang berani mendekati istriku?"
Pria itu gemetar hebat, darah mengalir dari sudut bibirnya. "K-Kami… kami hanya disuruh… kami tidak tahu nama dia… dia orang besar… dia bilang kau sedang lemah… dia bilang kau sibuk dengan wanita…"
Davian mengeratkan cengkeramannya di rambut pria itu hingga pria itu meringis kesakitan. "Orang besar? Di dunia ini, tidak ada orang besar selain aku! Dan wanita itu… istriku… adalah satu-satunya alasan aku masih membiarkan sampah seperti kalian bernapas sampai detik ini. Tapi kalian sudah melanggar batas."
Davian tersenyum, senyum yang paling mengerikan dan dingin yang pernah ada. Dia mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada yang membuat darah pria itu membeku.
"Kalian mengira menyerangku saat aku bersamanya adalah keberuntungan? Kalian salah. Itu adalah kesalahan terbesar kalian. Karena saat nyawaku ada bersamaku… aku tidak akan berhenti sampai kalian semua hancur lebur. Ingat ini… sampaikan pada tuanmu yang pengecut itu, jika dia masih hidup setelah ini… bahwa mengganggu kebahagiaanku sama saja dengan menandai kematian seluruh keturunannya."
Davian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu berdiri tegak. Dia tidak membunuh pria itu seketika. Dia membiarkannya hidup, namun dengan luka yang membuatnya menderita seumur hidup, sebagai pesan peringatan yang paling jelas bagi siapa saja yang berani mencoba hal serupa lagi.
Davian berbalik, matanya langsung tertuju pada pintu rahasia itu. Segala kekejaman dan amarah di wajahnya seketika hilang, berganti menjadi rasa khawatir yang mendalam dan kecemasan yang menusuk. Dia berjalan cepat menuju pintu itu, membukanya dan melangkah masuk ke dalam lorong gelap itu, berlari secepat mungkin menuju jalan keluar.
Grey… Sayangku… kau aman kan?
Saat dia muncul dari lorong itu dan menapakkan kakinya di atas dermaga kecil yang tersembunyi, dia melihatnya. Di sana, di dalam perahu kecil yang mulai bergerak perlahan menjauh, sosok wanita yang dia cintai sedang berdiri, menatap ke arahnya dengan mata yang basah dan berbinar bahagia sekaligus lega.
"Davian!" teriak Grey, suaranya terdengar lantang di antara suara deburan ombak. Dia melemparkan dirinya ke depan, ingin sekali melompat ke air dan berenang menuju suaminya.
Davian tersenyum lebar, senyum tulus yang penuh rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa. Dia mengulurkan tangannya seolah ingin meraih wanita itu meski jarak memisahkan mereka.
"Aku di sini, Sayang! Aku di sini! Aku aman!" jawab Davian dengan suara keras dan penuh kekuatan. Dia melompat naik ke atas perahu yang lebih besar yang dikemudikan oleh anak buahnya yang lain, lalu memberi isyarat untuk mengejar perahu kecil itu.
Dalam sekejap, kedua perahu itu berpapasan. Davian tidak menunggu perahu itu berhenti sepenuhnya. Dengan satu lompatan berani, dia melompat dari perahu besar ke perahu kecil, mendarat dengan mantap tepat di depan istrinya. Dan dalam sekejap itu juga, tubuh mungil Grey sudah melayang di udara, dipeluk seerat mungkin oleh tubuh kekar suaminya.
Mereka berpelukan di tengah deburan ombak malam itu, di atas perahu kecil yang bergoyang pelan. Davian membenamkan wajahnya di ceruk leher Grey, menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu ada di sini, dia aman, dan dia masih miliknya. Tangannya meraba seluruh tubuh Grey, memeriksa apakah ada goresan atau luka sedikit pun.
"Maafkan aku… maafkan aku, cintaku… aku membiarkanmu ketakutan lagi… aku berjanji, ini yang terakhir kalinya. Tidak ada lagi bahaya yang akan mendekatimu. Tidak ada lagi rasa takut," gumam Davian berulang kali di samping telinga istrinya, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap—campuran rasa marah pada musuhnya, rasa bersalah, dan rasa lega yang luar biasa.
Grey memeluk leher suaminya sekuat tenaga, tangannya memegangi punggung dan rambut suaminya, menangis bahagia di tengah rasa sedihnya. Dia merasakan darah yang masih segar dan keringat di tubuh Davian, merasakan luka-luka kecil yang ada di sana, dan itu membuat hatinya semakin perih namun juga semakin penuh rasa kagum dan cinta.
"Aku pikir aku akan kehilanganmu… aku pikir aku akan ditinggalkan sendiri lagi…" isak Grey, memukul dada bidang suaminya pelan karena rasa kesal dan lega. "Kau jahat sekali… kau membuatku sangat takut… tapi aku bangga padamu, Davian. Aku bangga menjadi milikmu, meski bahaya selalu ada di mana pun kita berada."
Davian mengangkat wajah istrinya, mengusap air matanya dengan ibu jarinya yang kasar namun lembut. Dia menatap mata indah itu lekat-lekat, matanya yang hitam pekat itu memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
"Kita tidak akan tinggal di sini lagi malam ini. Kita pergi ke tempat lain, tempat yang lebih aman, tempat yang dijaga oleh ribuan anak buahku. Tapi ingat satu hal, Grey…" Davian berhenti sejenak, mencium bibir istrinya dalam-dalam, menanamkan rasa cinta yang mendalam itu jauh ke dalam jiwa. "Bahaya memang selalu ada di belakangku. Musuhku banyak, dan mereka tidak akan pernah berhenti mencoba menjatuhkanku. Tapi selama kau ada di sisiku, selama kau menjadi kekuatanku… aku tidak akan pernah kalah. Dan aku akan memastikan, bahwa setiap musuh yang berani mendekat, akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. Tidak ada yang boleh mengganggu kebahagiaan kita. Tidak ada."
Perahu itu melaju membelah laut malam yang gelap, menjauh dari vila yang kini menjadi saksi kekejaman itu, menjauh dari surga yang berubah menjadi medan perang. Di bawah langit bertabur bintang yang masih sama indahnya, Grey bersandar nyaman di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang kuat itu. Dia tahu sekarang, sepenuhnya tahu, bahwa menjadi istri Davian Argantha berarti hidup di ambang bahaya, hidup dengan ancaman kematian setiap saat.
Tapi dia juga tahu satu hal yang lebih besar: cinta mereka lebih kuat daripada bahaya apa pun. Cinta mereka lebih tajam daripada pisau apa pun. Dan selama mereka berdua saling memegang tangan, tidak ada neraka di dunia ini yang mampu memisahkan mereka.
Perjalanan mereka belum berakhir. Ancaman masih mengintai. Dan pembalasan besar dari Davian Argantha baru saja dimulai. Siapa pun yang mengutus penyerang itu, siapa pun yang berani-berani menyentuh miliknya, akan segera merasakan murka yang jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang bisa mereka bayangkan.
Karena bagi Davian Argantha, menyakiti istrinya bukan sekadar kesalahan. Itu adalah dosa terbesar yang hukumannya adalah kehancuran total.
(Lanjut ke Bab 14)