Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Pencerahan
Pagi turun di Desa Ujung Sungai dengan keheningan yang mencekam. Hujan telah berhenti, menyisakan embun dingin yang menetes dari ujung-ujung daun bambu. Namun, alih-alih mencium aroma segar tanah basah, udara pagi itu dipenuhi oleh bau dupa duka cita dan isak tangis yang tertahan.
Kabut Hantu semalam tidak pulang dengan tangan kosong. Kakek Wang, tetangga yang kemarin sore memperingatkan Zeng Niu, ditemukan tewas di pekarangan rumahnya. Wajah kakek itu pucat pasi tanpa setetes darah pun tersisa, lehernya robek oleh cakar hitam, dan matanya membelalak menyimpan teror yang tak terkatakan.
Di dunia fana, nyawa manusia sering kali lebih murah daripada seikat gandum. Bagi entitas Yin tingkat rendah yang kelaparan, manusia hanyalah wadah Yang (energi kehidupan) yang rapuh.
Zeng Niu duduk bersila di atas ranjang bambunya. Lewat celah jendela, ia melihat penduduk desa berkumpul dalam diam, menggali liang lahat di bukit kecil di belakang desa. Di antara para wanita desa yang membagikan bubur duka, terlihat sesosok wanita bertubuh ramping dengan pakaian rami kasar.
Itu adalah Zhao Ying. Bidadari dari Surga Atas yang dulunya tidak akan pernah menundukkan kepalanya untuk urusan fana, kini tengah membantu mengusap bahu janda Kakek Wang, menyalurkan kehangatan fana yang tulus.
Zeng Niu memalingkan pandangannya dari jendela. Ia menatap ke arah meja kayu di depannya. Di sana, terdapat sebuah cawan tanah liat yang retak di bagian tepinya cawan yang semalam digunakan Zhao Ying untuk meminumkan obat kepadanya.
Ia mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut perban, menyentuh retakan pada cawan tersebut.
"Dantianku hancur," gumam Zeng Niu pelan, berbicara pada dirinya sendiri dan pada kesunyian kamarnya. "Lautan Kesadaranku tertutup rapat, dan meridianku terputus. Aku seperti cawan retak ini. Jika air Qi dituangkan ke dalam diriku, ia akan bocor kembali ke tanah."
Zeng Niu memejamkan mata. Selama bertahun-tahun, sejak ia meninggalkan desa lumpurnya di Benua Utara, ia percaya bahwa kultivasi adalah tentang merebut energi alam dengan paksa. Menentang langit, memperkeras tubuh, dan memadatkan Qi hingga menjadi senjata pemusnah.
Itu adalah Dao Kehancuran yang keras dan tajam. Tapi sesuatu yang terlalu keras akan mudah patah saat menghantam dinding yang lebih kokoh. Pukulan ahli Nascent Soul di Puncak Tengkorak Beku telah membuktikan hal itu.
“Jika aku tidak bisa lagi menampung air... mengapa aku harus memaksakan diri menjadi cawan?”
Sebuah pikiran yang sangat sunyi dan filosofis melintas di benaknya.
Zeng Niu membuka matanya. Pandangannya tidak lagi terfokus pada cawan yang retak, melainkan pada udara kosong di sekelilingnya.
Jika tubuh manusia adalah cawan, dan Qi adalah air... maka selama ini ia hanya berfokus pada airnya. Ia lupa pada kehampaan di dalam cawan itu sendiri yang memberikan ruang bagi air untuk ada.
"Ketiadaan," bisik Zeng Niu, teringat pada asal-usul Garis Darah Asura milik Zhao Ying. "Menerima bahwa dirimu hancur, bukan melawannya. Jika Dantianku tidak bisa lagi mengikat Qi, maka biarkan tubuh ini beresonansi dengan kehampaan alam."
Tanpa memaksakan kehendak, tanpa merapal mantra, Zeng Niu membiarkan napasnya melambat. Ia tidak mencoba menyerap energi spiritual. Ia hanya ada. Ia merasakan detak jantung fananya, denyut rasa sakit di lukanya, dan dinginnya udara pagi.
Perlahan, sangat perlahan... sebuah keajaiban kecil yang tak kasatmata terjadi. Rasa sakit yang tajam di meridiannya yang putus mulai mereda. Tubuhnya, yang tadinya menolak karena terbiasa dengan paksaan petir surgawi, kini mulai beradaptasi secara alami dengan lingkungan fana Benua Selatan.
Ini bukanlah terobosan tingkat kultivasi. Ini adalah kelahiran sebuah Biji Dao baru di dalam jiwanya yang kosong. Pemahaman tentang Kehidupan dan Kematian, tentang kepasrahan yang menghasilkan ketahanan.
Suara derit pintu kayu membuyarkan semadi sunyi Zeng Niu.
Zhao Ying melangkah masuk. Hawa dingin musim gugur menempel di pakaiannya, dan raut wajahnya terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Ia meletakkan sebuah keranjang kecil berisi beberapa buah persik pucat ke atas meja.
"Pemakaman Kakek Wang sudah selesai," lapor Zhao Ying pelan, menarik kursi kayu dan duduk di hadapan Zeng Niu. Matanya yang jernih menatap pemuda itu dengan saksama. "Kau terlihat... berbeda hari ini."
"Hanya menyadari bahwa menjadi manusia tidak seburuk itu," jawab Zeng Niu dengan senyum tipis. Ia menuangkan air hangat dari teko porselen tua ke cawan yang utuh, lalu menyodorkannya pada Zhao Ying. "Minumlah. Tubuh mu kedinginan."
Zhao Ying menerima cawan itu, merasakan kehangatannya mengalir ke telapak tangannya.
"Mayat hidup semalam... dia akan kembali, Zeng Niu," ucap Zhao Ying, nada suaranya berubah serius, menggeser topik ke arah krisis yang menanti mereka. "Kakek Wang hanyalah kebetulan karena rumahnya berada paling dekat dengan sungai. Target utama mayat itu adalah aku. Darahku, meski tersegel, memancarkan daya tarik kuat bagi makhluk Yin."
Zeng Niu mengangguk perlahan. "Kau benar. Tapi yang lebih menggangguku adalah... dari mana asal mayat itu?"
Zhao Ying meletakkan cawannya. Pengalamannya sebagai petinggi Surga Atas membantunya menganalisis situasi. "Mayat fana yang tenggelam di sungai biasa akan membusuk menjadi tanah. Untuk berubah menjadi Mayat Hidup Pengumpul Jiwa, harus ada sumber energi Yin ekstrem atau sebuah Mata Air Kematian di hulu sungai ini. Dan melihat kecepatan pergerakannya, pasti ada benda pusaka atau formasi kuno yang mengendalikannya dari kejauhan."
"Hulu sungai," gumam Zeng Niu. Ia mengingat peta kasar desa yang pernah ia lihat dari tabib desa. "Sekitar sepuluh batu dari sini ke arah hulu, ada sebuah kuil tua yang sudah ditinggalkan ratusan tahun lalu. Kuil Sungai Dewa Ular."
"Kita tidak bisa membiarkannya berkeliaran setiap malam," ucap Zhao Ying. "Jika ia datang lagi saat kabut turun, ia tidak akan sendirian. Bau darah Kakek Wang akan memancing mayat-mayat lain di dasar sungai."
Zeng Niu menatap tangannya sendiri yang masih kapalan, tak lagi memancarkan kilat ungu. "Kita berdua manusia biasa sekarang, Bintang Putih. Pergi ke sarang hantu di hulu sungai sama saja dengan mencari mati."
"Tapi menunggu di sini juga berarti mati," balas Zhao Ying tajam, matanya memancarkan tekad sang dewi yang pantang menyerah. "Zeng Niu, kita mungkin tidak punya sihir. Kita tidak punya Qi. Tapi kau adalah orang yang bisa bertarung melawan Setengah Langkah Inti Emas. Dan aku tahu segala jenis kelemahan makhluk spiritual."
Zeng Niu menatap mata gadis itu. Ia mendengus pelan, lalu tertawa serak. Tawanya bukanlah kesombongan masa lalu, melainkan keberanian seorang manusia yang menatap langsung ke jurang kematian.
"Kau benar. Manusia fana telah bertahan hidup berdampingan dengan monster selama ribuan tahun tanpa sihir," ucap Zeng Niu. Ia mulai bangkit berdiri dari ranjang, menahan ringisan saat lukanya sedikit tertarik.
"Apa rencanamu?" tanya Zhao Ying, ikut berdiri untuk membantu menopang tubuh pemuda itu.
"Jika kita tidak bisa menghancurkannya dengan mantra, kita akan membunuhnya dengan hukum alam," jawab Zeng Niu datar.
Ia berjalan tertatih menuju sudut ruangan, tempat ia mengumpulkan beberapa barang rongsokan dari pekarangan selama tiga bulan terakhir.
"Makhluk Yin benci elemen Yang (panas/matahari) ekstrem. Petirku mungkin hilang, tapi hukum itu tetap berlaku," jelas Zeng Niu. "Pergilah ke rumah Kepala Desa. Tukar sisa kulit serigala kita dengan sepuluh kati bubuk belerang, serutan kayu persik tua, dan... darah anjing hitam liar. Jika bisa, dapatkan juga gulungan tali rami yang kuat."
Mata Zhao Ying berbinar memahami rencana tersebut. Itu adalah metode pengusiran setan yang paling kuno dan kasar di dunia fana. Tidak elegan, berbau busuk, namun mematikan bagi entitas gelap tingkat rendah.
"Bubuk belerang dan darah anjing hitam. Formasi Api Fana," simpul Zhao Ying, seutas senyum antusias terukir di bibirnya. "Aku akan segera kembali."
Saat Zhao Ying melangkah keluar pintu, Zeng Niu menarik napas panjang. Ia mengambil sebilah golok karatan yang ia temukan di gudang, lalu mulai mengasahnya di atas batu asahan.
Srek... Srek... Srek...
Suara gesekan besi berkarat dan batu menggema di pondok yang sunyi.
Ini bukanlah pertarungan untuk memperebutkan pusaka surga, bukan pula untuk mempertahankan kehormatan sekte. Ini adalah pertarungan untuk melindungi sebuah pondok reyot dan kedamaian sementara di bawah hujan musim gugur.
Bagi Zeng Niu, petualangan di dunia fana ini terasa jauh lebih berat, namun anehnya, kakinya berpijak jauh lebih kokoh di atas tanah daripada saat ia terbang di atas awan.