Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Kecil Yang Menggugah Hati
Siang itu, sinar matahari masuk lewat celah jendela ruang depan, menerangi ruangan yang kini terlihat sedikit lebih lengkap dibandingkan setahun lalu. Di sudut ruangan itu, berdiri sebuah televisi tabung ukuran sedang—barang elektronik pertama yang berhasil Rania beli setelah bekerja keras membangun usaha warungnya dari nol. Bagi keluarga kecil itu, benda itu bukan sekadar alat hiburan, tapi bukti kecil bahwa kehidupan mereka perlahan membaik, meski jalan yang dilalui masih terjal dan penuh tantangan.
Dika, yang kini genap berusia delapan tahun, duduk bersila di lantai. Di pangkuannya ada buku tulis dan pensil, dia berusaha menyelesaikan tugas sekolah sambil sesekali menoleh ke layar televisi yang menayangkan kartun anak-anak. Di sebelahnya, Naya—adiknya yang baru berusia tiga tahun—duduk dengan riang, memainkan boneka barbie pemberian ibunya dari hasil jualan. Gadis kecil itu tampak ceria, tak pernah sekalipun mengeluh tentang apa yang tidak mereka miliki, selamanya hanya tau tertawa dan bermain di samping kakaknya.
Suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh suara lirih Naya, yang matanya masih tertuju pada boneka di tangannya, seolah berbicara pada benda itu namun suaranya cukup jelas terdengar di ruangan itu.
"Kak Dika..." panggil Naya pelan, lalu menoleh dan menatap kakaknya dengan mata bulat yang polos. "Kenapa ayah gak pernah pulang ke rumah kita ya? Kemarin aku lihat Tetangga sebelah juga ayahnya pulang kerja tiap sore dan membawakan oleh-oleh, terus masuk rumah, ngobrol sama ibunya dan anaknya ... Ayah kita kerja di mana ya? Kapan ayah pulang?"
Pertanyaan sederhana itu menusuk tajam, seperti jarum yang menusuk kulit. Gerakan tangan Dika yang sedang memegang pensil terhenti seketika. Hatinya terasa berat, karena meski masih kecil, Dika sudah cukup mengerti banyak hal. Selama setahun terakhir, dia melihat ibunya bekerja dari pagi hingga malam, jarang beristirahat, sering kali terlihat lelah namun selalu berusaha tersenyum di depan mereka. Dia tahu, ayahnya tidak pergi bekerja jauh seperti yang kadang dikatakan orang lain, atau seperti yang dulu pernah didengarnya. Ayahnya pergi, dan tak pernah kembali lagi, meninggalkan mereka bertiga untuk berjuang sendiri.
Namun, Dika sadar dia adalah kakak laki-laki. Dia tidak boleh menangis, tidak boleh membuat adiknya bingung atau sedih. Dia harus menjadi sandaran, seperti ibunya yang selalu berusaha kuat. Dika menutup bukunya perlahan, lalu mengusap kepala Naya dengan tangan kecilnya yang berusaha terlihat tegas dan lembut sekaligus.
"Ayah... ayah kita kerja di tempat yang jauh sekali, Nay," jawab Dika dengan suara tenang, berusaha menyusun kata-kata yang paling aman dan bisa dimengerti adiknya. "Tempatnya jauh banget, sampai jalan pulangnya lama sekali, dan susah untuk ditempuh. Ayah kerja keras di sana, supaya kita bisa makan enak, supaya Ibu bisa beli barang yang kita butuhkan, dan supaya kita bisa tumbuh besar dengan sehat."
Dia berhenti sejenak, menelan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya, lalu melanjutkan lagi sambil tersenyum tipis—senyum yang berusaha dia paksakan agar terlihat meyakinkan.
"Ayah sebenarnya selalu ada di dekat kita, kok. Dia lihat kita dari tempatnya. Dia tahu kalau Naya anak yang baik, tahu kalau Naya suka tertawa, dan tahu kalau Kak Dika sudah pandai menjaga adik. Ayah tidak bisa pulang sekarang, tapi percayalah... ayah sangat sayang sama kita, sama seperti Ibu yang sangat sayang sama kita. Jadi Naya jangan sedih ya? Kita harus jadi anak yang pintar dan baik, biar ayah di sana senang melihat kita."
Naya tampak mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. Dia tersenyum kembali, lalu kembali melanjutkan permainannya, puas dengan jawaban kakaknya. "Owalah... berarti ayah kerja keras ya? Naya akan jadi anak baik, biar ayah cepat pulang," ucapnya riang.
Di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Rania berdiri diam. Dia baru saja selesai menanak nasi dan hendak memanggil kedua anaknya untuk minum, tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar pertanyaan polos Naya. Dan saat mendengar jawaban Dika—jawaban yang begitu dewasa, begitu bijaksana, dan begitu menyentuh hati dari mulut seorang anak berusia delapan tahun—hati Rania terasa hancur sekaligus terasa penuh kebanggaan yang luar biasa.
Dia tidak menyangka bahwa anak pertamanya sudah mengerti banyak hal yang selama ini dia coba sembunyikan. Dika sudah tahu, dia sudah paham, dan dia memilih untuk tidak mempersulit keadaan, bahkan dia berusaha menenangkan adiknya dengan cara yang begitu indah.
Air mata mulai menetes perlahan dari sudut mata Rania, jatuh membasahi pipinya yang mulai terlihat guratan lelah. Dia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara isak tangis. Di tengah segala kesulitan, hutang, lelah bekerja, dan hari-hari yang berat, Tuhan memberinya anugerah terindah: dua anak yang luar biasa. Dika yang tumbuh menjadi anak yang bijak dan bertanggung jawab, serta Naya yang ceria dan polos.
Rania menyeka air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menarik napas panjang untuk menguatkan diri. Dia tidak boleh lemah. Demi Dika, demi Naya, dia harus terus berjuang. Dengan langkah yang mantap namun hati yang masih bergetar haru, Rania melangkah masuk ke ruang depan, menyunggingkan senyum paling tulus yang dia punya.
"Anak-anak... ayo minum dulu,ibu bawakan minuman dingin." panggilnya lembut, suaranya sedikit bergetar namun penuh kasih sayang.
Saat kedua anaknya menoleh dan tersenyum padanya, Rania sadar satu hal: meski rumah ini tak lagi memiliki sosok ayah, cinta dan kehangatan yang ada di dalamnya tak akan pernah berkurang sedikit pun.