NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.

Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.

Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.

Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.

Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Mimpi Buruk

Laut Primordial terbaring tenang dan terbentang luas, tanpa ombak dengan gelombang lembut yang menyebar membentuk lingkaran dengan tenang, tepat di bawah kaki seorang remaja. Di atasnya, langit biru gelap menebarkan cahaya bintang berwarna perak, kuning, dan hijau yang berkilauan di permukaan air. Pemandangan itu menyerupai danau yang damai saat fajar menyingsing, dengan riak-riak halus yang bergerak perlahan, diiringi angin sejuk yang membelai lembut.

Rostav jelas tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Bibirnya tersenyum lebar, matanya berbinar memantulkan pemandangan di depannya.

'Itu... berhasil!' Rostav jelas merasa terkejut, walaupun di sisi lain hatinya bersorak gembira, seolah-olah baru saja memenangkan sebuah perlombaan. Dia hanya melakukan sebuah percobaan sederhana dengan membayangkan tempat ini dan berharap dapat berpindah ke sana. Tapi, siapa sangka? Percobaan yang tampak begitu tidak pasti itu ternyata berhasil mengirimkannya ke Laut Primordial.

Dia mengangkat kepalanya, menatap langit tinggi nan luas di atas sana, dengan bintang-bintang perak, kuning, dan hijau yang bersinar dengan lembut, seperti cahaya kunang-kunang.

Tak ada bulan di langit di Laut Primordial, hanya ada lautan dan langit luas dengan warna yang sama. Mungkin inilah yang menyebabkan Laut Primordial memiliki warna biru gelap.

Rostav menurunkan kepalanya dan menatap ke depan. Dia memiliki dua alasan untuk datang ke tempat ini. Alasan pertama, tidak lain dan tidak bukan untuk menikmati pemandangan yang ada di Laut Primordial, jelas pemandangan di sini jauh lebih indah dibandingkan dengan yang ada di dunia nyata. Kedua, ini adalah alasan utama dia datang ke sini, dia ingin melihat ikan hitam yang sebelumnya dia pancing lalu masuk ke dalam sini. Tapi, dia sendiri tidak yakin dapat menemukannya dengan mudah. Laut Primordial-nya cukup luas, seluas dua ratus empat puluh lima langkah.

Sedangkan, ikan hitam itu hanya berukuran sekitar genggaman tangan. Bagaimana mungkin dia bisa menemukannya dengan mudah? Ditambah, Rostav sempat mengingat kali pertama dia masuk ke tempat ini dan menemukan ikan hitam itu. Dia masuk ke kedalaman Laut Primordial.

'Walaupun mungkin akan sulit untuk menemukan ikan hitam itu, tapi aku memiliki alasan lain untuk datang ke tempat ini. Ya, setidaknya, jika aku tidak menemukan ikan hitam itu, aku bisa berjalan-jalan di tempat ini,' Rostav mengangkat bahunya dan mulai melangkahkan kakinya.

Setiap kali kakinya menyentuh permukaan laut, gelombang lembut menyebar membentuk lingkaran, itu indah dan menenangkan, seolah-olah terdapat setetes air yang jatuh di sini.

Rostav melangkahkan kakinya tanpa henti, dengan langkah pelan, menikmati setiap pemandangan yang ada. Tanpa sadar dia sudah mencapai lima puluh langkah, sesekali dia memindai air laut, mencoba mencari keberadaan ikan hitam itu. Tapi, dia sama sekali tidak menemukan jejaknya.

Beberapa menit kemudian, ketika dia mencapai langkah ke dua ratus empat puluh lima, dia sekali lagi menabrak dinding tak kasat mata.

'Aw, aku lupa ada dinding tak kasat mata di sini,' batinnya sambil mengelus dahinya yang sakit. Dia menyentuh dinding tak kasat mata itu, mendekatkan wajahnya, melihat Laut Primordial yang terbentang luas di balik dinding tak kasat mata itu.

'Hah, sudah sejauh ini tapi aku tidak menemukan keberadaan ikan itu. Sepertinya benar ikan itu berenang ke kedalaman Laut Primordial.' Rostav menghembuskan napas sambil menarik kembali wajahnya. Dia berbalik arah, menutup mata, dan kembali memikiran tentang ruangannya.

Ketika dia membuka mata, dia mendapati dirinya kembali ke ruangannya. Dia menyapu pandangan sekeliling, masih melihat Cia tidur di kasurnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit tanpa sadar, dan akhirnya memilih untuk tidur di kursi.

.....

Siang hari.

Cia yang sedang tidur nyenyak entah kenapa mulai menujukkan sebuah reaksi. Raut wajahnya yang awalnya menunjukkan keindahan dan kepolosan berubah menjadi raut wajah ketakutan, seolah-olah dia sedang dikejar oleh makhluk mengerikan.

Memasuki alam mimpinya, Cia mendapati dirinya dikurung di kurungan sempit, yang bahkan tidak cukup untuk meluruskan ekor ikannya. Cia terbangun, terduduk, menyapu pandangan dia dapat melihat Ras Athu selain dirinya yang dikurung. Baik pria maupun wanita, semuanya dikurung di kurungan sempit.

Dia menatap langit-langit, melihat sebuah stalaktit yang menghiasi dan memenuhi langit-langit gua yang lembab. Memandang ke tanah, sebuah stalagmit terbentuk di beberapa bagian, hampir terlihat seperti mulut monster raksasa.

Pada momen itu, beberapa penjaga berwajah seperti iblis dan bertubuh kekar dengan pakaian bajak laut sedang berpatroli sambil membawa sebuah cambuk di tangannya.

'Tempat ini...' Cia mengingat tempat ini. Ini adalah tempat dimana dirinya dikurung saat ditangkap oleh bajak laut. Dijadikan sebagai budak untuk mencari dan mengambil mutiara yang ada di bawah lautan, semua itu hanya demi kerakusan manusia semata.

Pada momen itu, Cia dapat mendengar sebuah bisikan dari dua Ras Athu yang berada di kurungan terpisah, tapi jarak mereka cukup dekat.

Tapi, tak lama setelahnya, salah seorang penjaga yang mendengar bisikan mereka segera mendekat, membuka kurungan mereka dan mencambuk punggung mereka dengan keras dan kasar.

Suara cambuk bergema di dalam gua, seolah-olah mengingatkan yang lain untuk tidak bertindak terlalu berani.

Dua Ras Athu itu, dalam ingatannya adalah sepasang kekasih. Mereka berlutut di kaki sang penjaga, memohon pengampunan. Tapi, sang penjaga tetap mencambuk mereka tiga kali lagi, lalu setelah itu memasukkan mereka lagi ke kurungan dengan kasar. Akibat dari pecutan itu membuat punggung mereka terluka dan berdarah, bahkan ekor ikan mereka juga terluka karena tergores kurungan.

Mereka sekarang hanya bisa terdiam dan berbaring dengan cara menekuk ekor ikan mereka agar muat. Suara isakan mereka terdengar cukup jelas dan bergema di seluruh gua, walaupun Cia tahu mereka berusaha menahannya.

Beberapa menit setelah keributan itu mereda, langkah-langkah berat bergema dari lorong gua yang gelap. Seorang penjaga muncul dari balik bayangan, mendorong kereta besi tua yang berdecit pelan. Di atasnya bertumpuk roti-roti panjang yang keras seperti batu, lebih mirip alat penyiksaan daripada makanan.

Tanpa sepatah kata pun, dia melemparkan roti-roti itu satu per satu ke dalam kurungan para tahanan. Benturan roti dengan lantai batu memantul ke seluruh gua, menciptakan gema yang dingin dan tidak nyaman.

Setelah semua kurungan mendapat jatahnya, penjaga itu berhenti di tengah ruangan. Tubuhnya yang besar berdiri seperti patung kegelapan, sementara sorot matanya menyapu para tahanan yang ketakutan.

"Lahap itu cepat, kalian para budak tak berguna," suaranya rendah dan berat, bergemuruh seperti batu besar yang runtuh jauh di perut gunung. Gema ucapannya berulang kali memantul di dinding gua, seolah-olah seluruh tempat itu ikut mengejek mereka.

"Setelah itu, kalian akan turun mencari mutiara untuk kami. Dan kalau ada yang cukup bodoh untuk mencoba kabur... kalian masih ingat apa yang terjadi pada teman kalian, bukan?"

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Cia ingat.

Semua orang ingat.

Dua hari yang lalu, seorang pria dari Ras Athu nekat melarikan diri saat sedang mencari mutiara. Saat itu, Q yang terikat pada tubuhnya langsung aktif. Dalam sekejap, upayanya berakhir sebelum sempat kabur.

Pemandangan itu masih menghantui pikiran Cia hingga sekarang. Bahkan hanya mengingatnya saja sudah membuat perutnya terasa mual dan dadanya sesak.

Penjaga itu melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih dingin daripada sebelumnya.

"Dan dengarkan baik-baik," matanya menyipit. "Jika ada di antara kalian yang kembali tanpa mutiara, jangan menyebut kami kejam.

"Salahkan diri kalian sendiri. Karena di tempat ini, mereka yang tidak berguna tidak memiliki alasan untuk tetap hidup."

Tak seorang pun berani menjawab.

Yang terdengar hanyalah suara napas para tahanan dan tetesan air dari langit-langit gua, seakan menghitung mundur nasib mereka satu per satu.

Para tahanan kemudian memakan rotinya dengan cepat, begitu juga dengan Cia. Dia tidak ingin merasakan cambukan di punggungnya. Dia pernah merasakan sekali saat pertama kali ditangkap oleh para bajak laut, saat itu dia berusaha memberontak, tapi dengan cepat punggungnya di cambuk. Untung saja bekasnya telah hilang dalam beberapa hari.

Cia mematahkan roti menjadi bagian-bagian kecil agar mudah saat memakannya. Rasanya hambar dan keras seperti batu, tapi berminggu-minggu di tempat ini telah membuatnya beradaptasi.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!