Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Gadis kecil bernama Naira Mahendra itu mengedip pelan sebelum melangkah masuk ke ruangan. Usianya baru tiga setengah tahun. Dia masih Kecil, lucu dan menjadi satu-satunya alasan Kanisha bertahan sejauh ini. Anak itu adalah anak angkat mereka.
Tiga tahun lalu, Arven yang pertama kali mengusulkan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan. Saat itu Kanisha sebenarnya masih ingin mencoba memiliki anak kandung mereka sendiri. Ia bahkan pernah memohon pada Arven agar pria itu mau mengambil cuti beberapa bulan supaya mereka bisa fokus menjalani program kehamilan bersama. Namun Arven selalu menolak dengan alasan pekerjaan, meeting, bisnis, proyek luar negeri.
Selalu ada alasan, dan bodohnya, Kanisha terus memaklumi semuanya sampai akhirnya Arven datang membawa usulan untuk mengadopsi anak.
Awalnya Kanisha ragu, tapi saat pertama kali melihat Naira di panti asuhan, Hatinya langsung luluh. Bayi kecil yang waktu itu baru berusia beberapa bulan itu menggenggam jari Kanisha erat sekali dan sejak saat itu, Kanisha mencintainya seperti darah dagingnya sendiri.
“Ma…”
Suara kecil Naira kembali terdengar. Gadis kecil itu berjalan pelan mendekati Kanisha sambil menyeret sandal kelincinya. Tatapan polos anak itu membuat dada Kanisha semakin sesak. Ya Tuhan, kenapa Naira harus melihat semua ini? Kanisha buru-buru menghapus air matanya sebelum berjongkok di depan putrinya.
“Hai sayang…” panggil Kanisha dengan suaranya yang ia usahakan untuk terdengar normal walaupun bergetar hebat. Meskipun begitu, kesalahan sekecil itu tak luput dari perhatian gadis kecil itu hingga membuatnya mengerutkan dahinya.
“Mama nangis ya?”
Kanisha langsung tersenyum tipis walaupun rasanya sulit sekali.
“Nggak kok sayang, mama nggak nangis.”
“Kalau mama nggak nangis, lalu kenapa mata mama jadi merah?”
Anak kecil memang selalu jujur dan kejujuran polos itu justru membuat hati Kanisha semakin hancur. Naira lalu melirik ke arah Arven yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Papa…”
Tatapan gadis kecil itu berpindah lagi ke Selena dengan bingung, polos dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kanisha buru-buru menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Tangannya memeluk Naira erat sekali seolah takut kehilangan satu-satunya hal berharga yang masih ia punya sekarang.
Aroma bayi bercampur sampo stroberi dari rambut Naira langsung membuat air mata Kanisha kembali jatuh.
“Mama?” gumam Naira pelan karena bingung.
Kanisha menggeleng cepat sambil mengusap rambut anak itu.
“Nggak apa-apa sayang, mama disini.”
“Mama lagi sedih?”
“Nggak…”
“Terus kenapa nangis?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tusukan lain bagi Kanisha. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Apa ia harus bilang kalau papanya baru saja menghancurkan hati mamanya? Apa ia harus bilang kalau rumah mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini? Tidak, Naira masih terlalu kecil untuk mengetahui semua itu. Kanisha memejamkan matanya sebentar sambil terus memeluk putrinya.
“Maafin mama ya nak, mama udah buat Naira sampai bangun.” bisik Kanisha lirih hampir tak terdengar.
Naira mengangkat wajah mungilnya lalu menyentuh pipi Kanisha perlahan.
“Nggak apa apa ma." Gadis kecil itu lalu menatap Kanisha dengan mata bulatnya yang jernih. “Papa udah bikin mama nangis ya?”
Ruangan itu kembali terasa sunyi. Kanisha langsung menahan napas, Arven dibuat menegang setelah mendengar pertanyaan putrinya, sedangkan Selena terlihat salah tingkah. Kanisha buru-buru menggeleng sambil tersenyum paksa.
“Nggak kok sayang,”
“Tapi mama sama papa tadi teriak-teriak…”
Kanisha memeluk Naira semakin erat. Ia tidak tahu kalau suara pertengkaran mereka sampai terdengar ke kamar anak itu.
“Mama nggak bertengkar sama papa.”
“Bohong.”
Kanisha terdiam saat Naira terlihat cemberut sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
“Naira denger sendiri kalau mama dan papa bertengkar.”
Tangis Kanisha nyaris pecah lagi. Ia benar-benar tidak ingin anak sekecil ini melihat kehancuran rumah tangga mereka.
“Sayang…” Kanisha mengusap rambut Naira perlahan. “Mama sama papa cuma lagi ngobrol.”
“Tapi mama nangis.”
Kalimat polos itu membuat dada Kanisha semakin sesak. Ia bahkan tidak mampu menyangkalnya lagi, Naira lalu memegang tangan Kanisha.
“Jangan nangis dong, ma. Naira jadi sedih kalau lihat mama nangis.”
Air mata Kanisha jatuh membasahi pipinya.
Ia langsung memalingkan wajah sebentar agar anak itu tidak melihat dirinya menangis terlalu keras, namun Naira justru kembali memeluknya erat. Dan justru karena itulah Kanisha merasa hatinya seperti dihancurkan perlahan. Selama ini ia selalu berusaha menjaga keluarga kecil mereka tetap utuh, berusaha menjadi ibu yang baik, menjadi istri yang baik, menjadi rumah yang hangat untuk Arven dan Naira, Tapi sekarang semuanya terasa runtuh dalam satu malam.
“Mama…”
Kanisha mengusap air matanya cepat cepat lalu menatap putrinya lagi.
“Iya sayang?”
Naira menggigit bibir kecilnya sebelum berkata pelan,
“Naira nggak mau lihat mama sama papa berantem. Naira takut ma, Naira takut pa.”
Kalimat polos itu menggantung di udara begitu saja dan menghantam dada Kanisha tanpa ampun. Wanita itu langsung memeluk tubuh putri kecilnya semakin erat sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Tangis yang tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh lagi membasahi pipi. Ia benci keadaan ini. Selama ini satu-satunya hal yang paling dijaga oleh Kanisha adalah keluarga kecilnya. Ia rela menahan lelah, mengubur keinginan pribadinya, bahkan melepaskan karir yang dulu sangat ia cintai hanya demi memastikan rumah tangga mereka selalu harmonis untuk Arven dan Naira.
Tapi malam ini semuanya hancur dan yang paling membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa Naira harus melihat semua itu. Kanisha mengusap rambut putrinya pelan.
“Nggak apa-apa sayang…” bisik Kanisha lirih. “Mama di sini.”
Naira mengangguk kecil walaupun wajah mungilnya masih terlihat takut. Anak sekecil itu bahkan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi dan itu membuat Kanisha semakin sadar kalau ia tidak bisa membiarkan Naira terus berada di situ malam ini. Tidak di rumah yang penuh pengkhianatan seperti ini dan tidak di dekat Arven dan wanita simpanannya.
Kanisha perlahan berdiri sambil menggendong Naira ke dalam pelukannya. Gadis kecil itu langsung melingkarkan tangan mungilnya di leher Kanisha sambil menyandarkan kepala di pundaknya.
“Mama…” gumam Naira pelan.
“Iya sayang?”
“Mama sama papa jangan marah-marah lagi ya…”
Air mata Kanisha kembali jatuh.
“Iya sayang,” jawabnya pelan sambil mencium kepala anak itu. “Mama sama papa nggak akan marah-marah lagi.”
Setelah mengatakan itu, Kanisha akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung jatuh pada Arven. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama dengan rahang mengeras sedangkan Selena terlihat gelisah sejak tadi.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Kanisha melangkah perlahan mendekati Arven. Tatapannya terlihat dingin, berbeda dengan wanita yang tadi menangis memohon agar rumah tangga mereka dipertahankan. Namun malam ini, kesabaran yang ada dalam diri Kanisha sudah hancur.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️