Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase di Ruang Laboratorium
Aroma khas cairan pembersih lantai berpadu dengan debu tipis meja kayu panjang langsung menyambut para murid kelas XI-A begitu melangkah masuk ke dalam laboratorium Fisika. Di atas meja-meja itu, beberapa set alat peraga untuk materi Gelombang Bunyi dan Optik sudah tertata rapi. Di papan tulis hitam, Bu Retno telah menuliskan instruksi tegas dengan kapur putih: Ujian Praktik Mandiri – Waktu 45 Menit.
Alisha menarik napas dalam-dalam, mengikat rambutnya ke belakang dengan jepit hitam polos fungsionalnya hingga menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah sawo matangnya. Matanya berkilat penuh fokus.
Di meja nomor empat—tepat di seberang jalurnya—Shaka sedang berdiri santai sambil membolak-balik lembar laporannya. Sebelum Bu Retno memulai ujian, Shaka sempat melirik ke arah Alisha, lalu mengetuk permukaan mejanya dua kali dengan jari telunjuk, memberikan kode bisu yang artinya: Inget taruhan kita.
Alisha membalasnya dengan dengusan remeh dan senyuman menantang. Gue gak bakal kalah, batin Alisha mutlak.
"Baik, anak-anak. Silakan menuju meja masing-masing sesuai absen. Ingat, ketelitian mengambil data adalah kunci utama. Ujian... dimulai!" seru Bu Retno tegas seraya menekan tombol stopwatch di tangannya.
Suasana laboratorium mendadak berubah hening, hanya dipenuhi suara gesekan pulpen, langkah kaki Bu Retno yang berkeliling, dan denting halus alat peraga.
Alisha mendapat bagian ujian praktikum Resonansi Bunyi menggunakan tabung pembaca gelombang dan garpu tala. Tugasnya adalah mencari panjang gelombang udara untuk menghitung cepat rambat bunyi. Dengan cekatan dan tangan yang sangat terlatih, Alisha mulai menuangkan air ke dalam tabung, menyeimbangkan permukaannya dengan pipa penunjuk skala.
Namun, di sudut laboratorium yang agak temaram, Ivanka yang mendapat giliran ujian praktikum Lensa Optik di meja nomor delapan, sama sekali tidak fokus pada tugasnya. Pandangannya terus bergerak liar, mengawasi pergerakan Bu Retno.
Begitu melihat Bu Retno berjalan menuju meja paling belakang untuk memeriksa pekerjaan Raihan, Ivanka langsung memberikan kode kedipan mata kepada Siska yang kebetulan posisinya berada di jalur dekat meja Alisha.
Siska yang membawa segelas air tambahan untuk keperluan praktikumnya sendiri, melangkah dengan berpura-pura terburu-buru. Saat melewati meja Alisha, Siska sengaja menyenggol ujung pipa tabung resonansi Alisha dengan pinggulnya dengan cukup keras.
Klontang! Sret!
"Eh! Ya ampun, maaf, Sha! Gue gak sengaja, buru-buru banget takut waktunya habis!" seru Siska dengan nada panik yang dibuat-buat, lalu buru-buru melenggang pergi sebelum Alisha sempat membalas.
Alisha tertegun. Detak jantungnya mencelos saat melihat air di dalam tabung resonansinya berguncang hebat dan merembes keluar. Tapi yang membuat wajah Alisha mendadak pias adalah pipa penunjuk skala penentu centimeter-nya... retak dan bergeser dari dudukannya karena penyangga bawahnya sengaja ditendang atau patah akibat senggolan tadi.
Data skala yang sudah ia hitung sejak sepuluh menit lalu langsung kacau total karena posisi tabungnya miring dan bocor halus.
Alisha mengepalkan tangannya di sisi meja. Ia melirik ke arah Ivanka di kejauhan, dan benar saja, cewek itu sedang menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis dari balik punggung temannya. Ini sabotase.
Napas Alisha mulai memburu. Bayangan kegagalan, rasa malu, dan trauma dikatai "kurang" kembali mencoba mengetuk pintu pikirannya. Waktu di papan digital terus berjalan mundur: Sisa 20 Menit. Jika dia melapor ke Bu Retno, tidak ada waktu lagi untuk mengganti alat baru dari gudang. Dia bisa dapat nilai nol.
Di seberang ruangan, Shaka yang sejak tadi diam-diam selalu membagi fokusnya ke meja Alisha, langsung menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat air yang menggenang di meja Alisha dan tubuh gadis itu yang mendadak kaku dengan kepala menunduk.
Shaka meletakkan jangka sorongnya dengan cepat. Tanpa memedulikan aturan ujian yang melarang murid berpindah tempat, Shaka melangkah lebar memotong jalur laboratorium, menghampiri meja Alisha.
"Ada apa?" tanya Shaka, suaranya rendah namun penuh penekanan, tepat di samping Alisha.
Alisha mendongak, matanya agak berkaca-kaca karena panik, tapi ada amarah di sana. "Skalanya retak, Shak. Tabungnya bocor halus di bawah. Data gue dari tadi gak bakal akurat kalau airnya terus berkurang. Ini kerjaan Siska sama Ivanka."
Shaka melirik keretakan di pipa plastik itu, lalu beralih menatap Ivanka yang mendadak pura-pura sibuk. Kilat dingin dan berbahaya kembali muncul di mata Shaka. Namun, ia tahu sekarang bukan saatnya melabrak. Yang utama adalah menyelamatkan Alisha.
"Jangan panik. Singa betina gue gak boleh kalah dengan cara kotor begini," ucap Shaka sangat tenang, namun kata-katanya entah mengapa langsung mengunci rasa panik di dada Alisha.
Shaka meraba saku seragamnya, mengeluarkan sebuah selotip bening kecil yang selalu ia bawa di dalam kotak pensilnya. Dengan gerakan cepat dan taktis, Shaka berjongkok, melilit bagian tabung yang bocor halus dengan selotip hingga rembesan airnya berhenti seketika.
"Shaka, Reyshaka! Kenapa kamu malah berdiri di meja Alisha? Kembali ke meja kamu!" tegur Bu Retno lantang dari ujung ruangan saat menyadari pelanggaran Shaka.
Shaka berdiri tegak, menatap Bu Retno dengan wajah lempeng tanpa dosa. "Maaf, Bu. Tadi pulpen saya menggelinding ke meja Alisha. Ini saya mau balik," dusta Shaka dengan sangat tenang, membuat Bu Retno hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sebelum melangkah pergi kembali ke mejanya, Shaka menundukkan badannya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Alisha.
"Gue udah sumbat bocornya. Skala yang bergeser itu tinggal lo tambah selisih 0,5 \text{ cm} dari angka asli di rumus ralat. Otak cerdas lo pasti tahu cara ngitung cepatnya kan, Sha? Tunjukkin ke sampah-sampah itu kalau trik murahan mereka gak mempan buat lo."
Setelah membisikkan kalimat itu, Shaka kembali ke mejanya dengan santai, seolah tidak baru saja melakukan aksi penyelamatan dramatis.
Alisha terpaku sesaat. Kalimat Shaka—terutama cara cowok itu menggunakan analogi "sampah" yang sama persis dengan wejangan Bapak malam tadi—seperti menyuntikkan aliran listrik berkekuatan tinggi ke dalam tubuhnya.
Rasa minder? Ketakutan? Semuanya menguap digantikan oleh kobaran api semangat yang membakar dadanya.
Alisha menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Ia menghapus sisa air di meja dengan tisu, mengambil penggaris cadangan, dan mulai menghitung ulang dengan rumus ralat selisih 0,5 \text{ cm} seperti yang diinstruksikan Shaka. Jarinya menari dengan sangat cepat di atas kertas laporan. Otaknya bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.
Di sudut lain, Ivanka yang melihat Alisha kembali bergerak aktif dengan wajah penuh percaya diri, langsung melotot tidak percaya. Rencana sabotasenya gagal total berkat campur tangan Shaka.
Tiiiit! Bel tanda waktu habis berbunyi nyaring.
"Waktu habis! Kumpulkan lembar laporan kalian di meja Ibu!" perintah Bu Retno.
Alisha meletakkan pulpennya dengan hentakan mantap tepat di detik terakhir. Ia berdiri, membawa lembar laporannya maju ke depan kelas. Saat berpapasan di depan meja Bu Retno, Alisha sengaja berjalan melewati meja Ivanka.
Alisha berhenti sebentar, menatap Ivanka lurus-lurus dengan senyuman savage yang sangat mematikan.
"Lain kali kalau mau ngerjain orang, pinteran dikit ya, Van," bisik Alisha santai tapi tajam, membuat wajah Ivanka langsung pucat pasi seketika. "Cara kotor lo... gak selevel sama isi kepala gue."
Alisha menyerahkan kertasnya kepada Bu Retno dengan kepala tegak, lalu berjalan keluar laboratorium dengan perasaan menang yang mutlak. Di ambang pintu, Shaka sudah bersandar di dinding sambil menunggunya dengan senyum miring andalannya. Perang nilai mungkin belum diumumkan, tapi bagi Alisha, dia sudah memenangkan pertempuran mental hari ini.