NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Malam Penuh Kepasrahan

BAB 33: Malam Penuh Kepasrahan

​Suara hantaman badai hujan di luar dinding kaca penthouse semakin menggila, menciptakan ritme konstan yang mengisolasi kamar utama itu dari dunia luar. Di dalam ruangan yang hanya diterangi pendar remang-remang lampu tidur, ketegangan di antara dua anak manusia itu telah mencapai puncaknya.

​Luna bisa merasakan berat tubuh tegap Devano yang mengurungnya dari atas. Napas pria itu memburu, terasa hangat dan memburu saat menerpa permukaan kulit wajahnya yang pucat. Rasa panik dan debaran aneh yang bercampur baur membuat dada Luna naik-turun dengan cepat. Di bawah kungkungan yang begitu kokoh, sisa-sisa ketangguhan Luna mencoba bertahan untuk terakhir kalinya.

​Dengan jemari yang masih agak lemas, Luna mengangkat kedua tangannya, bertumpu pada dada bidang Devano yang telanjang. Dia mencoba mendorongnya perlahan, meskipun dia tahu usahanya sama sekali tidak berarti bagi kekuatan fisik sang CEO.

​"Tuan Devano... jangan," bisik Luna, suaranya bergetar halus di antara gemuruh petir di luar. "Ini salah. Ada Kak Siska... dan saya... saya di sini hanya sebagai jaminan utang Anda. Jangan lakukan ini..."

​Devano tidak menjawab dengan amarah. Pria itu justru menurunkan wajahnya lebih dekat, mengunci pandangan mata bulat Luna dengan sepasang mata elangnya yang telah sepenuhnya menggelap oleh kabut gairah yang selama dua tahun ini dia penjarakan dengan rapat. Gerakan tangan Devano terasa begitu tenang namun teramat posesif. Dia meraih kedua pergelangan tangan Luna yang mungil, lalu membawanya ke atas kasur, mengunci jemari tangan gadis itu di sisi kepalanya dengan genggaman yang lembut namun bertenaga mutlak.

​"Malam ini, tidak ada kantor, Luna. Tidak ada utang, dan tidak ada Siska," desis Devano, suara baritonnya terdengar teramat parau dan dalam, bergetar oleh hasrat pria dewasa yang sudah berada di ambang batas pertahanan. "Hanya ada aku dan kamu."

​Sebelum Luna sempat membalas, Devano melepaskan satu tangannya untuk menyentuh rahang Luna. Ibu jarinya yang sedikit kasar bergerak perlahan, membelai garis pipi Luna yang tirus dengan kelembutan yang tak terduga, seolah sedang menyentuh barang porselen yang sangat rapuh. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang instan ke sekujur tubuh Luna, membuat pertahanan mentalnya yang lelah berjuang sendirian perlahan-lahan mulai runtuh.

​Devano tidak lagi menahan diri. Dia menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya di atas belahan bibir tipis Luna yang sedikit terbuka.

​Ciuman itu awalnya terasa begitu menuntut dan dalam, seolah Devano ingin meluapkan seluruh rasa frustrasi, dendam, dan obsesi yang berkecamuk di dalam dadanya selama ini. Namun, saat merasakan kelembutan bibir Luna dan tubuh gadis itu yang gemetar di bawahnya, ritme ciuman Devano perlahan berubah. Sentuhannya melambat, menjadi sebuah pagutan yang teramat dalam, lembut, dan sarat akan kerinduan terlarang yang tak pernah berani mereka suarakan.

​Luna melenguh lirih di sela-sela ciuman mereka. Aroma maskulin bercampur wiski yang menguar dari tubuh Devano benar-benar memabukkan akal sehatnya. Di bawah ciuman yang begitu intens, rasa benci yang selama ini dia pupuk seolah menguap, digantikan oleh gelombang rindu yang tak terbendung. Perlahan, cengkeraman tangan Luna pada sprei mengendur. Saat Devano melepaskan kuncian tangannya, Luna justru menggerakkan jemari tangannya naik, menyusup ke sela-sela rambut hitam lebat Devano, membalas ciuman pria itu dengan kepasrahan yang teramat dalam.

​Melihat respons dari Luna, gairah di dalam dada Devano kian membara. Ciumannya turun, menelusuri garis rahang Luna, lalu berpindah memberikan kecupan-kecupan panas di sepanjang leher jenjangnya yang putih bersih. Setiap sentuhan bibir Devano meninggalkan jejak kehangatan yang membuat napas Luna semakin memburu kencang.

​Tangan kekar Devano yang hangat mulai menjelajah. Telapak tangannya bergerak perlahan, meraba lekuk pinggang ramping Luna dari balik gaun tidur sutra putih yang tipis. Gesekan bahan sutra dengan kulit mulus Luna menciptakan sensasi panas yang membakar. Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh kehati-hatian, Devano menyusupkan tangannya ke bawah keliman gaun tidur Luna, menyentuh langsung kulit paha dan pinggulnya yang halus. Kulit dingin Luna bergidik mesra di bawah usapan telapak tangan Devano yang hangat dan menuntut.

​Atmosfer di dalam kamar semakin pekat oleh udara yang sarat akan gairah. Devano menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap wajah Luna yang kini bersemu merah dengan mata yang sayu berair karena didera kenikmatan yang asing. Dengan gerakan yang penuh dominasi namun lembut, Devano menanggalkan gaun tidur putih itu, mengekspos seluruh keindahan tubuh ringkih Luna di bawah pendar lampu yang temaram.

​Devano kembali mengungkung tubuh Luna, menyatukan kulit mereka tanpa ada lagi pembatas. Sentuhan dada bidang Devano yang kokoh dan berotot pada dada Luna yang lembut membuat gadis itu mendesah pasrah, meremas bahu lebar sang CEO demi mencari pegangan.

​Penyatuan itu terjadi dengan teramat lambat dan intim di tengah gemuruh badai yang merajai malam. Saat Devano membawa mereka ke dalam puncak keintiman fisik yang sesungguhnya, Luna refleks memejamkan matanya rapat-rapat, air mata kepasrahan menetes di sudut matanya—bukan karena rasa sakit atau paksaan, melainkan karena dia menyadari bahwa jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak bisa lagi membohongi getaran cinta yang tumbuh untuk pria yang selama ini menghukumnya.

​Devano bergerak dengan kombinasi yang mematikan antara dominasi seorang alpha male yang posesif dan kelembutan seorang pria yang takut kehilangan miliknya. Setiap rabaan, kecupan, dan hentakan pelan yang mereka lakukan malam itu terasa begitu emosional, seolah-olah mereka sedang saling menyembuhkan luka batin masing-masing lewat penyatuan fisik yang membara. Mereka tenggelam bersama dalam badai gairah yang tak berujung, membiarkan ego dan benci melebur sepenuhnya menjadi satu rasa yang teramat kuat.

​Beberapa jam berlalu, badai hujan di luar perlahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang mengetuk kaca jendela dengan lembut.

​Di dalam kamar, sisa-sisa kehangatan malam panas itu masih terasa pekat. Luna telah tertidur pulas karena kelelahan yang luar biasa, dengan selimut abu-abu tebal yang membungkus tubuh polosnya hingga sebatas dada.

​Devano tidak langsung memalingkan tubuhnya atau pergi meninggalkan Luna layaknya pria egois. Pria bertubuh kekar itu justru berbaring miring, menarik tubuh lemas Luna ke dalam dekapannya. Dia membiarkan kepala Luna bersandar dengan nyaman di atas dada bidangnya yang naik-turun teratur. Tangan kekarnya mengusap pelan rambut panjang Luna yang berantakan, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang teramat lama dan lembut di puncak kepala gadis itu.

​Di tengah kegelapan malam yang sunyi, sepasang mata elang Devano menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Pikiran sang CEO kembali bergejolak hebat. Di tengah sisa gairah yang baru saja mereda, rasa penyesalan yang samar mulai menyusup ke relung hatinya. Foto masa lalu yang dia lihat kemarin siang—foto kedekatan ayah mereka—kembali membayangi pikirannya.

​Bagaimana jika selama dua tahun ini dugaanku salah? Bagaimana jika wanita setegar dan sesuci ini sebenarnya tidak pernah mengkhianatiku? batin Devano berbisik, menimbulkan rasa sesak yang teramat sangat di dadanya.

​Keesokan paginya, semburat cerah cahaya matahari musim panas menembus tirai jendela yang sedikit terbuka, membangunkan Luna dari tidur nyenyaknya.

​Luna perlahan membuka matanya, merasakan sekujur tubuhnya yang terasa pegal dan hangat. Dia menoleh ke sisi kirinya, namun tempat itu sudah kosong dan terasa dingin. Devano telah pergi ke kantor lebih awal, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang masih tertinggal pekat di atas bantal sutra.

​Luna mengembuskan napas berat, mencoba mendudukkan tubuhnya sembari menahan selimut agar tidak melorot. Saat dia menoleh ke arah meja nakas di samping tempat tidur, pandangannya langsung terpaku pada sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan segelas air putih dan obatnya.

​Namun, bukan makanan itu yang membuat jantung Luna mendadak berhenti berdetak.

​Tepat di samping mangkuk bubur, terletak sebuah kotak kayu tua peninggalan almarhum ayahnya—kotak yang semalam dikunci rapat oleh Devano di dalam laci. Kali ini, kotak itu diletakkan di sana dalam keadaan sedikit terbuka, dengan kunci besi berkarat yang masih menancap di lubangnya. Devano sengaja meninggalkannya di sana agar Luna bisa membukanya sendiri.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Luna meraih kotak kayu tersebut. Dia membuka penutupnya sepenuhnya. Di dalam kotak yang berbau apek itu, tidak ada tumpukan uang atau perhiasan mahal. Hanya ada selembar surat perjanjian kerja sama lama yang ditandatangani oleh ayah Devano dan ayahnya puluhan tahun lalu.

​Dan di bawah surat itu, terdapat selembar kertas hasil tes DNA usang yang bagian sudut atas namanya telah sengaja disobek secara paksa.

​Luna membaca baris demi baris hasil analisis medis di kertas tersebut. Begitu matanya menangkap kesimpulan persentase kecocokan darah yang tertulis di bagian bawah, sepasang mata bulat Luna langsung membelalak syok luar biasa. Tangannya lemas hingga kotak kayu itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas kasur.

​Luna membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, air mata kekagetan seketika tumpah membasahi pipinya. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajah yang pucat pasi, menyadari sebuah rahasia besar dan mengerikan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh almarhum ayahnya tentang garis keturunan dan hak cipta kelahiran dirinya yang sesungguhnya!

1
Surati Dewi
yaelah pak di senyumin Luna aja udah seneng apa lagi kalau di peluk
Lalat
bukannya ud tau kebeneran nya y dr hadi?
Lalat
kasian bgt /Sob/
Lalat
kasian
Lalat
seruu
Surati Dewi
mantap devano semangat boss
Surati Dewi
sekali saja tor hidup Aluna di buat bahagia gitu Lo
Indhira Sinta
bagus
gendiz: terimakasih 😊
total 1 replies
Agus Tina
Thor ceritamu bagus2, saya suka ...
gendiz: terimakasih kakak, boleh dishare atau direkomendasikan ke teman teman yang lain, biar tambah banyak yang baca 💙😊
total 2 replies
Hayati
lanju
gendiz: siiiiapppp 💙
total 1 replies
Agus Tina
pergi saja luna
Surati Dewi
jadi CEO tapi bodoh bukanya di selidiki,dan katanya benci Siska tapi di deketin terus diam aja dasar begok
Indhira Sinta
lunglai ya bukan gulai🤭
gendiz: aduh typo, 🤭
total 1 replies
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!