NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

**✦**

"Kenapa?" tanya Galvin, tanpa menoleh ke arah Khaira.

Pandangannya tetap lurus ke depan jalan.

Dia yang semula sedang fokus menyetir mobil, tiba-tiba fokusnya terbagi karena sejak awal dia sudah menyadari bahwa Khaira sesekali melihat ke arahnya, seolah ada yang ingin Khaira sampaikan padanya.

Tetapi Khaira tidak berani mengatakannya.

"Berhenti lirik gue, kalau lo ga mau ngomong," tegurnya, kepada Khaira, karena Khaira masih diam dan malah memalingkan wajahnya ke arah sampin nog.

Khaira mengubah pandangannya menjadi menatap jalanan yang dipadati juga oleh kendaraan yang lain.

"Ada yang mau lo omongin?" tanya Galvin, tanpa melirik Khaira.

Setelah mendengar Galvin berbicara seperti itu, barulah Khaira menghadap kembali kepada Galvin, yang ternyata bersamaan membalas lirikannya.

"Semalam kamu ke mana?" tanya Khaira dengan perasaan sedikit ragu, begitu pandangan mereka bertemu.

Mulai dari semalam, bahkan saat tadi di meja makan, dia terus memikirkan hal itu. Awalnya dia tidak ingin memikirkannya, karena itu bukanlah urusannya.

Namun, entah mengapa, pertanyaan itu terus muncul di benaknya, bahkan sampai mereka di perjalanan ke sekolah, pertanyaan itu terus mengganggunya.

"Kenapa?" Galvin malah balik memberikan pertanyaan, tanpa menjawab pertanyaan Khaira sebelumnya.

"Bibi bilang, setiap malam kamu selalu keluar malam." Khaira kembali menyambung ucapannya, karena Galvin tidak langsung menjawab pertanyaannya.

"Hm. Kenapa?" tanya Galvin, tanpa melirik Khaira.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya, dengan pandangan yang lurus ke depan.

Dia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi dia menyadari, bahwa dirinya tidak berhak bertanya tentang itu.

"Lo ga mau tau, apa yang gue lakuin setiap keluar malam?" tanya Galvin, setelah terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka.

Mereka benar-benar hening, hingga yang terdengar hanyalah suara mobil dan kendaraan lainnya yang memadati jalanan di pagi itu.

"Bibi bilang kalau kamu keluar malam buat kerja atau ketemu sama teman-teman kamu. Apa itu benar?" jawab Khaira, sambil melirik ke arah Galvin.

Kali ini, Galvin membalasnya.

"Hm, benar. Terus?" tanyanya, sambil menatap Khaira, sesaat.

Khaira berdeham pelan, sebelum bertanya akan hal selanjutnya.

Dari cara Galvin menanggapi pembicaraan mereka, Khaira dapat menyimpulkan bahwa Galvin tidak keberatan oleh pertanyaan itu.

Justru sebaliknya, Galvin secara tidak langsung menggiringnya untuk terus membicarakan apa yang Galvin lakukan semalam.

"Bibi bilang kamu kerja. Kalau aku boleh tau, kamu kerja apa?" tanya Khaira, hati-hati.

Bukan dia sengaja ingin berpikir buruk tentang pekerjaan Galvin, tetapi dia hanya ingin memastikan pekerjaan apa yang dilakukan setiap malam.

"Gue punya bengkel." Galvin langsung menjawab, tanpa membuat Khaira menunggu jawabannya.

Jawaban itu berhasil membuat Khaira langsung mengangkat kedua alisnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kamu kerja di bengkel?" tanyanya, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sedikit terkejut mendengar hal itu.

Galvin bergumam pelan, sebagai respon atas pertanyaan Khaira, yang seolah tidak percaya dengannya.

"Kenapa? Malu punya suami cuma kerja di bengkel?" tanya Galvin, tanpa melirik Khaira.

Pertanyaan itu sontak saja membuat Khaira panik, dan langsung membuat Khaira menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"B-bukan gitu maksud aku. Kaget aja kalau kamu kerja di sana," ucap Khaira.

Dia langsung meluruskan pemikiran Galvin yang salah tentangnya. Mana mungkin dia malu dengan pekerjaan Galvin yang seperti itu.

Dia selalu mensyukuri setiap pekerjaan, apa pun itu, selagi itu hal dilakukan, dan tidak melanggar syarat yang sudah ditetapkan dalam agama mereka.

Namun, yang membingungkan bagi Khaira adalah profesi Galvin yang tidak sesuai dengan kondisi keluarga Galvin.

Khaira sudah tahu bagaimana kedua orang tua Galvin yang memiliki perusahaan, juga memiliki perpustakaan besar yang terkenal tidak hanya di dalam kota saja.

Bahkan Khaira sendiri menjadi salah satu karyawan di perpustakaan itu.

Jika Galvin memang ingin bekerja, lantas mengapa tidak bekerja di perusahaan kedua orang tuanya atau bekerja di perpustakaan milik keluarganya?

Begitulah pikir Khaira.

"Kenapa lo kaget denger gue kerja di bengkel?" tanya Galvin, atas ucapan Khaira sebelumnya.

"Soalnya itu bertolak belakang sama kepribadian kamu dan kondisi keluarga kamu," jawab Khaira, jujur.

Galvin langsung melirik Khaira yang sejak awal duduk di kursi sampingnya. "Lo tau pribadi gue?" tanyanya, dengan salah satu alisnya yang terangkat.

Khaira mengangguk pelan dan ragu. "Tau. Tapi cuma yang kamu tunjukkin aja. Yang ga kamu tunjukkin, mana bisa aku tau," ucapnya.

Galvin tidak lagi menjawab. Hingga muncul kembali keheningan di antara mereka.

"Buka bengkel malam-malam, emang ada pelanggan, ya?" tanya Khaira kembali, yang entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba saja melintas di pikirannya.

Namun setidaknya, pertanyaan itu berhasil memecah keheningan di antara mereka.

"Ramai bengkelnya kalau malam-malam?" tanya Khaira kembali, begitu penasaran.

"Tergantung," jawab Galvin.

Begitu singkat, padat, dan tentu saja tidak jelas bagi Khaira. Khaira tidak memahaminya.

"Tergantung?" ulang Khaira, karena bingung.

Kali ini Khaira kembali dibuat bingung, karena Galvin menjawabnya hanya dengan sebuah gumaman saja.

Bagi Galvin, peluang buka siang hari atau pun malam hari, itu sama saja sebenarnya. Karena tidak ada yang tahu, kapan kendaraan orang lain akan datang untuk perbaikan.

"Kamu buka bengkelnya cuma malam hari aja?" Khaira kembali bertanya, entah untuk yang keberapa kalinya.

Dia mendadak antusias membahas bengkel, tempat kerja Galvin.

"Setiap waktu. Bukan cuman malam," jawab Galvin, singkat.

Khaira langsung mengangguk kemudian diam.

Dia diam bukan berarti rasa penasarannya hilang. Dia diam karena ada hal baru yang dia pikirkan tentang bengkel itu.

"Kamu bilang setiap waktu, sedangkan siangnya kamu sekolah, kan?" Khaira kembali bertanya, untuk menghilangkan kebingungannya.

"Pas di sekolah, ada orang lain yang bantu handle," jawab Galvin, mengobati kebingungan yang Khaira rasakan.

"Oh, iya. Kamu bisa minta tolong orang lain buat handel itu," gumam Khaira, pelan.

Entah kenapa dia tidak terpikir akan hal itu.

Dia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa lagi.

"Ada lagi?" tanya Galvin, seolah menyadari bahwa ada hal yang belum tuntas Khaira katakan.

Khaira menggeleng dengan ragu. Dia masih ingin bertanya tentang hal lain, tetapi dia merasa tidak enak, karena sudah terlalu banyak menanyakan hal yang berkaitan dengan kehidupan Galvin.

Walaupun mereka sudah menikah, tetapi jangan lupakan pernikahan mereka yang terjadi karena perjodohan.

'Sebaiknya aku tidak bertanya tentang hal itu,' batin Khaira, memilih untuk mengabaikan pertanyaan yang sebelumnya ingin dia tanyakan.

Dia tidak ingin membuat Galvin merasa tidak nyaman, karena dia terlalu banyak bertanya.

Memang seharusnya mereka menjadi pasangan suami istri yang saling berbagi cerita, suka dan duka, atas kehidupan mereka. Serta saling mengetahui kehidupan masing-masing.

Akan tetapi hal itu tidak bisa mereka lakukan, karena keputusan yang sudah mereka sepakati sejak awal.

Yaitu untuk tidak saling membebani kehidupan pribadi mereka, juga tidak saling menuntut hak dan kewajiban.

Hal itulah yang membuat Khaira mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.

"Cukup?" tanya Galvin, sekilas menatap kedua manik-manik Khaira.

Khaira mengangguk.

Kemudian mengubah kembali pandangannya ke samping kiri.

Melihat sorot mata Khaira, Galvin bisa menebak bahwa masih ada sesuatu yang ingin Khaira katakan padanya.

Galvin mengetahui itu, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya. Hingga menunggu sejauh mana Khaira bisa memendam hal itu untuknya.

Menurutnya, Khaira akan mengatakan apa yang dia pikirkan dengan sendirinya, jika Khaira benar-benar ingin mengatakannya.

...

"Masih mau diam?" Galvin akhirnya membuka suara.

Dia memang sengaja membiarkan Khaira, hingga Khaira yang lebih dulu membuka suara.

Namun, setelah lama dia menunggu, bahkan hingga mereka hampir tiba di sekolah, Khaira tidak mengatakan apa-apa.

"Iya, Gal?" tanya Khaira, dia tidak paham dengan apa yang Galvin katakan.

"Keluarin hal apa pun yang sekiranya ganggu pikiran lo." Galvin menjelaskan maksud dari ucapannya.

Khaira diam sejenak, mencoba untuk memahami kalimat yang baru saja Galvin katakan.

"Kamu tau aku lagi mikirin sesuatu?" tanyanya, setelah berhasil memahami maksud dari perkataan Galvin sebelumnya.

Galvin tidak menjawab. Dia tidak membenarkan atau pun membantah tanggapan Khaira.

Melihat respon Galvin yang seperti itu, Khaira dapat mengambil kesimpulan, bahwa tebakannya benar.

'Jadi dia ga masalah kalau aku banyak bertanya tentangnya?' batin Khaira.

"Kesempatan lo cuma sekarang," ucap Galvin.

Jujur saja dia merasa penasaran, akan hal apa yang Khaira pendam dan belum Khaira ungkapkan.

Begitu juga sebaliknya dengan Khaira. Khaira penasaran dengan jawaban yang akan Galvin ucapkan atas pertanyaannya. Namun dia masih belum berani untuk bertanya.

Haruskah dia bertanya tentang hal itu? Apakah pertanyaan itu akan membuat Galvin tidak nyaman?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Khaira ragu untuk berbicara.

"Oke, kesempatan lo untuk berbicara sudah habis," pungkas Galvin.

Dirasa sudah cukup dia menunggu Khaira berbicara, tetapi Khaira tidak kunjung melakukannya.

"Gal, tunggu. Ada satu pertanyaan lagi yang mau aku tanya sama kamu." Khaira menyahut dengan cepat.

"Hm?" guman Galvin, dengan santai.

Khaira menunduk, sebelum mengatakan satu hal yang membuatnya merasa penasaran.

"Sebenarnya masih ada yang mau aku tanyakan, tapi aku takut kamu keberatan karena kamu menganggap kalau aku ikut campur sama urusan kamu," ucapnya, dengan lirih dan pelan.

"Kalau gue keberatan, gue ga bakal jawab pertanyaan lo," timpal Galvin, yang kembali fokus menyetir.

Khaira langsung mengangkat kembali pandangannya, kemudian mengarahkan pandangannya kepada Galvin.

"Jadi aku boleh bertanya?" tanyanya, dengan kedua bola matanya yang sedikit memincing.

"Hm." Galvin kembali bergumam.

"Baiklah. Tapi sesuai apa yang kamu bilang barusan, kamu tidak perlu menjawab pertanyaan yang aku tanyakan, jika kamu keberatan untuk menjawab."

Khaira menegaskan kembali hal itu, karena dia tidak ingin Galvin berpikir bahwa dia memaksa untuk mendapatkan jawaban kepada Galvin, padahal sebenarnya dia tidak seperti itu.

Dia sungguh tidak akan memaksa Galvin untuk menjawab pertanyaannya, jika Galvin tidak mau menjawab.

"Kamu jawab jika kamu bersedia saja, oke?" Khaira kembali menegaskan untuk yang kesekian kalinya.

"Iya, Khaira."

Galvin tampak sedikit kesel, karena Khaira tidak kunjung mengungkapkan.

Namun hal itu malah terlihat lucu di mata Khaira, hingga Khaira tersenyum simpul di balik cadarnya.

"Kamu keluar malam selain buat kerja juga buat ketemu teman-teman kamu, kan?" tanya Khaira, yang akhirnya berbicara.

Kali ini, Galvin meresponnya dengan sebuah anggukkan pelan. Pertanda bahwa apa yang Khaira katakan adalah benar. Mereka juga sudah membahas hal itu sebelumnya.

"Yang aku tau, selama di sekolah kamu cuma deket sama Dafa aja. Semua orang juga tau kalau kamu susah dijadikan sebagai teman," jelas Khaira panjang lebar, tetapi belum sampai kepada intinya.

"To the point saja, Khaira."

"Kamu punya temen lain selain Dafa?" tanya Khaira, dan dia langsung mengatupkan kedua bibirnya.

Desakan dari Galvin yang memintanya untuk mengatakan itu dengan segera, membuat dia bertanya tanpa memiliki kesempatan untuk menyusun kalimatnya lebih dulu.

"Maaf kalau pertanyaan aku menyInggung kamu. Tapi maksud aku—"

"Gue ga tersinggung." Galvin langsung menyeka ucapakan Khaira.

Dia tahu bahwa Khaira merasa bersalah kepadanya.

"B-baik, terima kasih. Kamu ga perlu jawab kalau keberatan," ucap Khaira lirih, dengan kepalanya yang menunduk.

"Gue punya temen, selain Dafa. Tapi temen-temen gue yang lain ga satu sekolah sama kita. Jadi lo ga mungkin tau siapa temen-temen gue itu," jelas Galvin, dengan tenang.

Penjelasan itu berhasil menjawab rasa penasaran Khaira dan menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini selalu muncul di pikirannya.

"Baik, aku paham. Makasih udah mau jawab," ucap Khaira, sambil menghadap ke arah Galvin, kemudian menatap ke arah suaminya itu, seraya tersenyum tipis di balik cadar.

Galvin membalas tatapan Khaira, kemudian dia menganggukkan kepala dengan pelan.

Dia tahu Khaira tersenyum kepadanya, karena lengkungan di mata Khaira saat Khaira tersenyum, bisa dia lihat dengan jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!