"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Baru Aluna
Aluna berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luasnya hampir menyamai luas panti asuhannya dulu. Lantai marmer yang mengkilap seolah memantulkan wajahnya yang masih sedikit pucat.
Ia meremas ujung sweter tipisnya, merasa sangat kerdil di bawah lampu gantung kristal yang megah.
"Kak... ini beneran rumah Kak Azeus?" tanya Aluna pelan, suaranya hampir hilang tertelan kemegahan ruangan itu.
Azeus, yang berdiri di sampingnya tersenyum narsis. Sifat aslinya yang pede mulai balik lagi.
"Iya, ini rumah Papa. Tapi tenang aja, mulai hari ini, ini juga rumah kamu."
Aluna menggeleng cepat, wajahnya nampak gelisah.
"Nggak, Kak. Aku... aku nggak pantas di sini. Kontrakan aku masih ada, barang-barang aku di sana. Aku pulang ke sana aja ya? Aku nggak mau ngerepotin keluarga Kakak lagi."
Azeus menghela napas. Dia melangkah pelan mendekati Aluna. Anehnya, lidah Azeus yang biasanya kasar dan hobi bilang 'Lo-Gue' ke semua orang, mendadak otomatis berganti mode kalau bicara sama Aluna. Dia nggak tega pakai bahasa jalanan ke gadis selembut ini.
"Aluna, dengerin aku," ucap Azeus lembut, membuat Aluna mendongak kaget.
"Papa udah niat angkat kamu jadi anaknya Kontrakan kamu itu udah diurus, barang-barang kamu juga nanti dipindahin ke sini. Kamu jangan mikir soal 'pantes' atau 'nggak pantes'. Kamu itu penyelamat aku. Kalau kamu nggak bangun, aku mungkin masih jadi gelandangan di basecamp sekarang."
Aluna menunduk, pipinya sedikit merona karena tatapan intens Azeus.
"Tapi Kak..."
Azeus terkekeh, sisi jahilnya keluar. Dia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Aluna, membuat gadis itu refleks mundur selangkah karena kaget.
"Lagian, kalau kamu emang beneran keberatan jadi adek aku..." Azeus menjeda kalimatnya, memasang senyum miring yang paling mematikan.
"...Gimana kalau kamu jadi istri aku aja? Biar statusnya makin jelas di rumah ini. Gimana??"
Deg.
Aluna mematung. Jantungnya berasa mau lompat dari tempatnya. Dia langsung salah tingkah, tangannya sibuk mengusap tengkuk lehernya yang nggak gatal sama sekali. Wajahnya yang tadi pucat sekarang sudah berubah merah padam kayak tomat matang.
"Eh... itu... Kak Azeus bercandanya... nggak lucu," gumam Aluna kikuk, pandangannya lari ke arah pot bunga di pojok ruangan.
"Siapa yang bercanda? Aku serius loh," goda Azeus lagi sambil tertawa renyah, merasa menang bisa membuat gadis polos itu mati kutu.
Tiba-tiba, suara cempreng dari arah pintu depan membuyarkan suasana romantis-kaku itu.
"Woy! Pengantin baru dilarang pacaran di ruang tamu! Belum halal, Ze!" teriak Raka yang tiba-tiba muncul bareng Dion dan Gathan.
"Gila ya lo, Ze! Baru juga pulang dari RS udah digas pol aja!" Dion geleng-geleng kepala sambil nenteng plastik isi martabak.
"Aluna, jangan dengerin dia. Azeus itu kalau ngomong emang suka nggak disaring, otaknya ketinggalan di knalpot motor."
Azeus langsung melempar bantal sofa ke arah Raka.
"Berisik lo semua! Ngapain ke sini?!"
"Ya mau nengok Aluna lah! Masa nengok lo yang mukanya kayak kanebo?" balas Raka santai sambil langsung duduk di sofa mahal itu tanpa beban.
Aluna yang tadinya tegang, akhirnya tertawa kecil melihat tingkah mereka. Suasana rumah mewah yang dingin itu perlahan mulai terasa hangat karena kehadiran orang-orang aneh ini.
Suasana di ruang tamu mewah itu mendadak jadi kayak pasar kaget begitu rombongan sirkus—maksudnya teman-teman Azeus—masuk. Rumah mewah yang tadinya sunyi langsung pecah sama suara tawa dan cengkeraman mereka di sofa mahal Ayah Azeus.
Godaan Berjamaah
"Gila, Ze! Sofa rumah lo empuk bener, berasa duduk di atas awan," celetuk Raka sambil loncat-loncat kecil, bikin Azeus pengen ngelempar dia pakai vas bunga.
"Aluna, mending kamu hati-hati sama Azeus. Dia di rumah ini rajanya modus. Tadi aja udah nawarin jadi istri, besok mungkin nawarin jadi ibu rumah tangga," goda Dion sambil nyodorin martabak manis ke arah Aluna.
"Makan nih, Lun. Biar pipi kamu ada isinya dikit, jangan pucat terus." Lanjut Dion.
Aluna cuma bisa senyum malu-malu, bener-bener kaku dapet perhatian sebegitu banyak dari cowok-cowok berisik ini. Sementara itu, Gathan yang biasanya paling cuek, mendadak diam seribu bahasa. Matanya nggak lepas merhatiin wajah Aluna.
" Cantik banget," batin Gathan. Tanpa make-up, bener-bener polos, tipikal gadis yang hatinya sebersih wajahnya. Tapi Gathan pinter, dia simpen kekagumannya itu rapat-rapat biar nggak dipukulin Azeus.
Azeus sendiri? Dia lagi bengong natap Aluna dari samping. Pikirannya muter balik ke setahun lalu. Gadis ini... kok bisa sih maafin gue gitu aja? Nggak minta ganti rugi miliaran atau apa gitu, nggak nuntut gue juga. Lembut banget sih" gumam Azeus dalam hati.
Rasa tertariknya bukan lagi sekadar rasa bersalah, tapi udah mulai "nyangkut" di hati.
Tapi, ada satu ganjalan besar, rencana Ayahnya. Kalau Aluna sah jadi adik angkat, tamat sudah riwayat Azeus buat deketin dia secara romantis. Insest administratif itu namanya!
Azeus mendadak dapet ide gila. Dia harus bikin rencana Ayahnya gagal, tapi Aluna tetep tinggal di sini.
"Woy, bengong aja lo! Kesambet penunggu rumah baru tau rasa!" Raka nyenggol bahu Azeus.
Azeus narik napas panjang, matanya melirik Aluna yang lagi asyik dengerin celotehan Dion.
"Gue nggak setuju kalau Aluna jadi adek gue," ucap Azeus tiba-tiba, bikin suasana hening seketika.
"Lah? Tadi lo bilang Papa udah niat angkat dia?" tanya Gathan, alisnya terangkat sebelah.
Azeus nyengir miring, gaya narsisnya balik lagi.
"Iya, itu kan niat Papa. Tapi gue punya rencana lain. Gue bakal bikin Aluna merasa nggak cocok jadi adek gue, tapi cocoknya jadi... 'tamu kehormatan' yang nggak boleh pergi."
"Maksud lo?" Dion bingung.
"Intinya, gue bakal sabotasenya pelan-pelan. Gue bakal bikin Papa ngerasa kalau Aluna itu terlalu berharga buat sekadar jadi 'adik'. Gue bakal deketin dia lewat jalur 'calon menantu' sebelum berkas adopsinya kelar!" bisik Azeus ke temen-temennya, bikin Raka sama Dion langsung melongo.
"Wah, parah lo, Ze! Bokap lo bisa ngamuk kalau tau anaknya mau nikung jalur adopsi!" Raka ketawa ngakak.
Azeus cuma senyum penuh arti. Dia menatap Aluna lagi yang kelihatan bingung kenapa mereka bisik-bisik.
"Lun, kamu istirahat dulu ya di kamar atas. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil aku. Jangan panggil 'Kak' kalau lagi berdua, panggil nama aja juga boleh."
Aluna cuma bisa ngangguk kikuk, bener-bener nggak tau kalau "kakak" barunya ini lagi nyusun rencana buat ngebatalin status persaudaraan mereka
Geng motor Azeus ini tipe yang nggak bisa diam. Raka sama Dion sibuk rebutan martabak, sementara Gathan masih dengan pembawaan tenangnya, duduk di sofa tunggal sambil sesekali mencuri pandang ke arah gadis di depannya.
"Eh, dari tadi kita panggil Aluna-Aluna doang. Nama lengkap kamu siapa sih, Lun? Biar kalau nanya ke suster atau admin panti nggak bingung," tanya Gathan dengan nada suara yang lebih lembut dari biasanya.
Gadis itu mendongak, tersenyum tipis yang bikin suasana mendadak adem.
"Nama lengkap aku Aluna Izlia, Kak."
"Aluna Izlia... cakep bener namanya, kayak orangnya," celetuk Dion spontan, yang langsung dapet tatapan tajam bin maut dari Azeus.
"Terus, kamu sekolah di mana kemarin? Maksudku, sebelum... ya, sebelum kejadian itu," sambung Azeus sambil berusaha menetralkan rasa canggungnya.
"Aku sekolah di SMA Trihasta, Kak. Kelas 3 kemarin, harusnya," jawab Aluna dengan nada sedikit sendu karena teringat masa sekolahnya yang terputus.
Azeus, Raka, dan Dion langsung saling lirik. Mereka tahu betul sekolah itu. Lokasinya emang deket banget sama jalur lurus yang biasa mereka pake buat balapan liar malam-malam. Rasa bersalah Azeus nyut-nyutan lagi, tapi dia buru-buru nutupin itu dengan gaya narsisnya.
"Trihasta ya? Deket lah itu sama markas kita. Berarti kita beneran jodoh, eh, maksudnya emang udah takdir ketemu," goda Azeus sambil nyengir.
"Tapi mulai sekarang, di rumah ini, aku nggak mau panggil Aluna. Terlalu formal, kayak mau diabsen guru."
Aluna mengernyit bingung.
"Terus Kak Azeus mau panggil apa?"
Azeus memajukan duduknya, menatap Aluna lekat-lekat.
"Nana. Aku bakal panggil kamu Nana. Lucu kan? Pas sama muka kamu yang mungil begini."
Pipi Aluna mendadak panas.
"Na... Nana? Tapi temen-temen di panti biasanya panggil Aluna atau Luna, Kak."
"Ya itu mereka. Kalau aku ya Nana. Biar beda dari yang lain," potong Azeus telak, nggak mau dibantah.
Padahal dalam hatinya dia lagi teriak kegirangan karena berhasil bikin nama panggilan sayang yang cuma dia yang punya.
Raka sama Dion udah mau ngeledek, tapi mereka nahan tawa liat muka Azeus yang serius banget mematenkan nama "Nana". Sementara itu, Gathan cuma terdiam. Dia ngerasa panggilan itu emang cocok banget buat Aluna, tapi ada rasa sedikit nyesek liat Azeus udah start duluan buat ngasih tanda kepemilikan.
"Nana... istirahat gih. Aku anter ke kamar kamu ya?" ajak Azeus sambil berdiri, dengan gaya sekeren mungkin.
"Eh, nggak usah Kak, aku bisa sendiri"
"Udah, nurut aja sama Kakak barunya ini," goda Raka sambil ngedipin mata ke Azeus.
"Ayo Ze, gas pol!"
Saat Azeus nuntun Aluna pelan-pelan ke arah tangga, Gathan cuma bisa natap punggung mereka. Dia tahu, rencana Papa Azeus buat jadiin mereka kakak-adik bakal dapet tantangan berat dari perasaan Azeus yang mulai nggak karuan.