Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tontonan gratis sore hari
Ruang tamu rumah bata yang biasanya kosong melompong, kini berubah layaknya toko kelontong.
Sukma mengusap hidungnya yang gatal, salah tingkah melihat tatapan melongo tiga orang di depannya.
"Ehe... Lumayan akeh, ya?" kekeh Sukma garing.
"Mbak... Mbakyu Sukma borong seisi pasar kabupaten tah?" Wati menelan ludah kasar. Matanya tak berkedip menatap tumpukan harta karun itu.
Sukma buru-buru menyusun alasan klise.
"Mumpung ke kabupaten, Wat. Sekalian nyicil kebutuhan. Udara bulan depan pasti wes mulai dingin. Sigit sama adik-adiknya ndak punya baju tebal blas. Trus masa iya mereka mau sekolah nyeker? Sepatunya wes jebol kabeh. Tenang wae, aku beli ukurannya lebih besar, ben bisa dipakai sampai tahun depan."
Sambil meracau beralasan, tangan Sukma lincah memisahkan tumpukan baju.
Tiap anak mendapat dua pasang baju ganti bersih, sepatu karet baru, buku tulis buram, dan pensil kayu bermerek.
Tiga buah tas selempang kanvas hijau lumut, khas barang loakan yang ia beli murah di pasar tumpah, ikut dijejer rapi.
Mata Gito berbinar terang. Tangan dekilnya memeluk erat sepasang sepatu karet hitam itu seolah memeluk emas batangan.
"Ibu... Beneran ini buat aku?" Suara Gito bergetar saking senangnya.
"Sepatunya mantep tenan! Si Tole anak Bulik Jamilah aja pamer terus nek punya sepatu koyok ngene!"
"Iya, itu untuk kamu." Sukma menepuk pucuk kepala anak keduanya pelan.
"Habis panen jagung selesai, kamu sama Masmu Sigit kudu masuk sekolah. Sinta biar di rumah dulu, dia penakut, nanti malah dijaili teman-temannya."
Dada Gito membusung bangga mendengar titah menjaga adiknya. "Siap, Bu! Aku kan jagoan, pasti tak lindungi Sinta!"
Sigit hanya diam membisu memandangi tumpukan miliknya.
Hatinya berkecamuk hebat. Selama ini ia mati-matian meyakinkan diri bahwa ibunya hanya sedang bersandiwara sebelum menjual mereka ke kota.
Tapi orang gila mana yang mau menghamburkan uang sebanyak ini untuk membeli baju, buku, dan sepatu bagi barang dagangannya?
Sigit tak bodoh. Ia merasa harganya sebagai bocah kampung tak akan sebanding dengan semua barang mewah ini.
Selesai membagikan jatah anak-anak, Sukma menarik sisa barang dari dasar karung.
Kain katun rayon motif bunga kecil-kecil, kain drill hijau tentara, sekantung permen susu karamel, dan gula merah cetak kualitas super.
"Wat," panggil Sukma lembut.
Ia mendorong gundukan barang itu ke arah adik iparnya.
"Aku dari biyen ndak pernah ngasih kado apa-apa waktu koen nikah sama Mas Priyambodo. Sikapku yo sering nyebelin. Koen iku wong sabar, gelem ngurusi anak-anakku pas aku lagi edan. Iki... Buat kamu, buat jabang bayi, sama buat Priyambodo."
Wati refleks melangkah mundur, menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
"Gusti... ndak, Mbak! Ndak usah! Mas Priyambodo sama aku sering dibantu Mas Trisno. Aku ikhlas nolong Sigit, Aku ndak pernah ngarep imbalan. Mbakyu simpen wae!"
"Ndak usah nolak." Nada Sukma tak menerima bantahan. Tangannya dengan cekatan membungkus barang-barang itu ke dalam buntalan kain.
"Kowe ngerti dewe tabiat mertuamu sama ipar-iparmu iku. Kalau kowe bawa pulang saiki, dijamin langsung dirampas sama Lasmi. Titip kene wae. Jahit bajunya di rumahku. Kain lembut iki pas gawe kulit bayi."
Mata Wati memerah menahan tangis. Tentu saja ia tahu. Gaji Priyambodo sebagai buruh pabrik rokok di kota sering dipotong paksa oleh Lasmi dengan alasan uang dapur.
Baju daster Wati saja sudah dipenuhi tambalan. Tapi menerima barang sebanyak ini dari kakak ipar yang biasanya super pelit sungguhan terasa seperti mimpi.
"Lagian," Sukma menyeringai tipis, memainkan perannya sebagai menantu pembangkang.
"Aku butuh kowe buat jahit baju anak-anak. Anggap wae iki upahmu. Timbang aku bayar penjahit luar, mending kowe sing ngerjain. Bener to?"
Logika praktis itu akhirnya meruntuhkan pertahanan Wati. Ia mengangguk pelan, air matanya menetes menyusuri pipi.
"Matur nuwun, Mbak Sukma... matur nuwun tenan. Lek ada kerjaan kasar nang omah iki, panggil aku wae."
"Wes, ndak usah cengeng." Sukma menepuk bahu Wati.
"Malam iki makan kene wae. Ada sisa bihun sama jamur kuping kiriman tentara."
"Ndak, Mbak. Aku kudu mulih. Ibu pasti wes ngomel nyariin aku buat masak makan malam." Wati menolak halus, tangannya mengelus perut buncitnya pelan.
Sukma tak memaksa. Ia tahu beban mental tinggal serumah dengan nenek lampir macam Lasmi.
Saat Wati pamit di ambang pintu, Sukma diam-diam menyelipkan uang tiga ribu rupiah ke saku daster wanita itu.
Jatah uang bulanan untuk Lasmi yang ia tahan sengaja ia berikan pada Wati. Biar saja si mertua tua itu uring-uringan kehilangan sumber dananya.
Sinar matahari sore mulai redup, membiaskan cahaya jingga di halaman rumah tua keluarga Priyanto.
Lasmi duduk mengipasi tubuhnya di lincah bambu teras. Seharian ini ia sengaja pulang dari ladang lebih awal.
Gosip dari mulut Mak Karman di sumur desa tadi siang membakar telinganya.
Kabarnya, Sukma pergi ke kota kabupaten dan pulang menenteng dua karung besar. Otak rakus Lasmi langsung berkesimpulan: Sutrisno pasti mengirim wesel dan paket rahasia tanpa sepengetahuannya!
Begitu siluet Wati muncul di balik pagar bambu, Lasmi langsung menegakkan punggungnya. Mata tuanya memicing tajam bak elang mengincar mangsa.
"Dari mana kowe?!" bentak Lasmi tanpa basa-basi.
"Ngeluyur wae kerjaanmu! Ndang masak sana!"
Wati menunduk kaku, jantungnya berdegup kencang. "Nggih, Bu. Iki barusan dari rumah Mbak Sukma."
Mendengar nama itu, telinga Lasmi makin berdiri.
"Halah! Ngapain kowe ke sana? Sukma kasih kowe apa? Duit? Gula? Kowe disogok ben tutup mulut soal paket kiriman Sutrisno to?!"
Tuduhan tak berdasar itu membuat Wati membelalak panik. "Mboten, Bu! Mbak Sukma ndak ngasih apa-apa! Lagian... paket itu dudu dari Mas Trisno."
"Terus dari sapa?!" Lasmi menggebrak lincah bambu dengan keras.
"Dari... dari temen-temen tentaranya Mas Trisno di kesatuan. Buat anak-anaknya. Isinya cuma bihun sama jamur kering..." suara Wati menciut, kebohongan meluncur mulus demi melindungi harta karun di rumah bata.
Dada Lasmi naik turun menahan emosi. Jadi menantu kurang ajarnya itu menyembunyikan makanan dari luar?!
"Kurang ajar! Ndak duwe adab! Barang kiriman iku lak yo hak mertua juga! Ojo masak buat mereka! Biar Sukma ngerangkak nang kene ngemis beras!" Lasmi memuntahkan amarahnya, tubuhnya gemetar saking marahnya.
Ia bangkit berdiri, menyambar selendangnya dengan kasar, lalu berjalan cepat dengan langkah-langkah yang penuh emosi menuju rumah bata.
Wati yang ketakutan langsung melesat masuk ke dapur rumah tua. Ia merogoh saku dasternya, memastikan uang tiga ribu dan segenggam permen susu yang diam-diam dijejalkan Sukma tadi masih aman bersembunyi.
Di saat yang sama, di dalam rumah bata.
Sinta dan Syaiful asyik mengusap-usap selimut baru mereka. Sukma tersenyum simpul melihatnya.
Namun, senyum itu pudar saat gedoran brutal menghantam pintu depan.
"Sukma! Buka pintune! Keluar kowe wedokan gendeng!" Suara melengking Lasmi membelah kesunyian sore.
Mata Sinta membelalak horor. Tubuh kecilnya langsung gemetar.
"Sinta, bawa Syaiful masuk kamar. Jangan keluar sebelum Ibu suruh." Perintah Sukma pelan namun tegas.
Tanpa ragu, Sukma melangkah ke arah pintu. Dibukanya daun pintu kayu itu dengan gerakan lambat, menampilkan wajah super pucat dengan mata sayu layaknya orang yang separuh nyawanya sudah melayang.
"Ya ampun... Ibu..." Suara Sukma dibuat serak, nyaris menyerupai bisikan angin. Ia berpegangan pada kusen pintu agar tak jatuh.
Beberapa tetangga yang kebetulan lewat, termasuk Mak Karman dan mertuanya, Mbah Yem, otomatis menghentikan langkah.
Tontonan gratis sore hari di desa adalah hiburan utama yang tak boleh dilewatkan.
"Ojo drama kowe, Sukma!" Lasmi berkacak pinggang, telunjuknya nyaris mencolok mata menantunya.
"Aku dengar kowe entuk paketan dari tentara! Mana jatah buat mertuamu?! Kowe sengaja nyembunyiin barang ben iso mbok jual ke pasar to?! Anak-anakmu kowe suruh kelaparan nyari iwak di kali, sementara kowe asyik nimbun barang?!"
Sukma mengedipkan matanya lemah. Sudut bibirnya bergetar memelas.
"Bu... Ya Allah..." Sukma terbatuk-batuk pelan, menyeka sudut bibirnya yang kering.
"Paketan opo to, Bu? Tadi siang kepalaku pusing banget. Aku jalan kaki pelan-pelan ke balai desa buat minta tolong Carik Tejo hubungin Koramil. Aku mau kasih kabar ke Mas Trisno kalau aku mau mati. Ndak ada paketan apa-apa..."
Mata Lasmi melotot mau copot. "Kowe pikir aku goblok?! Wati bilang kowe dapet jamur sama bihun dari konco-koncone Sutrisno!"
"Oh..." Sukma membuang napas berat.
"Bihun sisa jatah ransum tentara itu? Iya, Bu. Tadi ada bapak-bapak Koramil sing lewat nitip ke kelurahan. Aku cuma rebus pakai air garam buat ganjel perut Sigit sama Gito ben ndak pingsan kelaparan."
Mata Sukma beralih menatap kerumunan tetangga yang makin merapat. Ia sengaja mengeraskan volume suaranya sedikit.
"Habis... Beras jatahku kan belum Ibu kasih. Mbak Wati mau ngasih gaplek aja Ibu larang. Masa iya cucu-cucu Ibu dewe mau Ibu biarin mati kelaparan nang omah iki?"
Suasana mendadak hening. Mak Karman dan Mbah Yem saling berpandangan dengan raut wajah tak percaya.
Kasak-kusuk mulai terdengar menyudutkan Lasmi.
"Ya ampun... tega tenan Mbah Lasmi. Mantunya lagi sekarat, cucunya ndak dikasih mangan."
"Iyo, mesakne. Padahal itu anak-anak Sutrisno loh!"
Wajah Lasmi memerah padam menahan malu dan amarah yang meledak-ledak.
Reputasinya sebagai mertua baik hati sedang dihancurkan perlahan-lahan oleh menantu yang selama ini ia injak-injak.
"Sukma, cangkemmu iku!" Lasmi mengangkat tangannya siap menampar.
Namun, sebelum tangan keriput itu mendarat, dua siluet kecil muncul dari balik semak pagar bambu.
Sigit dan Gito berdiri kaku. Keduanya bertelanjang dada, celana pendek mereka basah kuyup dan penuh lumpur.
Di tangan Gito, terdapat seekor ikan gabus kecil yang menggelepar lemah ditali pakai akar rumput.
"Loh, Sigit, Gito?" Mak Karman berseru kaget.
"Kowe barusan dari mana, Le? Maghrib-maghrib kok basah-basahan ngene?"
Sigit menatap neneknya sekilas dengan sorot mata sedingin es, lalu menunduk dalam-dalam.
Suara bocah sembilan tahun itu dibuat sangat memelas dan sopan.
"Saking kalen, Mak Karman. Adik Syaiful nangis luwe... dadi aku sama Gito cari ikan gabus. Ben Ibu iso makan lauk... biar ibuku ndak mati."
Hening sejenak.
Lalu, tatapan menghakimi dari belasan pasang mata warga desa langsung menancap tajam menembus ulu hati Lasmi.
Mertua kejam.
Nenek tak berhati.
Stigma itu kini tertancap permanen di jidatnya.
Di ambang pintu, Sukma harus menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat agar tak meledak tertawa melihat akting tingkat dewa anak sulungnya.
Pintar sekali bocah ini memutar balikkan fakta. Ikan gabus kecil itu jelas hasil tangkapan main-main mereka siang tadi.
Tapi momentumnya sungguh terlalu sempurna.