Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Malam telah jatuh di London, menyelimuti Mayfair Mansion dalam bayang-bayang yang panjang dan mencekam. Di dalam kamar luas di sayap timur yang kini menjadi wilayah pribadinya, Gabriel Batistuta—atau sekarang, Gabriel Manafe—duduk di lantai marmer yang dingin. Ia telah mengunci pintu ganda kamarnya, memastikan tidak ada pelayan atau "kakak-kakak" barunya yang bisa masuk tanpa izin.
Lampu kamar sengaja ia matikan. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui jendela balkon, menerangi sebuah benda kecil yang ia genggam erat di tangannya. Sebuah ponsel lama yang layarnya retak di sudut kiri, benda yang seharusnya sudah hancur atau dibuang tiga tahun lalu.
Jarinya yang gemetar menyentuh layar. Sebuah foto muncul.
Itu adalah foto mereka di musim dingin empat tahun lalu, di depan bianglala London Eye. Ezzvaro mengenakan mantel hitam panjang, memeluk Gabriel dari belakang hingga tubuh kecil wanita itu nyaris tenggelam dalam dekapan hangatnya. Keduanya tertawa lepas, uap napas mereka menyatu di udara yang beku. Mata Ezzvaro dalam foto itu... mata itu memancarkan pemujaan yang murni. Tidak ada kebencian, tidak ada dinding marmer, tidak ada status saudara tiri yang memuakkan.
Gabriel mengusap wajah Ezzvaro di layar ponsel itu dengan ibu jarinya. Setetes air mata jatuh, membasahi retakan kaca.
"Kau pembohong," bisik Gabriel. Suaranya pecah, bergema di kesunyian kamar.
Ia tidak pernah menghapus foto itu. Ia tidak pernah menghapus satu pun kenangan mereka. Meskipun ia yang memicu pertengkaran hebat itu, meskipun ia yang melemparkan tuduhan-tuduhan kejam, Gabriel melakukannya karena ia ketakutan.
Saat itu, Gabriel merasa sangat kecil di hadapan Ezzvaro. Pria itu begitu sempurna—cerdas, tampan, kaya raya (meskipun dia belum tahu seberapa kaya), dan memiliki daya tarik yang membuat setiap wanita di kampus menoleh. Sementara Gabriel? Dia merasa identitasnya yang disembunyikan adalah beban. Ia merasa jika ia tidak menunjukkan taringnya, jika ia tidak mengontrol Ezzvaro dengan kecemburuan yang melampaui batas, pria itu akan menyadari bahwa ada jutaan wanita lain yang lebih 'layak' darinya.
Kepercayaan diri Gabriel saat itu adalah tameng yang rapuh. Ia menyembunyikan nama Batistuta karena ia ingin dicintai sebagai Gabriel yang biasa, namun di saat yang sama, ia takut jika Ezzvaro tahu siapa dia, hubungan mereka akan berubah menjadi transaksi bisnis—seperti yang dilakukan orang tua mereka sekarang.
"Kau pasti sudah tidur dengan banyak wanita sekarang, kan? Aku tahu itu," racau Gabriel, tatapannya mulai mengosong, dipenuhi bayangan-bayangan gelap yang ia ciptakan sendiri.
Ia teringat tatapan Ezzvaro di kantor tadi. Tatapan lapar. Tatapan pria yang sudah lama tidak mencicipi apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Saat bersamaku saja kau tidak tahan jika tidak menyentuhku sehari saja. Kau selalu ingin kulitmu menempel di kulitku. Kau selalu ingin aku berada di bawahmu, di atasmu, di mana pun..." Gabriel tertawa kecil, suara tawa yang terdengar gila dan menyakitkan. "Kau brengsek, Ezzvaro. Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau pergi begitu saja saat aku hanya butuh kau meyakinkanku sedikit lebih keras."
Gabriel mendekatkan ponsel itu ke dadanya, meringkuk seperti janin di atas lantai yang beku.
"Berapa banyak asisten yang kau tiduri di New York? Berapa banyak jalang yang kau sewa untuk melupakan namaku? Kau pikir kau bisa menghapus rasa haus itu? Kau pecundang, Ez. Kau sama terobsesinya denganku."
Rasa hancur itu kini berubah menjadi kemarahan yang mendidih. Gabriel bangkit, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya—wanita yang tampak kuat, anggun, dan tak tersentuh di depan publik. Namun di dalam, dia adalah reruntuhan.
"Kau ingin bermain sebagai kakak yang membenciku?" Gabriel berbicara pada bayangannya sendiri, matanya berkilat dengan intensitas yang menakutkan. "Silakan. Tapi aku akan memastikan setiap kali kau menatapku, kau akan teringat bagaimana rasanya saat aku memohon namamu di tengah malam. Aku akan membuatmu gila dengan status baru ini sampai kau sendiri yang akan memohon padaku untuk menghancurkan moralitas mu."
Ia melempar ponsel lamanya ke atas tempat tidur, lalu berjalan menuju laci meja rias. Ia mengambil sebuah botol parfum mawar—aroma yang sama yang ia gunakan sejak mereka pertama kali bertemu. Ia menyemprotkannya ke pergelangan tangan, leher, dan belahan dadanya dengan gerakan yang kasar.
"Hiduplah dalam neraka mawar ini, Ezzvaro. Karena jika aku tidak bisa memilikimu sebagai kekasih, aku akan memilikimu sebagai dosa terbesarmu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di lorong luar kamarnya. Langkah itu berat, berirama, dan sangat familiar. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Gabriel menahan napas. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Ia tahu siapa yang berdiri di sana. Ia bisa merasakan kehadiran pria itu bahkan menembus pintu jati setebal sepuluh sentimeter itu.
Ezzvaro.
Di luar, Ezzvaro berdiri diam, tangannya mengepal di udara, ragu apakah harus mengetuk atau pergi. Ia bisa mencium aroma mawar yang samar menyelinap dari bawah celah pintu. Aroma itu menyerangnya, membangkitkan ingatan tentang kulit hangat Gabriel di bawah jemarinya.
"Gabriel..." gumam Ezzvaro pelan, nyaris tak terdengar.
Di dalam kamar, Gabriel bersandar di balik pintu, meletakkan telapak tangannya di permukaan kayu, tepat di tempat ia membayangkan dada Ezzvaro berada.
"Masuklah, Brengsek," bisik Gabriel dalam hati. "Masuklah dan buktikan bahwa kau masih menginginkanku lebih dari kau menginginkan harga dirimu."
Namun, setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, suara langkah kaki itu menjauh. Ezzvaro pergi.
Gabriel merosot kembali ke lantai, menutup wajahnya dengan tangan. Ia menangis tanpa suara, bahunya terguncang hebat. Di rumah ini, di antara kemewahan yang mencekik, mereka berdua hanyalah dua orang asing yang saling mencintai dengan cara yang paling merusak.
Pernikahan Fank dan Renata bukan hanya penyatuan dinasti, tapi pembukaan arena gladiator bagi dua jiwa yang belum selesai dengan masa lalu mereka. Dan Gabriel tahu, dalam perang ini, tidak akan ada pemenang. Hanya akan ada abu dari hati yang terbakar habis.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰