NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya, memantul di atas atap seng pasar yang mulai terasa pengap.

Liana sedang sibuk mengibas-ngibaskan kipas bambu saat sebuah bayangan jangkung berhenti di depan lapaknya.

Ia mendongak dan hampir saja menjatuhkan kipasnya.

Di sana Adrian sedang berdiri, namun penampilannya berubah total.

Tidak ada lagi jas mahal seharga puluhan juta atau rambut yang tertata klimis.

Ia hanya mengenakan kaos oblong putih polos yang pas di tubuh atletisnya dan celana jeans biru yang sedikit pudar.

"Ayo, diborong bajunya! Murah-murah, bahannya adem, kualitas jempolan!" teriak Adrian tiba-tiba dengan suara lantang, menirukan gaya pedagang kaki lima.

Mama yang sedang duduk di pojok toko langsung tersedak air tehnya, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.

"Ya ampun, Pak Adrian! Bapak cocok sekali jadi asisten Liana!"

Liana tidak tertawa. Ia justru mengerucutkan bibirnya, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya sekaligus kesal. Pria ini benar-benar tidak punya urat malu.

"Pak Adrian, silakan pergi atau saya akan..."

"Mas, mau lihat daster yang ini. Ada ukuran besarnya tidak?" potong seorang pembeli, seorang ibu-ibu paruh baya yang membawa tas belanjaan berat.

Si ibu tampak terpesona melihat "pelayan" toko yang mendadak jadi sangat tampan.

Sebelum Liana sempat menjawab, Adrian dengan sigap mengambil daster motif batik yang ditunjuk.

Ia membukanya dengan lebar, memamerkan motifnya seolah itu adalah kain sutra dari Paris.

"Ada, Bu! Ini ukuran paling besar, pas sekali buat Ibu. Bahannya katun, dijamin tidak bikin gerah kalau dipakai masak di dapur," ucap Adrian dengan senyum manis yang mematikan.

Liana hanya bisa melongo. Ia ingin sekali mengusir pria itu, tapi melihat ibunya tertawa senang dan pembeli yang mulai berkerumun karena penasaran dengan "mas ganteng" di toko daster, ia hanya bisa mendengus kesal dan kembali melipat baju dengan gerakan yang kasar.

Kabar tentang adanya "asisten tampan" di toko daster Mama Liana menyebar lebih cepat daripada diskon akhir tahun.

Dalam waktu singkat, lorong pasar yang biasanya hanya dilewati satu-dua orang, kini sesak oleh kerumunan ibu-ibu dan gadis remaja yang mendadak merasa perlu membeli daster baru.

"Mas, yang warna merah ini ada ukuran XL-nya tidak?" tanya seorang ibu sambil mencuri pandang ke arah lengan berotot Adrian yang tersembul dari balik kaos oblongnya.

"Ada, Bu. Sebentar ya," jawab Adrian dengan senyum menawan yang membuat ibu itu tersipu malu.

Ia dengan sigap memanjat tangga kecil untuk mengambil stok di rak paling atas—sesuatu yang biasanya dilakukan Liana dengan susah payah.

Liana hanya bisa berdiri mematung di pojok toko, memegang buku nota dengan tangan gemetar karena menahan kesal.

Ia melihat bagaimana Adrian, sang produser bertangan dingin, kini beralih profesi menjadi magnet pelanggan.

"Lihat itu, Liana! Dagangan kita hampir habis dalam satu jam!" bisik Mama sambil sibuk menghitung uang di laci, wajahnya berseri-seri.

"Pak Adrian ini ternyata pintar juga jualan."

"Dia itu cuma cari perhatian, Ma!" desis Liana ketus.

"Mbak, daster yang ini dibungkus ya! Masnya yang bungkuskan boleh?" seru seorang gadis remaja sambil menyodorkan selembar uang.

Adrian tertawa kecil, melirik ke arah Liana dengan tatapan penuh kemenangan yang nakal.

"Tentu boleh. Mbak Liana, tolong ambilkan plastik kreseknya, dong. Pelanggan adalah raja, kan?"

Liana mengerucutkan bibirnya semakin dalam. Ia menyodorkan plastik dengan gerakan menghentak, namun Adrian justru menyentuh ujung jarinya saat menerima plastik itu, membuat jantung Liana berdesir aneh di tengah hiruk-pikuk pasar.

"Jangan manfaatkan situasi ini, Pak Adrian," bisik Liana tajam saat Adrian mendekat untuk mengambil barang lagi.

"Aku tidak memanfaatkan situasi, Liana. Aku hanya membuktikan bahwa aku bisa berguna di duniamu," balas Adrian pelan, suaranya berat dan tulus, membuat kemarahan Liana sedikit goyah.

Lampu-lampu neon di lorong pasar mulai dinyalakan satu per satu saat Mama duduk di bangku kayu kecil sambil menghitung tumpukan lembaran uang di atas meja kasir.

Jari-jarinya yang cekatan bergerak cepat, sesekali ia membasahi ujung jempolnya dengan penuh semangat.

"Astaga, Liana! Lihat ini!" seru Mama dengan mata berbinar-binar.

"Banyak sekali ini! Kita dapat tiga kali lipat dari biasanya. Daster motif bunga yang sudah berbulan-bulan tidak laku saja habis diborong ibu-ibu tadi."

Liana hanya menghela napas, menyandarkan tubuhnya di pintu toko yang sudah setengah tertutup.

Matanya melirik ke arah Adrian yang sedang menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan, tampak lelah namun wajahnya memancarkan kepuasan yang aneh.

"Ini semua karena asisten baru kita yang terlalu rajin, Ma," gumam Liana dengan nada menyindir, meski hatinya sedikit melunak melihat kemeja putih Adrian yang kini bercak abu-abu karena debu pasar.

"Sudah, sudah. Mama pulang duluan ya, mau masak enak buat merayakan ini," ucap Mama sambil mengemas tasnya.

Ia menoleh ke arah Adrian dengan senyum lebar. "Pak Adrian, terima kasih banyak ya. Saya duluan."

"Sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan," jawab Adrian sopan.

Begitu motor Mama menjauh dari parkiran, suasana pasar yang tadinya riuh mendadak menjadi hening dan canggung.

Liana mulai menarik pintu besi tokonya, namun gerakan tangannya tertahan saat Adrian berdiri di sampingnya.

"Liana, perutku sudah keroncongan sejak tadi siang," ujar Adrian sambil memegangi perutnya.

"Bagaimana kalau kita merayakan kesuksesan hari ini? Aku yang traktir."

Liana menaikkan sebelah alisnya. "Mau makan di restoran mewah lagi? Maaf, aku tidak punya baju yang cocok."

Adrian tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih tulus dari biasanya.

"Bukan restoran. Lihat di seberang jalan itu, ada tukang bakso yang asapnya wangi sekali. Aku mau makan di sana."

Liana tertegun. Seorang Adrian, yang biasanya makan di gedung pencakar langit, mengajak makan bakso di pinggir jalan yang berdebu?

Tanpa menunggu persetujuan, Adrian berjalan mendahului menuju gerobak bakso yang terletak di bawah pohon rindang.

Liana, dengan perasaan campur aduk, akhirnya mengikuti langkah pria itu.

Mereka duduk di bangku kayu panjang yang sempit.

Suara dentingan sendok dan mangkuk kayu menjadi latar belakang percakapan mereka.

"Bang, baksonya dua ya. Spesial, pakai urat," seru Adrian dengan gaya yang kini terlihat sangat santai.

Liana memperhatikannya dalam diam. Ia melihat Adrian yang mulai berbaur dengan kepulan asap kaldu dan bisingnya kendaraan yang lewat.

"Kenapa Bapak melakukan semua ini?" tanya Liana pelan saat mangkuk bakso diletakkan di depan mereka.

"Taktik apalagi yang sedang Bapak rencanakan agar aku mau menari?"

Adrian mengambil botol sambal, menuangkannya sedikit demi sedikit ke mangkuknya.

Ia menatap Liana dengan tatapan yang dalam, tidak ada lagi kilat ambisi yang menakutkan, hanya ada kejujuran yang membuat Liana terpaku.

"Awalnya memang begitu, Liana," jawab Adrian jujur.

"Tapi setelah seharian melihatmu bekerja, melayani orang dengan sabar, dan melihat bagaimana caramu menjaga duniamu. Aku hanya ingin tahu, seperti apa rasanya menjadi bagian dari hidupmu, meski hanya untuk sehari."

Uap panas dari mangkuk bakso membumbung di antara mereka, menciptakan sekat tipis yang membuat suasana terasa lebih pribadi.

Liana mengaduk kuahnya pelan, matanya menatap butiran lemak yang mengapung, seolah sedang melihat rekaman masa lalu di sana.

"Dulu, menari adalah segalanya bagiku," ucap Liana lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin angkot yang lewat.

"Aku berlatih siang dan malam hanya untuk satu tujuan: menunjukkan tarianku kepada Papa di panggung besarnya. Aku ingin dia bangga melihat putrinya menjadi penari utama."

Liana terhenti sejenak, tenggorokannya terasa tercekat.

"Tapi takdir berkata lain. Tepat di malam pertunjukan perdana itu, Papa pergi untuk selamanya karena kecelakaan. Sejak saat itu, panggung terasa hampa. Tepuk tangan penonton hanya terdengar seperti kebisingan yang menyakitkan. Itulah alasan aku berhenti. Aku memutuskan untuk menari di sini, di tengah pasar, hanya untuk diriku sendiri,.untuk menyembuhkan luka yang tidak pernah sembuh."

Adrian terdiam. Sendoknya tergantung di udara. Ia tidak menyangka ada duka sedalam itu di balik kelincahan gerak Liana.

Ia menatap Liana dengan tatapan yang kini benar-benar melunak, jauh dari ambisinya sebagai produser.

"Liana..." Adrian menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu yang keras.

"Aku selalu berpikir bahwa kesuksesan adalah tentang angka, rating, dan tepuk tangan dunia. Sebagai produser, aku ditekan untuk selalu menghasilkan mahakarya. Jika film ini gagal, namaku tamat. Aku dikejar investor, ego, dan persaingan yang mencekik setiap harinya."

Adrian menatap mangkuk baksonya dengan wajah melas, sebuah ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan pada Arum maupun rekan bisnisnya.

"Tapi melihat dan mendengar ceritamu. Aku merasa malu. Aku sudah terlalu lama memaksa orang lain masuk ke dalam skenarioku."

Adrian menoleh ke arah Liana, matanya tampak berkaca-kaca karena rasa bersalah yang bercampur dengan harapan terakhirnya.

"Aku tidak akan memaksamu lagi, Liana. Aku sungguh-sungguh. Aku siap jika harus keluar dari pekerjaan ini dan kehilangan segalanya karena proyek ini batal. Aku lebih baik kehilangan karierku daripada harus merusak kesucian tarianmu."

Adrian menunduk, bahunya tampak merosot lemas.

Ia sengaja menunjukkan kerapuhannya, berharap ketulusan—atau mungkin rasa iba Liana—bisa menjadi kunci terakhir yang membuka pintu hati wanita itu untuk kembali ke panggung demi membantunya.

Liana terpaku. Ia melihat seorang pria yang biasanya memerintah dunia hiburan, kini tampak begitu kecil di hadapan semangkuk bakso pinggir jalan.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!