Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beberapa Hari Sebelum Pernikahan
Beberapa hari sebelum terjadi pernikahan.
Pagi di Desa Cempaka, mentari baru mulai menyelinap dari balik bukit, menyebarkan sinar emasnya ke atas hamparan sawah yang masih berselimut embun. Udara pagi sangat segar, bercampur aroma daun segar dan tanah lembab yang baru disiram hujan kecil semalam.
Di depan rumah Pak Karim, ayam jantan mulai berkokok dengan suara yang merdu namun jelas, menyambut pagi ini. Tidak lama kemudian, suara gemericik dari gentong air yang dituang ke ember mulai terdengar, itu Bu Ella yang sedang bersiap memasak bubur untuk keluarga. Anak mereka--Rara sudah bangun. Ia terlihat sibuk menyibak bagian beberapa koran yang ia kumpulkan dari beberapa tetangga. Ia duduk pada kasurnya yang terbuat dari kapuk berbungkus kain putih, tidak ada rasa empuk disana, dilengkapi dengan dinding kamar yang hanya terbuat dari ayaman bambu yang mulai lapuk.
Bu Ella mengantar Pak Karim sampai ke depan pintu. Lelaki paruh baya yang merupakan kepala keluarga itu sudah siap untuk berangkat ke sawah--mata pencaharian kebanyakan penduduk desa. Tidak lupa, sebelum suaminya berangkat, Bu Ella memberikan sebuah rantang berisi bubur sebagai bekal Pak Karim selama bekerja.
"Hati-hati ya, Pak, kerjanya." Ucap Bu Ella lembut penuh perhatian.
"Iya, Bu. Ibu juga, ya." Balas Pak Karim.
Setelah Pak Karim berangkat, Bu Ella masuk ke kamar Rara. Putrinya itu masih terlihat sangat sibuk, matanya fokus melihat ke tulisan dan sesekali melingkari bagian-bagian pada koran yang terbentang didepannya.
"Sedang apa, Nak?" Tanya Bu Ella.
"Cari lowongan kerja, Bu."
"Kenapa terburu-buru? Kamu baru saja lulus sekolah, loh."
"Kalau gak mulai sekarang, kapan lagi, Bu? Aku kasihan sama Bapak dan Ibu capek kerja ke sawah ke ladang."
"Kalau sekedar untuk makan kita masih cukup, Nak. Hal itu tidak perlu kamu pikirkan. Itu sudah menjadi tanggung jawab Bapakmu."
Rara mendengus. "Rara sudah besar, Bu. Ini saatnya Rara berbakti."
Bu Ella menggelengkan kepala. Ia tau, anak satu-satunya ini lumayan keras kepala. Apalagi rencana bekerja ini sudah jauh-jauh hari Rara ungkapkan. Bukan hanya sekedar angin lalu, ia sangat bersungguh-sungguh.
"Kalau seandainya aku ke kota apa Bapak akan mengizinkan ya, Bu?" Tanya Rara pada Ibunya dengan tatapan tidak yakin.
"Jangankan Bapakmu, Ibu pun tidak akan mengizinkan. Hidup di kota tidak lah mudah,"
Rara mendengus, "Kalau terus berada di desa, kapan aku akan maju?"
"Ibu tau perasaan kamu, Nak. Cuma mau bagaimana lagi?"
"Aku gak bisa kalau harus terjebak dalam kehidupan yang seperti ini, Bu. Gak bisa hanya pasrah dan menerima tanpa ada pergerakan. Aku sangat ingin membuat kehidupan Bapak dan Ibu layak." Ucap Rara meyakinkan. "Lihat rumah ini? Aku sangat ingin memberi tempat tinggal yang bagus untuk Bapak dan juga Ibu."
Bu Ella mengelus pundak Rara. "Kita tunggu nanti bagaimana tanggapan Bapakmu. Sekarang kamu sarapan dulu. Sebentar lagi Ibu juga mau berangkat ke ladang."
"Iya, Bu." Rara melembutkan nada bicara yang sebelumnya agak meninggi. Ia menatap Ibunya dengan perasaan bersalah.
Bu Ella beranjak dari kamar Rara dan gadis itu membuntuti Ibunya menuju dapur.
_
Semangkok bubur putih sederhana sudah siap di atas meja kayu yang sudah usang, bahkan dibeberapa bagian sudah terkelupas dimakan rayap. Begitu juga kursi yang sedang Rara duduki, hanya menunggu waktu kursi kayu itu akan segera ambruk. Rara menatap atap dapur yang terdapat banyak lobang disana sini, serta tungku dari batu yang selalu Ibunya gunakan untuk memasak.
Bu Ella memasukan bubur ke dalam rantang, untuk bekal ia ke ladang nanti. Rara memperhatikan dengan seksama. Semakin terasa sakit hatinya melihat kedua orang tuanya yang sudah mulai tua harus tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bubur yang ia makan rasanya tertahan di tenggorokan.
"Aku boleh ikut, Bu?" Tanya Rara dengan wajah memelas.
Bu Ella tersenyum, kemudian mengangguk.
"Habiskan dulu sarapanmu. Baru kita berangkat. Jangan terlambat, karena ini hari pertama Ibu bekerja di ladang ini."
___
Di lereng bukit yang landai, terbentang ladang sayur yang penuh warna. Daun bayam hijau pekat berjajar rapi, kubis putih menggembung seperti bunga besar, dan cabai merah menyala seperti lilin di antara dedaunan.
Angin membawa aroma segar dari sayuran dan tanah subur. Beberapa burung pipit hinggap di pagar bambu, mencari biji-bijian yang jatuh. Di kejauhan, suara aliran sungai kecil yang menyiram ladang terdengar lembut, menjadikan pemandangan ini semakin damai dan penuh kehidupan.
Embun masih menetes di setiap helai daun, membuatnya mengkilap di bawah sinar matahari pagi. Pak Bejo--pemilik ladang sayur itu. Beliau baru saja tiba, serempak dengan Rara dan juga Ibunya.
"Pagi, Juragan." Ucap Bu Ella sedikit menunduk saat melewati Pak Bejo. Pria bertubuh gempal dengan kumis tebal dan tatapan tajam itu hanya diam saja tanpa menjawab sepatah katapun. Sedangkan Rara berjalan santai melewati Pak Bejo yang menatapnya sangat 'aneh'.
Rara lebih mendekat ke arah Bu Ella dan melingkarkan tangannya pada lengan Ibunya. Ia sesekali melirik Pak Bejo yang masih saja menatap tajam ke arahnya.
"Serem amat muka itu orang." Bisik Rara pada Ibunya.
"Sssttt!" Bu Ella meletakkan jari telunjuk di bibirnya dengan mata sedikit melotot. "Itu Juragan Bejo, pemilik ladang ini."
"Oalah... tapi tatapannya serem. Kayak orang laper yang ngeliatin lauk."
"Beliau baru lihat kamu. Makanya seperti itu." Bu Ella menenangkan putrinya.
Langkah kaki Bu Ella dan Rara berjalan menuju Pondokan kecil tempat para pekerja menaruh barang bawaan dan tempat beristirahat. Ternyata disana sudah ada beberapa pekerja yang juga baru datang. Mereka menyambut bu Ella dan Rara ramah. Di pondok itu memang khusus untuk para pekerja wanita, sedangkan pekerja laki-laki berada di pondok lain lagi tidak jauh dari sana.
"Tumben ikut, Ra?" Tanya bu Ijah pada Rara.
"Iya, Bi. Pengen bantu Ibu. Mumpung udah lulus sekolah."
"Anak baik. Jarang anak gadis mau ikut turun ke ladang. Pada takut kotor." Puji Bu Ijah membuat Rara tersipu.
Setelah bersiap, semua pekerja mulai turun ke ladang membawa keranjang masing-masing. Keranjang yang terbuat dari ayaman bambu, khusus di persiapkan oleh pemilik ladang. Hari ini Pak Bejo menugaskan mereka untuk memanen bayam, kol dan juga cabe yang memang sudah siap untuk di panen.
Rara mengikuti kemana langkah Ibunya. Sedangkan dari kejauhan, Pak Bejo masih saja memperhatikan sembari mengelus kumisnya yang panjang dan sesekali menghembus asap rokok yang mengepul keluar dari cangklong kayu yang menempel di bibirnya.