NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Pingsan di Balik Nisan

Langit sore itu tampak mendung, seolah turut merasakan beban yang menghimpit pundak Hana. Desakan Siska yang datang bertubi-tubi setiap hari layaknya teror, telah menguras habis energi dan kewarasan Hana.

Dengan langkah gontai dan mata yang bengkak, Hana menyeret langkahnya menuju makam Bu Inggit.

Hana jatuh terduduk di atas tanah yang masih basah. Isaknya pecah seketika, mengisi kesunyian pemakaman yang mencekam.

"Mengapa, Bu? Mengapa Ibu lakukan ini pada Hana?" rintihnya sambil membelai nisan yang dingin itu.

Tubuhnya luruh, bersimpuh di samping gundukan tanah yang masih dipenuhi sisa-sisa bunga mawar.

"Kenapa harus ada wasiat itu? Kenapa Ibu harus menarik Hana ke dalam intrik keluarga Ibu yang Hana tidak paham?" Hana memejamkan mata, membiarkan air matanya membasahi tanah.

"Tante Siska menyalahkan Hana karena Ibu meninggal... dia menuduh Hana pelakor. Tapi begitu dia tahu harta Ibu adalah kuncinya, dia berbalik memaksa Hana menikah demi uang itu. Kenapa Ibu setega ini pada Hana?"

Hana memeluk nisan Inggit dengan erat, mencari jawaban yang tak akan pernah terdengar. Dunianya terasa gelap, kepalanya berdenyut hebat, dan napasnya kian sesak.

Tekanan mental yang ia simpan sendirian selama beberapa hari terakhir akhirnya mencapai batasnya. Pandangan Hana kabur, suaranya menghilang, dan kesadarannya pun lenyap di atas makam wanita yang sangat ia hormati itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat gerbang makam. Arlan melangkah keluar membawa buket bunga segar, rutinitas kecilnya untuk melepas rindu pada almarhumah istrinya. Namun, langkah Arlan terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat bayangan seseorang yang tergeletak tak berdaya di samping makam Inggit.

Bunga di tangannya jatuh berserakan saat ia menyadari siapa sosok itu.

"Hana!" teriak Arlan panik.

Arlan berlari menghampiri. Ia mendapati mahasiswinya dalam kondisi yang sangat kacau. Hijabnya berantakan terkena tanah, bibirnya pucat pasi, dan wajahnya masih menyisakan bekas air mata yang mengering.

"Ya Allah, Hana... sudah berapa lama kamu di sini?"

Tanpa pikir panjang, Arlan segera membopong tubuh ringan Hana ke dalam mobilnya. Ia menidurkan gadis itu di kursi belakang dengan hati-hati, memastikan kepalanya tertopang dengan baik. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan Arlan mencengkeram kemudi dengan kencang. Ia merasa gagal. Ia merasa bersalah karena membiarkan gadis semuda Hana menjadi tameng di tengah keserakahan keluarga Inggit.

Sesampainya di rumah sakit, Hana segera dilarikan ke ruang IGD. Arlan menunggu dengan gelisah di luar ruangan, mondar-mandir sembari terus bergumam dalam doa.

Tak lama, dokter keluar dan menghampirinya.

"Keluarga Hana Syafina?"

"Saya dosen dan... kerabatnya, Dok. Bagaimana kondisinya?" tanya Arlan cepat.

"Secara fisik tidak ada luka serius, Pak. Namun, pasien mengalami kelelahan ekstrem dan stres berat. Tubuhnya 'mematikan diri' sejenak karena tidak sanggup menanggung beban pikiran yang terlalu besar. Biarkan dia istirahat sampai sadar kembali," jelas dokter tersebut.

Arlan menghela napas lega, meski hatinya tetap terasa perih. Ia masuk ke dalam ruangan, melihat Hana yang kini terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Arlan segera mengambil ponselnya, dengan jemari yang masih gemetar ia menghubungi orang tua Hana.

Sambil menunggu mereka datang, Arlan duduk di samping ranjang Hana. Ia menatap wajah mahasiswinya itu dengan tatapan yang kini lebih dari sekadar tanggung jawab. Ada rasa ingin melindungi yang membuncah di dadanya.

"Maafkan saya, Hana... Maafkan saya karena tidak bisa menjagamu dari keluarganya," bisik Arlan lirih di tengah kesunyian ruang perawatan.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!