NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IDENTITAS

​Sepasang mata Arya melirik ke bawah, menatap Yasmin yang masih meringkuk gemetar di lantai mobilnya. Gadis itu tampak begitu rapuh, seperti seekor burung kecil yang sayapnya baru saja patah.

Lalu, Arya menghela napas pendek, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tenang, kontras dengan kekacauan yang dibawa Yasmin ke dalam mobilnya. ​"Kamu sudah aman," ucapnya datar. Suaranya bariton dan tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, namun ada ketegasan yang menenangkan di sana. "Duduklah di kursi penumpang. Lantai mobil saya bukan tempat yang nyaman untuk menangis."

​Yasmin mendongak perlahan. Matanya yang sembap dan kemerahan menatap Arya dengan tatapan berbinar ketakutan, mencari setitik kepastian di wajah pria asing itu.

​"K-kamu yakin? Dia... dia tidak akan mengejar lagi?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.

​Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil—sebuah gestur singkat yang entah mengapa terasa seperti janji yang mutlak.

​Tepat di sebuah persimpangan yang mulai lengang, Arya tiba-tiba membanting setir ke arah kanan. Gerakannya begitu tangkas dan ahli. Ban mobil sedan hitam itu lalu berdecit halus saat melibas tikungan, membelah angin sore yang semakin jingga.

​Dalam hitungan detik, mesin mobil itu menderu lebih keras. Kendaraan mewah tersebut melesat kilat, meninggalkan hiruk pikuk jalanan protokol dan lampu merah yang tadi menjadi saksi bisu pelarian seorang gadis malang.

​Sedetik berikutnya, Yasmin akhirnya memberanikan diri untuk merangkak naik dan duduk di kursi penumpang dengan kaku. Ia menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke jendela mobil yang dingin. Di bawah pencahayaan lampu jalan yang mulai berpendar kuning. Disana, ia bisa melihat profil samping wajah Arya yang tegas dan rahang yang mengeras.

​Pria ini adalah orang asing, tapi entah kenapa, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi kopi di dalam mobil ini terasa lebih aman.

​"Siapa namamu?" tanya Arya tiba-tiba tanpa menoleh, matanya tetap lurus menatap jalanan yang membentang di depannya.

​Yasmin tersentak, jemarinya yang masih berlumuran darah kering saling bertautan erat. "Ya-Yasmin," jawabnya lirih. "Na-namaku Yasmin."

Arya mengangguk pelan, seolah sedang mencerna nama yang baru saja diucapkan gadis itu. Kemudian, mobilnya perlahan melambat, meluncur halus ke bahu jalan yang lebih gelap dan jauh dari sorot lampu jalanan utama. Bunyi mesin yang tadi menderu kini berubah menjadi dengung rendah yang menenangkan.

Arya memutar setir dengan tenang hingga ban mobilnya berhenti sempurna di depan sebuah taman kota yang sunyi. Ia lalu mematikan mesin, seakan membiarkan keheningan taman yang pekat merayap masuk ke dalam kabin.

"Ke-kenapa berhenti, Mas?" protes Yasmin.

Di balik kaca jendela yang mulai berembun, ia menatap keluar dengan gerakan liar. Terbentang pemandangan danau yang tenang dengan pepohonan rindang yang dahan-dahannya menjuntai rendah, hampir menyentuh permukaan air yang berkilau tertimpa cahaya lampu taman yang temaram.

​"Turunlah," perintah Arya, kali ini suaranya tidak sedingin tadi. "Saya punya kotak P3K. Luka itu harus segera dibersihkan sebelum infeksi."

"Tap—"

Tanpa menunggu jawaban atau perdebatan lebih lanjut, Arya melepas sabuk pengamannya, keluar dari pintu kemudi, dan melangkah mantap melewati moncong kap mobil yang masih terasa hangat. ​Langkah kakinya yang berat namun teratur terdengar di atas aspal jalan setapak yang sunyi. Begitu sampai di sisi penumpang, ia meraih gagang pintu dan membukakannya untuk Yasmin.​"Keluarlah," perintahnya singkat, namun nadanya kini jauh lebih lunak, hampir seperti sebuah ajakan pelindung.

​Yasmin mendongak, menatap sosok tinggi Arya yang berdiri tegak di ambang pintu mobil yang terbuka. Sinar lampu taman yang remang menembus celah-celah pepohonan besar yang dahannya menjuntai rendah, menciptakan pola bayangan yang rumit di wajah pria itu. "Ka-kamu yakin disini aman?"

Lagi, Arya tak menjawab. Ia lalu meraih ke dalam laci dasbor, menarik keluar sebuah kotak P3K berwarna putih yang isinya tertata rapi. Di saat itu juga, tanpa permisi dan tanpa menunggu persetujuan, ia meraih pergelangan tangan Yasmin yang masih gemetar hebat.

​Sentuhan tangan Arya terasa dingin namun kokoh, sebuah kontras yang tajam dengan kulit Yasmin yang panas karena demam ketakutan tadi. Ia menuntun gadis itu keluar dari mobil, membimbing langkahnya yang masih tertatih-tatih menuju sebuah bangku taman kayu yang terletak tepat di bawah naungan pohon rindang yang dahannya menjuntai rendah.

​Yasmin mulai duduk dengan kaku, matanya liar celingak-celinguk menatap ke setiap sudut taman yang remang. Suasananya benar-benar sepi; hanya ada suara gesekan daun yang tertiup angin dan riak kecil air danau di kejauhan. Keheningan itu justru membuatnya merasa terisolasi, seolah dunia luar telah berhenti berputar.

​Kemudian, tanpa ragu sedikit pun, Arya bersimpuh di atas rumput yang basah oleh embun, tepat di hadapan Yasmin. Pria dengan kemeja rapi itu tidak peduli jika lutut celananya akan kotor atau rusak. Ia pun mulai membuka kotak obat, mengeluarkan botol antiseptik dan kapas dengan gerakan yang sangat terlatih.

​"Tahan sebentar. Ini akan sedikit perih," ucap Arya rendah, suaranya hampir menyatu dengan deru angin sore hangat yang semakin memerah.

​Saat kapas yang dingin menyentuh luka lecet di lutut Yasmin, gadis itu tersentak dan tanpa sadar mencengkeram pinggiran bangku taman. "Au..." ringisnya lirih, air matanya kembali merebak, namun kali ini bukan hanya karena rasa sakit fisik.

​Pria berkulit putih itu tetap fokus. Ia membersihkan sisa-sisa debu aspal dan darah kering dengan ketelatenan yang tak terduga. Lalu, meniup luka itu pelan, sebuah gestur sederhana yang membuat jantung Yasmin berdegup dengan irama yang berbeda.

​"Kamu..." Arya akhirnya memecah keheningan tanpa mendongak, jemarinya kini sibuk menempelkan kasa steril pada luka Yasmin. "Apa yang mereka lakukan padamu sampai kamu nekad mempertaruhkan nyawa meloncat ke mobil orang asing?"

​Yasmin terdiam, menatap puncak kepala Arya. Cahaya lampu taman yang kekuningan memantul di rambut pria itu, menciptakan siluet yang menenangkan. Di tempat yang seharusnya menjadi biaya sehari-harinya, Yasmin justru menemukan pengkhianatan yang terlalu pahit untuk diceritakan.

​"Mereka... mereka," Tergagap Yasmin. Suaranya bergetar, membayangkan kembali apa yang terjadi di ruangan Pak Tomi tadi.

​Arya berhenti sejenak dari aktivitasnya membalut luka. Ia mendongak, perlahan melepaskan fokusnya dari perban di lutut Yasmin. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di tengah kemacetan tadi, tatapan Arya melunak. Ketegasan yang tadi membeku di wajahnya kini mencair, digantikan oleh sorot mata yang teduh dan menenangkan.

​"Lanjutkan," ucap Arya lembut. Ia tidak mendesak, namun suaranya memberikan kekuatan yang tidak Yasmin miliki saat ini.

​"Aku..." Yasmin menjeda, suaranya tercekat oleh isak yang kembali menyerang. "... aku baru dua minggu bekerja di sana. Restoran itu terlihat begitu normal dari luar. Tapi, saat aku tanda tangan kontrak, mereka memberiku uang lima juta rupiah. Aku... aku begitu bodoh. Aku kira itu bonus atau gaji pertamaku yang dibayar di muka karena mereka kasihan melihat keadaanku."

​Yasmin meremas ujung bajunya yang kotor. Air matanya jatuh tepat di atas punggung tangan Arya yang masih memegang kapas.

​"Tapi ternyata uang itu bukan gaji. Itu harga. Harga untuk diriku," bisik Yasmin dengan nada hancur. "Ternyata restoran itu hanya kedok. Di lantai bawah, ada kamar-kamar tersembunyi. Mereka bilang aku harus melayani pria di ranjang malam ini sebagai 'tugas tambahan'. Dan, aku menolak, aku mencoba lari, tapi mereka... mereka tidak melepaskanku begitu saja."

Arya terdiam membeku. Ia secara tidak sadar menelan salivanya, tenggorokannya mendadak terasa kering dan panas. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Informasi itu menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.

Dunia gelap yang diceritakan Yasmin terasa begitu kontras dengan ketenangan taman tempat mereka duduk sekarang. Arya menatap Yasmin, bukan lagi dengan tatapan kasihan, melainkan dengan amarah yang tertahan di balik keteduhan matanya.

"Jadi, dua pria yang mengejarmu tadi..." suara Arya rendah, hampir seperti geraman yang tertahan. "... mereka yang mencoba memaksamu?"

​Yasmin mengangguk lemah, bahunya naik turun menahan isak yang tersisa. Hawa dingin dari ruangan Pak Tomi seolah masih merayap di kulitnya, membuatnya merasa kotor dan terhina. "Ma-maaf, sudah merepotkanmu, Ma-Mas..."

​"Arya," sela pria itu pendek, memotong ucapan Yasmin dengan nada yang tidak membantah namun juga tidak kasar.

​Ia kembali fokus pada tugasnya. Dengan ketelatenan seorang profesional, ia menyelesaikan balutan di lutut Yasmin, memastikan kain kasa itu menempel sempurna tanpa menyakiti kulit yang lecet.

Setelah yakin semuanya bersih, Arya menutup kotak P3K itu dengan bunyi klik yang solid, menandakan tugas medis kecilnya telah usai.

​Di bawah temaram lampu taman, Yasmin secara tidak sengaja menoleh ke arah penutup kotak P3K yang diletakkan Arya di sampingnya. Di sana, tertempel sebuah stiker identitas resmi yang sedikit mengelupas di bagian sudutnya. Mata Yasmin memicing, berusaha membaca tulisan yang tertera di sana.

​Ada sebuah foto kecil yang memperlihatkan pria di hadapannya ini mengenakan jubah putih bersih dengan stetoskop melingkar di leher. Di bawah foto itu, tercetak nama lengkap dengan gelar yang mentereng—dr. Arya Zayn Prasetya.

​Yasmin tertegun. Pria yang baru saja ia "bajak" mobilnya di tengah lampu merah, pria yang mengemudi dengan kecepatan gila untuk menyelamatkannya, ternyata adalah seorang dokter. Pantas saja gerakannya saat mengobati lukanya tadi terasa begitu sigap dan terukur.

"Aku antar kamu pulang." Kata Arya menarik mata gadis itu lagi. Di saat itu juga, ia kemudian berdiri tegak memunggungi pohon besar yang buahnya menjuntai rendah itu. Cahaya mentari yang semakin redup menyinari bahunya yang lebar, menciptakan siluet seorang pelindung yang nyata. "Ayo."

"Ma-Mas." Yasmin refleks meraih lengan kokoh Arya, sesaat pria itu hendak kembali melangkah menuju mobilnya. "A-Aku gak mau pulang."

Arya mengernyit.

"To-tolong, Mas. Bawa aku kemanapun, asal jangan ajak aku kembali kesana. Mereka pasti mencariku." Getir Yasmin. "Mereka pasti punya seribu mata untuk menemukanku."

Arya terdiam sejenak, membiarkan desir angin sore di antara dahan pohon yang menjuntai rendah mengisi kekosongan di antara mereka. "Kamu punya rumah, Yasmin," sahutnya rendah, suaranya lembut dan menenangkan. "Ayah dan ibumu pasti sedang menunggu kepulanganmu dengan cemas."

​Sebuah senyum pahit terukir di bibir Yasmin yang pucat. Ia menggeleng pelan, seolah sedang menertawakan nasibnya sendiri.

​"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Mas," bisiknya, nyaris tak terdengar di jangkauan rungu. "Duniaku sudah lama sepi. Ayah dan Ibuku sudah lama berpulang, Aku juga tidak punya kakak, tidak punya adik. Dan, rumahku... hanyalah sebuah kotak sewa yang dingin, yang mungkin besok kuncinya sudah diganti karena aku tak mampu membayar."

​Mendengar pengakuan itu, Arya membisu. Ia menatap Yasmin dengan sorot mata yang perlahan meluruh—tembok es di wajah sang dokter itu retak seketika.

Di bawah temaram lampu taman yang berpendar kuning keemasan, ia melihat bukan lagi seorang gadis yang nekat membajak mobilnya, melainkan sebatang kara yang sedang menggigil di tengah badai kehidupan.

​Dunia seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Daun-daun yang bergoyang di atas kepala mereka seakan ikut berduka, menciptakan bayangan panjang yang melindungi sosok Yasmin yang kini nampak amat rapuh.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!