Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBAT
Lampu di atas pintu ICU yang semula menyala merah kini telah padam, menyisakan kesunyian yang mencekam di koridor rumah sakit. Arya melangkah keluar dengan bahu yang tampak kaku. Napasnya masih menderu di balik masker medis yang terasa kian menyesakkan.
Di depan ruang tunggu, sepasang suami istri langsung berdiri saat melihat presensi Arya. Wajah mereka pucat, mata mereka terpaku pada saku jubah putih Arya seolah mencari secercah harapan di sana.
"Dokter..." Kata sang istri mendekat. "Bagaimana kondisi ayah saya?"
Arya berhenti tepat di hadapan mereka. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah sang ayah dengan tatapan yang dalam dan penuh simpati.
"Saya harus menyampaikan ini dengan berat hati." Suara Arya rendah, namun stabil. "Kami sudah melakukan segala upaya medis yang kami bisa—resusitasi, obat-obatan penunjang, hingga tindakan darurat terakhir di dalam tadi."
Arya menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan mengambil alih ruang. "Namun, kondisi pasien terus menurun dengan sangat cepat. Tubuhnya tidak lagi memberikan respons terhadap tindakan kami. Dengan sangat menyesal, saya harus menyampaikan bahwa pasien tidak dapat kami selamatkan."
Dunia seolah runtuh seketika di hadapannya. Tangis pecah membelah kesunyian koridor. Arya menundukkan kepala sejenak, memberikan penghormatan terakhir bagi kehilangan yang tak terlukiskan.
Seorang perawat lalu menghampirinya dengan langkah ragu. "Dokter Arya, berkas kematiannya sudah saya siapkan di meja."
"Terima kasih. Beritahu bagian administrasi untuk membantu keluarga ini dengan segera," jawab Arya tanpa menoleh.
"Baik, Dok," sahut perawat itu pelan.
Mungkin ini adalah hal biasa bagi profesinya—sebuah rutinitas pahit yang harus ia telan hampir setiap minggu—namun bagi Arya, kematian tidak pernah benar-benar menjadi biasa. Setiap nyawa yang lepas dari tangannya selalu meninggalkan goresan baru yang tak terlihat di balik jubahnya.
Ia lalu melangkah menjauh, mengabaikan gema isak tangis yang seolah mengejarnya di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin. Langkahnya cepat, seakan ingin segera membasuh sisa-sisa aroma antiseptik dan keputusasaan yang melekat erat pada tubuhnya.
Begitu Arya tiba di ruangan pribadinya, pintu itu tertutup rapat, ia segera menyentakkan masker bedah dari wajahnya dan melepas pelindung kepala dengan gerakan kasar.
Ia lalu melemparkan perlengkapan medis itu ke tempat sampah, dan menyandarkan kedua tangannya di atas meja kerja yang dingin. Di ruangan yang sunyi ini, barulah ia membiarkan sesak di dadanya perlahan memudar, meski bayang-bayang kegagalan di meja operasi tadi masih tertinggal jelas di pelupuk matanya.
Mungkin bagi dunia medis, kematian adalah statistik yang harus dicatat, namun bagi Arya, setiap detak jantung yang berhenti adalah gema kegagalan yang memukul batinnya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menggelayut di dadanya.
Di saat yang sama, pikirannya mendadak terlempar pada Yasmin. Ia membayangkan betapa hancurnya perasaan gadis itu jika berada di posisi keluarga pasien tadi. Yasmin mungkin pernah melewati badai yang sama—kehilangan orang yang paling dicintainya—dan Arya tahu persis betapa dalam luka yang ditinggalkan oleh perpisahan paksa semacam itu.
"Yasmin," gumamnya pelan.
Nama itu seperti pengingat yang menyentak kesadarannya. Ia baru teringat bahwa sejak tadi ia bersama wanita itu dan memintanya untuk menunggu di ruangan pribadinya.
Arya segera memutar tubuhnya. Matanya yang lelah seketika melunak saat terpaku pada sofa panjang di sudut ruangan. Di sana, Yasmin tampak tertidur pulas dengan posisi yang sedikit meringkuk, seolah mencari perlindungan dalam mimpinya.
Sehelai rambut terjatuh menutupi sebagian wajah wanita itu, bergerak pelan mengikuti irama napasnya yang teratur.
Perlahan, kehadiran Yasmin di sana seolah menjadi oase di tengah gurun kekalutan yang baru saja Arya lalui di ruang ICU. Rasa dingin yang tadi merambat di jemari Arya perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan asing yang menjalar di dadanya.
Ia lalu melangkah mendekat tanpa suara, nyaris tidak berani bernapas karena takut memecah ketenangan yang menyelimuti gadis itu.
Disana, ia berdiri mematung di sisi sofa, menatap wajah polos Yasmin yang tampak begitu rapuh sekaligus menenangkan. Di dalam ruangan yang sunyi ini, Arya menyadari bahwa setelah bergelut dengan maut seharian, melihat Yasmin yang bernapas dengan tenang adalah satu-satunya obat yang ia butuhkan.
Tidak.
Batin Arya menggeleng seketika, seolah baru saja tersengat aliran listrik yang memaksanya kembali ke realita. Ia membuang muka, memutuskan kontak mata dengan wajah tenang Yasmin yang masih terlelap."Apa yang tengah aku pikirkan..." gumamnya sangat pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan sunyi ruangan.
Arya memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ia adalah seorang dokter yang terbiasa berpikir logis, terbiasa mengandalkan data dan fakta di atas meja operasi. Namun saat ini, ada sesuatu yang tidak bisa ia klasifikasikan dalam istilah medis manapun. Ada debaran yang tidak sinkron dengan keletihan fisiknya.
Perasaan apa ini?
Ia mencoba merasionalkan semuanya. Mungkin ini hanya efek samping dari adrenalin yang mendadak anjlok setelah menghadapi kematian di ICU. Mungkin ini hanya rasa simpati karena ia bisa menebak luka masa lalu Yasmin. Tapi, mengapa rasa lega yang ia rasakan saat melihat napas teratur gadis itu terasa begitu personal? Seolah-olah separuh bebannya terangkat hanya dengan memastikan bahwa di dunia yang penuh kehilangan ini, Yasmin masih ada di sana, bernapas dengan tenang.
"Uh."
Lenguh halus yang keluar dari bibir Yasmin seketika memecah keheningan, membuat Arya tersentak dari lamunannya. Ia refleks menegakkan tubuh, seolah tertangkap basah tengah melakukan sesuatu yang sangat rahasia.
Yasmin mengerjap, kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Cahaya lampu meja yang remang membuatnya harus menyesuaikan diri sejenak. Namun, begitu menangkap siluet tinggi Arya yang duduk tak jauh darinya, Yasmin langsung terduduk tegak dengan wajah terkejut.
"Ma—Mas Arya? Sudah kembali?" suaranya serak khas orang baru bangun tidur, tangannya sibuk merapikan anak rambut yang berantakan.
Arya berusaha menguasai diri. Ia berdeham kecil, mencoba menyingkirkan kecanggungan yang mendadak menyergap. "Kamu tidur?" tanyanya, sebuah pertanyaan bodoh yang sebenarnya hanya untuk menutupi kegugupannya sendiri.
Yasmin pun menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak hati. "Maaf, Mas. Aku ketiduran tadi nunggu kamu... beneran nggak sengaja," ucapnya dengan nada penuh sesal. Ia melirik jam di dinding dan menyadari sudah cukup lama ia terbuai mimpi di sofa milik pria itu.
Arya menatapnya lurus, sisa-sisa ketegangan dari ruang ICU perlahan luruh saat melihat rona merah di pipi Yasmin karena malu.
"Nggak apa-apa. Kamu pasti capek," jawab Arya dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Ia lalu beranjak, lalu melangkah menuju meja kerjanya, membelakangi Yasmin agar gadis itu tidak bisa membaca gejolak di matanya. "Aku baru saja selesai mengurusi pasien. Kita pulang sekarang."
Yasmin mengangguk sambil bangkit berdiri lalu merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "I-Iya, Mas."
****