NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Dengan perasaan khawatir serah bergegas menuju lift. Ia dengan tergesa-gesa menekan tombol lantai paling atas. Dia menunggu di dalam lift dengan gelisah, setelah pintu lift terbuka ia dengan cepat berlari ke arah rooftop.

Dan benar saja, setelah pintu rooftop terbuka terlihat gadis pucat itu sedang duduk di pembatas gedung sembari menatap ke bawah. Sarah segera berjalan mendekat ke arah gadis itu.

"Hei! Lu ngapain duduk di situ? Turun, bahaya kalau Lo di situ!" Teriak Sarah.

Gadis itu menoleh begitu mendengar teriakan Sarah. Dia hanya menatap Sarah dengan wajah datarnya dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Turun ya? Sini gue bantu."

Gadis itu kemudian berdiri dan membuat Sarah syok, dia takut Jika garis itu terpeleset atau bahkan tiba-tiba melompat ke bawah. Sarah ingin mendekat tapi dia tidak ingin traumanya kambuh. Sekarang dia bingung harus melakukan apa.

"Pelan-pelan, nanti Lo jatuh!" Teriak Sarah.

"Urusan lo apa sih?"garis pucat itu bertanya dengan suara rendah. Aura dingin dan permusuhan terpancar dari wajah gadis itu.

Sarah menghela napas." Gue tahu gue terlalu ikut campur urusan lo. Tapi gue juga nggak bisa diam aja lihat lo kayak gini."

Gadis itu melihat Sarah dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian dia tersenyum remeh. "Gua pasti anak orang kaya ya?"tanya gadis itu dengan sarkas. Sarah tidak menanggapi dan hanya menatap lurus ke arah mata gadis itu.

"Enak ya jadi Lo, udah kaya, cantik, banyak teman, dan juga pacar lo yang ganteng dan perhatian."

"Pacar?" Guman Sarah.

"Lo pikir gue buta sampai nggak tahu kalau setiap hari pacar lo datang buat jengukin lo."

Sarah terdiam sejenak. Ah, mungkin yang di maksud gadis itu Marvin.

"Sedangkan gue, Gue nggak punya apa-apa. Gue miskin, gue nggak cantik dan gak ada yang mau berteman sama gue. Tapi setidaknya gue udah berusaha buat jadi teman mereka. Tapi kenapa balasan yang gue terima malah kayak gini?!!"

Sarah bisa melihat kemarahan dan kesedihan dari setiap kata dan juga ekspresi yang diperlihatkan gadis itu.

"Kalaupun seandainya gue mati hari ini, nggak akan ada orang yang peduli ataupun nyari gue."

"Orang tua Lo mana?" Sarah hanya bertanya spontan tanpa berpikir panjang.

Gadis itu tersenyum hambar." Orang tua?"

Syarat terdiam, gadis itu tersenyum seolah-olah apa yang dia katakan merupakan hal yang sepele. Tak lama Sarah bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca dan tubuhnya mulai bergetar.

"Gue cuma anak buangan. Mereka nggak akan pernah peduli sama gue. Teman? Persetan dengan itu, nggak ada satupun yang bisa ngertiin keadaan gue."

Air mata gadis itu perlahan mulai turun dan suaranya bergetar karena menahan tangis.

"Sekarang Gue sendirian, nggak ada siapapun yang temani gue dan gue juga nggak punya apa-apa. Lu nggak tahu kan, cuman menakutkan apa hidup sendiri di dunia?"

"Gue tahu," ucap Sarah dengan tegas, matanya menatap lurus ke arah gadis itu.

Gadis itu cukup terkejut dengan perkataan Sarah yang lantang dan percaya diri, namun gadis itu masih tidak percaya.

"Halah, Gue tahu lo ngomong kayak gitu cuma buat-"

"Terus kenapa?"

Sarah perlahan maju mendekat, mata Sarah tetap menatap lurus ke arah gadis itu.

"Lo tau? Di luar sana banyak yang lebih menderita tapi mereka nggak berisik kayak lo."

Gadis itu menghafalkan tangannya. Dia marah, seolah Sarah terlalu menyepelekan perasaannya yang sudah sakit hati terhadap dunia.

"Lo bilang apa? Lo nggak punya siapa-siapa?"Sarah tertawa sarkas.

"Apa lo lupa, kalau lo masih punya Tuhan dan lo masih punya diri lo sendiri," lanjutnya.

"Lo tetap mata gue dan dengar perkataan gue baik-baik,," Sarah berbicara dengan mantan hingga garis itu sedikit tersentak.

"Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang benar-benar sendiri, lo masih punya Tuhan. Lo harus lebih menyayangi diri lo sendiri, seperti yang lo katakan tadi bahwa tidak ada yang peduli sama Lo, maka dari itu lo harus peduli pada diri lo sendiri. Nggak ada yang benar-benar bisa lo andalkan kecuali diri lo sendiri. Orang lain hanyalah pendengar, teman hanyalah penonton dan orang tua hanyalah pendukung. Pada akhirnya yang menjalani dan berjuang itu tetaplah diri lo sendiri."

"Orang lain nggak ada yang peduli, itu memang benar. Sesulit apapun lo berusaha, bahkan dunia tidak akan pernah peduli seberapa hancurnya lo sekarang. Maka dari itu kuatkan diri lo sendiri, karena memang nggak ada yang bisa lo percaya selain diri lo sendiri dan Tuhan."

Hati gadis itu terenyuh dengan nasihat yang diberikan oleh Sarah, tanpa gadis itu sadari, Sarah hampir saja menangis. Karena sesungguhnya perkataan yang disampaikannya itu bukan hanya untuk gadis itu tapi untuk dirinya sendiri.

"Kalau lo masih mau mati, silakan. Itu artinya lo kalah dari dunia dan nggak bisa membuktikan apapun mengenai ekstensi lo. Lo nggak bisa buktiin pada mereka yang menyepelekan lo, kalau lu masih bisa bertahan tanpa mereka. Tapi kalau lo masih berkeinginan untuk hidup.."

"Lo nggak sendirian lagi, gue mau berteman sama lo. Jadi,, turun ya."ucap Sarah kemudian tersenyum tulus.

Gadis itu perlahan turun dan mendekati Sarah. Ketika Sarah sudah berada di hadapan gadis itu, ia memeluknya. Tangisan gadis itu langsung pecah seakan dia menumpahkan segala hal yang tertahan selama ini.

"Sekarang lo bisa nangis sepuasnya." Ucap Sarah menenangkan sambil mengelus-ngelus punggung gadis itu.

....

Cara berjalan menuju kamar inapnya setelah mengantarkan Salsa, gadis pucat yang hampir bunuh diri itu ke kamarnya.

"Ngomong-ngomong roti gue ilang, padahal perut gue udah minta diisi,"ucapnya sedih sambil memegangi perutnya yang lapar.

Saat memasuki kamar, ia terkejut melihat Marvin yang duduk di samping ranjang dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Mata laki-laki itu menatap lurus ke arah Sarah, seolah siap menerkam gadis itu.

"Lo kok masih ada di sini? Gue pikir lu udah pulang,"katanya Sarah tanpa berani menatap mata Marvin yang nyalang.

Marvin berjalan ke arah Sarah dan kedua tangannya seperti biasa ia masukkan ke dalam saku dalam saku celana. Sarah masih tidak berani menatap mata laki-laki itu.

"Nyokap lo belum datang?"

Sarah kemudian melirik ke arah jam dinding." Kayaknya sebentar lagi nyokap gue datang."

Marvin sedikit mengatur nafasnya. Apakah laki-laki itu sudah lari maraton? Pikir Sarah begitu melihat sisa keringat yang ada di dahi laki-laki itu.

Marvin mengangguk. Ia pun berjalan mengambil tasnya dan mengambil sebuah plastik hitam dari dalam sana. Iya lalu kembali ke jalan mendekat ke arah Sarah.

"Ini, makan, setelah itu istirahat. Besok lu udah pulang kan?" Ujar laki-laki itu dengan wajah datar sembari menyerahkan kantong plastik hitam pada Sarah.

Sarah menerima kantong plastik hitam itu lalu mengangguk.

"Gue pergi."

Lagi-lagi Sarah hanya mengangguk. Setelah itu, Marvin pun pergi meninggalkan Sarah sendiri di kamar inapnya.

Setelah Marvin benar-benar keluar dari ruangannya, Sarah segala pemeriksa kantong plastik hitam yang diberikan laki-laki itu. Matanya berbinar begitu melihat isi dari kantong plastik hitam itu.

"Wah makanan. Maafin tau aja kalau gue lagi laper."ucap Sarah senang.

Sarah pun berjalan menuju ranjangnya dan duduk di tepi. Ia pun mengecek ponselnya dan terkejut begitu melihat panggilan masuk yang tidak terjawab sebanyak 27 kali dari Marvin.

"Ya Tuhan."

...

Saat ini Marvin duduk termenung dalam bus yang sepi. Otaknya memutar memori yang tadi terjadi. Tadi begitu Sarah berada dalam kamar mandi, ia menerima telepon penting sehingga membuatnya terburu-buru pergi dengan membawa laptopnya.

Setelah urusannya selesai, ia kembali ke dalam ruangan Sarah namun begitu masuk dia tidak menemukan gadis itu di sana. Marvin sudah mengecek kamar mandi bahkan balkon tapi dia tidak menemukan gadis itu. Ia juga sudah berkali-kali mencoba menelepon gadis itu tapi tidak ada jawaban.

Marvin pun memutuskan untuk mencari Sarah di luar kamar. Ia mengintip semua kamar inap melalui kaca pintu. Ia bahkan mengecek kamar dari satu lantai ke lantai yang lain, namun tetap gadis itu tidak kunjung ia temukan. Bahkan dia sampai bertanya pada setiap orang yang dia temui namun tidak ada juga yang melihat Sarah. Sampai akhirnya ia mencari gadis itu ke kantin rumah sakit. Penjaga kantin pun mengatakan bahwa Sarah memang mengunjungi kantin dan membeli beberapa roti lalu kembali, namun penjaga itu mengatakan bahwa dia tidak tahu kemana perginya gadis itu setelah dari sana.

Nafas maafin tidak beraturan setelah mencari cara ke penjuru rumah sakit. Ia sempat berpikir jika Sarah tidak ada di rumah sakit. Namun, iya teringat masih ada satu tempat yang belum dia kunjungi. Meskipun ragu dan dia juga tahu bahwa gadis itu takut pada ketinggian, tapi tidak ada salahnya dia mencoba mencari gadis itu di sana. Jika gadis itu tidak juga ditemukan di sana, maka pilihan terakhir adalah memberitahu pihak rumah sakit.

Marvin terburu-buru pergi menuju rooftop, berharap gadis itu berada di sana. Saat Marvin akan membuka pintu menuju rooftop, tiba-tiba dia mendengar suara gadis yang dia kenal.

Marvin memilih untuk diam di tempat sembari mendengarkan semua ucapan yang Sarah sampaikan kepada seseorang. Setiap perkataan yang disampaikan sara entah kenapa menyentil hatinya. Jujur saja, dia tidak menyangka akan mendengar hal yang sangat ingin didengarnya keluar dari mulut gadis yang dikenal sebagai pengganggu.

Setelah merasa bahwa suasana di sana sudah membaik, Marvin memilih untuk pergi dan tidak menemui Sarah. Namun sebelum ia kembali ke kamar inap Sarah, Marvin memutuskan untuk kembali ke kantin rumah sakit dan memberikan saran beberapa makanan.

Marvin benar-benar dibuat bingung dengan sikap gadis itu. Selama satu tahun lebih mengenal gadis itu, dia dikenal sebagai gadis yang selalu mengganggu hidupnya dan juga Kayla. Gadis yang tidak punya hati dan empati. Tapi entah kenapa beberapa hari terakhir ini gadis itu tiba-tiba berubah.

Sebenarnya yang mana sosok Sarah yang asli?

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!