NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Garis tipis yang digambar dengan pensil arang di atas permukaan kayu oak sering kali jauh lebih menentukan masa depan dibandingkan garis keturunan yang tertulis di atas perkamen emas. Jika kau salah menarik garis di atas kayu, kau hanya perlu mengulangnya atau mengganti bahannya, namun jika kau salah menarik garis dalam hidup, kau mungkin akan terjebak dalam bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh menimpamu. Arlo merasakan beban itu di ujung jemarinya pagi ini. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana caranya memerintah sebuah batalyon prajurit; ia hanya sedang berpikir bagaimana caranya membuat sebuah lubang persegi yang sempurna agar pasak kayu yang ia buat bisa masuk tanpa celah sedikit pun.

Arlo membiarkan kain kusam di bahunya menyerap keringat yang mulai mengalir meski angin laut Solandis masih terasa sangat dingin. Ia berdiri di depan meja kerja kayunya, menatap dua potong balok cedar yang harus ia sambung hari ini. Di Galangan D, teknik ini disebut sebagai "Jiwa Kapal". Sebuah kapal yang hebat tidak boleh hanya mengandalkan paku besi yang bisa berkarat dan patah dihantam badai; ia harus mengandalkan kekuatan kayu yang saling mengunci, seolah-olah mereka memang diciptakan untuk menjadi satu kesatuan sejak masih berupa pohon di hutan.

Ia mengambil pahat kecil dengan mata yang sangat tajam, hasil asahannya sendiri selama satu jam tadi subuh. Arlo meletakkan ujung pahatnya tepat di atas garis arang. Ia tidak segera memukulnya. Ia mengatur napasnya, merasakan detak jantungnya yang kini jauh lebih tenang. Ia mengingat ucapan Master Bram semalam tentang "berbicara dengan kayu". Arlo mulai memberikan ketukan-ketukan kecil. Tak. Tak. Tak. Suara kayu cedar yang padat itu terdengar renyah, serpihan-serpihan kecil mulai terangkat, memperlihatkan serat kayu bagian dalam yang berwarna kemerahan dan berbau harum.

"Jangan terburu-buru, Arlo. Kayu itu bukan musuhmu yang harus kau taklukkan dengan kekerasan," suara Master Bram terdengar dari arah belakang, tenang namun penuh otoritas.

Arlo menghentikan gerakannya, ia tidak menoleh, tetap fokus pada lubang yang sedang ia buat. "Saya sedang mencoba merasakan seratnya, Master. Cedar ini terasa lebih lunak dari oak kemarin, tapi lebih mudah pecah jika saya terlalu menekannya."

Bram melangkah mendekat, ia memakai apron kulit yang penuh noda minyak dan debu kayu. Ia memperhatikan lubang yang dibuat Arlo. "Bagus. Kau mulai mengerti. Cedar itu seperti kepercayaan; ia bisa sangat kuat menahan beban, tapi ia sangat rapuh jika kau mengkhianati serat alaminya. Lanjutkan. Aku ingin melihat lubang itu selesai sebelum lonceng makan siang berbunyi."

Arlo kembali bekerja. Setiap gerakan tangannya kini terasa seperti sebuah tarian yang sangat lambat. Ia harus memastikan sisi-sisi lubang itu benar-benar tegak lurus. Jika miring satu milimeter saja, pasak atau "pen" yang akan dimasukkan nanti tidak akan bisa mengunci dengan sempurna. Ia menggunakan kikir besi kecil untuk menghaluskan bagian pojok lubang. Debu kayu halus menempel di bulu matanya, membuatnya sesekali harus berkedip kuat untuk menjernihkan pandangan.

Di kejauhan, suara gergaji besar di dermaga luar masih terdengar melengking, namun di dalam Galangan D, Arlo merasa berada di dalam gelembung kedamaian yang aneh. Ia menyukai kesunyian ini. Kesunyian yang produktif. Tidak ada lagi suara bisikan para menteri yang penuh intrik, tidak ada lagi suara Helena yang selalu menuntut perhatian. Hanya ada dia dan kayu ini.

Saat matahari mulai naik tepat di atas celah atap galangan, Arlo menyelesaikan lubangnya. Ia menyeka wajahnya dengan lengan baju yang sudah kusam, lalu mengambil potongan kayu kedua. Kini tugasnya adalah membuat "pen"—bagian yang menonjol yang harus pas masuk ke dalam lubang tadi. Ini bagian yang lebih sulit. Ia harus merampingkan ujung kayu itu dengan sangat teliti. Arlo menggunakan serutan tangan, mendorongnya pelan di atas kayu. Srik. Srik. Srik. Serutan tipis setipis kertas terangkat, melingkar indah sebelum jatuh ke lantai.

"Istirahatlah dulu, anak muda. Punggungmu sudah melengkung seperti udang rebus."

Jono muncul membawa dua buah apel segar dan botol air. Pria tua itu duduk di atas peti kayu di samping meja kerja Arlo. Ia menatap hasil kerja Arlo dengan pandangan kagum. "Kau punya tangan yang telaten, Arlo. Tidak banyak orang yang sanggup bertahan di depan balok cedar selama empat jam tanpa mengumpat."

Arlo meletakkan serutannya, ia duduk di lantai galangan yang tertutup serbuk kayu. Ia menerima apel dari Jono dan menggigitnya. Rasa manis dan segar buah itu meledak di mulutnya, memberinya energi instan. "Aku hanya sedang menikmati prosesnya, Jono. Ternyata membuat sesuatu yang pas itu butuh kesabaran yang luar biasa."

Jono tertawa kecil, ia mengunyah apelnya pelan karena giginya yang sudah goyah. "Hidup itu memang soal kecocokan, Nak. Kadang kita memaksa masuk ke dalam lubang yang bukan milik kita, dan akhirnya kita patah. Tapi lihat dirimu sekarang. Kau sepertinya sudah menemukan lubang yang pas di Solandis ini."

Arlo menatap telapak tangannya. Kapalannya kini sudah berwarna cokelat gelap, permanen. "Aku masih belajar, Jono. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar pas di sini, tapi setidaknya di sini aku tidak perlu berpura-pura menjadi pasak emas di dalam lubang kayu yang busuk."

Setelah istirahat singkat, Arlo kembali ke mejanya. Ia mencoba menyatukan dua potong kayu itu untuk pertama kalinya. Ia memposisikan pen di atas lubang, lalu menekannya perlahan dengan telapak tangan. Kayu itu masuk setengah jalan, lalu berhenti. Macet. Arlo tidak memaksanya. Ia menariknya kembali, melihat di mana ada bekas gesekan yang menunjukkan bagian yang terlalu tebal. Ia mengambil kikir lagi, menggosok bagian itu dua atau tiga kali saja. Sangat tipis.

Ia mencoba lagi. Kali ini kayu itu masuk lebih dalam, namun masih ada celah tipis di bagian pinggir. Arlo mengulangi prosesnya dengan kesabaran yang hampir tidak masuk akal bagi seorang mantan pangeran. Ia tidak merasa frustrasi. Ia justru merasa tertantang. Ia ingin sambungan ini menjadi sangat sempurna sehingga bahkan air pun tidak bisa masuk di antara celahnya.

Akhirnya, pada percobaan kelima, kayu itu meluncur masuk dengan suara klik yang sangat memuaskan. Arlo menahan napas. Ia mengangkat sambungan itu ke arah cahaya. Tidak ada celah. Sambungan itu tampak seolah-olah kayu itu memang tumbuh bersama. Ia mencoba menariknya, namun sambungan itu mengunci dengan sangat kuat. Tanpa paku. Tanpa lem. Hanya kekuatan bentuk yang saling menghormati.

"Kerja bagus, Arlo," Master Bram tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya lagi. Ia menyentuh sambungan itu dengan ujung jarinya yang kasar. "Kau sudah lulus ujian pertama. Kau tidak hanya menyambung kayu, kau baru saja menyambung harga dirimu dengan kerjamu."

Bram meletakkan delapan keping koin perunggu di atas meja Arlo. "Enam untuk upah harianmu, dua untuk ketelitianmu. Besok, kita mulai mengerjakan bagian kemudi."

Delapan keping koin perunggu.

Arlo menggenggam koin-koin itu, merasakan logamnya yang terasa jauh lebih berat dari kemarin. Ia berjalan keluar dari galangan dengan langkah yang ringan meskipun bahunya terasa sangat kaku. Matahari senja Solandis menyambutnya dengan warna ungu yang damai. Ia melewati pasar lagi, namun kali ini ia tidak mencari tali rambut. Ia berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual selai blueberry—selai kesukaan Kalea yang pernah ia sebutkan sekali di Aethelgard. Harganya dua koin perunggu.

Arlo membayar dengan senyum lebar.

Sesampainya di penginapan, Arlo menaiki tangga dengan bersemangat. Ia masuk ke kamar dan menemukan Kalea sedang membantu ayahnya berdiri. Pak Elara tampak sangat senang, ia sudah bisa melangkah satu-dua langkah tanpa harus memegang sandaran kursi.

"Lihat ini, Arlo! Ayah sudah bisa berjalan sampai ke pintu!" teriak Kalea, wajahnya berseri-seri. Tali rambut biru pemberian Arlo tampak serasi dengan binar di matanya.

Arlo segera mendekat, membantu Pak Elara duduk kembali di dipan agar tidak kelelahan. "Ini berita paling bagus hari ini, Pak. Sepertinya udara Solandis benar-benar obat yang manjur."

Arlo kemudian meletakkan stoples selai blueberry di meja. "Dan ini untuk merayakan langkah pertama Bapak. Master Bram memberiku bonus lagi hari ini."

Kalea menatap stoples itu, lalu menatap Arlo. Ia tidak mengomel soal uang kali ini. Ia justru berjalan mendekati Arlo, menyeka noda serbuk kayu cedar di pipi Arlo dengan ujung jemarinya. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti menjadi pangeran yang murah hati, ya? Padahal kau sendiri belum membeli kemeja baru. Lihat, lubang di ketiakmu sudah semakin besar."

Arlo tertawa, ia memegang tangan Kalea yang masih ada di pipinya. "Kemeja bisa menunggu, Kalea. Tapi melihatmu tersenyum karena selai ini... itu tidak bisa menunggu."

Malam itu, mereka makan roti gandum dengan selai blueberry yang manis. Pak Elara bercerita tentang masa mudanya saat ia pertama kali belajar memahat, dan Kalea sesekali menimpali dengan lelucon tajamnya. Di kamar kecil yang hanya diterangi satu lampu minyak itu, Arlo merasa ia telah menemukan istana yang sesungguhnya. Istana yang tidak dibangun dengan marmer dingin, tapi dibangun dengan tawa, sup hangat, dan rasa syukur atas delapan keping koin perunggu.

Arlo berbaring di dipan jeraminya, menatap langit-langit kayu. Ia meraba sambungan kayu cedar yang ia bawa pulang sebagai kenang-kenangan—potongan gagal yang tadi ia simpan. Ia merasakan betapa kuatnya kayu itu saling mengunci.

Ia menyadari satu hal; hidupnya yang lama adalah bangunan yang dipaku dengan paksa, selalu terancam copot saat badai datang. Hidupnya yang sekarang adalah teknik "lubang dan pen"—ia membangun segalanya dengan ketelitian, memastikan setiap kepingan pas dengan kepingan lainnya melalui kejujuran dan kerja keras.

"Arlo," bisik Kalea dari dipan seberang.

"Ya?"

"Terima kasih untuk selainya. Rasanya benar-benar manis."

"Sama-sama, Kalea."

"Dan Arlo..."

"Ya?"

"Jangan lupa jahit kemejamu besok pagi. Aku tidak ingin asisten Master Bram terlihat seperti gelandangan."

Arlo tersenyum dalam kegelapan. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah yang nikmat membawanya menuju tidur yang paling pulas yang pernah ia miliki seumur hidupnya. Retakan itu kini bukan lagi sebuah kehancuran; ia telah menjadi tempat di mana dua jiwa saling mengunci dengan sempurna, tanpa butuh paku emas mana pun untuk tetap tegak.

Arlo Valerius, pria tanpa mahkota dari Aethelgard, akhirnya benar-benar pulang. Bukan ke sebuah wilayah di peta, tapi ke sebuah pelukan kenyataan yang ia pahat sendiri dengan tangannya yang kini penuh noda dan kehormatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!