NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Jalan ke Gunung Cheongmyeong

Tiga hari telah berlalu sejak Seol meninggalkan Desa Cheonho.

Tiga hari berjalan sendirian di hutan lebat, melewati lereng-lereng curam, menyeberangi sungai-sungai kecil, dan tidur di bawah pohon dengan hanya jaket tipis sebagai selimut. Tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya dari duel dua minggu lalu sering terasa nyeri, terutama tulang rusuk kanannya yang masih sakit jika ia menarik napas terlalu dalam. Tapi ia tidak berhenti. Setiap hari, sejak matahari terbit hingga tenggelam, ia terus melangkah.

Peta dari pedagang tua itu terbukti sangat berharga. Tanpa peta itu, ia pasti sudah tersesat di hari pertama. Jalan setapak yang ditunjukkan tidak selalu jelas—kadang hanya berupa bekas roda kereta di tanah, kadang hanya tumpukan batu kecil di tepi sungai sebagai penanda. Tapi Seol mengikutinya dengan sabar, yakin bahwa setiap langkah membawanya lebih dekat ke tujuannya.

Selama tiga hari itu, ia juga terus berlatih.

Gu masih belum bangun. Kehangatan di dadanya masih ada, tetapi hanya berdenyut pelan, seperti orang yang tidur sangat nyenyak. Seol tidak berusaha membangunkannya. Ia tahu Gu membutuhkan istirahat setelah mengorbankan satu ekornya.

Tapi ia tidak bisa berhenti berlatih. Ia ingat kata-kata Gu sebelum tidur: “Jangan biarkan kemampuannya tumpul. Latih setiap hari. Bahkan tanpa aku, kau sudah memiliki fondasi yang cukup untuk berkembang.”

Setiap pagi, sebelum melanjutkan perjalanan, Seol duduk bersila selama satu jam, memusatkan qi-nya, memperkuat pusaran di dadanya. Setiap malam, setelah menemukan tempat yang aman, ia berlatih Pedang Bayangan dengan menggunakan ranting sebagai pengganti pedang.

Perkembangannya lambat, tetapi pasti. Pusaran qi-nya kini lebih stabil dari sebelumnya—tidak lagi liar seperti saat duel, tetapi juga tidak sekecil dulu. Ia bisa merasakan qi mengalir di meridiannya dengan lancar, meski belum sekuat yang ia harapkan.

Dan Pedang Bayangannya? Kini ia bisa menciptakan dua bayangan sekaligus, bertahan hingga lima belas detik. Gu bilang itu sudah cukup untuk membingungkan lawan biasa. Tapi Seol tahu, di Sekte Pedang Surgawi, lawan tidak akan "biasa".

---

Hari Keempat – Serangan di Lembah

Matahari tepat di atas kepala saat Seol memasuki sebuah lembah sempit di antara dua bukit batu. Di peta, tempat ini disebut Celah Naga Tidur—nama yang mengerikan, tetapi jalur ini adalah satu-satunya jalan menuju kaki Gunung Cheongmyeong tanpa harus memutar tiga hari lebih lama.

Seol berjalan di antara dinding batu yang menjulang tinggi di kedua sisinya. Suasana di sini sunyi—terlalu sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Hanya angin yang berdesir pelan di antara celah-celah batu, menciptakan suara seperti rintihan panjang.

Nalurinya berbicara. Sesuatu tidak beres.

Ia memperlambat langkah, matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Tangan kanannya meraih ranting tebal yang ia temukan pagi tadi—bukan pedang, tetapi setidaknya bisa digunakan untuk memblokir.

“Di tempat seperti ini,” ia mengingat kata Gu suatu malam, “bandit biasanya bersembunyi di ketinggian. Mereka akan menjatuhkan batu atau panah dari atas, lalu turun untuk mengambil barang-barang korban.”

Seol mendongak.

Tepat pada saat itu, sebuah batu sebesar kepala manusia jatuh dari tebing di sebelah kanannya.

Ia menghindar dengan refleks yang sudah terlatih. Tubuhnya bergeser ke kiri, batu itu menghantam tanah di sampingnya, memecah bebatuan kecil di sekitarnya.

“Dia menghindar!” suara dari atas tebing.

“Turun! Tangkap dia!”

Dari kedua sisi tebing, empat sosok melompat turun dengan tali yang sudah disiapkan. Mereka mendarat di depan dan belakang Seol, memotong jalur mundur dan majunya.

Empat orang. Pria-pria kekar dengan pakaian compang-camping, senjata seadanya—pedang berkarat, golok, dan satu orang membawa pentul besi. Mereka bukan pendekar sejati, tetapi untuk seorang pemuda sendirian, mereka tetap berbahaya.

“Lihat, lihat,” kata yang paling besar, seorang pria berjanggut tebal dengan bekas luka di pipi kirinya. “Anak kecil sendirian. Dompetnya, Nak. Cepat, atau kau akan kami jadikan umpan serigala.”

Seol tidak menjawab. Ia menghitung dengan cepat. Empat lawan. Semuanya lebih besar darinya. Tapi gerakan mereka kasar, tidak terlatih. Mereka mengandalkan kekuatan, bukan teknik.

Ia ingat pelajaran Gu: “Bandit hanya berani jika mereka merasa lebih kuat. Tunjukkan bahwa kau bukan mangsa mudah, dan separuh dari mereka akan ragu.”

Seol mengangkat ranting di tangannya. Bukan sebagai senjata, tetapi sebagai… penghalang.

“Aku tidak punya uang,” katanya dengan suara datar. “Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga. Sayangnya, kalian tidak akan bisa mengambilnya.”

Pria janggut itu mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Seol tersenyum kecil. Senyum yang tidak ia sadari mirip dengan senyum Gu saat sedang meremehkan lawan.

“Coba ambil, dan kau akan tahu.”

Pria janggut itu tertawa keras. “Anak kecil kurang ajar! Tangkap dia!”

Dua orang dari depan maju bersamaan. Pedang berkarat dan golok berkilat di bawah sinar matahari. Mereka tidak memiliki koordinasi—hanya serangan frontal yang brutal.

Seol bergerak.

Ia tidak mundur. Ia melangkah maju, menyelinap di antara kedua serangan itu dengan gerakan yang sangat kecil—hanya geseran beberapa inci, tetapi cukup untuk membuat kedua senjata itu meleset di samping telinganya.

Pada saat yang sama, ranting di tangannya menyentuh pergelangan tangan si pedang dengan tekanan yang tepat. Bukan pukulan keras, tetapi cukup untuk membuat refleks alami tubuh bereaksi: tangan itu melepaskan pedang.

Pedang berkarat itu jatuh. Seol menangkapnya di udara dengan tangan kirinya, tanpa melihat.

Semua terjadi dalam dua detik.

Kini ia memiliki pedang. Bukan pedang bagus, tetapi cukup.

Pria berjanggut itu membelalak. “Apa—?”

Seol tidak memberi waktu. Ia melesat maju, pedang di tangan kanannya (ranting ia buang), dan dalam tiga gerakan cepat, ia melumpuhkan dua bandit yang masih terkejut itu. Tidak membunuh. Ia hanya memukul bagian belakang leher mereka dengan gagang pedang—teknik yang Gu ajarkan untuk melumpuhkan tanpa membunuh. Dua tubuh ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri.

Dua bandit tersisa. Pria janggut itu dan satu lagi di belakang Seol.

“Bunuh dia!” teriak pria janggut itu, tetapi suaranya sudah bergetar.

Bandit kedua dari belakang melompat dengan pentul besi diangkat tinggi. Serangan yang terlalu besar, terlalu lambat.

Seol tidak perlu menghindar. Ia hanya memutar tubuhnya, membiarkan pentul itu menghantam tanah di sampingnya dengan dug yang dalam. Pada saat bandit itu masih membungkuk karena momentum serangannya, gagang pedang Seol menghantam pelipisnya. Ia ambruk seperti karung.

Satu lawan tersisa.

Pria janggut itu berdiri dengan kaki gemetar. Tangannya yang memegang golok bergetar hebat.

“Siapa… siapa kau?” suaranya pecah.

Seol menatapnya dengan mata yang tenang. Di matanya, pria ini bukan lagi ancaman. Ia hanya seorang pengecut yang memanfaatkan kelemahan orang lain.

“Aku hanya seorang musafir yang sedang dalam perjalanan,” kata Seol. “Tapi jika kau ingin tahu… aku murid Sekte Pedang Surgawi.”

Kata-kata itu keluar tanpa ia pikirkan. Sekte Pedang Surgawi. Nama yang bahkan bandit paling bodoh pun takut.

Pria janggut itu menjatuhkan goloknya. Bunyi logam mengenai batu terdengar nyaring di lembah yang sunyi.

“Ampun… ampun, Tuan! Aku tidak tahu! Aku tidak akan mengganggu lagi!”

Ia berbalik dan berlari. Dalam hitungan detik, ia sudah menghilang di balik tebing, meninggalkan tiga rekannya yang tidak sadarkan diri.

Seol berdiri di tengah lembah, pedang berkarat di tangannya, napasnya teratur. Tidak setergesa yang ia kira. Tidak sesulit yang ia bayangkan.

Ia menatap pedang itu. Berkarat, tumpul, tetapi telah menyelamatkannya.

“Kau sudah berkembang,” kata bayangan Gu dalam ingatannya. “Tapi jangan sombong. Bandit bukan ukuran. Lawan sejati akan berbeda.”

Seol melemparkan pedang itu ke semak-semak. Ia tidak membutuhkannya. Pedang sejati akan ia dapatkan nanti, jika ia memang layak.

Ia melanjutkan perjalanan, meninggalkan tiga bandit yang perlahan mulai sadar di belakangnya.

---

Sore Hari – Puncak Bukit

Matahari mulai condong ke barat saat Seol keluar dari Celah Naga Tidur. Di depannya, medan terbuka dengan perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang. Dan di kejauhan, di balik kabut tipis yang menggantung di cakrawala, sebuah gunung menjulang.

Gunung itu berbeda dari yang lain. Tidak seperti bukit-bukit di sekitarnya yang tertutup pepohonan lebat, gunung itu tampak seperti raksasa batu yang berdiri sendiri, dengan puncaknya yang diselimuti awan putih. Di lerengnya, Seol bisa melihat bangunan-bangunan megah—atap-atap biru kehijauan yang berkilat terkena sinar matahari sore, pagoda-pagoda yang menjulang, dan di puncak tertinggi, sebuah gerbang raksasa yang tampak seperti pintu menuju surga.

Gunung Cheongmyeong. Markas Sekte Pedang Surgawi.

Seol berhenti di puncak bukit yang menghadap ke gunung itu. Angin sore bertiup membawa aroma bunga dari lereng-lereng yang jauh. Di kejauhan, ia bisa melihat titik-titik kecil bergerak di sekitar gerbang—mungkin murid-murid sekte yang sedang berlatih.

Ia tidak bisa menahan senyum.

Setelah berminggu-minggu—setelah ujian, setelah duel, setelah perpisahan—ia akhirnya sampai.

Tapi ia tahu, ini bukan akhir. Ini baru awal.

Gerbang itu masih jauh. Perjalanan dari kaki gunung ke puncak mungkin memakan waktu satu hari penuh. Dan setelah itu, ujian masuk sekte. Ujian yang jauh lebih berat dari sekadar menghadapi bandit di lembah.

Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati pemandangan ini. Bukti bahwa ia telah melangkah jauh dari Desa Cheonho. Bukti bahwa ia bukan lagi sampah yang dulu.

Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan. Lebih kuat dari biasanya. Seolah Gu, meski sedang tertidur, ikut merasakan kebanggaan itu.

“Kita sudah sampai, Gu,” bisik Seol. “Tinggal selangkah lagi.”

Ia mengambil napas dalam-dalam. Udara di sini terasa berbeda—lebih segar, lebih ringan. Mungkin karena ketinggian, atau mungkin karena harapan yang mulai terasa nyata.

Ia melangkah menuruni bukit, menuju kaki Gunung Cheongmyeong.

---

Di Kaki Gunung – Senja

Matahari hampir tenggelam saat Seol tiba di kaki gunung. Dari dekat, kemegahan Sekte Pedang Surgawi bahkan lebih menakjubkan. Dinding-dinding batu putih menjulang tinggi, dihiasi ukiran naga dan awan yang sangat detail. Tangga-tangga batu naik berkelok-kelok ke atas, menghilang di balik kabut.

Tapi ada yang mengganjal.

Di pintu masuk utama, di depan gerbang pertama, beberapa orang berdiri dalam lingkaran. Suara-suara ribut terdengar—bukan suara perayaan, tetapi suara pertengkaran.

Seol mendekat dengan hati-hati.

Ada lima orang. Empat di antaranya tampak seperti penjaga sekte—mereka mengenakan seragam biru dengan sabuk perak. Mereka berdiri dengan tangan di dada, wajah keras, mengelilingi seorang pemuda yang berlutut di tanah.

Pemuda itu seusia dengan Seol, mungkin sedikit lebih tua. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut dan berlumuran debu. Ia berlutut dengan kepala tertunduk, tetapi Seol bisa melihat bahunya bergetar—bukan karena takut, tetapi karena amarah yang ditahan.

“Kau pikir Sekte Pedang Surgawi adalah tempat penampungan orang miskin?” suara salah satu penjaga terdengar sarkastik. “Kembalilah ke desamu, bocah. Tidak ada tempat untukmu di sini.”

“Tapi aku sudah berjalan tiga minggu!” suara pemuda itu putus asa. “Aku punya rekomendasi dari kepala desaku! Aku bisa—”

“Rekomendasi dari kepala desa?” penjaga lain tertawa. “Semua orang bisa membuat rekomendasi palsu. Buktikan bahwa kau layak.”

“Aku… aku tidak punya siapa pun di sini. Aku tidak punya uang untuk membayar…”

“Maka pergilah.”

Pemuda itu terdiam. Tangannya mengepal di tanah.

Seol menatap pemuda itu. Ada sesuatu yang familiar dalam postur tubuhnya—cara ia menahan amarah, cara ia menunduk tetapi tidak menyerah.

Seperti aku dulu.

Ia tidak tahu mengapa, tetapi kakinya melangkah maju.

“Permisi.”

Semua mata tertuju padanya. Penjaga sekte itu menatap Seol dengan tatapan tajam, menilai pakaian kumalnya, tubuhnya yang kurus, wajahnya yang masih pucat karena luka yang belum sembuh.

“Apa lagi? Dua pengemis sekaligus hari ini?” penjaga itu mendengus. “Kami tidak memberi sedekah.”

Seol tidak terpancing. “Aku juga ingin mendaftar sebagai murid,” katanya dengan tenang.

Keheningan. Kemudian tawa pecah dari para penjaga.

“Kau? Mendaftar? Dengan pakaian seperti itu?” salah satu dari mereka menunjuk Seol dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kau bahkan tidak punya pedang! Apa kau akan bertarung dengan tangan kosong?”

Pemuda yang berlutut itu mengangkat kepalanya, menatap Seol dengan mata merah. Ada rasa terima kasih di matanya—atau mungkin hanya solidaritas antara dua orang yang sama-sama terbuang.

Seol tidak menjawab ejekan itu. Ia hanya berdiri di tempatnya, tenang, menunggu.

Seorang penjaga yang lebih tua—mungkin pemimpin regu—melangkah maju. Matanya yang tajam mengamati Seol dengan lebih saksama.

“Kau benar-benar ingin mendaftar?”

“Ya.”

“Apa yang bisa kau tawarkan? Klan apa? Sekte apa? Siapa gurumu?”

Seol berpikir sejenak. Ia tidak bisa menyebut Gu. Tidak bisa menyebut Klan Ryu—nama itu tidak akan berarti apa-apa di sini, bahkan mungkin akan merugikannya.

“Aku tidak punya klan,” katanya akhirnya. “Aku belajar sendiri.”

Penjaga itu mengernyit. “Belajar sendiri? Lalu apa yang membuatmu berpikir kau layak?”

Seol mengangkat tangannya. Qi-nya mengalir, dan untuk sesaat, bayangan kedua tangannya muncul—Pedang Bayangan tingkat dasar, tetapi cukup untuk membuat para penjaga terkejut.

Bayangan itu bertahan sepuluh detik sebelum menghilang.

Keheningan.

Penjaga tua itu menatap Seol dengan mata yang berubah—dari meremehkan menjadi penasaran.

“Teknik itu… bukan teknik sembarangan,” katanya perlahan. “Siapa yang mengajarimu?”

“Guruku melarangku menyebut namanya,” jawab Seol. Itu bukan kebohongan.

Penjaga itu terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk kecil.

“Besok pagi, ujian masuk akan dimulai. Jika kau benar-benar ingin menjadi murid Sekte Pedang Surgawi, kau harus melewati tiga ujian. Ketangkasan. Pemahaman pedang. Dan Gua Iblis.” Ia menatap Seol lurus ke mata. “Kau siap?”

Seol mengangguk. “Aku siap.”

Penjaga itu beralih ke pemuda yang masih berlutut. “Kau juga. Jika kau punya keberanian untuk datang sejauh ini, setidaknya kau layak mencoba.”

Pemuda itu mengangkat kepalanya, matanya berbinar. “A… aku boleh?”

“Ikuti anak ini. Besok pagi, di gerbang utama. Jangan terlambat.”

Penjaga-penjaga itu berbalik dan masuk ke dalam gerbang, meninggalkan Seol dan pemuda itu sendirian di kaki gunung.

Pemuda itu berdiri, mengusap debu dari celananya. Ia menatap Seol dengan senyum canggung.

“Terima kasih,” katanya. “Aku… aku hampir menyerah kalau kau tidak datang.”

Seol tersenyum kecil. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”

“Namaku Baek Ho,” pemuda itu mengulurkan tangannya. “Dari Desa… tidak penting. Aku berjanji akan membayar hutang ini suatu hari nanti.”

Seol menjabat tangannya. Genggamannya kuat—tanda bahwa meski tubuhnya tampak kurus, ada kekuatan di dalamnya.

“Ryu Seol,” katanya. “Dan kau tidak perlu membayar hutang apa pun. Kita sama-sama mencari jalan.”

Baek Ho tersenyum lebar. Senyum yang tulus, tanpa pretensi.

“Besok kita hadapi ujian bersama?”

“Bersama.”

Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Langit berubah menjadi ungu tua, dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Di atas mereka, gerbang megah Sekte Pedang Surgawi menjulang dalam kegelapan, lampu-lampu lentera mulai dinyalakan satu per satu, menciptakan lautan cahaya di lereng gunung.

Dua pemuda berdiri di kaki gunung itu, menatap ke atas dengan tekad yang sama.

Besok, ujian sebenarnya akan dimulai.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!