NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Fajar menyingsing di ufuk timur Jakarta dengan warna jingga yang perlahan menyapu sisa-sisa hujan semalam. Di halaman rumah Bunda, jejak-jejak kekacauan tempo hari telah dibersihkan secara profesional oleh tim Alvin. Lubang peluru di pagar kayu telah ditambal dan dicat ulang, seolah-olah serangan mencekam itu hanyalah mimpi buruk yang menguap saat matahari terbit.

​Bunda Ratna berdiri di depan teras dengan koper kecil di sampingnya. Pagi ini, beliau dijadwalkan berangkat ke Surabaya untuk menghadiri acara syukuran besar keluarga mendiang Ayah Alisa.

​"Bunda benar-benar tidak apa-apa berangkat sendiri?" Alisa bertanya untuk kesekian kalinya sembari merapikan syal ibunya.

​Bunda tersenyum, menepuk pipi putrinya. "Ada Paman Haris yang menjemput di bandara nanti, Sayang. Lagi pula, Davino sudah mengatur pengawalan sampai ke pintu pesawat, kan? Kamu jangan terlalu cemas."

​Davino, yang sedang memasukkan koper terakhir Maura ke dalam bagasi mobil, mendekat dan mencium tangan Bunda Ratna. "Anggota saya sudah ada di bandara Juanda juga, Bunda. Kabari Alisa atau saya jika sudah sampai di kediaman Paman."

​"Terima kasih, Davino. Jaga istrimu baik-baik," pesan Bunda dengan tatapan yang penuh arti, tatapan yang masih menyisakan sedikit keraguan setelah melihat "sisi lain" menantunya tempo hari.

​Setelah melepas keberangkatan Bunda ke bandara dengan taksi daring yang dikawal mobil samar Satgas, Davino menoleh ke arah Alisa dan Maura. "Kita pulang sekarang. Maura, pastikan semua barangmu tidak ada yang tertinggal. Kita tidak akan kembali ke sini dalam waktu dekat."

​Perjalanan kembali ke rumah pribadi Davino di Jakarta Selatan terasa sunyi. Maura lebih banyak diam menatap ke luar jendela, sementara Alisa sibuk membalas pesan-pesan dari rumah sakit yang sudah menumpuk selama ia "cuti mendadak".

​Sesampainya di rumah mereka, suasana terasa sangat kontras dengan kehangatan rumah Bunda. Rumah bergaya minimalis itu tampak kokoh, dingin, dan fungsional. Davino langsung memeriksa sistem keamanan di tabletnya begitu menginjakkan kaki di ruang tamu.

​"Aku akan mandi dan langsung ke kantor. Alvin bilang ada perkembangan dari interogasi tawanan semalam," ucap Davino tanpa menoleh pada Alisa.

​"Aku juga akan ke rumah sakit jam sepuluh ini. Ada jadwal operasi appendectomy yang tertunda," sahut Alisa sembari menata kembali tas kerjanya.

​Kehidupan "normal" mereka kembali berputar. Sebuah normalitas yang aneh bagi pasangan suami istri, di mana rumah hanyalah tempat persinggahan singkat di antara dua dunia yang penuh tekanan.

​Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta selalu punya cara untuk menyerap seluruh energi Alisa. Begitu ia melangkah masuk ke lobi yang berbau antiseptik, ia merasa kembali menjadi dirinya yang utuh: dr. Alisa Widanata, bukan sekadar "istri perwira yang sedang dalam bahaya".

​"Dokter Alisa! Ya ampun, akhirnya kembali!" Fani menyambutnya di depan ruang jaga dengan heboh. "Kamu tahu tidak? Pasien di kamar 402 hampir mengamuk karena tidak mau ditangani dokter lain selain kamu."

​Alisa tertawa kecil, menggantung jas putihnya di pundak. "Jangan berlebihan, Fan. Aku cuma izin tiga hari."

​"Izin tiga hari dengan alasan 'urusan keluarga mendesak' tepat setelah insiden penembakan di berita-berita? Al, kamu tidak bisa menipuku. Wajahmu terlihat lebih tirus. Apa suamimu yang kaku itu memberimu waktu untuk bernapas?"

​Alisa menghela napas, mulai meninjau catatan medis di komputer. "Mas Davino melakukan tugasnya, Fan. Dan tugasnya terkadang memang... menyesakkan."

​Sepanjang hari, Alisa tenggelam dalam rutinitas. Dari ruang poliklinik ke ruang operasi, lalu kembali ke bangsal pasien. Di bawah lampu ruang operasi yang terang benderang, Alisa merasa damai. Di sini, ia memegang kendali. Di sini, musuhnya jelas: infeksi, pendarahan, atau kegagalan organ—bukan pria-pria bersenjata di balik bayangan yang tidak bisa ia lihat.

​Namun, di sela-sela waktu istirahatnya, matanya tak sengaja melirik ponsel. Tidak ada pesan dari Davino. Hanya ada notifikasi grup keluarga Narendra yang berisi candaan Maura. Alisa merasa ada bagian dari dirinya yang menunggu konfirmasi keamanan dari pria itu, sebuah kebiasaan baru yang mulai terbentuk tanpa ia sadari.

​Sementara itu, di markas Polda Metro Jaya, udara terasa jauh lebih panas. Davino berdiri di depan papan tulis kaca yang penuh dengan coretan spidol merah dan foto-foto tersangka.

​"Liam bungkam," Alvin melaporkan dengan nada frustrasi. "Dia tahu kalau dia bicara, keluarganya di luar sana akan dihabisi oleh jaringan Black Cobra. Mereka punya protokol 'bersih diri' yang sangat ketat."

​Davino memutar bolpoin di tangannya, matanya terpaku pada satu nama: Sandi. Mantan rekan setimnya dulu yang kini diduga menjadi penghubung sindikat dengan aparat.

​"Periksa kembali log teleponnya tiga bulan terakhir. Gunakan unit siber untuk melacak koordinat tersembunyi di area pelabuhan. Mereka tidak mungkin bergerak tanpa logistik," perintah Davino tajam.

​"Siap, Kapten. Tapi Vin... Komandan Aditya bertanya kapan kamu akan mengambil cuti resmi untuk 'bulan madu' yang tertunda. Beliau bilang kamu terlihat terlalu tegang," Alvin mencoba mencairkan suasana.

​Davino menatap Alvin dengan pandangan yang bisa membekukan air. "Katakan pada Komandan, musuh tidak mengambil cuti, jadi saya juga tidak. Dan soal Alisa... dia aman selama dia di rumah sakit dan di rumah. Itu saja yang penting."

​"Kamu tidak pulang makan siang?"

​"Ada rapat dengan intelijen jam satu. Pesankan kopi hitam saja, tanpa gula," sahut Davino sembari kembali menekuni berkasnya.

​Bagi Davino, kesibukan adalah pelarian terbaik. Sejak percakapan hebatnya dengan Alisa di kamar kedap suara semalam, ia merasa ada sesuatu yang bergeser. Ia tidak suka bagaimana Alisa bisa menyentuh titik terlemahnya soal Sarah. Ia tidak suka bagaimana wanita itu bisa membuatnya merasa... bersalah.

​Malam kembali jatuh menyelimuti Jakarta. Alisa pulang pukul sembilan malam dalam kondisi sangat lelah. Ia mendapati rumah dalam keadaan gelap, kecuali lampu di ruang tengah. Maura sepertinya sudah tidur di kamarnya.

​Alisa berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Saat itulah ia melihat siluet Davino duduk di balkon belakang, membelakangi pintu kaca. Pria itu hanya mengenakan kaus oblong abu-abu, menatap ke arah kolam renang yang tenang.

​Alisa ragu sejenak, namun ia memutuskan untuk mendekat. Ia membuka pintu geser perlahan.

​"Baru pulang?" tanya Davino tanpa menoleh. Pendengarannya yang tajam selalu tahu siapa yang datang.

​"Iya. Ada operasi darurat tadi sore," jawab Alisa, ia berdiri di ambang pintu. "Mas sudah makan?"

​"Sudah di kantor tadi."

​Hening kembali tercipta. Hanya suara gemericik air kolam dan bising kendaraan dari kejauhan. Rutinitas normal mereka benar-benar telah kembali: dua orang asing yang berbagi atap, terikat oleh janji yang mereka sendiri benci.

​"Mas..." Alisa memulai, suaranya pelan. "Soal kata-kataku semalam di rumah Bunda... aku minta maaf. Aku tidak seharusnya membawa-bawa masa lalu Mas untuk menyakiti Mas."

​Davino terdiam cukup lama. Ia mengembuskan napas panjang, kepulan asap tipis keluar dari mulutnya (ia jarang merokok, tapi malam ini sepertinya menjadi pengecualian).

​"Aku tidak butuh permintaan maaf, Alisa. Aku butuh kamu tetap pada posisimu. Jadilah dokter yang baik, jaga Maura kalau aku tidak ada, dan jangan biarkan emosimu mengaburkan logika keamanan," Davino berdiri, memutar tubuhnya menghadap Alisa. Wajahnya tampak sangat letih di bawah sorot lampu balkon.

​"Apa kita akan terus begini?" tanya Alisa dengan nada getir. "Pulang ke rumah ini hanya untuk menunggu hari esok agar bisa pergi lagi? Mas sibuk dengan penjahatmu, aku sibuk dengan pasienku, dan kita hanya bicara soal 'logika keamanan'?"

​Davino melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Alisa. Jarak mereka kembali menipis, namun kali ini tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya ada rasa lelah yang saling beradu.

​"Itulah realitanya, Alisa. Kita menikah bukan karena cinta, ingat? Kontrak satu tahun itu dibuat agar hidupmu tetap berjalan normal meski di bawah perlindunganku. Inilah 'normal' yang kita pilih," Davino berkata dengan suara rendah.

​Alisa menatap mata Davino, mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik tatapan perwira itu. "Mas benar. Ini normal yang kita pilih. Tapi terkadang, normal ini terasa lebih melelahkan daripada menghadapi penjahat."

​Davino tidak menjawab. Ia hanya melewati Alisa masuk ke dalam rumah. "Kunci pintu balkonnya kalau kamu sudah selesai. Aku ada tugas luar kota besok pagi, mungkin dua hari."

​Alisa terpaku di balkon. Luar kota. Lagi-lagi sebuah misi yang tidak boleh ia ketahui detailnya. Ia menyentuh cincin di jarinya—cincin yang ia pakai kembali setelah dilepas saat operasi tadi. Kehidupan normal mereka telah kembali, namun Alisa merasa kesepian di tengah hiruk pikuk kota Jakarta justru terasa lebih nyata saat ia berada di dalam rumah mewah ini bersama pria yang seharusnya menjadi suaminya.

​Di kamarnya, Davino menatap tas taktisnya yang sudah siap di atas meja. Di dalam kepalanya, suara Alisa tentang 'hancur' dan 'robot' masih terngiang. Ia mengepalkan tangannya. Besok, ia akan berangkat ke perbatasan untuk melacak jalur logistik Black Cobra. Sebuah misi berbahaya yang bisa saja membuatnya tidak kembali ke rumah ini.

​Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Davino merasakan secercah ketakutan—bukan takut akan kematian, tapi takut jika ia pergi, tidak ada lagi orang yang akan mendebat logikanya dengan keras seperti yang dilakukan Alisa semalam.

​Normalitas itu kini terasa rapuh, seperti kaca yang retak namun masih dipaksa untuk berdiri tegak.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!