Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Gema Kesombongan dan Puing-Puing Harga Diri
Udara pagi di Kerajaan Valeria terasa lebih sejuk dari biasanya, membawa embun tipis yang menyelimuti atap-atap bata merah. Di ruang makan eksklusif penginapan Bulan Sabit Berdarah, Ajil duduk bersila di atas bantalan kursi berbahan kulit Wyvern. Wajahnya sedatar permukaan danau es, tak memancarkan emosi apa pun saat menatap hidangan di depannya.
Di atas meja kayu oak yang dipoles mengkilap, tersaji menu sarapan berkalori tinggi yang khusus dipesan untuk pemulihan. Daging Asap Beruang Batu yang diiris tipis, dilumuri Saus Madu Hitam yang lengket dan manis, disajikan berdampingan dengan Roti Gandum Berlapis Mentega Susu Naga yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma rosemary sihir dan daging panggang menguar, memanjakan indra penciuman siapa pun yang melewatinya.
Di seberang meja, Rino dan Richard duduk dengan postur kaku. Tubuh mereka masih dibalut perban sihir tebal di balik pakaian kain katun longgar yang mereka kenakan. Luka bakar akibat semburan Naga Api Neraka belum sepenuhnya pulih, namun tekad di mata kedua mantan elit Kelas A+ itu menyala lebih terang dari sebelumnya. Mereka makan dengan lahap, mengunyah daging beruang batu itu untuk mengembalikan massa otot mereka yang sempat menyusut.
Erina duduk di sebelah Ajil, dengan anggun memotong buah persik roh menggunakan pisau perak kecil. Zirah sutra mithrilnya memantulkan cahaya pagi, sementara rambut peraknya diikat rapi. Sesekali, mata zamrudnya mencuri pandang ke arah wajah keras Ajil dari samping, mengagumi pahatan rahang pria itu yang dipenuhi ketegasan.
"Kalian makan seperti babi kelaparan," komentar Erina sinis kepada Rino dan Richard, meski nada suaranya tidak sejahat biasanya. "Jika kalian ingin terus mengikuti Ajil, kalian harus belajar makan tanpa menjatuhkan remah-remah ke lantai."
Rino menelan makanannya dengan susah payah, menunduk hormat. "M-Maafkan kami, Nona Erina. Kami hanya... tidak ingin membuang waktu. Kami harus segera pulih agar bisa berlatih."
Richard mengangguk setuju, matanya melirik ke arah Ajil yang sedari tadi diam. "Tuan Ajil, setelah sarapan ini, kami akan pergi ke halaman belakang penginapan. Kami sudah meminta pandai besi lokal untuk membuatkan senjata latihan dari kayu besi. Kami tidak akan membiarkan tubuh kami kaku."
Ajil menghentikan kunyahannya. Matanya yang kelam menatap kedua pria berbalut perban itu. Di dunia Ridokan, luka bakar separah itu biasanya membutuhkan waktu istirahat total selama sebulan penuh. Memaksakan diri berlatih sekarang sama saja dengan menyobek kembali jaringan otot yang baru tersambung.
Namun, Ajil tidak melarang mereka.
"Tubuh yang hancur bisa disembuhkan oleh sihir," ucap Ajil dengan suara bariton yang berat dan dingin, membelah keheningan pagi. Ia menatap cangkir tehnya yang memantulkan wajah tanpa ekspresinya. "Namun tekad yang berkarat tidak akan pernah bisa ditajamkan kembali oleh pandai besi sehebat apa pun. Berlatihlah sampai tulang kalian menjerit. Karena di medan pertempuran, musuh tidak akan menunggu perban kalian dilepas.".
"S-Siap, Tuan Ajil!" seru mereka berdua serempak, dada mereka bergemuruh oleh motivasi yang meledak-ledak. Kata-kata pedas pria itu selalu menjadi bahan bakar yang membakar semangat mereka.
Setelah sarapan usai, Ajil berdiri. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap cahaya, membuatnya tampak seperti bayangan kematian yang berjalan di siang bolong. "Kita ke Guild. Aku butuh peta menuju Benua Utara. Tempat para Dwarf. Prasasti Dimensi selanjutnya ada di sana.".
Jalanan menuju Guild Petualang Valeria hari ini terasa sedikit berbeda. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Para petualang yang berpapasan dengan kelompok Ajil segera menepi, namun mereka saling berbisik dengan ekspresi cemas.
Begitu Ajil mendorong pintu ganda gedung Guild, suasana aula yang biasanya riuh mendadak hening, lalu digantikan oleh suara langkah kaki berat dan dentingan zirah baja.
Di tengah-tengah aula Guild, menghalangi jalan menuju meja resepsionis, berdiri puluhan petualang bersenjata lengkap.
Mereka terbagi menjadi dua kelompok besar yang berbaris rapi layaknya pasukan militer.
Di sebelah kiri, berdiri para ksatria dengan zirah perak mengkilap berlambang serigala yang melolong. Itu adalah faksi utama dari kelompok Kelas S, The Silver Fang. Berbeda dengan kelompok kecil yang dipimpin Arthur tempo hari, kelompok ini dipimpin langsung oleh sang Grandmaster, seorang pria bertubuh menjulang dengan rambut perak sebahu dan mata abu-abu yang memancarkan kekejaman.
Namanya adalah Galahad (Level 140).
Di sebelah kanan, berdiri kelompok Kelas A yang sangat terkenal bengis di wilayah Valeria, Crimson Lion (Singa Merah). Kelompok ini adalah mantan rival abadi Rino di masa lalu. Pemimpin mereka adalah Boros (Level 120), seorang pria berkepala plontos dengan bekas luka sayatan melintang di wajahnya, mengenakan zirah pelat tembaga yang memancarkan hawa panas.
[SISTEM: Peringatan Bahaya. Niat Membunuh Terdeteksi dari Multi-Entitas.]
[Menganalisis Entitas Utama...]
[Nama: Galahad | Level: 140 | Kelas: S (Grandmaster Ksatria Suci)]
[Nama: Boros | Level: 120 | Kelas: A+ (Panglima Perang)]
Melihat kedatangan Ajil, Galahad melangkah maju satu tindak. Zirah peraknya berdentang. Ia menatap Ajil dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan merendahkan yang sangat pekat.
"Jadi, ini tikus got yang berani menghancurkan pedang adikku, Arthur?" suara Galahad menggema di seluruh aula, penuh dengan arogansi absolut. "Dan aku mendengar rumor bahwa kau membelah naga? Hah! Lelucon macam apa ini. Semua petualang di kota ini pasti sudah gila karena asap vulkanik. Kau hanyalah seorang Kelas F yang menggunakan artefak terlarang untuk meledakkan naga yang sudah terluka parah!"
Di balik meja resepsionis, Karin menggertakkan giginya. Ia ingin berteriak membela Ajil, namun tekanan mana dari dua kelompok besar itu membuat tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Wajah Karin memucat, matanya menatap Ajil dengan penuh kekhawatiran.
Erina, yang berdiri di samping Ajil, mendengus jijik. Tangan kanannya dengan perlahan merambat ke arah busur emas di punggungnya. "Lalat-lalat di kota manusia ini berkembang biak terlalu cepat. Apakah kau ingin aku membakar lidah mereka, Ajil?" bisiknya pelan.
Ajil tidak merespons. Wajahnya tetap sedingin gletser. Ia melangkah maju dengan tenang, seolah puluhan pedang dan tombak yang diarahkan padanya hanyalah ilusi semata.
Boros, pemimpin Crimson Lion, ikut melangkah maju dan tertawa terbahak-bahak saat melihat Rino dan Richard yang berjalan pincang di belakang Ajil.
"Lihatlah ini, Kawan-kawan!" teriak Boros, menunjuk Rino dengan kapak besarnya. "Sang Raksasa Merah yang angkuh kini menjadi anjing kurap berbalut perban! Rino, Richard, apa yang terjadi pada kalian? Apakah kalian mengemis perlindungan pada pria berjaket lusuh ini karena kalian sudah terlalu cacat untuk memegang pedang? Kelas A+? Kalian tak lebih dari sampah sekarang!".
Seluruh anggota Crimson Lion tertawa mengejek. Wajah Rino memerah padam menahan amarah, sementara Richard mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di atas tongkat kayunya. Mereka ingin menerjang maju, tapi tubuh mereka tidak memungkinkan.
Galahad mengangkat tangannya, menghentikan tawa kelompok Boros. Ia menatap Ajil dengan mata abu-abunya yang membunuh.
"Dengar, Gelandangan," ucap Galahad dingin. "Kau telah mencoreng nama baik Silver Fang. Master Leon mungkin memihakmu karena dia sudah tua dan rabun. Tapi Guild Pusat tidak akan membiarkan anomali sepertimu berkeliaran. Kelompok bodohmu, Algojo Dimensi, adalah sebuah penghinaan bagi hierarki Guild. Seorang pemimpin tanpa asal-usul, seorang elf pelacur, dan dua orang cacat. Kalian hanyalah sirkus berjalan."
Mendengar kata 'pelacur', udara di sekitar Erina mendadak berputar kencang. Sihir angin sucinya mengamuk, memecahkan beberapa gelas bir di meja terdekat. "Beraninya kau, Tikus Tanah!" desis Erina, matanya menyala hijau terang.
Namun, sebelum Erina sempat merapalkan mantranya, Ajil mengangkat tangan kanannya, menghentikan sang High Elf.
Ajil berdiri tegap, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku trench coat-nya. Ia menatap Galahad dan Boros secara bergantian. Di dalam mata hitam Ajil, tidak ada kilatan amarah, tidak ada emosi apa pun. Hanya ada sebuah kekosongan yang sangat gelap, kekosongan yang perlahan-lahan mulai memancarkan tekanan mematikan.
"Orang yang berteriak paling lantang tentang kekuatannya," ucap Ajil. Suaranya tidak keras, namun frekuensinya terasa seperti pisau cukur yang menggesek gendang telinga semua orang di aula tersebut. Wajahnya sedatar pahatan batu. "Biasanya adalah orang yang paling ketakutan untuk menyadari bahwa dunia ini bisa menghancurkan mereka dalam satu malam. Kalian menggonggong karena kalian takut keberadaanku membuktikan betapa rapuhnya zirah emas kalian."
Galahad mengertakkan giginya. Urat-urat di lehernya menonjol. Sebagai Grandmaster Level 140, ia belum pernah dihina sedingin ini. "Tutup mulutmu! Kau berlindung di balik aturan zona aman Guild! Jika kau benar-benar merasa kuat, aku menantang kelompok sampahmu dalam Bentrok Resmi Guild! Besok siang, di Lembah Kematian Berdarah. Silver Fang dan Crimson Lion akan beraliansi untuk menghancurkan kalian berempat. Taruhannya adalah gelar Kelas S-mu, cincin ruangmu, dan nyawamu!"
Karin memekik tertahan dari balik meja. "T-Tuan Ajil, jangan terima! Bentrok Resmi membatalkan hukum perlindungan nyawa! Mereka dua kelompok besar yang beraliansi melawan kelompok Anda yang baru terbentuk dan memiliki anggota terluka!"
Boros tertawa sinis. "Kenapa? Pengecut? Jika kau menolak, kami akan memastikan kalian berempat tidak akan bisa tidur tenang di kota ini. Kami akan memburu setiap mangsa kalian dan membakar setiap kedai yang kalian singgahi!".
Ajil menoleh sedikit ke arah Rino dan Richard. Ia melihat kedua sahabatnya itu gemetar—bukan karena takut pada musuh, melainkan karena marah melihat pemimpin mereka dihina. Rino mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa ia siap mati jika Ajil menerima tantangan itu.
Ajil kembali menatap Galahad. Wajah sang algojo tidak berubah sedikit pun. Kedinginan di matanya tidak luntur.
"Baiklah," jawab Ajil singkat, suaranya sedingin es. "Lembah Kematian Berdarah. Besok siang. Pastikan kalian membawa peti mati yang cukup untuk kalian semua."
Galahad tersenyum beringas. Ia memutar tubuhnya, mengibaskan jubah peraknya. "Kita lihat apakah lidah tajammu itu masih bisa berbicara saat kupisahkan dari kepalamu esok hari. Ayo pergi!"
Dua kelompok besar itu berbaris keluar dari aula Guild, meninggalkan hawa tegang yang masih mencekik. Para petualang lain segera berhamburan, tak berani menatap Ajil. Mereka merasa kasihan. Kelompok Algojo Dimensi baru saja dibentuk, dan esok hari, mereka akan langsung dihancurkan oleh aliansi Kelas S dan Kelas A terkuat di Valeria.
Karin berlari keluar dari balik mejanya, menghampiri Ajil dengan mata berkaca-kaca. Rona merah di pipinya tergantikan oleh kepucatan. "T-Tuan Ajil! Apa yang Anda lakukan?! M-Mereka berjumlah puluhan! Galahad adalah Level 140, dan Boros Level 120! Tuan Rino dan Richard belum sembuh! A-Anda dan Nona Elf tidak akan bisa melawan mereka semua sekaligus!".
Ajil menatap Karin sesaat. Ia melihat ketulusan dan ketakutan di mata gadis manusia itu.
"Itu bukan urusanmu, Resepsionis," jawab Ajil datar, memalingkan wajahnya ke arah papan Misi. "Tugasmu hanya mencairkan hadiahku jika aku kembali besok membawa kepala mereka."
Erina melipat kedua lengannya di dada, tersenyum miring ke arah Karin. "Dengarkan dia, Manusia. Simpan air matamu untuk meratapi kelemahanmu sendiri. Pria ini adalah bencana yang tidak bisa kau ukur dengan logika kecilmu."
Karin menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Ia tahu ia tak bisa mengubah pikiran Ajil, dan ia benci bagaimana elf arogan ini bertingkah seolah ia paling memahami Ajil. Perang dingin di antara mereka semakin meruncing.
Ajil berjalan menuju papan informasi, mencari letak Benua Utara. Rino dan Richard berjalan pincang di belakangnya.
"T-Tuan Ajil..." bisik Rino pelan. "Kami... kami minta maaf. Karena kami, Anda dihina oleh Boros."
Langkah Ajil terhenti. Ia tidak menoleh.
"Kehormatan yang hancur karena hinaan orang bodoh bukanlah kehormatan," ucap Ajil dingin. "Berhentilah meminta maaf atas hal yang belum terjadi. Simpan sisa tenaga kalian untuk besok. Kita akan mengajarkan pada mereka... apa arti dari keputusasaan yang mutlak.".
Sang Algojo kembali melangkah, membawa aura kematian yang semakin pekat, bersiap untuk mengubah Lembah Kematian Berdarah menjadi lautan darah yang sesungguhnya esok hari.