NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Kadang-kadang, hidup memberikan kita dua pilihan yang sama-sama terasa seperti racun. Satu pilihan akan membunuhmu perlahan-lahan dalam kenyamanan yang palsu, sementara pilihan lainnya akan membakarmu seketika dalam api kejujuran. Banyak orang menghabiskan waktu mereka untuk menimbang-nimbang mana yang lebih ringan, padahal mereka lupa bahwa di dunia ini tidak ada racun yang benar-benar tidak menyakitkan. Perbedaan besarnya hanya terletak pada apakah kita ingin mati sebagai pahlawan di mata diri sendiri, atau sebagai pecundang yang memakai mahkota pinjaman. Arlo Valerius baru menyadari hal itu saat tangannya yang dulu hanya tahu cara memegang gagang gelas kristal, kini harus mencengkeram linggis besi yang dingin dan berkarat.

Arlo berlutut di atas tanah yang lembap, di ujung lorong bawah tanah yang menghubungkan Sayap Utara dengan sistem pembuangan lama istana. Cahaya obor yang dipasang di dinding batu bergoyang tertiup angin yang entah datang dari mana, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di permukaan air yang menggenang. Bau tanah yang basah, lumut, dan besi yang teroksidasi memenuhi indra penciumannya. Arlo tidak lagi merasa mual. Ia justru merasa aroma ini jauh lebih menenangkan daripada parfum melati Helena yang selalu terasa seperti aroma kematian yang disamarkan.

Jari-jarinya yang kasar meraba celah di antara batu-batu besar. Ia sedang mencari mekanisme pengunci kuno yang pernah disebutkan dalam arsip perpustakaan. Telapak tangannya terasa perih; kapalan di sana mulai menebal, namun luka lecet baru tetap muncul akibat kerja keras selama tiga hari terakhir. Arlo menekan sebuah tonjolan batu yang tampak sedikit berbeda.

Klek.

Suara itu kecil, namun di kesunyian lorong ini, ia terdengar seperti letupan senjata. Sebuah bagian dari dinding batu bergeser pelan, memperlihatkan sebuah celah sempit yang mengarah lebih dalam ke perut bumi Aethelgard. Arlo mengembuskan napas panjang, debu-debu halus yang menempel di kumis tipisnya ikut terbang.

"Kau menemukannya?"

Suara berat Mandor Thomas terdengar dari kegelapan di belakang Arlo. Pria tua itu berjalan mendekat, memegang lampu minyak yang cahayanya mulai meredup. Thomas menatap celah batu itu dengan pandangan yang sarat akan kekaguman sekaligus ketakutan.

Arlo berdiri, menyeka noda tanah di celana katun kasarnya. "Ini adalah jalur evakuasi yang dibuat pada masa perang besar pertama. Jalur ini tembus langsung ke dermaga nelayan di bawah tebing karang. Jika Raja benar-benar berniat menyerahkanku pada Helena, inilah satu-satunya jalan keluar."

Thomas meletakkan lampu minyaknya di atas tumpukan batu bata. Ia menatap Arlo, memerhatikan bagaimana kemeja lusuh yang dipakai pria itu kini sudah menyatu dengan debu-debu Sayap Utara. "Rakyat sudah mulai mendengar tentang ultimatum Vandellia, Arlo. Mereka tidak bodoh. Mereka tahu Raja sedang terpojok. Tapi mereka juga tidak akan membiarkanmu diseret kembali ke istana itu hanya untuk dijadikan tumbal politik."

Arlo mengambil sepotong arang dari sakunya, lalu mulai menggambar sketsa jalur itu di atas permukaan lantai batu yang rata. Tangannya bergerak stabil. "Aku tidak ingin mereka terlibat dalam pertumpahan darah karena aku, Thomas. Jika pasukan Vandellia datang dan melihat rakyat menghalangi jalan, mereka tidak akan ragu untuk menghunuskan pedang."

"Kau masih berpikir seperti seorang pangeran yang merasa bertanggung jawab atas seluruh dunia," Thomas mendengus, ia duduk di atas balok kayu yang melintang. "Tapi di sini, kami bertarung bukan karena diperintah. Kami bertarung karena kami tidak ingin kembali ke masa di mana kami hanyalah 'tikus' di mata kerajaanmu. Kau memberi kami harga diri, Arlo. Dan harga diri itu tidak bisa ditarik kembali hanya dengan satu ultimatum perang."

Arlo berhenti menggambar. Ia menatap Thomas, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang kotor. "Harga diri sering kali menuntut bayaran yang terlalu mahal, Thomas."

"Dan kami siap membayarnya," balas Thomas tegas.

Percakapan mereka terputus saat suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga atas. Seorang pekerja muda, napasnya tersengal-sengal, muncul dari kegelapan lorong. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya obor.

"Tuan Arlo! Mandor! Mereka datang!" teriak pemuda itu sambil mencoba mengatur napas.

Arlo segera berdiri tegak, otot bahunya menegang. "Siapa? Pasukan Vandellia?"

"Bukan. Jenderal Marcus dan pasukan elit kerajaan. Mereka menutup seluruh akses ke Sayap Utara. Kapten utusan Raja bilang mereka punya surat perintah untuk membawa Anda ke ruang audiensi utama sekarang juga," pemuda itu menjelaskan dengan suara yang gemetar.

Arlo menoleh ke arah Thomas. Keduanya tahu apa artinya ini. Surat perintah di tengah ultimatum perang biasanya berarti satu hal: penyerahan diri.

"Gunakan jalur itu sekarang, Arlo!" Thomas menunjuk ke arah celah batu yang baru dibuka tadi. "Pergilah. Aku akan mengulur waktu dengan para pekerja di atas."

Arlo menatap celah itu, lalu menatap ke arah tangga. Pikirannya bergerak cepat. Jika ia melarikan diri sekarang, Marcus akan memiliki alasan untuk menindak tegas para pekerja karena dianggap menyembunyikan buronan. Ia tidak bisa membiarkan Sayap Utara menjadi medan pertempuran sementara ia bersembunyi di bawah tanah.

"Tidak," ucap Arlo, suaranya terdengar sangat tenang namun tidak bisa dibantah. "Jika aku lari, mereka akan menghancurkan tempat ini untuk mencariku. Aku akan menemui mereka."

"Kau gila! Itu berarti kau menyerahkan dirimu pada Helena!" Thomas berdiri, memegang lengan Arlo dengan kuat.

Arlo melepaskan pegangan Thomas dengan gerakan yang lembut. Ia mengambil kain noda cat biru dari sakunya, menatapnya sejenak sebelum memasukkannya kembali. "Aku tidak akan menyerahkan diri, Thomas. Aku hanya akan menunjukkan pada mereka bahwa pangeran yang mereka kenal sudah mati. Yang ada sekarang hanyalah seorang pria yang tidak lagi takut pada mahkota mereka."

Arlo melangkah menuju tangga, meninggalkan kegelapan lorong bawah tanah menuju cahaya matahari yang menyilaukan di lapangan Sayap Utara.

Begitu ia menginjakkan kaki di luar, pemandangan di depannya tampak seperti persiapan perang. Puluhan prajurit berbaju zirah perak berdiri dalam formasi rapat, memblokade gerbang keluar. Di tengah lapangan, para pekerja Sayap Utara sudah berkumpul, memegang alat pertukangan mereka dengan posisi siap bertarung. Suasana sangat hening, hanya suara gesekan logam dan embusan angin yang membawa debu kapur.

Jenderal Marcus berdiri di depan pasukannya. Ia mengenakan jubah merahnya, namun matanya tidak menunjukkan semangat tempur. Ia tampak sangat lelah, seolah-olah beban seluruh Aethelgard sedang menindih bahunya.

Arlo berjalan membelah kerumunan pekerja. Mereka secara otomatis membukakan jalan, beberapa orang menepuk pundaknya saat ia lewat. Arlo berhenti tepat di depan Marcus, dipisahkan hanya oleh jarak dua meter.

"Jenderal Marcus," panggil Arlo. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh lapangan terdiam.

Marcus menatap Arlo. Ia melihat kemeja katun yang kotor, celana yang robek di bagian lutut, dan wajah yang dipenuhi debu batu. Namun, ia juga melihat cara berdiri Arlo yang tidak pernah ia lihat saat Arlo masih menjadi pangeran. Arlo tidak lagi berdiri dengan keangkuhan yang rapuh, ia berdiri dengan kekokohan batu yang sudah teruji.

"Raja meminta kehadiran Anda, Arlo," Marcus bicara dengan nada formal, meskipun matanya menunjukkan rasa bersalah. "Utusan dari Vandellia sudah berada di ruang audiensi. Mereka membawa draf aliansi baru... dan permintaan ekstradisi."

"Katakan pada ayahku, aku bukan lagi warga kerajaan yang bisa diekstradisi sesuai keinginannya," Arlo melipat tangannya di depan dada. "Aku adalah rakyat Aethelgard yang merdeka sesuai dengan dekrit di altar. Jika dia ingin bicara, dia harus datang ke sini. Ke tanah milik rakyat."

Suara bisik-bisik kekaguman terdengar dari barisan pekerja. Marcus mengepalkan tangannya di gagang pedang. "Jangan mempersulit ini, Arlo. Kau tahu apa taruhannya. Perang akan menghancurkan segalanya. Kota ini, orang-orang ini... mereka akan mati jika Vandellia menyerang."

"Vandellia menyerang karena mereka melihat kelemahan di istana kita, Marcus. Bukan karena aku," Arlo melangkah satu tindak lebih dekat. "Jika kau menyerahkanku sekarang, kau hanya memberi tahu Helena bahwa dia bisa mendapatkan apa pun dengan ancaman. Besok dia akan meminta tanah kita, lusa dia akan meminta nyawa rakyat kita. Sampai kapan kau akan terus memberi?"

Marcus terdiam. Ia menatap ke arah para pekerja yang menatapnya dengan penuh kebencian. Ia tahu Arlo benar, namun sebagai jenderal, ia terikat pada perintah sang Raja.

"Aku punya tugas, Arlo," bisik Marcus pelan.

"Tugasmu adalah melindungi rakyat, bukan melindungi ego seorang raja yang ketakutan," Arlo menunjuk ke arah kerumunan di belakangnya. "Lihat mereka, Marcus. Mereka bukan lagi bawahanmu. Mereka adalah orang-orang yang membangun dinding yang kau jaga. Jika kau berani melangkah lebih jauh, kau harus melewati mereka semua."

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah kereta kuda mewah dengan lambang bunga lili Vandellia masuk ke area Sayap Utara, dikawal oleh pasukan berkuda asing yang mengenakan zirah ungu. Pintu kereta terbuka, dan seorang wanita turun dengan gerakan yang sangat lambat dan provokatif.

Helena.

Ia tidak lagi mengenakan gaun pengantin. Ia mengenakan pakaian tempur wanita dari Vandellia—setelan kulit hitam yang pas di tubuh, dihiasi dengan permata-permata tajam, dan sebuah cambuk perak yang tersampir di pinggangnya. Rambut pirangnya dikuncir kuda sangat tinggi, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak jauh lebih keras dan haus akan darah.

Helena berjalan melewati barisan prajurit Marcus seolah-olah tempat ini adalah miliknya. Ia berhenti di samping Marcus, matanya langsung tertuju pada Arlo.

"Lihatlah tikus yang mencoba menjadi singa," suara Helena melengking pelan, sarat dengan penghinaan yang manis. "Kau terlihat menjijikkan, Arlo. Bau semen dan kemiskinan benar-benar tidak cocok untukmu."

Arlo menatap Helena dengan pandangan yang datar. Ia tidak merasa marah. Ia justru merasa kasihan melihat wanita yang begitu terobsesi pada kekuasaan hingga kehilangan jati dirinya. "Kau datang terlalu jauh dari rumahmu hanya untuk mencium bau semen, Helena. Apa di Vandellia udaranya sudah terlalu pengap?"

Helena tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak menyenangkan. "Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku. Ayahmu sudah menandatangani surat penyerahanmu. Secara hukum internasional, kau sekarang adalah tahanan politik Vandellia."

Helena mengeluarkan selembar perkamen dengan segel merah besar—segel Raja Valerius.

Arlo menoleh ke arah Marcus. "Dia benar, Marcus? Ayah benar-benar melakukannya?"

Marcus hanya bisa menunduk, tidak sanggup menatap mata Arlo.

"Nah, Arlo. Sekarang pilihannya mudah," Helena melangkah mendekati Arlo, cambuk peraknya ia mainkan di jemarinya. "Ikut denganku secara sukarela, dan aku mungkin akan membiarkan 'teman-teman' tukang catmu ini tetap bernapas. Atau... aku akan membiarkan pasukanku meratakan tempat ini sekarang juga, dan aku akan menyeret mayatmu kembali ke Vandellia."

Kalea mungkin tidak ada di sana, namun Arlo bisa merasakan noda cat di sakunya seolah-olah sedang memanas. Ia teringat janji yang ia buat di dalam hati: bahwa ia akan meruntuhkan seluruh dunia kebohongan ini.

Arlo menatap ke sekelilingnya. Ia melihat Mandor Thomas yang sudah memegang palu besar. Ia melihat pekerja muda yang gemetar namun tetap berdiri tegak. Ia melihat ribuan wajah yang menaruh harapan padanya.

Arlo kembali menatap Helena. Ia tersenyum tipis—senyum yang membuat Helena untuk pertama kalinya merasa sedikit ragu.

"Ada pilihan ketiga, Helena," ucap Arlo pelan.

"Oh ya? Apa itu?"

"Pilihan di mana kau menyadari bahwa Aethelgard bukan lagi milik Raja Valerius, melainkan milik rakyatnya," Arlo tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Seketika, ribuan pekerja Sayap Utara serentak menghentakkan kaki mereka ke tanah. BUM! Getaran itu begitu kuat hingga membuat debu-debu beterbangan dari atap bangunan. Para prajurit Vandellia secara refleks menarik kendali kuda mereka yang mulai panik.

"Kau pikir selembar kertas itu bisa membawaku pergi?" Arlo tertawa kecil. "Coba saja seret aku. Tapi pastikan kau siap menghadapi ribuan orang yang akan mengejarmu sampai ke gerbang Vandellia."

Helena memerah karena marah. Ia mengangkat cambuknya, hendak mengayunkannya ke arah wajah Arlo, namun Jenderal Marcus tiba-tiba melangkah ke depan dan memegang pergelangan tangan Helena.

"Cukup, Putri Helena," suara Marcus terdengar sangat tegas. "Raja memerintahkan ekstradisi, tapi dia tidak memerintahkan pembantaian di tanah Aethelgard. Jika Anda menyerangnya sekarang, Anda melanggar wilayah kedaulatan saya."

"Kau berani menyentuhku, Jenderal?!" Helena berteriak murka.

"Aku berani melakukan apa pun untuk menjaga perdamaian di tanah ini," Marcus melepaskan tangan Helena dengan kasar, lalu ia menoleh ke arah pasukannya. "Prajurit! Formasi bertahan! Jangan biarkan siapa pun menyentuh Arlo tanpa izin saya!"

Arlo terkejut. Ia tidak menyangka Marcus akan berpihak padanya di detik-detik terakhir. Ini adalah retakan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Angkatan perang kerajaan mulai terbelah.

Helena menatap sekelilingnya. Ia menyadari bahwa posisinya tidak lagi menguntungkan. Pasukannya kalah jumlah, dan pasukan Aethelgard di bawah Marcus mulai menunjukkan pembangkangan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, meskipun matanya tetap memancarkan janji pembalasan yang mengerikan.

"Baiklah," bisik Helena, ia merapikan pakaian tempurnya. "Kalian semua ingin bermain pahlawan? Silakan. Tapi ingat ini, Arlo... dalam tiga hari, ayahku akan berada di depan gerbang ini dengan sepuluh ribu prajurit. Kita lihat apakah dekrit dan noda catmu itu bisa menahan hujan anak panah."

Helena berbalik dan masuk kembali ke dalam keretanya. Pasukan Vandellia perlahan mundur, diikuti oleh debu yang mengepul di belakang mereka.

Suasana di Sayap Utara kembali hening, namun keheningan ini terasa jauh lebih berat. Arlo menatap Jenderal Marcus yang kini berdiri mematung.

"Kau baru saja mengkhianati Raja, Marcus," ucap Arlo.

"Aku tidak mengkhianatinya, Arlo. Aku menyelamatkannya dari melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya," Marcus menatap Arlo sedih. "Tapi Helena tidak bercanda. Perang akan datang. Dan kita tidak punya cukup kekuatan untuk menahan sepuluh ribu pasukan Vandellia sendirian."

Arlo menatap ke arah laut. Ia memikirkan Kalea. Ia harus memastikan pesan rahasianya sampai ke Solandis. Aethelgard butuh bantuan dari luar jika ingin bertahan dari ambisi Helena.

"Kita punya tiga hari," gumam Arlo. "Tiga hari untuk mengubah sejarah, atau untuk terkubur di bawahnya."

Arlo berjalan mendekati Mandor Thomas. Ia menepuk bahu pria tua itu. "Thomas, siapkan jalur bawah tanah itu sepenuhnya. Kita butuh cara untuk memindahkan rakyat jika keadaan memburuk. Dan aku butuh kau mengirimkan seseorang paling terpercaya ke pelabuhan sekarang juga."

Malam mulai turun menyelimuti Sayap Utara. Cahaya api unggun kembali dinyalakan, namun kali ini tidak ada suara tawa. Yang ada hanyalah suara asahan pedang yang bertemu dengan batu asahan, dan suara bisikan-bisikan rencana perang.

Arlo duduk sendirian di atas tumpukan kayu, menatap bulan yang tampak pucat. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan koin perunggu Kalea. Ia mencium koin itu sejenak.

"Badai sudah datang, Kalea," bisik Arlo pada kegelapan malam. "Semoga kau tidak pernah merasakan angin dinginnya."

Retakan itu kini telah menjadi lubang hitam yang siap menelan seluruh kerajaan. Dan Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, kini harus memimpin pasukan yang hanya dipersenjatai oleh palu dan kejujuran untuk menghadapi pasukan paling mematikan di benua ini.

Ia tidak lagi memikirkan tentang tahta. Ia hanya memikirkan tentang bagaimana ia bisa memberikan satu hari lagi bagi rakyatnya untuk melihat fajar tanpa harus membungkuk pada rasa takut. Perjuangan hidup dan matinya baru saja dimulai di ujung lorong yang sunyi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!