Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Paviliun Harta Karun
Napas Ling Tian masih sedikit terengah saat ia berdiri di tengah medan pertempuran yang berantakan. Ia tidak membuang waktu. Dengan belatinya, ia dengan cepat dan efisien mengambil inti kristal dari dua Babi Hutan Berkulit Besi yang telah ia bunuh, dan yang terpenting, dari sang raja tingkat keempat.
Inti tingkat keempat terasa jauh lebih berat di tangannya, dan energi yang berdenyut di dalamnya jauh lebih padat. Warnanya merah keruh, seolah menyimpan amarah binatang itu.
Total panennya hari ini: satu inti Kucing Roh Tiga Mata tingkat ketiga, dua inti Babi Hutan Berkulit Besi tingkat ketiga, dan satu inti raja babi hutan tingkat keempat.
"Ini lebih dari cukup."
Menyadari bahwa ia telah menghabiskan cukup banyak energi dan darah binatang buas bisa menarik predator lain yang lebih kuat, Ling Tian memutuskan untuk tidak serakah. Ia segera meninggalkan area itu, bergerak cepat menuju pinggiran hutan menggunakan 'Langkah Naga Bayangan'. Kecepatannya kini jauh melampaui dirinya di masa lalu, membuatnya tampak seperti bayangan yang melesat di antara pepohonan.
Sekitar satu jam kemudian, gerbang Kota Awan Bambu yang ramai sudah terlihat. Ia tidak kembali ke Klan Ling, melainkan langsung menuju distrik perdagangan di pusat kota.
Tujuannya adalah bangunan terbesar dan termewah di distrik itu: Paviliun Harta Karun. Ini adalah tempat di mana para pemburu dan kultivator menjual hasil buruan mereka dan membeli sumber daya kultivasi. Paviliun ini memiliki cabang di seluruh Kerajaan Angin Azure dan terkenal dengan reputasinya yang adil.
Saat Ling Tian, yang berpakaian hitam sederhana dan sedikit kotor, melangkah masuk, seorang penjaga meliriknya dengan sedikit cemoohan tetapi tidak menghentikannya. Paviliun ini melayani semua orang, selama mereka punya bisnis.
Bagian dalam paviliun itu luas dan terang. Berbagai macam barang dipajang di etalase kristal—ramuan berkilauan, senjata yang memancarkan Qi, dan armor yang kokoh. Ling Tian mengabaikan semua itu dan berjalan lurus ke konter penilaian di bagian belakang.
Seorang pria tua dengan janggut putih tipis sedang menyortir beberapa ramuan dengan bosan. Ia melirik Ling Tian sekilas. "Mau jual sesuatu atau hanya melihat-lihat, Nak?" tanyanya dengan nada acuh tak acuh.
"Menjual inti binatang," jawab Ling Tian singkat.
Ia meletakkan sebuah kantong kecil di atas meja. Pria tua itu membukanya dengan malas, tetapi saat ia melihat isinya, matanya sedikit melebar.
"Tiga inti tingkat ketiga. Satu dari Kucing Roh, dua dari Babi Hutan. Kualitasnya cukup bagus. Kau mendapatkannya sendiri?" tanya pria tua itu, nadanya kini sedikit lebih serius. Seorang pemuda yang bisa mendapatkan tiga inti tingkat ketiga sendirian sudah cukup langka.
"Apakah itu penting?" balas Ling Tian.
Pria tua itu tertegun sejenak oleh jawaban itu, lalu tersenyum tipis. "Kau benar, tidak penting. Totalnya... 150 keping perak. 50 perak untuk setiap inti tingkat ketiga."
Ini adalah harga pasar yang wajar. Ling Tian mengangguk, tetapi tidak mengambil uang itu. Sebaliknya, ia berkata, "Masih ada satu lagi."
Ia merogoh sakunya yang lain dan dengan tenang meletakkan inti kristal merah keruh dari raja babi hutan di atas meja.
Saat melihat inti itu, ekspresi pria tua itu berubah total. Rasa malas dan acuh tak acuhnya lenyap, digantikan oleh keterkejutan yang tulus. Ia dengan hati-hati mengambil inti itu, memeriksanya di bawah cahaya, dan merasakan energi yang berdenyut di dalamnya.
"Inti binatang tingkat keempat! Dan dari Babi Hutan Berkulit Besi Raja! Energinya penuh dan tidak rusak... Ini... ini kau dapatkan sendiri juga?" Pria tua itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya lagi, kali ini dengan nada penuh hormat.
Untuk membunuh seekor binatang tingkat keempat, biasanya dibutuhkan tim yang terdiri dari beberapa kultivator tingkat kelima atau bahkan seorang ahli tingkat keenam. Fakta bahwa seorang pemuda bisa membawanya sendirian sangatlah mengejutkan.
Ling Tian hanya menatapnya tanpa menjawab.
Pria tua itu mengerti. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan keterkejutannya. "Maafkan kelancangan saya. Untuk inti tingkat keempat ini, Paviliun kami menawarkan harga 5 keping emas."
Satu keping emas setara dengan seratus keping perak. Lima keping emas adalah 500 perak. Ini adalah jumlah uang yang sangat besar bagi seorang junior klan biasa, cukup untuk hidup nyaman selama bertahun-tahun.
"Baik," kata Ling Tian, akhirnya mengangguk puas.
"Tunggu sebentar." Pria tua itu dengan cepat menghitung uangnya. Ia menyerahkan lima koin emas yang berkilauan dan 150 keping perak dalam sebuah kantong yang lebih besar dan berkualitas baik.
"Totalnya 5 emas dan 150 perak. Nama Tuan Muda?" tanya pria tua itu dengan sopan, mencoba membangun hubungan.
"Tidak perlu tahu," jawab Ling Tian sambil mengambil kantong uang itu. Ia tahu betul bahwa menunjukkan kekayaan bisa menarik masalah. Semakin sedikit orang tahu tentangnya, semakin baik.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan keluar dari paviliun, meninggalkan pria tua yang menatap punggungnya dengan tatapan penuh pemikiran.
Namun, Ling Tian tidak menyadari satu hal. Dari lantai dua paviliun, sepasang mata yang cantik dan dingin telah mengamatinya sejak ia mengeluarkan inti tingkat keempat. Seorang gadis muda dengan gaun sutra berwarna biru langit, yang tidak lain adalah Murong Xue, mantan tunangannya, berdiri di sana bersama Ling Feng.
Wajah Ling Feng menjadi gelap saat melihat kantong uang yang diterima Ling Tian. "Bagaimana mungkin sampah itu mendapatkan inti tingkat keempat?!"
Murong Xue tidak berkata apa-apa, tetapi kerutan tipis muncul di dahinya yang indah. Tatapannya mengikuti sosok Ling Tian yang menghilang di tengah keramaian, dipenuhi dengan keraguan dan sedikit penyesalan yang tidak ingin ia akui.