not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
AlΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sekarang Reva sudah berumur 1,5 tahun. Tak disangka, sudah setahun lebih Alya meninggalkan Reva tanpa pernah sekalipun menelepon atau memberi kabar.
Kehadirannya perlahan memudar, digantikan oleh sosok Ayana yang setiap hari ada di sisi Reva.
"Mama, Reva mau jajan..." rengek Reva dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
"Mau jajan apa? Kan kata Papa nggak boleh jajan terus, ingat nggak?" sahut Ayana sambil merapikan rambut kecil Reva.
"Tapi kan Papa nggak ada," balas Reva polos, mencoba mencari celah.
Papa yang dimaksud Reva adalah Al. Seiring berjalannya waktu, Reva tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tua kandungnya adalah Ayana dan Al. Mereka bertiga sudah terlihat seperti keluarga kecil yang utuh.
"Tetap nggak boleh pokoknya. Nanti kalau Papa marah terus kamu disuruh tidur di luar, mau?" goda Ayana.
"Ih, nggak mau!" Reva langsung menggeleng cepat.
"Makanya nggak usah jajan kamu kalau jajan beli yng manis-manis muli , nanti gigi kamu sakit dan Papa bisa marah," tambah Ayana lagi. Reva hanya bisa mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut karena keinginannya tidak dituruti.
Dalam diam, Ayana menatap Reva dengan perasaan campur aduk. 'Kak Alya, Kakak ke mana? Anak Kakak sudah mulai lancar bicara loh sekarang,' batinnya perih.
Ayana menyimpan ketakutan besar. Ia takut jika suatu saat nanti Reva tahu kebenaran yang sebenarnya, bocah itu akan merasa sangat kecewa dan kehilangan arah.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar. Al baru saja pulang dari kampus.
"Wah, Papa datang, Dek!" seru Ayana menyambut hangat.
"Papaaa!" Reva langsung berlari ceria ke arah pintu.
Al berjongkok, menyambut pelukan hangat dari gadis kecil itu. "Wah, jagoan Papa sudah bangun? Kamu sudah makan belum?" tanya Al lembut.
"Udah, baleng Mama tadi," jawab Reva sambil menunjuk Ayana.
"Kamu makan dulu sini, Al. Bibi masaknya banyak banget hari ini," ajak Ayana. Kini, panggilan "lo-gue" atau "saya" sudah terkubur dalam-dalam, digantikan oleh sebutan "aku-kamu" yang lebih manis.
"Nanti saja, aku masih kenyang," jawab Al sambil tersenyum tipis ke arah Ayana.
"Hm, ya sudah kalau gitu. Reva, sini deh, Mama mau bisikin sesuatu," panggil Ayana penuh rahasia.
Reva berlari kecil menghampiri Ayana. Al yang melihat interaksi itu merasa hatinya menghangat; pemandangan itu tampak sangat alami dan indah. Tiba-tiba, Reva kembali berlari ke arah Al dengan mata berbinar.
"Papa, ayo ke playground!"
Al langsung melirik ke arah Ayana, curiga. Ayana hanya menggelengkan kepala sambil menahan tawa, pura-pura tidak tahu padahal dialah provokatornya.
"Boleh," jawab Al singkat.
"Yey! Ayo kita ke playground! Tapi kita mampir ke rumah Kakak Alin dulu ya, biar kita main bareng," usul Ayana penuh semangat.
"Ayooo belangkattt!" seru Reva sambil melompat kegirangan.
Sebenarnya, ini adalah taktik Ayana agar bisa bertemu dengan Alin. Sudah lama sekali ia merindukan adiknya itu.jarak rumah mereka cukup jauh,tetapi itu bukan masalah besar.
Yang sulit adalah mencocokkan waktu, karena Alin sangat sibuk dengan jadwal sekolah, les bahasa Inggris, hingga les akademik. Karena hari ini sekolah libur dan lesnya ditunda, Ayana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
****************
Perjalanan yang cukup jauh itu tidak terasa karena ocehan lucu Reva di kursi belakang.
Saat mobil Al berhenti di depan pagar rumah yang sangat familiar bagi Ayana, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia merindukan rumah ini, terutama penghuninya.
"Kita sampai," ujar Al sambil mematikan mesin mobil.
Ayana segera turun dan menggendong Reva. Tak lama kemudian, seorang gadis remaja dengan seragam santai berlari keluar dari pintu rumah. Itu Alin. Matanya membelalak tak percaya melihat siapa yang datang.
"KAK AYANA?!" teriak Alin histeris. Ia langsung berlari dan menghambur memeluk kakaknya.
"Aduh, Lin! Pelan-pelan, ini ada Reva," tawa Ayana pecah, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
Alin melepaskan pelukannya dan beralih menatap bocah kecil di gendongan Ayana. "Ya ampun, ini Reva? Kok udah gede banget? Terakhir ketemu kan masih bayi!" Alin mencubit gemas pipi Reva. "Halo reva aku kakak Alin."
"kakak... Alin?" tiru Reva malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayana.
Saat itulah Alin menyadari kehadiran seseorang di belakang Ayana. Al berdiri di sana dengan gaya tenang seperti biasanya, membawakan tas perlengkapan Reva. Alin terdiam sejenak, matanya bergantian menatap Ayana dan Al dengan tatapan menyelidik.
"Ehem... Kak, ini beneran Kak Al?" bisik Alin, namun masih bisa terdengar. "Kalian... kok kelihatannya makin mirip suami istri beneran sih? Panggilannya juga 'Papa-Mama' ya?"
Wajah Ayana mendadak merona merah. "Ih, apa sih lo, Lin! Kan emang Reva tahunya begitu."
Alin tertawa nakal. "Halah, tapi cara Kak Al natap Kak Ayana beda loh. Kayak ada manis-manisnya gitu. Masuk yuk, gue udah kangen banget curhat!"
Mereka pun masuk ke dalam. Di ruang tamu, suasana menjadi sangat hangat. Alin tidak berhenti mengajak Reva bermain, sementara Al duduk di sofa sambil sesekali memperhatikan Ayana yang sedang asyik mengobrol dengan adiknya.
"Kak," panggil Alin tiba-tiba dengan nada serius, saat Al sedang fokus melihat Reva main di karpet. "Gue seneng lihat lo bahagia. Meskipun Kak Alya nggak ada kabar, tapi kayaknya Tuhan kasih pengganti yang lebih dari cukup buat Reva... dan mungkin buat Kakak juga."
Ayana tertegun. Ia melirik Al yang ternyata juga sedang menatapnya. Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu, dan Ayana tidak menemukan keinginan untuk berpaling.
"Oh iya, jadi ke playground kan? Kebetulan di dekat sini ada taman bermain baru yang lagi hits," potong Al memecah suasana.
"Jadi dong! Yuk, Alin, mumpung hari ini kita semua lagi santai," ajak Ayana pada Alin
Alin mengangguk setuju. "Ayo. Alin, kita berangkat."
"Asik! Dibayarin Kak Al kan?" goda Alin sambil nyengir lebar.
"Tentu," jawab Al singkat dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
...****************...
Sesampainya di playground, suasana sangat ramai oleh keluarga yang sedang menghabiskan waktu luang. Reva yang melihat perosotan dan mandi bola langsung berteriak kegirangan, minta segera diturunkan dari gendongan.
"Papa, turun! Leva mau main!" seru Reva sambil menunjuk-nunjuk area bermain.
Al menurunkan Reva dengan hati-hati, sementara Ayana dan Alin mengikuti dari belakang. Mereka memilih tempat duduk yang tidak jauh dari area bermain agar tetap bisa mengawasi Reva.
Melihat Al yang begitu sigap menjaga Reva—mulai dari memegangi tangan Reva saat menaiki anak tangga kecil hingga membantu Reva meluncur di perosotan—membuat Ayana terpaku. Al tampak seperti sosok ayah yang sangat sempurna.
Tiba-tiba, seorang ibu-ibu yang sedang menjaga anaknya di sebelah mereka menyapa Ayana dengan ramah.
"Aduh, anaknya lucu sekali, Mbak. Mirip sekali sama bapaknya ya," ujar ibu itu sambil tersenyum ke arah Al.
Ayana tersentak, wajahnya langsung memanas. "Eh, iya Bu, terima kasih..." jawabnya canggung tanpa berani mengoreksi.
"Serasi banget kalian berdua. Masih muda, tapi kelihatan telaten sekali jaga anak. Jarang loh ada Papa muda yang mau panas-panasan nemenin anaknya main di perosotan kayak gitu," lanjut ibu itu lagi sambil memuji Al.
Alin yang mendengar itu langsung menyenggol lengan Ayana sambil menahan tawa. "Tuh Kak, denger kan? Keluarga idaman katanya," bisik Alin nakal.
Ayana hanya bisa menunduk malu, berusaha menyembunyikan senyumnya. Tak lama kemudian, Al menghampiri mereka sambil menggendong Reva yang sudah berkeringat.
"Ayana, tolong ambilkan tisu dan air minum. Reva kehausan," kata Al alami, seolah-olah mereka memang sudah terbiasa berbagi tugas seperti itu.
"Oh, iya... sebentar." Ayana dengan sigap membuka tas dan memberikan botol minum.
Saat Al sedang meminumkan Reva, seorang fotografer keliling di taman itu menghampiri mereka. "Permisi Kak, mau difoto? Satu keluarga cuma 20 ribu, langsung cetak. Sayang loh momennya, kalian bertiga kelihatan sangat kompak."
Ayana sempat ragu dan melirik Al, namun tak disangka, Al justru mengangguk. "Boleh. Tolong ambilkan yang bagus ya."
Mereka pun berposisi. Al merangkul bahu Ayana agar masuk ke dalam frame, sementara Reva duduk di tengah-tengah mereka sambil memegang mainaan
Cekrek!
Foto itu jadi. Di sana terlihat jelas mereka bertiga tersenyum bahagia. Jika orang tidak tahu cerita aslinya, siapapun pasti akan mengira mereka adalah keluarga kecil yang sangat bahagia dan harmonis
alin tidak ikut berfoto karena ia sudah mengode fotografer itu
...****************...
Di tengah keriuhan di playground, saat Ayana sedang asyik membantu Reva dan Alin bermain perosotan, ponsel di saku Al tiba-tiba bergetar. Al menepi sejenak dari keramaian dan membuka aplikasi WhatsApp. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Syefana: "Hai Al, masih inget gue nggak?"
Al mengerutkan kening. Tangannya bergerak mengetik balasan singkat.
Al: "Siapa?"
Syefana: "Syefana loh. Kita kan temenan dari dulu masa lupa sih?"
Al: "Hmm."
Syefana: "Dih, sok cool banget sih lo. Dulu aja banyak omong."
Al: "Semua manusia bisa berubah kapan saja."
Syefana: "Halah. Eh btw lo lagi di mana? Ketemuan yuk."
Al: "Gue di mall."
Syefana: "Bareng siapa?"
Al: "Sendiri."
Syefana: "Lo di mall mana? Gue ke sana sekarang, kita ketemuan."
Tanpa berpikir panjang, Al mengirimkan lokasi mall tersebut kepada Syefana. Ia kemudian menghampiri Ayana yang tampak sedang sibuk mengelap keringat di dahi Reva.
"Ayana, saya izin sebentar ya. Mau cari minuman dulu," pamit Al dengan nada datar seperti biasanya.
"Oh, oke. Jangan lama-lama ya Al," jawab Ayana tanpa rasa curiga sedikit pun.
Sambil melangkah menuju area kafe, memori Al berputar kembali ke tahun 2021. Saat itu, ia pernah sangat menyukai Syefana. Namun, perasaan itu harus patah di tengah jalan ketika Al mengetahui bahwa Syefana ternyata sudah memiliki pacar selama lebih dari setahun.
Kabar itu sempat membuat Al sangat kecewa hingga ia memutuskan untuk menjauh. Sayangnya, move on tidak semudah itu karena Syefana selalu datang mendekatinya kembali. Bagi Syefana, Al hanyalah sahabat laki-laki yang asyik untuk diajak bicara, namun bagi Al, perasaan itu jauh lebih dalam dari sekadar teman.
...----------------...
"Hai Al! Pangling banget, kamu makin ganteng aja ya sekarang," sapa Syefana dengan senyum manisnya.
Wanita itu tampil mencolok dengan dress biru pendek di atas lutut yang dipadukan dengan kitten heels. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi dari pendingin ruangan mall.
"Hmm, thanks," jawab Al singkat, tetap dengan ekspresi datarnya yang khas.
"Al, kamu sendiri udah nikah belum sih? Aku masih sendiri nih," tanya Syefana, mencoba memancing suasana.
"Belum," jawab Al.
"Wow, sama dong! Tapi... kamu ada niatan buat nikah nggak dalam waktu dekat?"
Syefana menatap Al lekat, seolah mencari kepastian di mata pria itu.
"Ada," sahut Al tenang.
Jawaban singkat Al itu seketika membuat Syefana tersenyum lebar. Dalam hatinya, ia merasa percaya diri bahwa kedatangannya kembali akan disambut hangat oleh Al. Ia mengira Al sengaja menunggunya untuk diajak ke jenjang yang lebih serius.
"Sumpah Al, aku nyesel banget dulu pacaran sama Rehan. Ternyata dia cuma mau morotin duit aku doang," keluh Syefana dengan nada manja.
Pantas saja Syefana tampak begitu bersemangat saat tahu Al masih melajang dan berencana menikah. Ternyata, hubungan yang dulu ia bangga-banggakan dengan Rehan sudah kandas dengan cara yang menyakitkan.
"Makanya, jangan mudah memutuskan untuk pacaran kalau baru kenal. Tunggu sampai sifat aslinya benar-benar terlihat," ujar Al memberi nasihat.
Mendengar itu, Syefana terdiam sejenak. Kata-kata Al terasa sangat dewasa dan jarang ia dengar dari pria lain. Ia mulai menyadari kesalahannya di masa lalu; betapa bodohnya dia dulu yang langsung menerima cinta Rehan hanya dalam waktu satu hari setelah perkenalan mereka. Syefana merasa, mungkin memang seharusnya ia sejak dulu bersama pria setenang Al.